
"Keluar kamu Ratna!" mas Ilyas terus berteriak memanggil namaku. Aku sangat ketakutan, tubuhku gemetar menahan rasa sakit dan lelah, belum lagi Ikhsan yang menangis mengeluarkan air mata karena mulutnya terus-terusan aku bekap.
"Syuuuttt" aku berusaha menyuruh Ikhsan untuk tetap diam agar tak ketahuan mas Ilyas.
Saat itu aku sudah pasrah, tubuhku sudah lemah dan juga lelah, aku sudah tak punya tenaga lagi. Jika mas Ilyas berhasil menemukanku aku akan melawannya sampai titik darah penghabisan, aku akan berjuang walau aku harus mati.
Aku mendengar suara pintu digebrak dengan sangat keras. Ternyata mas Ilyas mendobrak pintunya. Aku semakin bergetar menahan rasa takutku. Pelan-pelan ku dengar dia melangkah masuk keruangan ini, namun tak lama setelah itu aku melihat sorot cahaya senter.
"Hey, siapa kamu?! ngapain kamu disitu!" aku mendengar suara orang lain yang sepertinya sedang memergoki mas Ilyas.
"Sa-saya mau nyari istri saya pak" jawab mas Ilyas gelagapan seperti maling yang tertangkap basah.
"Alah, jangan bohong! kamu pasti mau maling kan? ngaku aja!" bentak seseorang. Sepertinya mereka ada dua orang, aku mendengar mereka bergantian mengintrogasi mas Ilyas, dan tak lama setelah itu mereka membawa paksa mas Ilyas menjauh dari tempat ini, atau bahkan mungkin mengusirnya untuk keluar dari pabrik ini.
Aku berbafas lega lalu melepas bekapan tanganku di mulut Ikhsan, aku sangat bersyukur Allah masih melindungiku malam itu.
"Ikhsan ngantuk nak? bobok ya, udah gak apa-apa sayang. Ikhsan yang kuat ya sayang, demi mama... maafin mama Ikhsan, maafin mama" aku menangis sambil memeluk Ikhsan, aku merasakan sakit karena anak sekecil Ikhsan harus ikut merasakan ketakutan yang luar biasa karena pertengakaran kedua orang tuanya. Lamat-lamat Ikhsan tertidur dipangkuan ku, aku sendiri sudah sangat mengantuk, namun karena takut mas Ilyas akan kembali, dengan sekuat tenaga aku menahan mataku sambil terus melek. Namun nyatanya aku tetap tertidur karena lelah dan kantukku yang terus menyerang.
Sampai akhirnya aku terbangun dalam keadaan terang, sinar matahari menembus kaca jendela ruangan itu. Aku sedikit lega, karena pada siang hari akan ada banyak orang yang jika terdesak aku bisa meminta pertolongan mereka. Aku berusaha bangkit untuk membawa Ikhsan keluar dari tempat itu, namun aku merasakan sakit yang luar biasa di telapak kakiku. Aku melihat luka robekan ditelapak kakiku yang cukup dalam, sepertinya aku menginjak kayu dan tertusuk lumayan dalam saat diperkebunan karet tadi malam. Tubuhku sampai demam, ditambah seluruh otot dan tubuhku terasa pegal dan linu, badanku rasanya remuk. Tapi aku harus kuat demi Ikhsan.
Aku berjalan dengan kaki terpincang-pincang dengan Ikhsan digendonganku. Badanku menggigil dan juga lemas. Aku memindai keseluruh tempat dipabrik ini, aku tidak tau harus kemana dan bagaimana cara keluar dari pabrik ini. Aku terus melangkah maju namun lama kelamaan aku tidak kuat menahan keseimbangan tubuhku, lama kelamaan pandanganku terasa buram dan setelah itu aku tak sadarkan diri.
********
Aku terbangun dengan perasaan kaget karena melihat ruangan disekitarku sudah berbeda. Aku tidak mengenali tempat ini, tapi ini seperti ruangan dirumah sakit. Kepalaku masih terasa pusing namun sesaat kemudian aku teringat Ikhsan, Ya! dimana Ikhsan? aku panik mencari keberadaan Ikhsan yang tidak ada disampingku.
'Jangan-jangan mas Ilyas yang ambil Ikhsan' batinku. Aku buru-buru turun dari kasur pembaringan itu. Namun langkahku terhenti saat melihat seseorang yang masuk sambil menggendong Ikhsan. Orang itu sepertinya tidak asing, tapi bukan mas Ilyas ataupun kang Sofyan. Aku bernafas lega karena ketakutanku tidak terjadi.
"Sudah bangun ceu?" tanyanya sambil tersenyum hangat. Ketika dia menyebutku dengan kata 'ceu' aku langsung ingat padanya. Ya, dia sopir yang sudah dua kali memborong nasi udukku.
__ADS_1
"Sudah pak, maaf malah jadi merepotkan" ucapku sungkan.
"Makan dulu ceu, itu sudah ada nasi sama teh anget. Anaknya biar saya gendong dulu" ucap orang itu.
Aku mengangguk, jujur saja aku memang merasa sangat lapar dan lemas karena berlarian dikebun karet semalam. Demi Ikhsan aku memasukkan suapan demi suapan ke mulutku. Aku harus kuat, aku harus sehat, aku harus punya tenaga untuk melindungi Ikhsan. Setelah selesai aku langsung meminta Ikhsan dari pangkuan lelaki itu. Ikhsan sendiri sepertinya sudah sangat antusias ingin secepatnya kembali di gendong olehku.
"Apa bapak yang membawa saya kesini?" tanyaku penasaran, karena seingatku tadi pagi aku masih berada dipabrik karet.
"Tadi pak bos yang nemuin eceu pingsan. Terus dibawa kesini" katanya.
"Pak bos?" aku kembali mengingat lelaki berkacamata hitam yang selalu menunggu didalam mobil saat sang sopir membeli nasi udukku.
"Oh, tolong sampaikan ucapan terimakasih saya ya pak sama bosnya. Saya enggak enak malah jadi ngerepotin." ucapku berterimakasih.
"Iya ceu, kalau mau langsung ngomong juga boleh, itu orangnya ada didepan." ucap pak sopir.
"Oh, iya pak." aku berusaha turun untuk menemui bos yang sudah membantuku. Tapi aku masih merasakan sakit dikakiku yang kini sudah terbalut perban.
Aku terpaku saat melihat seseorang yang begitu tampan, gagah dan berwibawa memasuki rungan itu. Sejenak aku terpana pada pesona lelaki itu, dia tak lagi memakai kacamata hitamnya. Ada ya, lelaki setampan itu? aku kira mas Ilyas yang paling tampan di dunia, eh ternyata kalau dibandingkan pria di depanku ini mas Ilyas sangat jauh dibawahnya. Eh, kenapa sih otakku jadi tak tahu malu seperti ini? buru-buru aku menundukkan pandanganku, tidak kuat rasanya melihat lelaki titisan nabi yusuf itu.
"Sudah baikan?"
Astagfirullah! aku merutuki fikiran dan juga perasaanku yang langsung dag dig dug hanya karena mendengar suara bariton milik lelaki itu.
"Eh, su-sudah pak" aku malah jadi salah tingkah.
'Ih apaan sih kamu Ratna!' makiku dalam hati.
"Saya bukan bapak kamu" ucapnya kala itu.
__ADS_1
"Hah?" aku mendongak untuk meliahat kearahnya.
Deg
Tatapan kami bertemu, matanya yang tajam seakan-akan sedang menusukku. Aku kembali menundukkan pandanganku. Dia sendiri menarik kursi lalu duduk berjarak satu meter dari ku.
"Kenapa kamu bisa ada di pabrik karet itu?" tanya lelaki itu to the point.
"Itu, saya..." aku menggantung ucapanku. Aku bingung harus darimana menjelaskannya karena dia adalah orang asing yang tidak mengenalku sama sekali.
"Cerita saja, siapa tahu saya bisa membantu" tawarnya.
"Em, maaf pak, itu saya cuma enggak sengaja aja masuk pabrik. Terus ketiduran didalam" bohongku.
"Oh iya, terimakasih sudah menolong saya" lanjutku.
Dia mengangguk faham, namun sedetik kemudian kembali menatapku tajam.
"Apa kamu sedang dalam bahaya? atau mungkin sedang dalam ancaman?" tebaknya, seolah mengerti permasalahanku.
"Itu... bukan urusan bapak, saya tidak bisa menceritakan masalah pribadi pada orang lain" ucapku sambil menunduk. Aku benar-benar tak mau melibatkan orang lain dalam masalahku. Tapi disisi lain juga aku kebingungan ingin meminta bantuan pada siapa, tidak mungkin aku pulang kerumah itu lagi, ditambah handphone dan uang yang tidak sempat terbawa membuatku semakin kalut.
"Biar saya antar pulang" tawarnya.
"Enggak!" cepat-cepat aku menolak tawarannya. Bukan karena menolak diantar, tapi saat ini aku memang tak mau pulang kerumah itu. Aku takut sekali mas Ilyas masih disana.
"Jangan bawa saya kerumah itu pak, sa-saya enggak mau" lanjutku.
"Dengar, saya tahu kamu pasti sedang mengalami masalah besar, atau bahkan mungkin sedang dibawah ancaman seseorang. jika kamu mau, kamu boleh sementara tinggal dirumah saya. Saya bukan orang jahat, percaya sama saya, tidak ada gunanya saya berbuat jahat sama kamu."
__ADS_1
"Sa-saya..."