Aku Dijodohkan Dan Diselingkuhi

Aku Dijodohkan Dan Diselingkuhi
bab 87 tunggu aku


__ADS_3

Danar dan Gendis menikmati suasana pagi setelah mereka bangun tidur didalam kamar. Dan hari ini adalah hari Danar akan berangkat keluar kota karena ada urusan pekerjaan.


"sebenarnya berat mau tinggalin kamu"gumam Danar didekat Gendis.


mereka masih berada diatas tempat tidur dan masih malas untuk keluar kamar.


"Ya mau gimana lagi mas" jawab Gendis sambil membelai pipi Danar lembut.


"Jaga diri baik baik,gak usah sibuk kerjain ini itu,butuh apa apa minta tolong sama bibik" pesan Danar .


"Nanti aku kan di rumah orang tuaku mas"


"Oh iya ya"


"Ya sudah,,kita siap siap,nanti aku antar dulu kamu ke rumah orang tuamu"


"Tapi kamu antar aku ke bandara kan?" tanya Danar kemudian.


"Yaa,,,boleh"


"Ya sudah,,aku mandi dulu. Pakaian sudah beres semua dikoper"


Danar turun dari tempat tidur dan bergegas mandi.


Gendis menyiapkan pakaian untuk dia bawa ke rumah orang tuanya dan beberapa perlengkapan lainnya,dia masukkan kedalam tas berukuran sedang.


Danar sudah keluar dari kamar mandi,kini giliran Gendis yang mandi.


Akhirnya mereka berdua sudah siap dan segera sarapan. Karena pesawat Danar akan terbang jam 2 siang,jadi masih ada waktu untuk Danar mengantar Gendis ke rumah orang tuanya.


"Mas sudah kabarin orang tua mas kalau akan pergi keluar kota?" tanya Gendis.


"nanti aku beritahu mereka"


"Yuk kita berangkat kerumah ayah dan ibumu"ajak Danar setelah mereka selesai makan. Sebelum berangkat mereka berpamitan pada para asisten rumah tangga mereka terlebih dulu baru kemudian pergi meninggalkan rumah itu.


Danar dan Gendis diantar oleh supir pribadi mereka,karena Danar tidak ingin direpotkan oleh jalanan yang sedikit macet.


Danar menggenggam jemari Gendis dan menatapnya lembut. Gendis sedikit merasa tidak nyaman karena saat ini mereka sedang tidak berdua,tapi ada sang supir juga.


"Kenapa?" tanya Danar yang merasakan sikap aneh istrinya itu.


"Jangan mesra mesraan disini mas,gak enak" bisik Gendis.


"Hehehehe,,,iya aku tau kok"


beberapa menit mereka sampai dirumah orang tua Gendis. Ayah dan ibunya menyambut diteras depan rumah,karena ini adalah hari Minggu jadi ayah Gendis di rumah.


"Jadi hari ini berangkat nak?" tanya pak Haryo pada Danar sambil membawa mereka masuk kedalam rumah.


"Iya pak,jam 2 pesawat yang saya naiki berangkat" jelas Danar.

__ADS_1


Pak Haryo melirik jam tangannya.


"Masih pukul 10.00,masih ada waktu buat kita ngobrol ngobrol"


"Iya yah,,sengaja juga saya datang kemari pagi"


Mereka duduk di ruang tengah,ibu Gendis sudah menyiapkan mereka beberapa makanan kecil dan juga minuman dan terhidang diatas meja.


"Saya titip Gendis disini,kebetulan juga Gendis ingin disini"


"Ya nak,,ibu senang Gendis disini,ibu bisa menghabiskan waktu bersama dengannya sambil bicara segala macam" sela Ibu Gendis.


"Oh ya bagaimana nih perkembangan kandunganmu nak?" tanya ibu pada Gendis.


"Alhamdulillah baik baik Bu,janin aku sehat"


"Syukurlah?"


"Apa masih mual mual?"


"Sudah enggak Bu,ganti ngidam nih,,tapi yang gak aneh aneh sih,ada beberapa kali cuman pengen dibuatin sarapan sama mas Danar"


"Oh yaa,minta dibuatin sarapan apa tu?" tanya ibu antusias.


"Minta dibuatin telur mata sapi hehehehe" jawab Gendis malu malu.


Ayah dan ibu tertawa mendengar jawaban Gendis.


Gendis menatap Danar dan tersenyum.


"Sepertinya enggak kok mas,,"


"kalau mau sesuatu ya bilang saja sama ibu,biar ibu yang buatin" kata ibu sambil membelai rambut Gendis.


"Pasti Bu" jawab Gendis dan memeluk ibunya erat.


"Jaga diri disana baik baik nak,semoga pekerjaan disana segera beres dan bisa segera kembali" harap ayah Gendis pada Danar.


"Iya yah,semoga saja nanti semua berjalan dengan baik dan lancar"


"Bagaimana kabar ayah dan ibu nak Danar?"


"Alhamdulillah baik baik yah"


"Syukurlah"


"Apa nak Danar mau sarapan dulu sebelum berangkat ke bandara?"


"Tadi sebelum kemari sudah sarapan Bu,kalau mau makan lagi masih terlalu kenyang. nanti saja saya sempatkan makan siang di bandara,lagian ini sebentar lagi saya sudah harus berangkat" jelas Danar sambil menatap Gendis yang tampaknya sudah memasang raut wajah sedih. Danar memahami perasaan istrinya itu dan tersenyum pada Gendis.


"Mau ikut antar ke bandara?" tanya Danar pada Gendis.

__ADS_1


"Sepertinya gak usah saja mas,,takut"


"takut kenapa ?" tanya Danar aneh.


"Takut nanti malah nangis disana"


"Ohhh,,hehehehe,,jangan sedih lah,kan hanya 2 hari" jelas Danar kemudian mendekati Gendis.


"Ada ayah dan ibu yang menjagamu disini,aku merasa tenang. Jangan malas makan selama aku tidak ada,jangan banyak melamun hanya karena rindu sama aku" Danar mencoba menenangkan Gendis dengan memberikan candaan pada istrinya itu.


"Huuaaahhhhhhhhaaaaaa,,," tiba tiba Gendis malah menangis seperti anak kecil dipelukan danar.


Danar paham dengan tingkah istrinya itu,jelas Gendis merasa berat ditinggal olehnya,apalagi keadaannya yang sedang hamil,pasti semakin bertambah berat.


"Gendis,,kok malah nangis begitu,malu ahhh,,," seru ibu bingung dengan sikap Gendis.


Danar tersenyum dan berusaha menyembunyikan rasa gelinya melihat tingkah Gendis itu.


"Gimana kalau tiba tiba besok aku mau dibuatin sarapan sama mas?"


"Lohh tadi katanya tadi enggak?" tanya ibunya geli.


"Ditunda dulu yaa,tunggu aku pulang baru minta dibuatin sarapan"Danar mencoba menenangkan Gendis.


"Huhuhuhu,,,,iya" jawab Gendis disela tangisannya yang masih terdengar.


"Ya sudah,jangan gini dong,ini aku mau berangkat Lo,kalau kamu nangis kamu sedih gimana aku bisa tinggalin kamu" bisik Danar.


"Iya,,gak nangis lagi kok" jawab Gendis kemudian menarik tubuhnya dari pelukan Danar dan mengusap air matanya dengan kedua tangannya.


"Dasarrrr udah mau punya anak kok malah cengeng begitu" ledek ibu Endang pada Gendis.


"aduhh ibu seperti gak paham saja sama wanita hamil,apalagi hamil pertama,,dan memangnya dulu ibu tidak seperti itu?" tiba tiba ayah Gendis membela Gendis dan mengingatkan tentang istrinya saat hamil dulu.


Ibu Endang menatap suaminya tersipu.


"Ya sudah,,sekarang Danar sudah mau berangkat,kamu doain suamimu saja dari pada sedih sedihan seperti itu" seru ibu Endang lagi pada Gendis.


Danar ikut mengusap air mata Gendis dengan tangannya.


"Aku berangkat yaa,,inget harus rajin makan,minum vitamin dan susunya" pesan Danar dan berdiri dari duduknya karena bersiap berangkat menuju bandara.


"Iya mas"


Danar berpamitan kepada kedua mertuanya dan menitipkan Gendis pada mereka.


Setelah itu Danar kembali memeluk Gendis erat dan membelai pipinya lembut.


"Tunggu aku ya,pokoknya selesai urusanku aku segera pulang,aku juga gak bisa harus jauh darimu terlalu lama" bisik Danar.


Gendis mengangguk.

__ADS_1


Kemudian Danar mengecup kening Gendis setelah itu langsung berpamitan dan meninggalkan rumah orang tua Gendis.


__ADS_2