
Seperti janji Danar untuk menjemput Gendis di rumah orang tuanya,sepulang kerja Danar segera meluncur ke rumah orang tua Gendis.
Gendis sudah menunggu kedatangan Danar dan kebetulan ayah Gendis juga sudah pulang terlebih dulu dari pada Danar .
Danar masuk kedalam dan mengobrol dengan kedua orang tua Gendis pak Haryo dan Bu Endang.
"Bagaimana nak bulan madu kemarin?" tanya ibu Endang pada Danar.
"Ya,,,menyenangkan Bu" jawab Danar.
"Ibu jadi gak sabar pengen cepet dapat kabar gembira" seru ibu Endang senang.
"Kabar gembira apa Bu?" tanya Gendis polos.
"Ehhh alahhh anak ini dasar polos dan lugu" celetuk ibu Endang menatap Gendis.
"Yaaa kabar kamu hamil Gendis,apalagi?"
Ayah tersenyum begitu juga Danar. Sedang Gendis memasang wajah malu.
"Kita berdoa saja" ayah menyambung harapan istrinya.
"Aamiin,," ucap ibu Endang pelan.
"Oh ya yah,besok kita akan adakan pertemuan dengan calon rekan bisnis kita" Danar berbicara pada ayah mertuanya.
"Baik nak Danar,ayah sudah siapkan berkas berkas untuk pertemuan besok"
"Apakah ayah sudah tau siapa orang yang akan bekerja sama dengan perusahaan kita"
"Ayah dengar pemiliknya bernama Cakra Umbara,seorang pengusaha muda,pemilik beberapa perusahaan besar di kota ini dan cabang diberbagai luar pulau" jelas pak Haryo.
Danar tersentak saat ayah mertuanya menyebut nama Cakra Umbara,Danar menatap Gendis yang juga sama tersentaknya dengan dirinya.
"Apakah itu Cakra yang dia temui saat mereka bulan madu kemarin? " hati Danar bertanya tanya.
"Jelas Gendis tau nama lengkap Cakra" tanya Danar lagi didalam hatinya.
"Beliau meminta pertemuan disegerakan,karena sebelumnya saat ingin membuat janji nak Danar sudah berangkat liburan"
"Oh iya ayah,kita akan temui mereka besok"
"Gendis kita pulang sekarang? Kita masih harus mampir ke rumah orang tuaku" tanya Danar pada Gendis yang tengah melamun.
"oh iya kita pulang mas" jawab Gendis.
Danar dan Gendis berpamitan pada pak Haryo dan Bu Endang.
Saat diperjalanan menuju rumah orang tua Danar,Danar mulai menyinggung lagi nama Cakra.
"Gendis,,Cakra yang disebut ayah tadi apa Cakra yang selalu mengganggu kita saat kita liburan kemarin?"
Gendis menatap Danar sesaat.
"Ya mas,dia Cakra yang waktu itu. Ya namanya Cakra Umbara" jelas Gendis.
"Hemmmhhh,,kenapa bisa kebetulan?"
"Yaa kalau mas tidak ingin ada kerjasama dengan dia lebih baik dibatalkan saja"
"Tidak Gendis,aku ingin tahu apakah dia ada maksud atau murni ingin bekerja sama,dan apakah dia tau aku adalah orang yang akan dia ajak bekerja sama"
__ADS_1
"Aku rasa dia tidak tau mas"
Akhirnya mereka sampai dirumah orang tua Danar.
Berbasa basi dan memberikan oleh oleh yang mereka bawa,tidak lama mereka berpamitan untuk pulang karena malam sudah larut.
Esok pagi Danar bersiap ke kantor,seperti biasa saat menuju keruang makan Gendis sudah ada disana untuk melayaninya sarapan.
Gendis cekatan langsung melayaninya saat sudah duduk dikursi.
"Mas,nanti siang mau aku antarkan makan siang lagi?"
"Boleh" jawab Danar singkat.
Selesai sarapan Danar bergegas karena dia tidak ingin terlambat untuk mengadakan pertemuan,apalagi orang yang akan ditemuinya adalah Cakra Umbara,orang yang sudah mengusiknya beberapa hari waktu itu,dan kini harus kembali lagi dengan hal yang lain.
Sebelum berangkat Danar terlebih dulu berpamitan pada Gendis dan kali ini tanpa meminta ijin dia langsung mencium kening Gendis seperti saran Gendis kemarin.
"Tidak perlu ijinkan?" seru Danar sambil tersenyum
Gendis diam dan tersenyum malu.
Sesaat Danar berlalu meninggalkan rumah
Di kantor pak Haryo sudah menantinya dipintu masuk.
"Bagaimana ayah,apakah sudah siap semua?" tanya Danar sambil melangkah masuk menuju keruangannya.
"Sudah nak,sebentar lagi tamu kita akan datang"
"Baik kalau begitu kita langsung saja menuju keruang rapat"
Tidak lama,sekertaris Danar membawa beberapa tamu masuk kedalam ruangan dan langsung memperkenalkan Danar.
"Selamat datang tuan Cakra Umbara" sapa Danar sambil mengulurkan tangannya pada Cakra.
Wajah Cakra tampak terkejut tapi terlihat berusaha tenang.
"Ohh,,tidak menyangka kita akan bertemu lagi disini tuan Danar" jawab Cakra sambil menyambut uluran tangan Danar,dan mereka saling menggenggam erat.
"Kenalkan ini,manajer disini dan beliau adalah mertua saya ayah Gendis" Danar juga memperkenalkan ayah mertuanya pada Cakra.
Dan lagi lagi Cakra terkesiap tidak menyangka kalau ayah Gendis adalah salah satu pekerja diperusahaan besar yang Danar pimpin ini.
Cakra mengulurkan tangan pada pak Haryo,dan pak Haryo meyambut dengan senyuman.
Pak Haryo terlihat biasa saja pada Cakra karena memang pak Haryo tidak mengenal Cakra sebelumnya.
"Baik kita mulai rapat kita hari ini,silahkan duduk semua"Danar memecah keheningan yang tercipta sesaat.
Hampir 2 jam rapat berlangsung,dan ternyata Cakra meminta Danar untuk menemaninya berkeliling di kantor Danar sebelum memutuskan untuk kembali ke perusahaannya sendiri.
Tentu Danar merasa aneh dengan permintaan itu,tapi Danar menuruti.
Para anak buah Cakra menunggu di lobby ditemani oleh ayah Gendis dan juga sekertarisnya.
sedang Danar menemani Cakra.
"Tidak menyangka,kalau saya akan bekerja sama dengan anda" ucap Cakra datar saat mereka sudah mulai berkeliling.
"Kenapa? Apa anda menyesal?"
__ADS_1
"Tidak,,saya akan tetap melanjutkan kerja sama kita,bisnis adalah bisnis" jawab Cakra.
"Baguslah"
"Oh ya ternyata ayah Gendis adalah bawahan anda?"
"Memangnya kenapa? "
"Tidak apa apa,hanya saja kalau saya yang menjadi suami Gendis sudah pasti saya akan mengangkat beliau untuk memiliki jabatan yang lebih baik"
"Hahahaha,,,anda tidak usah ikut campur dalam urusan perusahaan saya"
"Anda hanya bekerja sama dengan perusahaan saya,bukan untuk mengatur struktur organisasi diperusahaan saya ini" jelas Danar santai tapi sengaja menyindir Cakra.
"Oh maaf,,bukan maksud saya seperti itu"
"Kantor ini sangatlah besar,ternyata anda memang seorang presiden direktur yang sukses"
"Tidak mungkin seorang pemimpin sukses memberikan fasilitas yang buruk untuk para karyawannya"
"Anda salah duga dengan maksud saya,saya hanya bertanya dan mengagumi kehebatan anda"
"Dan saya pun menjelaskan kepada anda itulah seorang pimpinan yang baik,harus bisa mensejahterakan para pekerjanya,salah satunya dengan memberikan fasilitas terbaik" Danar tidak mau kalah menjelaskan.
"Oh oke oke,,"
"Baiklah tuan Danar,saya rasa sudah cukup untuk saya melihat lihat kantor ini. Dan saya akui anda sangat luar biasa"
"Trimakasih" jawab Danar.
"Semoga kerja sama kita berjalan dengan baik,dan tidak menyangkut pautkan antara pekerjaan dan hal pribadi" ucap Cakra sedikit menyindir Danar sambil mengulurkan tangan pada Danar.
Danar menahan emosinya sambil menerima uluran tangan Cakra dan menggenggam erat,karena tidak ingin terlihat arogan dimata rekan bisnisnya ini,meski diantara mereka sudah tercipta percikan api permusuhan. Bagaimana bisa mereka akan bekerja sama? Benar benar aneh.
Danar menemani mereka sampai ke lobby dan tidak disangka Gendis datang menemuinya.
Ya siang ini Gendis memang ingin mengantarkan makan siang untuk Danar dan ayahnya.
"Hallo Gendis,suatu kebetulan lagi kita bertemu disini" sapa Cakra dan mengulurkan tangannya pada Gendis. Gendis sedikit enggan menyambut uluran itu,tapi karena tidak ingin orang disekitarnya berpikir yang aneh aneh akhirnya Gendis menerima uluran tangan Cakra.
"Aku dan suamimu akan menjadi rekan bisnis,dan akan sering bertemu,semoga kami akan menjadi rekan bisnis yang baik dan sukses bersama"
"Yaa,," jawab Gendis singkat.
"Istri yang baik,menyempatkan untuk mengantarkan makan siang suami" ucap Cakra lagi dengan nada yang terlihat seperti sedang cemburu.
"Ahh yaa,,mas Danar suka makan siang buatan istrinya" jawab Gendis dan kali ini seperti sengaja agar Cakra paham.
"Ahh yaaa,,memang istri yang luar biasa"
"Baiklah kalau begitu kami permisi,dan trimakasih atas jamuannya tad,sungguh sangat istimewa" seru Cakra dan berlalu meninggalkan kantor Danar.
"Gendis,,dia benar benar laki laki yang tidak tau diri aku rasa" gerutu Danar saat mereka sudah berada di dalam ruangan Danar.
"Sudahlah mas,,tidak usah dihiraukan. Lagian mas masih mau juga kerja sama dengan dia"
"Ya Gendis,karena aku merasa prospeknya bagus sekali"
"Ya sudahlah mas,kalau begitu ya ini adalah bisnis,tidak usah dicampur adukkan dengan hal hal yang sebenarnya juga tidak ada"
"Hmmmm,,kamu emang penyejuk hatiku Gendis" tiba tiba Danar memuji Gendis dan mencium pipinya. Wajah Gendis berubah jadi memerah karena terkejut dan malu,,rasanya seperti pertama kali dicium oleh pacar.
__ADS_1