
Danar bergegas untuk ke kantor karena hari ini ada rapat penting,dan itu membuatnya tidak sempat untuk sarapan,dan sebelum ke kantor dia juga ingin mampir dulu ke rumah Lalita.
"Mas,,kenapa buru buru?" tanya Gendis sambil mendekat pada Danar.
Danar mendongakkan kepalanya kemudian kembali menunduk untuk memakai sepatu.
"Aku ada rapat penting"
"Harus pagi pagi sekali,apa gak sempat kalau sarapan dulu"
"Enggak,aku buru buru,aku juga ingin menemui Lalita dulu"" jawab Danar sambil berdiri karena sudah selesai memakai sepatunya.
Gendis sedikit terkejut tapi Gendis berusaha bersikap tenang.
"Mau aku antarin makan siang?" tanya Gendis kemudian.
"Sudahlah gak usah sok perhatian sama aku,supaya apa?" kata Danar kasar.
Gendis terdiam dan memilih untuk membiarkan Danar pergi.
Kemudian Danar meninggalkan Gendis yang masih berdiri mematung di ruangan tengah.
Danar mengambil mobilnya yang ada di Garasi dan melaju dijalanan yang masih lengang.
Danar mengarahkan mobil ke rumah Lalita dulu sebelum ke kantor.
Beberapa menit Danar sampai di rumah Lalita yang tampak sepi. Danar mengetuk pintu rumah itu,kemudian pintu terbuka,terlihat Lalita berdiri dibalik pintu dengan senyumannya yang memuat Danar selalu mabuk kepayang.
"Sayang sudah datang?" tanya Lalita kemudian dan menyuruh Danar untuk masuk kedalam.
"Iya,,aku sengaja pagi pagi dari rumah,karena aku juga ada rapat penting hari ini"
"Ada apa sayang minta aku kemari?" tanya Danar sambil duduk disofa.
Lalita duduk disebelah Danar dan menggelayut manja.
"Aku kangen sayang" kata Lalita kemudian.
"Kangen?? Bukannya semalam kita habis bertemu?" tanya Danar sedikit heran dengan sikap Lalita ini.
"Masa gak boleh kangen setiap hari sama orang yang dicintai" Lalita protes dan wajahnya berubah menjadi cemberut.
"Aku kira ada hal yang penting sayang,makanya aku mendulukan kamu,kesini pagi pagi" Danar sedikit kesal karena merasa Lalita membuang buang waktunya saja.
__ADS_1
"Hemmm,,,maaf sayang"
"Ya sudahlah,,," jawab Danar dia memang gak pernah bisa marah pada wanita tercintanya itu.
"Sayangg,,,,gimana? Apa masalahnya masih saja belum selesai?" tanya Lalita kemudian mengungkit masalah yang sedang terjadi diantara dia dan orang tuanya.
Danar menatap Lalita dengan lembut.
"Sabar sayang,,,aku sedang memikirkan bagaimana caranya supaya aku bisa mendapatkan semua itu" jawab Danar berusaha membuat Lalita untuk tenang dan bersabar.
"Nanti saja lagi kita bicarain itu. sekarang aku harus ke kantor sayang"
"Belum sayang,ini masih terlalu pagi" Lalita menahan Danar.
"Perjalanan dari sini ke kantor kan lumayan jauh sayang,aku harus berputar arah,belum lagi nanti kalau macet"jelas Danar lagi.
Wajah Lalita berubah,tidak lagi memberi senyum untuk Danar. Danar paham dengan sikap Lalita itu.
Danar membelai kepala Lalita dan tersenyum.
"Apa kurang waktu kita semalam? sejak pulang dari kantor aku sudah langsung kemari"
"Kalau aku senggang aku pasti temui kamu lagi sayang,sabar. Dan beberapa hari pekerjaanku sedang menumpuk,jadi aku minta maaf kalau aku sedikit cuek sama sayang dan jarang menemui sayang" jelas Danar kemudian.
Danar berdiri dari duduknya sebelum pergi dia mencium Lalita terlebih dulu.
"Andai kamu yang jadi istriku sayang,sudah pasti setiap pergi ke kantor aku selalu menciummu seperti ini" kata Danar sedikit sedih.
*Hemm ya sayang,,,aku juga ingin seperti itu juga,tapi sayang bukan aku yang menjadi istrimu" jawab Lalita menyindir.
Danar hanya tersenyum meski kecut.
"Ya sudah aku pergi dulu" pamit Danar sambil berlalu dari hadapan Lalita menuju ke mobilnya,dan melambaikan tangannya pada Lalita sebelum melaju meninggalkan halaman rumah kekasih ya itu.
Akhirnya Danar sudah sampai di kantor setelah hampir 45 menit melaju dijalanan,apalagi tadi sudah mulai macet di mana mana.
Danar masuk ke kantor dan dilihat ayah mertuanya sudah duduk dimeja kerja.
"Pagi ayah" sapa Danar dan mencium punggung tangan ayah mertuanya itu.
"Pagi nak" jawab pak Haryo sambil tersenyum.
Danar masuk kedalam ruangan kerjanya.
__ADS_1
Sekertarisnya masuk setelah dia memanggilnya,Danar ingin menanyakan soal rapat hari ini.
Sekertaris memberitahukan rapat hari itu akan dihadiri oleh para pemilik saham dan juga beberapa petinggi perusahan yang sedang bekerja sama dengan perusahaannya.
Danar manggut manggut,kemudian bersiap untuk mengadakan rapat di ruangan yang sudah ditentukan.
Beberapa jam kemudian rapat selesai,Danar kembali ke ruangannya,dan kara koleganya sudah kembali ke tempat kerja mereka masing masing.
Danar menghempaskan pantat dikursi kerja,kedua tangannya dia letakkan dikening dan merilekskan pikirannya.
Tiba tiba saja pintu ruangannya terbuka dan terlihat Lalita masuk kedalam. Danar terkejut Lalita datang tanpa ijin terlebih dulu padanya,dan Danar pun sudah melarang Lalita untuk datang ke kantor.
"Sayang,kenapa sayang kesini?" tanya Danar sedikit kesal.
"Kan sudah aku bilang jangan ke kantorku lagi. kalau ingin bertemu kita bisa bertemu diluar"
Wajah Lalita masam dan gak suka mendengar Danar berkata seperti itu.
"Kenapa sayang,sejak sayang menikah aku dilarang untuk datang ke kantor sayang lagi,anehh" jawab Lalita marah.
"Iya sayang,,,aku hanya ingin menjaga supaya orang orang tidak bergosip tentang kita,apalagi aku sudah menikah dan menikah bukan sama kamu sayang" jelas Danar.
"Benar benar ya,,aku sudah seperti orang asing,dan bukan yang utama lagi buat kamu"
"Bukan begitu sayang,,sayang harusnya ngerti. Kita sekarang harus berhati hati sayang"
Danar tidak menceritakan pada Lalita kalau Gendis juga merupakan anak dari salah satu bawahannya. Danar tidak ingin Lalita menjadi besar kepala dan semakin sombong karena dirinya hanya menikahi orang biasa saja. Dan bukan seperti itu juga sebenarnya,Danar hanya menjaga saja supaya Lalita tidak mengganggu ayah Gendis,karena Lalita wanita yang benar benar nekad dan berani.
Dan juga Danar menjaga,takut kalau di kantor ini ayahnya memasang mata mata untuk melaporkan apa yang dia lakukan di kantor,apalagi kalau sampai Lalita datang dan ada yang melapor bisa habis dia.
"Sayang,,,aku mohon jangan pernah datang lagi kemari,terus terang ayah tahu kita masih berhubungan,dan kalau sampai disini ada mata mata ayah dan melaporkan pada ayah bagaimana sayang,bisa gagal rencana kita" jelas Danar berusaha membuat kekasih tercintanya itu mengerti .
Wajah Lalita masih saja cemberut dan gak ingin mengerti dengan penjelasan Danar.
"Sampai kapan aku harus seperti ini,,dan sekarang kita harus kucing kucingan,padahal aku pacar kamu,dan aku yang pertama hadir dihidupmu bukan dia,tapi kenapa aku yang diatur atur" omel Lalita sambil membuang muka dan melipat kedua tangan didada.
"Sabar yaaa sayanggg,,,emmm sekarang kamu keluarlah dulu,tunggu aku dibawah,kita makan diluar oke" Danar mencoba mengalihkan obrolan mereka dan membujuk Lalita.
Lalita berdiri dari duduknya dan pergi meninggalkan Danar tanpa sepatah katapun.
Danar hanya menatap kepergian Lalita dan kembali membereskan pekerjaannya yang masih sedikit lagi. Setelah itu dia menyusul Lalita kebawah dan akan menyenangkan hati kekasihnya itu.
Ahh Danar masih begitu cinta dengan wanita itu,wanita yang baginya tiada duanya,yang sanggup memberi kebahagiaan untuknya selama mereka bersama,wanita yang mencintainya dengan tulus,yang mengerti tentang dirinya.
__ADS_1
Apa Danar saja yang memang terlalu memuji dan bucin pada Lalita sampai akal sehatnya pun hilang.