
Pagi itu Melodi baru saja terbangun dari tidur nyenyaknya. Ia merenggangkan kedua tangannya untuk kemudian beranjak kedalam kamar mandi. Namun langkahnya terhenti saat melihat Louis membawakan sarapan dan secangkir susu ditangannya.
"Wow.. sepagi ini dan kau sudah menyiapkan sarapan untukku kak?" tanya Melodi antusias.
"Ya, makanlah sebentar lagi orang suruhanku datang membawakan baju ganti untukmu, jadi secepatnya kamu bisa pulang dan pergi dari apartemen ini." ucap Louis dingin.
"Cih! kamu mau mengusirku kak?!" ucap Melodi kesal.
"Anggap saja begitu! lagi pula kamu hanya menyusahkanku saja." ucap Louis.
"Ah ya, aku baru ingat. Besok aku wisuda, jangan lupa datang ya. Aku akan senang jika kak Louis menyempatkan diri untuk datang ke acara wisudaku." ucap Melodi mengulum senyum. Dia sudah membayangkan jika teman-temannya pasti akan iri padanya saat lelaki sekeren Louis datang dan mengucapkan selamat diacara wisudanya besok.
"Cih! menjijikan. Untuk apa aku datang ke acara tidak berguna seperti itu" cibir Louis. Raut wajah Melodi berubah sedih.
"Aku harap kau datang, karena setelah itu aku akan langsung melanjutkan S2 ku di Sidney." ucap Melodi dengan wajah sendu.
"Dan aku tidak perduli" bohong Louis. Padahal, dilubuk hatinya yang paling dalam, dia merasa tidak rela jika Melodi akan pergi jauh.
"Ya, memang kau tak akan perduli, memangnya aku siapamu? dan jangan lupa datang kepertunanganku ya, besok malam. acaranya seminggu lagi. Jadi, sebelum aku berangkat ke sidney, mama dan papa sudah menjodohkanku dengan anak teman baiknya." ucap Melodi yang langsung melengos ke dalam kamar mandi, meninggalkan Louis yang masih terpaku ditempatnya. Louis merasakan hatinya bagai tertusuk bertubi-tubi saat mendengar Melodi yang akan pergi ke sidney dan juga akan bertunangan. Tidak! ini tidak boleh dibiarkan! Melodi hanya miliknya, bukan yang lain.
Setelah beberapa menit Melodi sudah selesai dengan ritual mandinya, dan dia sangat terkejut karena Louis masih berdiri ditempatnya.
"Kak, kenapa masih disini? dan mana pakaian gantiku?" tanya Melodi. Louis berbalik dengan wajah kusutnya. Bukannya menjawab, Louis malah memandangi wajah Melodi dengan intens. Sontak Melodi mundur saat Louis mendekatinya hingga akhirnya tubuhnya terpentok kedinding.
"Apa kamu benar-benar akan bertunangan?" tanya Louis dengan tatapan tajam.
"Ya"
"Kau tidak bohong?" tanya Louis penuh selidik.
__ADS_1
"Tidak, untuk apa aku berbohong, kalau tidak percaya tanya saja pada kak Sean dan kak Marvel." jawab Melodi.
"Bagaimana cara membatalkannya?" tanya Louis.
"Kau bicara apa kak?! sudahlah, aku mau ganti baju. Kamu keluar dulu kak." titah Melodi yang merasa sesak saat Louis semakin merapatkan tubuhnya.
"Apa kamu menyukainya? pria itu, pria yang akan melamarmu?" tanya Louis. Melodi merasa jengah dan juga bingung, sebab Louis mendadak jadi wartawan. Jika begini terus, otaknya bisa traveling kemana-mana, apalagi dia hanya mengenakan handuk sebatas dada sampai ke paha.
"Ya, aku menyukainya. Dia pria yang baik dan bertanggung jawab." jawab Melodi jujur. Memang Melodi menyukai pria itu, tapi hanya sebatas suka sebagai kakak, karena pria itu memang baik dan pekerja keras seperti dua kakak lelakinya, Marvel dan Sean. Mendengar jawaban Melodi, Louis semakin marah dan merasa sakit.
"Oh, selamat! semoga kamu berbahagia hidup dengannya. Aku tahu, lelaki itu pasti berasal dari keluarga baik-baik, terpelajar dan juga terpandang. Sekali lagi selamat Mel." ucapnya lirih. Lalu setelah itu berbalik dan hendak keluar, namun Melodi mengejarnya. Tapi tiba-tiba handuknya terlepas dan terjatuh kelantai membuat Melodi panik dan malah merapatkan tubuhnya kepada Louis agar pria itu tak melihatnya.
Sementara Louis sendiri merasa kaget sekaligus berdebar saat bulatan kenyal itu menempel dipunggungnya.
"Kak, tetap seperti ini jangan melepas pelukanku dan jangan melihatku!" ancam Melodi.
"Kamu..."
'Ah, sial! kutu betina satu ini selalu saja membangkitkan gair*ahku.' umpatnya dalam hati.
Saat ini rasanya Louis ingin menendang saja handuk itu, tapi akal sehatnya masih tersisa sedikit. Ya, sedikit, tapi efeknya lumayan bisa menghindari sesuatu yang tidak seharusnya.
"Ini" ucap Louis setelah berhasil mendapatkan handuk itu dan menyerahkannya kepada Melodi. Dan setelah itu Melodi buru-buru memakainya kembali.
**********
Beberapa saat kemudian
Kediaman Amstrong
__ADS_1
"Terimakasih kak, sudah mengantarku pulang" ucap Melodi sebelum turun dari mobil Louis.
"Hmm." jawab Louis singkat.
"Kak, apa aku boleh meminta sesuatu, sebelum kita benar-benar berpisah?" tanya Melodi ragu-ragu. Mendengar kata berpisah membuat Louis bertambah gelisah, Louis merasa patah hati sekaligus merasa sesak.
"Ya" jawab Louis.
"Kak?"
"Apa lagi?" kini Louis menoleh kearah Melodi.
Cup
Melodi menempelkan bibirnya dibibir Louis. Hanya menempel saja, dan langsung berniat melepasnya sebelum pada akhirnya Louis menekan tengguknya agar semakin dalam dan tidak terlepas. Louis menyesap dan menjelajahi setiap rongga bibir gadis yang sudah menjadi candunya itu. Hingga pada akhirnya salah satu dari mereka hampir kehabisan nafas karena Louis terlalu bersemangat melakukannya.
"Hentikan!" ucap Melodi yang langsung mendorong tubuh Louis agar menjauh.
"Aku..."
"Aku anggap ini hadiah perpisahan darimu. Sekali lagi terimakasih." ucap Melodi seraya memaksakan senyumnya.
"Mel..."
"Aku harus masuk, mama dan papa pasti sudah menungguku. Karena hari ini aku harus ke butik untuk mencari gaun pertunangan dan juga baju untuk wisuda." ucap Melodi.
"Ya" Louis seakan tak dapat berkata-kata lagi.
🍁🍁🍁🍁🍁
__ADS_1
Othor mau selesaikan dulu ceritanya Louis vs Melodi. Sean vs Kimberly. Nah, baru deh lanjut macan bunting dan babang Marvel. Oh iya ada yang tanya emang boleh Melodi nikah sama Louis, jawabannya boleh ya. Kagak ada larangannya, mereka tidak sekandung, beda bapak beda ibu. Bukan makhrom. Hanya memang dimasyarakat kita hal itu belum lazim. Jangan Lupa like komentar dan juga vote sebanyak-banyaknya.