
Danar sudah bersiap pulang,pekerjaannya hari ini selesai dan tidak perlu lembur.
Danar keluar dari ruangannya,dan tampak ayah mertuanya sudah tidak ada dimeja kerjanya. Mungkin sudah pulang lebih dulu apalagi tadi Gendis bilang ibunya sedang sakit.
Danar bermaksud menjenguk ibu mertuanya itu dan juga menjemput Gendis,makanya Danar ingin segera saja pergi kerumah mertuanya.
Ponsel Danar berdering,Danar mengambilnya dari saku dan terlihat nama Lalita yang ada dilayar. Danar langsung saja mengangkatnya.
"Sayang sudah pulang kan dari kantor?" suara Lalita terdengar manja.
"Sudah sayang,,,"jawab Danar sambil berjalan terburu buru menuju area parkir.
"Jemput aku ya,aku lagi di mall nih" .
Danar sedikit terperanjat tapi Kembali berusaha tenang.
"Di mall mana?" tanya Danar kemudian.
"Biasa sayang,,,,jemput ya"
"Emm tapi aku jemput dan aku antar pulang saja langsung yaa,kita gak bisa jalan" jelas Danar kemudian.
"Kenapa? Emm kamu gak kangen sama aku?" tanya Lalita mulai terdengar merayu.
"Kangen sayang,,,tapi aku tadi sudah janji sama istriku kalau aku akan jemput dia di rumah ibunya,sekalian aku mau jenguk ibunya yang sedang sakit" jelas Danar lagi tanpa sadar.
"Apa,,istriku? Ohhh jadi kamu sudah mengakui dia sebagai istri ya sekarang?"
"Bukan gitu sayang,maksud aku Gendis,,," Danar menjawab dengan gugup.
"Ya sudahlah,,,aku tunggu sekarang" kata Lalita marah dan menutup telponnya.
Danar menghela nafas dan menghembuskan dengan kasar. Entah kenapa dia jadi seperti ini,padahal dia juga rindu pada Lalita,tapi kenapa dia seakan lebih berat pada Gendis. Atau mungkin hatinya yang masih punya rasa,karena mendengar ibu mertua sakit tidak pantas saja kalau dia tidak menjenguknya.
Danar sudah berada dijalan raya. Dia segera menjemput Lalita yang menunggunya dimall.
Tampak Lalita berdiri di teras mall yang ramai,Danar tidak turun dari mobil hanya melambaikan tangan saja pada Lalita untuk mendekat.
__ADS_1
Laita sudah masuk kedalam mobil Danar dengan wajah cemberut.
"Hemmm,pasti marah" Danar membuka obrolan.
"Kamu berubah sayang" kata Lalita kemudian dan wajahnya menatap lurus kedepan jalanan.
"Berubah gimana?" tanya Danar bingung.
"Tadi pagi aku telpon,aku mau ke kantor kamu siang gak boleh,,terus sekarang aku minta jemput kamu,kamu mau tapi gak bisa jalan dulu. Biasanya kamu gak seperti itu,kamu selalu turuti mau aku" keluh Lalita kemudian.
"Maaf sayangg,,aku sibuk banget tadi di kantor,dan aku ada rapat juga"
"Kalau soal jalan,kan sayang sudah jalan,meski sendiri. Lagian aku sudah janji sama Gendis. Aku mau jenguk ibunya" jelas Danar lagi .
"Nahhh ini,,,ini juga yang rasanya ada yang berbeda dari kamu. Kamu sepertinya mulai perhatian sama dia" tuding Lalita..
"Aduhhhh perhatian gimana sayang,,,? Aku cuma mau jenguk ibunya,itu saja sayang"
"Tadi juga kamu sebut dia dengan kata istriku,,kamu mulai ada rasa ya sama dia?" Lalita terus memojokkan Danar.
"Gak segampang itu sayang buat jatuh cinta atau punya rasa terhadap seseorang. Aku itu terlalu cinta sama kamu,gak ada yang bisa membuatku berpaling dari kamu"
"Tapi kalau kamu terus bersama dia,tinggal satu atap sama dia bukan tidak mungkin kamu akan jatuh cinta sama dia" jelas Lalita mengingatkan Danar.
"Kapan kamu selesaikan urusan kamu dan ceraikan dia,jangan sampai kamu malah jadi jatuh cinta sama dia" Lalita mulai mengingatkan tentang tujuan Danar sebenarnya menikahi Gendis.
"Iya sayang sabar. Semua gak seperti yang kita rencanakan,gak semudah membalikkan telapak tangan" jawab Danar menenangkan Lalita..
"Ayahku bukanlah orang yang bodoh,bukanlah orang yang tanpa pengalaman,gak gampang untuk membuat mereka percaya denganku begitu saja"
*Hemm,,memangnya kenapa sih?" tanya Lalita kemudian.
"Ceritanya panjang sayang,,," jawab Danar enggan menceritakan hal itu pada Lalita. Danar yakin Lalita pasti tidak akan setuju,apalagi kalau mendengar Danar harus memilik anak dari Gendis.
"Jadi sampai kapan kita seperti ini,sampai kapan kamu bersama dia terus?"
"Aku cemburu sayang,hatiku sakit"
__ADS_1
Danar termenung matanya lurus kedepan berkonsentrasi pada jalanan yang macet.
"Meski sekarang kamu bilang kalau kamu hanya mencintaiku,tapi pertemuan dan kebersamaanmu dengan dia yang kamu jalani setiap hari apa gak memungkinkan kalau nanti kamu bisa jatuh cinta dengan dia" jelas Lalita lagi.
"Sayang,kenapa berpikir kesitu sih? jangan berpikir yang enggak enggak gitu,aku gak akan jatuh cinta pada Gendis" jawab Danar kemudian mencoba menenangkan hati Lalita.
"Aku takut sayang"
Danar tersenyum dan membelai pipi Lalita dengan tangan kirinya.
"Kamu terlalu berprasangka dan ini adalah ketakutan yang kamu ciptakan sendiri" jelas Danar lagi,dan Lalita pun tersenyum.
Akhirnya mereka sampai di rumah Lalita.
"Aku langsung pulang ya sayang" pamit Danar.
Tapi Lalita mencegahnya, Lalita membujuk Danar untuk masuk dulu ke dalam dan menemaninya sebentar.
"Masuk lah dulu sayang" pinta Lalita manja.
Danar melihat jam yang ada dipergelangan tangannya.
sudah pukul delapan malam.
"Maaf sayang,malam ini gak bisa" Danar menolak.
Wajah Lalita berubah lagi menjadi cemberut.
"Sayang,,lain kali kan bisa. Kalau sekarang aku memang enggak bisa" Danar masih berusaha menolak Lalita. Kalau dia menuruti Lalita bisa kemalaman dia kerumah mertuanya dan menjemput Gendis.
"Ya sudah urus saja sana istri kamu itu" kata Lalita marah dan keluar dari mobil Danar. Danar hanya menatap Lalita sampai masuk kedalam rumahnya dan gak bermaksud ingin meredakan amarahnya. Karena Danar tahu itu akal akalan Lalita saja,kalau dia turun dan merayu lagi bisa bisa dia malah gak jadi menjemput Gendis bisa jadi dia akan bermalam disini.
Danar hanya membuka ponsel dan mencari aplikasi banking. Kemudian mentransferkan sejumlah uang ke rekening Lalita. Dengan begini Danar yakin Lalita pasti senang.
Danar memutar mobilnya dan kembali menuju jalan raya. kali ini dia menuju ke rumah mertuanya yang perjalanannya lumayan memakan waktu,karena jaraknya yang sangat jauh.
Berharap Gendis gak jenuh menunggunya untuk dijemput.
__ADS_1