
"Mas sepertinya ayah dan ibu mas tidak datang lagi kemari siang ini" kata Gendis setelah selesai sarapan dan membereskan sampah pembungkus makanannya tadi.
"Iyaa,,gak apa apa,baru juga semalam dari sini" jawab Danar.
Tidak terasa sudah jam sepuluh dan waktunya dokter visit.
Dan benar saja,tidak lama masuklah dua orang dokter,satu dokter Hakim yang merupakan dokter bagian penyakit dalam dan juga dokter Indri yang sengaja datang untuk menjenguk Danar,juga seorang perawat pendamping dokter Hakim.
Dokter hakim menyapa Danar dan langsung memeriksa keadaan Danar.
"Gimana keadaan pagi ini tuan Danar?" tanya sang dokter.
"Sudah membaik dokter" jawab Danar.
"Oh yaa,,bagaimana makannya?"
"Aman dok,tadi saya sudah bisa makan tanpa hambatan" jawab Danar lagi dengan sedikit bergurau pada sang dokter. Tampaknya mereka sudah saling mengenal lama seperti halnya Danar dan dokter Indri.
Dokter Hakim dan Indri tersenyum mendengar kelakar Danar.
"Baiklah,,kita masih harus melihat lagi keadaan hari ini. Kalau semakin membaik besok akan saya ijinkan pulang"jelas dokter Hakim kemudian.
"Gak bisa hari ini aja dok?" tanya Danar menawar.
"Kenapa? Sudah tidak betah?"
"Ya dok,badan saya malah berasa pegal pegal,meskipun kamar nya nyaman tapi tetap saja kalau di rumah sakit itu tidak nyaman" jelas Danar tanpa berbasa basi.
"Lebih baik menurut apa kata saya saja,nanti akan saya kirim perawat yang cantik agar tuan Danar betah" jelas dokter hakim tanpa sadar kalau diruangan ini ada Gendis istri Danar.
Gendis berusaha terlihat biasa saja mendengar candaan itu dan gak mau menjadi baper karena toh dia hanya istri yang gak diharap,dan juga sang dokter tidak mengenal siapa dirinya.
Danar menatap Gendis tapi Gendis memalingkan wajahnya dari tatapan itu.Gendis hanya gak ingin terlihat bodoh Dimata Danar.
"Baiklah saya permisi dan silahkan lanjutkan lagi istirahat,jangan lupa makan yang teratur dan obatnya diminum" dokter hakim berpamitan sambil memberi nasehat pada Danar.
"Baik,trimakasih dokter" ucap Danar.
Dokter Hakim melangkah keluar bersama perawat,sedang dokter Indri masih berada dikamar ini.
"Tuh dengar apa kata dokter Hakim,mau sembuh harus nurut" seru dokter Indri kemudian pada Danar.
"Iya iya,,,"
"Ehh iya aku semalam telpon Lalita"
"Hahhh,,buat apa?"
"Ya kabari dia kalau kamu sakit dan sedang dirawat di rumah sakit ini" jelas dokter Indri tanpa sungkan dan merasa canggung meski ada Gendis diantara mereka,dengan santai dia membicarakan soal Lalita dan malah memberitahu keadaan Danar pada perempuan itu,.
"Seharusnya gak usah kamu beritahu dia" kata Danar sedikit menyesalkan yang dilakukan dokter Indri.
"Kenapa? Bukannya dia masih pacar kamu?" kata dokter Indri bertanya,Gendis melirik sedikit pada mereka berdua,dan terlihat dokter Indri pun juga meliriknya,dan entah kenapa terlihat lirikan tidak suka dokter itu pada dirinya.
"Indri please jangan bicarain hal ini" pinta Danar memohon.
"Hemm,,,oke"
"Ya sudah istirahat lah lagi,dan sebentar lagi waktunya jam besuk,tunggulah Lalita dia pasti akan datang" kata dokter Indri sembari berlalu dari hadapan Danar dan meninggalkan kamar tanpa sedikitpun mengapa Gendis.
Gendis merasa dokter Indri seperti tidak menyukainya,dan sepertinya juga dia bersahabat dengan Lalita,makanya dia shock saat tahu Danar sudah menikah dengannya dan mungkin hal itulah yang menjadikan dokter itu bersikap tidak ramah padanya.
Gendis menghampiri Danar dan membantu Danar merebahkan tubuhnya lagi.
"Istirahat lagi mas"
"Yaa,,,"jawab Danar.
__ADS_1
Danar terlihat memejamkan matanya,kemudian Gendis kembali lagi kesofa dan duduk disana sambil menyelonjorkan kaki. Gendis asyik bermain ponsel melihat lihat aplikasi hiburan.
"Mas sudah bangun?" tanya Gendis saat melihat Danar yah sedang berusaha untuk duduk sendiri. Gendis segera saja menghampiri untuk membantu Danar.
"Trimakasih" ucap Danar.
"Aku harus,," kata Danar kemudian memberitahu Gendis.
"Ohh,iya sebentar aku ambilin minum" jawab Gendis sambil mengambil minum yang sudah tersedia digelas.
Kemudian Gendis membantu Danar untuk minum.
"Mau makan buah?"
"Boleh" jawab Danar. kemudian Gendis memberikan buah anggur pada Danar dan Danar memakannya.
Pintu terdengar diketuk dari luar. Gendis melangkah meninggalkan Danar untuk membukakan pintu. Dan ternyata sudah berdiri seorang wanita dengan berpakaian seksi yang tak lain itu adalah lalita. Tanpa menunggu dipersilahkan Lalita langsung saja merangsek masuk dan sengaja menabrak bahu Gendis.
Gendis hanya menahan diri untuk tidak menghardik lalita,karena dirinya sadar sedang berada dimana sekarang.
Gendis menutup pintu kembali,kemudian melangkah mendekati ranjang Danar.
Terlihat pemandangan yang baginya sangatlah menyebalkan,Lalita sedang memeluk dan menciumi Danar.
Gerah rasanya Gendis melihat itu,tapi dia sudah terjebak didalam ruangan ini,dan dia gak mungkin meninggalkan Danar.
"Sayang,kenapa gak kabari aku kalau kamu sakit,Indri yang menelponku semalam"protes Lalita manja.
"Aku tidak sempat,dan aku memang sama sekali gak pegang ponsel" jawab Danar sambil menatap kearah Gendis.
"Untung saja Indri masih berbaik hati,masih mau mengabariku,memang sahabat terbaik kok dia"
"Aku yang jaga kamu yaaa" pinta Lalita manja,dan mendengar itu Gendis menjadi panas,tapi Gendis berusaha menahan emosinya lagi.
"Ada Gendis disini"
"Suruh saja dia pulang"
"Bisa sayang,,apapun aku lakukan untuk kamu"
Hemmmm ingin muntah saja rasanya Gendis mendengar perkataan Lalita.
"Yakinnn?" tanya Danar lagi ingin lebih pasti mendengar jawaban Lalita.
"Yakin sayang,,tohhh kan cuman menunggu sayang saja,,,kalau sayang butuh apa apa ada perawat yang mengurus sayang"
"Tadi kamu bilang apapun akan kamu lakukan,tapi kenapa masih berharap sama perawat?"
"Yaa kan memang seperti itu,maksudnya aku siap menunggu sayang meski nanti gak tidur semalaman"
"Wahhh kalau soal tidur itu aman,soalnya semalam aku tidur dengan nyenyak,tanya saja Gendis dia pun bisa tidur juga tanpa terganggu harus mengurusku malam malam"
"Nahh kan,,,makanya aku bisa saja sayang kalau harus menemanimu disini"
"Tapi itu pas kebetulan saja sayang,aku gak rewel minta pup malam malam,tapi sepagian ini,,aku banyak maunya,Gendis sampai kewalahan mengurusku. Pagi tadi saja sudah dua kali aku buang air besar dan Gendis yang membantuku membersihkannya,lihat tanganku,mana bisa aku bersihkan sendiri dengan tangan terpasang selang infus seperti ini"
Gendis pun terhenyak dengan cerita Danar pada Lalita itu,,bagaimana bisa Danar mengarang cerita bohong itu,sejak kapan dia membantu Danar buang air besar atau kecil,berganti celana saja Danar melakukannya sendiri.
Tapi Gendis hanya diam sengaja tidak protes,dia ingin melihat kelanjutan drama Danar lagi pada Lalita.
Wajah Lalita pun berubah menjadi seperti orang yang sedang jijik.
"Kenapa? Memang begitu kok,namanya saja mengurus orang sakit" tanya Danar ketika melihat ekspresi Lalita yang berubah itu.
"Sudah membersihkan kotoranku,memandikan aku,suapin aku,minumkan aku obat,pijitin kakiku yang sudah berasa pegel,,semua Gendis yang lakukan"
"Kamu mau gantikan dia biar dia bisa istirahat?"
__ADS_1
"Syukurlah kalau gitu,jadi Gendis nanti bisa pulang dan tidur di rumah,sebenarnya gak tega aku sama dia,aku kan punya pacar yang baik hati,harusnya kan pacar aku yang melakukan ini semua bukan Gendis" kata Danar lagi.
Entah kenapa Danar harus berbohong seperti itu,mungkinkah Danar sengaja untuk melihat seperti apakah Lalita kalau Danar dalam keadaan seperti ini,apa dia sanggup melakukan hal itu?
Padahal dirinya sendiri saja gak melakukan apa apa pada Danar,Danar masih bisa mengurus dirinya sendiri.
Ahhh Gendis masih bingung menebak apa motif Danar melakukan ini.
"Iya yaa,,harus yaa aku nanti yang bersihin kamu kalau nanti kamu mau bilang air kecil atau besar?" ucap Lalita terdengar bimbang.f
"Ya iyalah,masa perawat? Perawat itu mau bantu kalau kita dalam keadaan gak ada siapa siapa,tapi kalau ada yang jaga ngapain susah susah mereka urusin kita" jelas Danar dengan yakin.
"Tapi seneng sih aku kalau kamu mau menggantikan tugas Gendis,jadi kan aku bisa ngerasain diurusin pacar"
"Dannn aduhhhhhh,,,kayanya perut aku mules lagi deh,padahal udah dua kali lo aku buang air,,"tiba tiba Danar bereaksi seperti orang yang sedang sakit perut,dia terlihat memegangi perutnya.
Gendis tercengang dan berusaha ingin membantu Danar dengan refleks tapi Danar memberinya kode dengan kerlingan.
Gendis mengurungkan niatnya dan kembali duduk.
"Ayoo sayang,bantu aku,,,perut aku mules banget" Danar memohon pada Lalita.
"Kan ada Gendis sayang,,,dia aja yang bantu yaaa"
"Kan ada kamu,kamu bilang tadi mau urus aku,dan lakuin apa aja"
"Ya Maksud aku bukan yang ini sayanggg" Lalita protes.
"Terus kamu mau bantu dan urusin aku yang bagaimana?,kalau bantu suapin aku atau ganti pakaian itu kan hal yang paling mudah sayang,semua bisa" tanya Danar tegas sambil masih berpura pura menahan sakit perutnya.
Wajah Lalita terlihat gusar,dia sama sekali enggan untuk membantu Danar untuk buang air besar.
"Sama Gendis saja yaaa,nanti aku yang suapin kamu"
"Lohhhh kok gitu? Danar pura pura protes.
"Iyaaa kan Gendis istri kamu jadi dia yang lebih wajib bantu kamu bukan aku"
"Huuuuhhhhh dasar,,kalau begini saja baru bilang aku istri Danar. Tapi kalau Danar menafkahiku memberiku uang aku dibilang perempuan gak tau malu" batin Gendis kesal dan marah.
"Tuhhhh kamu juga anggap dia istriku kan kalau sudah keadaan begini?" kata Danar sengaja menyindir Lalita.
"Yaaa dia kan yang lebih cekatan dibanding aku"
"Hemmm,,ya sudahlah,,kebetulan sakit perutku sudah hilang"
"Oh iya jam besuknya sudah habis deh kayanya,,aku mau istirahat lagi. Kalau kamu mau menggantikan Gendis boleh,biar aku telpon asistenku buat jemput dia,lumayan dia bisa istirahat dirumah" kata Danar,sebenernya dia sengaja bilang begitu karena yakin Lalita pasti menolaknya.
"Ehh aku pulang saja sayang,,aku juga ada urusan sebenarnya sama temen,maafff ya sayang aku gak bisa jagain kamu" Lalita buru buru menolak permintaan Danar.
Gendis tersenyum melihat tingkah Lalita yang terlihat bodoh itu.
"Ya sudahlah"
"Aku pulang dulu yaa sayangku,,cepat sembuh cepat bisa pulang ke rumah" pamit Lalita sambil memeluk Danar tanpa sungkan dan menciumnya juga.
Gendis buru buru memalingkan wajahnya enggan melihat pemandangan yang memuakkan itu.
"Dahh sayang,,," Lalita berlalu dari hadapan Danar.
"Heii,jagain bener bener ya calon suami aku,,ehh iyaaa aku tahu Danar itu hanya menganggapmu sebagai istri pembantu,makanya dia suruh suruh kamu buat bersihin kotoran dia,mana tega dia suruh aku,nanti kuku aku jadi rusak" masih saja Lalita sempat mengucapkan kata kata yang menusuk hati Gendis. Tapi Gendis hanya menahan emosinya.
"Dan sebentar lagi juga dia ceraikan kamu" kata Lalita lagi sengaja membuat Gendis panas,tapiii apa iya Gendis panas?
"Ahhh aku tidak panas mendengar itu,,,buat apa aku menanggapi perempuan tidak tahu malu ini" batin Gendis.
Kemudian Lalita benar benar berlalu dari kamar rawat Danar.
__ADS_1
"Aneh ya pacar kamu itu mas" kata Gendis pada Danar sengaja ingin meledek Danar.
Danar tersenyum kecut.