
Pak Marvel masih terus menatapku tanpa berkedip, begitupula denganku yang menatapnya tanpa jeda. Lama-kelamaan aku tidak kuat, aku menunduk malu. Rasanya melihat pak Marvel dengan penampilan seperti itu membuatku lemas tak bertenaga. Sangat tampan!
Kakiku semakin dekat menuju tempat dimana ijab qobul akan dilangsungkan. Tubuhku gemetar dengan nafas tidak teratur. Jantungku berdetak lebih cepat dari biasanya. Apakah ini hanya mimpi? ternyata tidak, nyatanya pak Marvel benar-benar berada disampingku. Pria ini akan mengucap janji suci pernikahan, memintaku menjadi permaisurinya. Dan menghalalkan rasa cintanya agar berbuah manis dan mendapat ridho Ilahi.
Aku sangat gugup. Sepanjang proses ijab qobul, aku hanya menunduk mensyukuri nikmat tuhan yang begitu luar biasa indah. Kesengsaraan, kesedihan, kepiluan karena dikhianati kini berganti kebahagiaan yang tidak bisa dijabarkan hanya dengan kata-kata.
Aku mengelap sudut mataku yang terasa basah saat pak Marvel mengucapkan ikrar pernikahan hanya dengan satu tarikan nafas.
SAH!
SAH!
SAH!
Bibirku tak henti-hentinya mengucap syukur kepada Allah Subhana wa Ta'ala atas segala karunianya. Kini statusku sudah berganti menjadi seorang istri. Dan besar harapanku, agar ini menjadi pernikahan terakhirku, hanya dengannya aku ingin bahagia, membina rumah tangga sampai ke Jannah-Nya. Seperti kebanyakan pengantin lainnya, setelah do'a selesai dipanjatkan, pak Marvel memasangkan cincin dijari manisku begitupun sebaliknya aku memasangkan cincin dijari manisnya. Setelah itu dengan rasa canggung, untuk pertama kalinya aku mencium tangannya. Dan setelah itu pak Marvel mencium keningku.
Pak Marvel tak berkata apapun, hanya terlihat menyeka sudut matanya yang nampak berair selain itu tak henti senyuman mengembang diwajahnya.
Setelah itu mama Inggrid dan papa Gilbert bergantian memeluk kami, memberi ucapan selamat dan memanjatkan do'a terbaiknya untuk pernikahan kami. Dan tidak berselang lama, aku melihat kedatangan Puja, aku sangat terkejut karena merasa tak memberitahunya, sebab aku belum menyentuh ponselku dari sejak tadi shubuh. Puja langsung memelukku dengan erat.
"Selamat ya kak, selamat. Puja seneng akhirnya kakak bisa bahagia, sekali lagi maafin Puja" ucapnya dengan terisak. Aku pun membalas pelukan itu sama eratnya.
"Kamu juga dek, semoga kedepannya kamu bisa jadi pribadi yang lebih baik, dan secepatnya menemukan lelaki yang mencintaimu dengan tulus, dan kita sama-sama berbahagia." ucapku tulus.
Puja memang sudah menyakitiku terlalu dalam, tapi hanya aku satu-satunya keluarga yang dia punya, aku tak sampai hati untuk membalas perbuatannya. Bukan karena lemah, tapi aku yakin, Allah lah sang maha adil dan sebaik-baik hakim. Aku hanya bisa mendo'akan kebaikan untuknya.
"Kamu kok bisa ada disini, sama siapa? perasaan kakak gak kasih tahu kamu" tanyaku penasaran.
"Melodi yang kasih tahu. Kakak mah jahat, mau nikah adek gak diundang" ucapnya sambil mencebik kesal.
"Maaf ya, kakak gak dibolehin megang hp soalnya" jelasku.
Setelah itu Puja gantian memberi selamat pada pak Marvel.
__ADS_1
"Mau peluk boleh?" tanya Puja sambil melirikku. Tentu saja aku melotot tajam ke arahnya. Puja terkekeh.
"Selamat ya kak, semoga kalian bahagia selamanya, jagain kak Ratna. Jangan sakiti kakak aku." ucap Puja pada pak Marvel.
"Terimakasih, semoga kamu juga segera menemukan kebahagiaan kamu sendiri. dan tanpa kamu minta saya pasti akan menjaganya dengan baik" ucap pak Marvel. Mereka hanya bersalaman sebentar. Setelah itu Puja menghampiri Ikhsan dan memangkunya.
Setelah Puja, kini giliran Melodi. Melodi tak banyak bicara, hanya memelukku sebentar lalu tersenyum hangat. Lalu giliran kak Sean dan Kimberly. Sama seperti Melodi, kak Sean hanya menyalamiku sebentar, lalu memeluk pak Marvel dan memberi ucapan selamat. Yang terakhir Kimberly, wajahnya terlihat murung dan sembab, sepertinya Kimberly habis menangis. Dia hanya menyalamiku sebentar dan tersenyum tipis. Tapi saat menyalami pak Marvel, aku dibuat syok karena Kimberly langsung memeluk pak Marvel tanpa permisi.
Dia memeluk pak Marvel begitu erat, lalu menagis tergugu. Aku mengepalkan kedua tanganku menahan sesuatu yang akan meledak. Dadaku terasa panas, padahal rumah ini full AC. Aku menekuk wajahku saking kesalnya. Pak Marvel mencoba melepas pelukan itu, dan disaat bersamaan, kak Sean datang dengan tatapan marah dan langsung menyeret Kimberly dari sisi pak Marvel untuk pergi menjauh.
Aku jadi kepikiran, kenapa Kimberly selalu bersikap seperti itu, seolah-olah masih memiliki rasa pada pak Marvel. Padahal, dia sudah bersuami dan juga pak Marvel kini telah beristri. Sepertinya aku butuh penjelasan, awas saja kalau tidak mau jawab, siap-siap gagal malam pertama!
"Sepertinya Kimberly terlihat sangat sedih dan patah hati ya pak" sindirku pelan.
"Bisa iya bisa juga enggak, enggak usah diambil pusing sayang" jawab pak Marvel. Jawabannya justru membuatku bertambah kesal.
"Saya capek banget, kalau izin ke kamar sebentar boleh kan?" tanyaku.
"Apaan sih, beneran capek." cicitku geram. Karena benar-benar merasa kesal, aku menyelonong begitu saja tanpa menghiraukan pak Marvel. Aku menghampiri mama Inggrid untuk meminta izin hendak ke kamar.
"Ma, Ratna boleh ke kamar sebentar? mau istirahat" izinku.
"Boleh dong sayang, udah sana ke kamar, kamu enggak boleh capek-capek. Nanti malam kan mau lembur sama Marvel" bisik mama Inggrid. Aku tersipu mendengar ucapan mama Inggrid.
"Istirahatnya dikamar atas ya, di kamarnya Marvel" ucap mama Inggrid. Tiba-tiba aku jadi grogi.
"Ikhsan mana ya ma?" tanyaku.
"Sama Aunty nya tuh lagi main, udah kamu tenang aja, Ikhsan aman. Banyak yang jagain Ikhsan. Kamu fokus aja bikin adek buat Ikhsan" ucap mama Inggrid sambil terkekeh kecil. Lagi-lagi pipiku merah mendengar ucapannya. Aku melihat Ikhsan sedang bermain dengan Puja dan Melodi. Sepertinya Ikhsan tidak rewel, lalu aku memutuskan untuk segera istirahat karena merasa sangat lelah.
Tanpa ku sadari, pak Marvel mengekor dibelakangku, mengikutiku sampai ke kamar miliknya. Saat membuka pintu kamar pak Marvel, aku dibuat tercengang dengan kondisi kamar Pak Marvel yang sudah berubah, berbeda dari sebelumnya. Namun, saat asyik dengan keterkejutanku, tiba-tiba seseorang memelukku dari belakang.
"Sayang"
__ADS_1
Tiba-tiba tubuhku menjadi kaku, rasanya panas dingin dan jantungku jedag jedug tak karuan.
"Pak Marvel ngapain kesini?" pertanyaan konyol itu lolos begitu saja dari mulutku.
"Bod*h!" ucapnya pelan. Lalu dengan sekali gerakan pak Marvel memutar tubuhku agar menghadap ke arahnya.
"Istriku ini cantik sekali" ucapnya memujiku. Aku jadi bertambah salah tingkah. Pak Marvel mendekatkan wajahnya lalu mencium keningku cukup lama. Setelah dirasa puas, pak Marvel kembali menatapku dengan Intens.
"Bunyi detak jantung kamu kedengeran sayang" ucapnya menggodaku.
"Pak Marvel nyebelin!" aku memukul kecil dadanya.
"Jangan panggil pak lagi dong sayang, kan kita sudah jadi suami istri" ucapnya lembut.
"Terus apa?" tanyaku. Jujur saja aku bingung harus memanggil apa.
"Sayang juga boleh, atau Sweetheart" ucapnya.
"Sweetheart?" tanyaku bingung.
"Jantung hatiku. Itu artinya Sweetheart" jawab pak Marvel.
"Jadi... itu bukan nama pak Marvel, pak Marvel bohongin Ratna selama ini? iiiss jahaat!!" ucapku merajuk. Pak Marvel malah terkekeh pelan.
"Tapi saya serius, enggak boleh panggil pak, apa aja. Sayang, honey, mas, atau suamiku juga boleh. Biar mesra" ucapnya dengan wajah serius.
"Oke, oke... suamiku" ucapku pelan.
"Apa? enggak kedengaran, ngomong apa tadi sayang?" tanya pak Marvel menggodaku.
"Suamiku" ulangku lalu spontan mencium pipi kanannya dan setelah itu buru-buru kabur ke kamar mandi.
Haduuh! kenapa rasanya deg-degan gini?
__ADS_1