Aku Dijodohkan Dan Diselingkuhi

Aku Dijodohkan Dan Diselingkuhi
bab 48 Danar mencari cari masalah


__ADS_3

Gendis langsung masuk kedalam kamarnya saat sudah selesai melayani Danar dan pacarnya itu makan siang.


Dia tutup dengan keras pintu kamarnya karena merasa sangat kesal. Tidak perduli Danar akan marah.


Gendis kembali mengurung diri dikamar,enggan keluar kalau perempuan itu masih ada didalam rumah ini.


Ingin rasanya iya mengadu kepada ibu mertuanya tentang kelakuan Danar selama ini,tapi saat ini ibu mertuanya juga sedang marah padanya,apakah gak akan semakin murka saat dia bercerita tentang hal yang sebenarnya.


Tiba tiba pintu kamar dibuka dengan kasar,ternyata Danar yang masuk kedalam kamarnya.


Danar mendekati Gendis dengan wajah yang menahan amarah.


"Gak sopan kamu,,menutup pintu dengan keras seperti itu" hardik Danar.


"Apa bedanya,tuh mas juga masuk kekamarku seenaknya begitu,buka pintu dengan kasar" Gendis balik menyerang Danar.


"Ini rumahku,,aku berhak melakukan apa yang aku mau"


"Ohh,,,ya sudah maaf kalau gitu"


Danar menggeram dan mengepalkan kedua tangannya.


"Urusin aja pacar kamu mas,,dari pada kamu datang kemari cuman bikin ribut. Demen banget ngajak aku ribut" ujar Gendis sambil asyik bermain ponsel tidak perduli Danar ada dihadapannya.


"Dia sudah pulang"


"Ohh,,,kenapa gak sampe kamu sembuh total baru pulang"


"Apa maksudmu?"


"Gak ada maksud apa apa"


"Apa gunanya kamu kalau kamu berharap dia yang urus aku"hardik Danar.


"Hhhhhh,,," Gendis tertawa sinis.


"Kamu itu aneh mas,,,kamu sendiri yang bilang kalau kamu mau diurus dia,,kenapa sekarang lain lagi bicaranya,,dasar plin-plan"


"Sepertinya memang sengaja cari gara gara" gumam Gendis lagi.


"Kamu terus melawanku"


"Maaaassss,,sudah cukup,kamu kesini maunya apa? Aku sudah melayani makan tadi kan,dan sekarang kamu mau apa lagi dariku?" seru Gendis tiba tiba karena sudah tidak tahan lagi dengan rongrongan Danar dan tuduhannya yang aneh itu.


Danar beranjak dari kamar Gendis kemudian keluar dan menutup kembali pintu kamar dengan kasar.


"Sama saja dasar anehhhh" gerutu Gendis kesal.


Gendis kembali bermain ponsel dan dia ingin menelpon ibunya,sejak sibuk dengan Danar Gendis belum sempat menelpon orang tuanya.

__ADS_1


Gendis mencari kontak ibunya dan langsung saja menelpon saat menemukannya.


Tidak lama ibu mengangkat telpon Gendis.


"Hai ibu,,," sapa Gendis.


"Salamnya mana nak"


"Ehh iya maaf lupa,assalamualaikum ibu"


"Waalaikumsalam"


"Ada apa nak?"


"Gak ada apa apa Bu,,kangen sama ibu. Ibu dan ayah gimana kabarnya?"


"Baik nak,,kamu sendiri gimana" dan Danar juga bagaimana perkembangannya?"


"Aku baik baik Bu. Mas Danar juga Alhamdulillah semakin membaik juga"


"Syukurlah nak"


"Ibu,,Minggu depan kalau keadaan mas Danar sudah semakin membaik,aku pengen deh bermalam dirumah ibu,aku kangen tidur dirumah"


"Boleh nak,,asal suami sudah sehat "


"Iya Bu"


"Iya nak,,salamkan juga buat nak Danar yaaa"


"Baik Bu assalamualaikum" kemudian gendis menutup telponnya dan meletakkannya diatas kasur.


"Hemm,,,aku sampaikan aja salam dari ibu buat mas Danar lewat bathin" ide Gendis konyol,karena dia malas harus berbicara pada Danar,takut Danar berpikir dia ingin mencari perhatiannya.


"Mas,,dapat salam dari ibu. Iya trimakasih Gendis" gumam Gendis berbicara dengan dirinya sendiri seolah itu antara dia dan Danar.


Bergegas Gendis mandi setelah mandi dia sekalian berwudhu untuk melaksanakan sholat Maghrib.


Selesai sholat Gendis keluar kamar,dia ingin duduk diteras rumah, biasanya dia akan duduk dibalkon,tapi kali ini dia ingin diteras rumah saja.


Saat turun kelantai satu dan melewati ruangan tengah Danar sedang duduk disana. Gendis lewat saja tanpa ingin menyapanya sama sekali,dia anggap tidak ada Danar disana.


"Hehhh,,,mau kemana" tiba tiba Danar menegurnya,dan lagi lagi dengan sapaan kasar.


"Namaku Gendis,bukan hehhhh"


"Terlalu manis kalau aku harus memanggil nama"


"Tapi memang namaku artinya itu *MANIS* kan?" jawab Gendis sengaja ingin meledek Danar.

__ADS_1


"Ya,,tapi sayang gak cocok disematkan kekamu" Danar balas meledeknya.


"Ohh,,,begitu? Tapi itu kedua orang tuaku lo yang memberikan nama,jadi aku yakin mereka pasti paham itu pantas atau enggak buatku"


"Kalau kamu menilai itu gak pantas buatku yaa terserahhhhh"


"Udahhh pergi sanaaa" usir Danar kemudian mungkin merasa sudah malas melayani Gendis.


"Kalah kan,dia yang mulai,seolah olah aku yang cari masalah duluan" gerutu Gendis sambil berlalu dari hadapan Danar dan menuju keteras rumah.


Gendis duduk dikursi teras dan bermain ponsel. Angin berhembus lumayan kencang dan terasa dingin sekali udara nya. Sesekali Gendis bergidik karena rasa dingin yang masuk kedalam tubuhnya.


Tiba tiba Danar sudah ada didekatnya.


"Astagaaa,,," gumam Gendis pelan. Sebal rasanya ada Danar disitu,ngapain dia ikut kemari.


"Ngapain kamu angin anginan disini" tegur Danar.


"mau hujan hujanan gak ada hujan" jawab Gendis ketus dan sengaja mempermainkan jawabannya.


"Ditanya kok jawabnya aneh begitu"


"Ya biarkan aja lah aku mau angin anginan,aku suka kok"


"Kalau sakit siapa yang repot"


"Tenang,,aku gak akan nyusahkan kamu"


"Udah deh kamu masuk aja,ngapain sih ikut kemari? paling juga ngajak ribut"gerutu Gendis dan meminta Danar pergi.


"Enak aja usir,,gak ada yang berhak usir aku disini" jawab Danar tegas.


"Iya iya,yang punya rumah kan kamu"


Danar menatap Gendis tajam dan Gendis tau karena dia sempat melirik kearah Danar tadi.


"Sumpah aku sebel sama kamu" seru Danar tiba tiba.


"Sebel kok datengin,ya sudah aku yang pergi. Aku mau masuk. Oh ya harusnya kamu yang jangan angin anginan,soalnya kalau sakit bikin aku susah" sindir Gendis kemudian pergi meninggalkan Danar yang masih berdiri diteras.


Gendis bergegas masuk kedalam kamarnya dan menutup pintu. hatinya kesal sekali,muak dengan sikap Danar.


"Kenapa aku masih bertahan sama dia,terlalu baikkah aku karena ingin menolongnya? Padahal itu bukan rencana yang bagus" gumam Gendis.


"Aku hanya ingin ini selesai,,,dan segera pergi dari hidupnya"


"Kenapa Danar masih juga belum mengambil keputusan,jelas jelas rencananya gagal. Apa iya dia benar benar sedang mempertimbangkan keinginan orang tuanya,yang ingin Danar punya anak,dan itu harus dari rahimku"


Gendis tiba tiba bergidik membayangkan itu perutnya langsung terasa mual. Dia masih belum bisa membayangkan kalau suatu saat Danar akan menyentuhnya,dengan dalih ingin punya anak agar rencananya berjalan mulus lagi.

__ADS_1


Danar akan melakukannya dengan kasar,karena tidak ada cinta dan kasih sayang didalamnya,dan Gendis pun merasakan hal yang sama,tidak mencintai Danar apakah dia bisa dan mau kalau Danar akan menyentuhnya.


"Ya tuhan bantu aku,aku minta beri jalan keluar terbaik atas semua masalah yang akan aku hadapi" ucap Gendis didalam hati.


__ADS_2