
Malam sudah larut,Danar dan Gendis memutuskan untuk segera beristirahat. Begitu juga dengan kedua orang tuan Danar.
Danar dan Gendis sudah berada didalam kamar. Gendis membersihkan dulu wajah dikamar mandi,setelah itu bergantian dengan Danar.
Saat Danar masih dikamar mandi Gendis merapikan tempat tidur,seperti biasa hal yang dia lakukan kalau harus tidur satu tempat tidur dengan Danar,yaitu memberi pembatas agar mereka tidak bersentuhan.
padahal mana tau kalau malam tidak sengaja saling menyentuh.
Danar keluar dari kamar mandi dan tersenyum melihat yang sudah dilakukan oleh Gendis.
Danar naik ketempat tidur,tapi dia masih ingin bersandar dulu disandaran springbednya.
"Ngapain diberi ini?" tanya Danar kemudian.
"Kan memang seperti ini kalau kita tidur disatu ranjang" jawab Gendis.
"Masih berlaku hal seperti itu?"
"Iya,," jawab Gendis polos.
"Terus kalau kita nanti bulan madu juga harus seperti ini tidurnya?"
"Iya,,"
"Apa?? Kalau seperti itu kapan dong kamu hamil?"
Gendis membulatkan matanya merasa risih mendengar pertanyaan Danar.
"Kamu ini terlalu polos,atau apa sih?" tanya Danar kemudian menyingkirkan pembatas itu.
"Ini sudah tidak berlaku lagi buat kita"
Wajah Gendis sedikit kesal karena Danar sudah mulai bertingkah berani.
"Bisa gak kalau kita belajar untuk bersikap mesra?" tanya Danar dan sedikit mendekat pada Gendis.
Gendis beringsut mundur menjauhi Danar.
"Kalau jatuh gimana?"
Gendis menengok kebelakang untuk melihat jarak antara dirinya dan kasur,dan memang ternyata sebentar lagi dia akan terjatuh.
"Kalau gitu mas jangan mendekat" pinta Gendis sambil menutupkan kedua tangan didadanya.
"Aku pengen dekat sama kamu" ucap Danar sedikit berbisik.
Dannn serrrrr rasanya jantung Gending mendengar kalimat yang diucap sedikit berbisik itu. jantung Gendis serasa mau copot.
"Bisa gak,,kalau sudah bulan madu aja belajar mesranya?" pinta Gendis tiba tiba berharap Danar mau mendengarkannya dan berhenti bersikap aneh malam ini.
"Kalau bulan madu sudah bukan belajar lagi,tapi harus sudah praktek" jawab Danar tanpa rasa sungkan.
"Ihhh apa sih mas,,,gak usah ngomong begitu kenapa?"
"Kenapa?kamu malu?"
"Iya,," jawab Gendis singkat dan polos sekali.
Danar tersenyum mendengar jawaban Gendis. Benar benar wanita dihadapannya ini wanita yang polos dan sepertinya masih tabu kalau diajak bermesraan atau berbicara yang melenceng sedikit.
__ADS_1
Danar menatap Gendis lekat,Gendis menunduk karena gak sanggup melihat tatapan sendu seperti itu.
Danar tersenyum lagi,dan semakin mendekat pada Gendis. Danar tau Gendis pasti merasa risih,takut,dan degdegkan.
Danar akan mencoba dengan hati hati dan lembut untuk merayu Gendis.
"Mas,,nanti aja ya kalau kita sudah berangkat bulan madu,,aku belum siap mas" Gendis masih berusaha menolak Danar dan berharap Danar akan menghentikan niatnya.
"Enggak,aku cuman mau belajar mesra saja kok malam ini"
ucap Danar dan semakin mendekat pada Gendis.
"Aku janji,nanti aku akan siap melakukan tugasku sebagai istri mas"
"Iya,,,tapi saat ini aku hanya ingin dekat denganmu saja. Aku ingin kita berdua sama sama merasakan apa yang saat ini kita rasakan"
"Aku tahu kamu takut,aku juga takut,aku takut kalau akan menyakiti atau kamu merasa gak nyaman dengan yang kulakukan. Aku tau kamu risih,,tapi aku akan mencoba agar kamu tidak merasakan itu lagi. Aku tau kamu degdegkan,,,asal kamu tau,aku juga merasakan hal itu" ucap Danar pelan.
Danar meraih kedua tangan Gendis kemudian menaruh tangan itu didadanya
"Rasakan,,jantungku berdegup kencang kan?,aku juga merasakan apa yang kamu rasakan"
"Aku bingung harus menjelaskannya seperti apa,karena aku gak pandai merayu dan berkata kata Gendis"
"Jadi aku minta rasakan,rasakan apa yang saat ini sedang aku rasakan,,aku sama sepertimu" bisik Danar.
"Lihat aku" pinta Danar lembut sambil mengangkat dagu Gendis yang sejak tadi menunduk.
Perlahan Gendis mengangkat kepalanya dan memberanikan diri untuk menatap Danar.
Danar tersenyum,senyum itu manis sekali,dan baru pertama kali ini Gendis menatap Danar begitu dekat dan dengan tatapan mata yang berbeda. Tatapan Danar kali ini begitu indah dan sejuk.
"Kamu cantik" ucap Danar memuji Gendis.
Gendis sebenarnya tersihir mendengar kata demi kata yang Danar ucapkan,apalagi diucapkan dengan suara yang lembut seperti itu,membuat Gendis semakin merasa tertancap panah asmara Danar.
Perlahan Danar menggenggam kedua jemari Gendis dengan erat,sambil terus menatap wajah dan mata Gendis,menatap dengan tatapan lembut dan sendu.
"Kamu cantik Gendis" ucap Danar lagi memuji kecantikan Gendis dengan hati yang berdebar kencang.
Perlahan Danar mendekatkan kedua jemari Gendis yang sedari tadi dalam genggaman eratnya,mendekatkan pada bibirnya dan mengecup jemari itu dengan lembut.
Darah Gendis berdesir serasa mengalir deras ditubuhnya.Jantungnya juga berdegup kencang. Gendis hanya diam saat Danar melakukan itu,inilah ciuman pertama Danar pada Gendis meski ciuman dijemarinya,tapi sudah mampu membuat Gendis mabuk kepayang.
Danar sudah mampu mencuri perasaanya,Danar mampu membuatnya terlena dan mabuk kepayang dengan segala perlakuannya.
Danar kembali menatap wajah Gendis dan tersenyum manis lagi.
Sebenarnya sudah lama Gendis menyukai senyum itu,tapi Gendis hanya menyimpan kekagumannya pada Danar didalam hati.
"Secantik inikah istriku? Kenapa baru sekarang aku menyadari?"ucap Danar dengan suara lirih dan lembut.
"Apakah istriku ini sudah siap,dan mau menjadi ibu dari anak anakku?" bisik Danar ditelinga Gendis.
Dan lagi lagi darah Gendis berdesir,dia merasakan tubuhnya menghangat saat Danar bertanya hal itu.
"Kamu siap sayang ?" Danar bertanya lagi masih dengan berbisik ditelinga Gendis.
Gendis terkesiap saat mendengar kata sayang yang diucapkan oleh Danar.
__ADS_1
"Danar,,jangan buat aku terlena dan terus mabuk dengan perlakuanmu ini" batin Gendis.
"Sejujurnya aku belum siap" batin Gendis lagi.
Gendis berusaha mengatur nafasnya yang mulai tidak beraturan. jemarinya berkeringat,ditambah lagi masih berada digenggaman Danar.
Perlahan Danar melepas genggamannya,dan membelai wajah Gendis lembut.
Tangan itu bermain main dipipi Gendis,dan sesekali menyentil hidung mancung Gendis dengan gemas.
"Jujur,,,jantungku berdetak kencang banget,kamu merasakannya kan tadi?" tanya Danar lirih.
"Entah kenapa aku merasakan itu saat dekat denganmu,Biasanya aku gak merasakan hal itu. Ini perasaan yang berbeda dari biasanya"
Danar mencoba mendekatkan wajahnya kewajah Gendis dan perlahan menyatukan keningnya dikening Gendis,mendekatkan hidungnya dihidung Gendis dan memegang kedua rahang Gendis lembut.
Danar memejamkan matanya begitu juga Gendis.
"Aku ingin merasakan hembusan nafasmu,aku ingin kita saling merasakan detakan jantung kita yang sedang berdetak kencang,aku ingin menikmati wajah cantik dan lembut ini"ucap Danar lirih dan perlahan membuka matanya ingin menatap Gendis yang saat ini begitu dekat dengannya.
"Saat ini aku ingin belajar menyayangimu,aku ingin belajar mencintaimu,dimana perasaan itu sudah mulai tumbuh,tapi aku gengsi untuk mengatakannya" ucap Danar lagi masih dengan suara lirih dan sedikit berbisik.
Gendis menatap Danar sendu,begitu manis kalimat kalimat yang dia dengar dari bibir Danar.
Wajah mereka masih beradu begitu dekat. Danar tersenyum masih dengan terus memegang rahang Gendis gak ingin wajah itu menjauh darinya.
Gendis membalas senyuman itu entah apa karena dia bahagia ,atau karena terlena dengan sikap Danar yang lembut luar biasa malam ini.
Perlahan Danar memeluk tubuh Gendis erat sekali.
"Bolehkah aku bertanya?" tanya Danar masih dengan memeluk erat tubuh Gendis.
"Yaa," jawab Gendis pelan dan kedua tangannya dia beranikan untuk membalas pelukan Danar.
"Benarkah kamu mau mengandung anak anakku?"
"Kalau kamu masih belum menginginkannya,aku akan bersabar menunggu"
"Aku siap mas" jawab Gendis seperti tanpa beban,padahal tadi dia sempat merasa belum siap untuk melakukan hal yang lebih untuk Danar.
Dan Danar semakin mengeratkan pelukannya pada Gendis.
"Yaahh,,,bersiap untuk bulan madu kita yaaa" bisik Danar lembut
Gendis hanya mengangguk saat mendengar penegasan dari Danar itu dan Gendis paham akan maksudnya.
Perlahan Danar melepas pelukannya dan kembali menatap wajah Gendis dengan tatapan manis dan sendunya yang selalu membuat Gendis mabuk kepayang.
"Sudah yaaa belajar mesranya,,gini aja sudah buat aku degdegkan,gimana kalau adegan adegan berikutnya yaaa" Danar masih bisa bercanda dalam situasi seperti ini.
"Ihhhhh,,,apaan sih mas,konyol aja"
Danar tersenyum dan menyentil hidung Gendis gemas.
"Sekarang kita tidur,jangan dibatasin lagi,udah gak ada jarak diantara kita kan?"
Gendis tersenyum malu kemudian menuruti permintaan Danar untuk tidur.
"Mau aku peluk tidurnya?" tanya Danar berbisik lagi ditelinga Gendis.
__ADS_1
Gendis tersenyum penuh arti, Gendis membalikkan tubuhnya dan membelakangi Danar,dia ingin Danar memeluknya dengan posisi seperti itu,karena Gendis merasa nyaman.
Danar tidak protes langsung saja dia melingkarkan tangannya dipinggang Gendis dan memeluk Gendis dalam tidurnya.