
"Cepat Gendis " seru Danar pada Gendis.
"Iya mas,sebentar lagi selesai" jawab Gendis sambil memasukkan pakaian terakhirnya kedalam koper.
Danar menghampiri Gendis.
"Lama banget sih" omel Danar kesal.
"Ya bantu dong biar cepet" protes Gendis.
"Jangan kaya emak emak deh,ngomel,marah aja senangnya" hardik Gendis kemudian.
"Hhhhh,,," Danar mendengus kesal pada Gendis.
"Kamu jadi istri ngejawab terus"
"Hahhhhh,,,kalau aku dianggap kurang ajar baru kamu sebut aku istri?" tanya Gendis yang merasa aneh dengan kata kata Danar tadi..
"Biar gimanapun seorang istri itu gak boleh ngejawab kata kata suami"
"Hemmmmm,," Gendis hanya berdehem dan memilih untuk diam dan tidak lagi menjawab perkataan Danar.
Hari ini tepat hari minggu Danar cepat cepat mengajak Gendis untuk pindah kerumahnya,rasanya mungkin seperti angin surga bisa keluar dari rumah mertua.
Padahal kedua orang tua Gendis sangatlah baik tapi dasar danar sja yang sudah ingin hidup bebas jadi langsung saja memanfaatkan waktu dengan sebaik baiknya. Sudah waktunya pindah ya pindah gak menunggu lagi.
Danar dan Gendis keluar kamar,mereka menghampiri ayah dan ibu yang menunggu diruang tengah. Tampak wajah keduanya terlihat sedih,terutama ibu Endang. Air mata keluar dari sudut matanya dan sesekali dia dia usap.
Danar menyalami kedua mertuanya serta mencium punggung tangan mereka satu dan berpamitan. Begitu juga Gendis. tampak Gendis menahan kesedihannya,gak ingin menangis dihadapan orang tuanya.
"Aku pamit ya ayah,,ibu" kata Gendis sambil menyalami keduanya,dan memeluknya bergantian.
"Iya nak,,jadilah istri yang berbakti pada suami,nurut sama suami,dan menghargai" ibu memberi nasehat.
Gendis hanya menatap ibunya dan mengangguk pelan.
"Nak Danar saya titip anak gadis saya,sayangi dia sebagaimana kami menyayanginya,perlakukan dia dengan baik,jagalah dia,dan tegurlah dia jika dia salah" pesan pak Surya pada Danar.
"Baik pak" jawab Danar sambil mengangguk.
Selesai dengan drama berpamitan Danar dan Gendis sudah masuk ke dalam mobil. Danar mengemudi perlahan dan keluar halaman rumah orang tua Gendis. Sebelum menjauh Danar dan Gendis melambaikan tangan kepada mereka.
Kini mereka sudah berada dijalanan yang cukup ramai,karena ini adalah hari Minggu,banyak sekali orang orang yang sedang menikmati hari libur mereka di tempat tempat yang disukai.
"Huffffttttt" Danar menghembus nafas lega.
"Akhirnya pulang juga" katanya kemudian merasa lega.
"Berasa keluar dari penjara kah?" tanya Gendis.
"Yaa,legaaaaq rasanya" jawab Danar bahagia.
"Di rumah nanti kamu gak perlu melakukan apa apa,aku sudah mempekerjakan asisten rumah tangga" jelas Danar
"sudah ada yang bertugas masak dan beberes rumah"
"Bukannya kamu jarang dirumah,kenapa harus masak?" tanya Gendis bingung .
"Memangnya para asisten gak butuh makan" jawab Danar kesal.
__ADS_1
"Hemm yaa,,story" kata Gendis paham.
beberapa menit mereka sampai dia sebuah rumah bergaya modern. Danar memasuki halaman rumah yang tidak berpagar.
Kemudian keduanya turun dari mobil. Danar meminta asisten laki laki untuk membantu membawa koper masuk.
Di dalam sudah menunggu dua asisten perempuan menyambut mereka.
"Selamat datang den Danar" sapa keduanya.
"Ya trimakasih bik" jawab Danar sambil berlalu.
Gendis tersenyum pada keduanya dan dibalas juga senyuman oleh mereka.
Danar berhenti di ruang tengah kemudian memperkenalkan Gendis kepada para asisten rumah tangganya yang sudah berkumpul di ruang itu juga.
"Saya mau memperkenalkan kepada kalian,dia adalah Gendis,istri saya" terang Danar kemudian.
"Jadi sekarang dia adalah nyonya dirumah ini" jelas Danar lagi.
Wajah Gendis tampak pias saat Danar menyebutkan kata nyonya padanya.
"Baik den" jawab mereka serempak.
"Tapi maaf jangan panggil saya nyonya,itu bukan sebutan yang pantas buat saya" tiba tiba Gendis protes.
Danar menatap Gendis sedikit aneh biasanya wanita akan senang disebut seperti itu apalagi kalau sudah merasa kaya raya.
"Tapi ini perintah den Danar nyonya" jawab salah satu asisten.
"Mas,,,bisa di panggil dengan sebutan lain saja?" tanya Gendis pada Danar sedikit memohon.
"Terserah kamu saja" jawab Danar.
Danar menahan tawanya mendengar permintaan Gendis.
"Ya sudah kalian panggil saja dia mbak" kata Danar kemudian memberitahu asisten.
"Bawakan barang dia kekamar atas" perintah Danar pada salah satu asisten perempuannya.
"Kamarnya sudah disiapkan kan? Yang kemarin itu saya minta?" tanya Danar
" Sudah den,kamarnya mbak Gendis sudah siap"
"Baguslah"
"Mari ikut saya mbak Gendis" Pinta sang asisten sambil membawakan koper Gendis naik kelantai 2 rumah Danar.
Danar juga naik kelantai 2 untuk menuju kamarnya sendiri.
"Ingat ya,kamar kita berbeda,jangan bermimpi ingin satu kamar denganku" bisik Danar sebelum mereka berpisah menuju kamar masing masing.
"Jangan kepedean mas" jawab Gendis kesal..
"Siapa yang kepedean,aku cuman mengingatkan mu"
"Gak mas ingatkan aku sudah paham"
"Ya bagus dong"
__ADS_1
"Sumpah laki laki kok gini amat sih kamu mas,sepertinya senang mencari keributan,atau beraninya hanya sama perempuan saja" tiba tiba Gendis meledek Danar,tentu Danar panas mendengar ledekan itu.
"Kenapa?" tanya Gendis kemudian.
"Menyebalkan" kata Danar sambil berlalu dari hadapan Gendis dan masuk kedalam kamarnya.
Danar benar benar merasa sebal sekali pada Gendis. Andai orang tuanya merestui hubungannya dengan Lalita mungkin dia gak akan tersiksa seperti ini.
"Ahhh,,kenapa bisa aku benci sekali dengan dia,padahal aku yang memintanya untuk ku jadikan istri,tapi justru aku sangat membencinya" gumam Danar sambil merebahkan tubuhnya diatas kasur.
Danar sadar ini bukan kesalahan Gendis,justru Gendis adalah korban dari keegoisannya tapi seakan akan ini adalah kesalahan Gendis. melihatnya saja Danar sudah muak sekali.
Rasa kesalnya pada kedua orang tuanya dia lampiaskan pada Gendis.
Danar merogoh ponsel dikantong celana,seperti biasa dia ingin menghubungi Lalita kekasihnya
Telpon berdering kemudian tidak lama terdengar suara dari sebrang telpon.
*Hai sayaaanggg* sapa Lalita manja
*Hai juga,,lagi ngapain nih hari Minggu?*
*Gak ngapa ngapain sayang,di rumah aja nih*
*Gak jalan?* tanya Danar.
*enggak sayang,,kamu gak ajakin aku jalan sih* kata Lalita manja
*Iyaa,nanti malam yaa kita jalan,aku jemput kamu jam 7 oke*
*Okeee sayaangg,,aku tunggu yaaa* terdengar suara Lalita girang.
*Iya sayang,,* janji Danar.
*Oh ya aku sudah kembali lagi kerumahku* Danar memberitahu Lalita .
*oh yaa,kapan sayang?*
*Baru aja nyampe *
*Dia juga yaa?* terdengar suara Lalita melemah.
*Iya sayang,,masa harus aku tinggal* jelas Danar.
*Tapi gak tidur satu kamar kan*
*Enggak lah sayang,dia aku siapin kamar sendiri*
*Bagus lah sayang*
*Kan aku sudah bilang,aku gak mau sama dia,apalagi tidur sekamar dengan dia* jelas Danar lagi meyakinkan Lalita.
*Iya sayang,,,*
*Ya sudah,,tunggu aku nanti malam ya,kita makan malam * Danar mengingatkan Lalita.
*Oke sayang,,*
*Ya sudah aku tutup telponnya dah sayang,,,muachhh*
__ADS_1
*Muaachhh* .
Danar menutup telponnya dan menaruh dia tas nakas. Gak lama Danar tertidur .