
Pagi pagi Danar dan Gendis sudah berada di bandara,ya mereka akan kembali ke kota mereka hari ini.
Mereka sedang menunggu saja untuk masuk kedalam pesawat.
"Akhirnya selesai sudah bulan madu kita" seru Danar sambil tersenyum.
"Iya,,,pengen"
"Gimana kesannya?"
"Awal awal biasa aja sih,,tapi diakhir bikin sedih" jawab Gendis dan menatap Danar tersenyum simpul.
"Wahhh,,,apa iya seperti itu?"
"He em "
"Aku bingung"
"Bingung kenapa?" tanya Gendis.
"Emm,,,aku gak tau gimana nanti caranya supaya aku bisa membuatmu jatuh cinta sama aku"
Wajah Gendis berubah memerah.
"Tak taulah mas,," jawab Gendis seperti enggan membalas pembicaraan itu .
tidak lama terdengar suara pemberitahuan kalau pesawat yang akan mereka naiki segera lepas landas.
Danar dan Gendis bergegas berjalan beriringan menuju kepesawat.
"Kebetulan apa lagi ini Gendis?" tiba tiba terdengar seseorang berbicara dengan Gendis disampingnya.
sontak Gendis menoleh dan melihat siapa yang berbicara dengannya tadi .
"Cakra,," seru Gendis kemudian menatap Danar,sudah bisa ditebak wajah Danar berubah. padahal tadi terlihat sangat bahagia,tapi ketika tahu ada Cakra diantara mereka langsung saja berubah.
Danar merubah posisi,kini dia berjalan diantara Gendis dan Cakra,sengaja memotong posisi Cakra agar tidak berdampingan dengan Gendis.
Gendis menahan senyumnya melihat tingkah Danar.
Wajah Cakra pun terlihat berubah dan tampak kesal melihat Danar.
"Maaf,,bisa menjauh dari kami,terus terang saya terganggu" ucap Danar pada Cakra sambil terus melangkah.
"saya bisa laporkan nanti kalau sudah didalam pesawat meminta untuk mengeluarkan anda,karena sudah mengganggu kenyamanan penumpang lain"
"Oke,sorry,," ucap Cakra.
"Kita pasti bertemu lagi,entah sengaja atau kebetulan lagi,,," bisik Cakra lagi ke telinga Gendis kemudian mempercepat langkahnya untuk menjauhi Gendis dan Danar.
"Tuhhh apa aku bilang,memang dia itu hantu,,selalu tiba tiba muncul" gerutu Danar sambil menatap Gendis dan wajahnya berubah cemberut.
"Hahahaa,,," tanpa sadar Gendis tertawa membuat orang orang disekitarnya menoleh padanya.
Seketika Gendis diam dan malu.
Danar dan Gendis sudah didalam pesawat,sudah memasang seatbelt karena pesawat akan terbang.
"Kenapa sih kita harus satu pesawat dengan dia?" gerutu Danar.
__ADS_1
"Mass,masih aja emosi? Udah biarin aja,namanya juga kebetulan mas,lagian dia emang satu kota sama kita" Gendis berusaha menenangkan Danar.
"Sepertinya dia mau menggodamu?"
Gendis mengerutkan keningnya menatap Danar yang menatap keluar jendela.
Gendis menarik lengan Danar dan meminta Danar untuk melihatnya.
"Apakah mas melihatku,kalau aku akan tergoda?" tanya Gendis.
"Aku tidak tau"
"Jangan menerka nerka, atau berprasangka buruk terhadap orang lain mas"
"Tapi kenapa dia selalu tiba tiba ada didekat kita?"
"Ya aku gak tau kenapa bisa begitu mas" jawab Gendis kemudian.
"Sudahlah gak usah dibahas"pinta Gendis dan memilih untuk menatap keluar jendela.
Danar akhirnya tersenyum karena melihat wajah cantik Gendis begitu dekat dengannya.
"Kalau ingin mengambil hatiku,,dan membuat aku jatuh cinta sama kamu,cobalah untuk tidak terlalu cemburu untuk hal hal yang tidak jelas"
"Aku sedang cemburu yaa?" tanya Danar dengan percaya diri.
Gendis tersenyum.
"Gak usah ditanyakan lagi,,udah terlihat kok kalau kamu cemburu.Boleh cemburu,asal jelas dan jangan cemburu buta"
"Hemmm,,yaaa akan aku usahakan" kata Danar akhirnya.
Pesawat mereka akhirnya landing dengan sempurna.
setelah ada diluar bandara Danar menelpon supir pribadinya untuk menjemput mereka.
"Aku lupa tadi hubungi supir buat jemput" seru Danar memberitahu Gendis.
"Gak apa apa mas,mungkin kita bisa makan dulu,laper loo aku mas"
"Duhhh maaaffff,,oke oke kita makan dulu"
Danar dan Gendis masuk kesebuah resto,kemudian memesan makanan.
beberapa menit kemudian mereka selesai dan kebetulan supir pribadi Danar sudah tiba di bandara.
Mereka langsung saja naik ke mobil dan sudah berada dijalanan kota yang ramai disore hari.
"Kangen udara ini" seru Gendis sambil membuka sedikit jendela mobil.
"Padahal panas dan sumpek,kok bisa kangen?" tanya Danar merasa heran.
"Iya,,kangen sama bau asap knalpot kendaraan,sama udara panasnya hahahaha,," jawab Gendis dan tertawa.
"Orang yang aneh"
"Hahaha,,masa aneh?"
"Iyalah,,biasanya orang akan menghindari udara panas dan pengap seperti ini,kamu malah dikangenin" ledek Danar lagi.
__ADS_1
"mas,,,kangen itu wajar,karena beberapa hari ini kehilangan suasana ini,,,tapi lama kelamaan kan juga bakal bosen,kangen bukan berarti suka dengan cuaca seperti ini mas"
"Ohh,,,ya ya ya,,"
"pak,,gimana keadaan di rumah? Bapak sehat sehat kan?" tanya Danar pada sang supir.
"Iya den Alhamdulillah aman dan bapak sehat sehat saja"
"Gimana dengan bik Rahmi dan bik Lina?"
"Mereka juga baik baik den"
"Syukurlah pak,," ucap Danar lega.
"Mas,,,aku mau tanya?"
"Tanya apa?"
"Kenapa sih mas harus dipanggil Aden?"
Sang supir terlihat terkejut mendengar pertanyaan Gendis terlihat dari kaca spion yang ada diatas kepalanya.
"Harus ya mas,wajib gitu?"
"Kamu kalau tanya seperti gak ada pertanyaan lain saja" gerutu Danar.
"Ya memang gak ada mas,,makanya aku tanya itu tadi,siapa tau nanti malah jadi obrolan yang panjang,dan kita gak diem dieman aja kan jadinya"
"Cerewet,,,"
"Ditanya serius kok malah katain cerewet" seru Gendis kesal.
"Kamu kan orang jawa juga,pasti tau kan sebutan itu untuk apa?"
"Yaa,,tapi aku enggak dipanggil gitu deh"
"Gendis,,,arggghhhhhhh,,," Danar tampak meradang.
Gendis tersenyum,dia memang bertanya seperti itu,bukan karena tidak tahu,tapi hanya ingin menggoda Danar.
"Jawab dong mas,kok jadi marah?" goda Gendis lagi.
"Gendis,,kamu pikir aku merasa nyaman dengan sebutan itu? Itu sebutan untuk para priyayi keturunan Jawa,dan tidak semua orang Jawa mendapat gelar seperti itu"
"Aku juga gak mau dipanggil begitu,malah aku suka dipanggil seperti kamu memanggilku,yaitu Mas,,tapi entahlah memang sudah turun temurun,dan memang wajib" jelas Danar.
"Hemm,,iya paham mas"
"Tapi aku perhatikan meski mas itu orang ningrat,orang sukses dan kaya raya,mas gak menunjukkan itu ke orang lain,mas lebih terkesan seperti orang biasa saja"
"Buat apa? Cukup saja kita dikenal sukses dikalangan kita saja,misalnya dikalangan rekan Bisnisku,dikalangan keluargaku,tidak perlu kita harus memberitahu pada semua orang kita ini siapa?"
"Nahhh,,,mas aslinya anak manis looo" ledek Gendis.
"Apaan?"
"Haaa,,iya aslinya anak manis dan baik,buktinya bicaranya aja bisa kalem dan lemah lembut begitu"
"Kamu aja yang belum tau"
__ADS_1
"Makanya,,bersikap manis begini terus,jadi aku gak berpikir kamu itu juaaaahhhhaaatttt"
Seketika Danar mengacak rambut Gendis gemas. Dan tidak terasa mereka juga sudah sampai di rumah.