Adik Kandungku Melahirkan Anak Suamiku

Adik Kandungku Melahirkan Anak Suamiku
Marvel vs Sean


__ADS_3

Sore harinya, saat aku baru selesai mandi, mas Marvel sudah pulang dari rumah paman Albert. Mas Marvel melemparkan senyuman hangat saat membuka pintu kamar.


"Bumil udah mandi, seger banget" ucapnya sembari mencium keningku.


"Iyalah mas, ibu hamil enggak boleh mandi malem-malem, jadi sore gini udah mandi" jawabku setelah mencium punggung tangannya. Aku membantu mas Marvel melepaskan jas nya lalu meletakkannya di keranjang tempat pakaian kotor.


"Baby rewel enggak?" tanyanya sembari mengelus dan mencium perut buncitku.


"Enggak kok, anteng kayak mamanya" jawabku.


"Kakak Ikhsan rewel enggak? mas belum sempat ketemu Ikhsan loh, dimana dia?" tanya mas Marvel.


"Di bawah lagi main sama opah dan babysitter" jawabku.


"Mas mandi dulu aja, baru temui Ikhsan" ucapku.


"Oke" jawabnya sambil meletakkan kantong kresek besar.


"Ini apa mas?" tanyaku.


"Mainan buat Ikhsan" jawabnya sambil berlalu kedalam kamar mandi.


Aku beranjak menyiapkan pakaian ganti untuk mas Marvel. Aku memilih kaos berwarna putih polos dan celana pendek selutut berwarna moca. Menurutku mas Marvel terlihat sangat tampan jika memakai kaos putih polos begini. Tapi lebih ganteng lagi kalau sedang tidak pakai apa-apa, ups!


Setelah beberapa menit kemudian, mas Marvel terlihat sudah segar dengan handuk yang melilit dipinggangnya.


"Itu bajunya mas" ucapku sambil menunjuk baju yang aku simpan diatas kasur.


"Makasih sayang" ucapnya. Setelah itu mas Marvel buru-buru memakai pakaiannya. Aku sendiri membuang pandanganku ke arah lain.


"Kenapa masih malu-malu sih, udah sering lihat juga" godanya.


"Ish! apaan sih!"ucapku sembari mencebik kesal, lalu sesekali melirik sesuatu yang gondal-gandul. Apakah itu? tanyakan pada cicak didinding!


Setelah selesai, kami sama-sama turun kelantai bawah. Mas Marvel memegangiku dengan posessif dan penuh kehati-hatian. Sesampainya dibawah, sudah ada Ikhsan dan juga papa Gilbert yang sedang bermain bersama.


"Papa...!" Ikhsan berlari kearahku dan juga mas Marvel.


"Ikhsan...!" mas Marvel menangkap Ikhsan yang langsung menghambur kepelukannya.


"Ikhsan tangen papa" ucap Ikhsan dengan logat cadel.


"Papa juga kangen sama Ikhsan, anak papa udah pinter ngomong yah, hebat! tos dulu" ucap mas Marvel sembari mengajak untuk bertos ria. Ikhsan membalas gerakan tangan mas Marvel dan setelah itu tersenyum lebar.


"Ini papa bawa mainan buat Ikhsan, oleh-oleh" ucap mas Marvel sambil menyodorkan bungkusan kantong kresek kepada Ikhsan. Ikhsan menerimanya dengan senang. Namun, sesaat kemudian, dia nampak tengah berfikir.

__ADS_1


"Di surga ada yang cualan mainan ya pa?" tanyanya polos.


"Whaatt??" ucap mas Marvel terkejut.


"Emang siapa yang bilang papa ke surga?" tanya mas Marvel.


"Mama..." ucap Ikhsan jujur. Mas Marvel langsung melotot tajam ke arahku. Aduh, kenapa perasaanku jadi tidak enak begini? auto jenguk dedek lagi nanti malam!


"Papa enggak ke surga sayang, papa ke luar negeri" jelas mas Marvel. Ikhsan hanya mangut-mangut lalu dengan antusias membuka mainan yang diberi mas Marvel.


********


Malam harinya, kami semua berkumpul untuk makan malam bersama dimeja makan.


"Aku masih enggak nyangka kamu masih hidup" ucap kak Sean disela-selan menikmati makanannya.


"Aku akan terus hidup selagi Ratna hidup" jawab mas Marvel. Aku hanya tersenyum tipis saat mendengar jawaban mas Marvel, mas Marvel memang dari dulu tidak pernah berubah, selalu sukses membuatku kelelep dilautan cintanya yang begitu dalam.


"Seriusan, kok bisa gitu kamu masih hidup, secara mobil kamu terbakar dan masuk jurang" tanya kak Sean penasaran.


"Ada orang baik yang dikirim tuhan untuk menolongku" jawab mas Marvel.


"Dan kamu sangat beruntung" timpal kak Sean.


"Tapi aku juga merasa aneh" lanjut kak Sean.


"Kamu dan Kimberly pergi dan kembali dalam waktu bersamaan" ucap kak Sean curiga.


Deg


'Ucapan kak Sean ada benarnya' batinku.


Tiba-tiba aku mendadak lesu dan tidak berselera makan.


"Cukup Sean! Marvel baru pulang, jangan memantik pertengkaran!" tegas mama Inggrid.


"Aku hanya berbicara fakta" ucap kak Sean sambil tersenyum kecut.


"Apa maksudmu? kamu menuduhku dan Kimberly ada affair?" tanya mas Marvel dengan mata memerah menahan amarah.


"Kenapa kamu marah, kalau memang tidak salah" jawab kak Sean enteng.


"Aku marah karena takut istriku salah faham!" bentak mas Marvel.


"Stop!" bentak papa Gilbert.

__ADS_1


"Ini dimeja makan, kalian kakak beradik dari dulu tidak pernah akur. Papa dan mama sudah tua, bahkan kalian tidak memberi kami kesempatan untuk hidup tenang dimasa tua kami!" ucap papa Gilbert dengan bahasa inggris.


"Udah pa..." mama Inggrid mengusap-usap dada papa Gilbert.


"Marvel, masuk ke kamar. Dan kamu Sean, tanya istrimu kemana dia selama ini! jangan malah mencurigai adikmu yang baru pulang setelah bertaruh nyawa antara hidup dan mati selama 6 bulan ini!" ucap mama Inggrid dengan tatapan galaknya.


Akhirnya mama membawa papa Gilbert memasuki kamarnya, begitupula kak Sean dan Kimberly yang masuk kedalam kamarnya. Aku sendiri masuk bersama mas Marvel ke kamar kami.


"Kenapa? kamu kepikiran dengan ucapan Sean?" tanya mas Marvel saat melihatku yang hanya diam saja. Jujur saja aku ingin percaya saat itu, tapi ucapan kak Sean memang ada benarnya. Kenapa mereka menghilang dan datang dengan waktu yang hampir bersamaan?


"Ini terlalu kebetulan jika dipikir secara logika" jawabku.


Mas Marvel mengusap wajah kasar.


"Saya bahkan berjuang hidup dan mati, dan menahan rindu selama berbulan-bulan demi kamu, demi anak kita dan demi masa depan kita, tapi... kamu malah lebih percaya dengan Sean kepar*t itu!" ucap mas Marvel geram. Mas Marvel mengepal kuat jari-jarinya. Lalu berbalik dan hendak membuka handel pintu kamar.


"Mas!" panggilku. Aku takut mas Marvel bertengkar dan menghajar kak Sean. Aku buru-buru memeluknya dari belakang.


"Maafin Ratna... maaf..." ucapku lirih.


Huhh!


Mas Marvel menghembuskan nafas berat. Lalu berbalik menghadap kearahku dan memegang kedua pundakku.


"Dalam suatu hubungan, kepercayaan itu penting sayang, please... just you! hanya kamu satu-satunya. Sampai saya kembali menjadi tanah, hanya kamu satu-satunya wanita dalam hidup saya" ucap mas Marvel penuh penekanan.


Aku mendongak dan menatapnya dengan mata berkaca.


"Maafin Ratna" ucapku lirih.


"Oke, dimaafin, lain kali enggak boleh seperti ini" ucapnya tegas. Aku mengangguk dan kembali memeluknya dengan erat.


"Sudah malam, ayo tidur" ajak mas Marvel. Aku mengangguk patuh dan naik keatas tempat tidur. Setelah itu aku berbaring dipelukannya.


"Mas, tadi gimana saat kerumah paman Albert, apa ada perkembangan? apa pelakunya sudah diketahui?" tanyaku penasaran.


"Sudah, tapi dia sangat sulit untuk ditangkap. Sebab dia punya jaringan yang lumayan luas" ucap mas Marvel.


"Siapa mas, siapa orang itu?" tanyaku penasaran.


"Kamu yakin mau tahu?" tanya mas Marvel.


"Iya mas, Ratna mau tahu" jawabku mantap.


"Dia..."

__ADS_1


%%%%%%%%%%%


Hayo....! dia siapa?? bantu like dan komentarnya ya, dari bab satu sampai dengan bab ini. Supaya author semakin semangat updatenya.


__ADS_2