
Dokter Indri,dokter pribadi keluarga Danar sudah datang dan segera memeriksa Danar yang didalam kamar.
"Kamu harus segera ke rumah sakit Danar,dan dirawat" putus dokter Indri setelah selesai memeriksa keadaan Danar.
"Sakit apa mas Danar dok?" tanya Gendis dengan raut wajah khawatir.
Dokter menatap lekat Gendis mungkin merasa tidak mengenal Gendis.
"Danar sepertinya gejala typus,dan harus segera dirawat" jelas dokter Indri lagi pada Gendis.
"Kira kira apa yang membuatmu sampai terserang thypus Danar?,makanmu bagaimana,istirahatmu juga bagaimana,dan tidurmu juga?" tanya dokter Indri menyelidik.
"Yaa,,beberapa hari ini aku terlalu sibuk,aku kurang istirahat dan juga makanku tidak teratur" jelas Danar pelan.
"Hemmm,,,dan sekarang kamu harus menuruti perintahku" perintah dokter Indri tegas.
"Hemm,baiklah" jawab Danar pasrah.
"Mass,aku siapkan pakaian mas dan kabari ayah dan ibu" kata Gendis kemudian memberitahu dan terlihat khawatir.
"Iya," jawab Danar singkat.
Saat menyiapkan pakaian Danar Gendis sedikit mendengar pembicaraan Danar dan dokter Indri.
"Siapa dia?" tanya dokter Indri sedikit berbisik.
"Istriku"
"Hahhhhh,,,gimana bisa?" tanya dokter Indri lagi dan gak percaya dan Gendis mendengar itu,bukan maksud Gendis ingin menguping tapi memang jarak mereka masih terlalu dekat dan memudahkan Gendis untuk mendengar pembicaraan mereka.
"Bagaimana dengan Lalita?"
"Sudahlah,gak usah bahas soal itu" jawab Danar terdengar keberatan saat diberondong pertanyaan oleh dokter Indri.
"Aku benar benar gak menyangka Danar,,," ucap dokter Indri lagi.
"Oke,,aku pulang dulu tugasku sudah selesai,cepatlah ke rumah sakit jangan menunda" pesan dokter Indri sambil berlalu dari kamar Danar tanpa berpamitan pada Gendis.
Selesai menyiapkan pakaian Danar dan menaruh didalam koper,Gendis segera menghubungi orang tua Danar.
"Mas,aku sudah hubungi ayah dan ibu,dan sekarang kita siap siap ya,mas ganti pakaian dulu" jelas Gendis sambil mendekati Danar dan membawakan Danar pakaian bersih.
"Bisa kan ganti pakaian sendiri,dan bersihkan wajah dulu?"
"Kepalaku pusing,takut nanti jatuh" jawab Danar.
"Ya sudah aku bantu aja kekamar mandinya" kata Gendis dan mendekat kearah Danar. Gendis mengulurkan tangannya,untuk membantu Danar berdiri. Danar beringsut dari atas kasur,menurunkan kaki kelantai dan menerima tangan Gendis yang akan membantunya berdiri.
"Pelan pelan aja mas" saran Gendis. Kemudian Gendis menaruh tangan kanan Danar melingkar dilehernya dan Gendis memapah Danar perlahan jalan kekamar mandi. Perbedaan tinggi yang begitu mencolok membuat Gendis sedikit kesusahan memapah Danar.
"Kenapa?" tanya Danar saat melihat Gendis kerepotan.
"Gak papa mas,sudah masuk pelan pelan aku tunggu diluar" kaya Gendis kemudian dan meminta Danar masuk kedalam kamar mandi.
Danar menuruti kemudian berjalan pelan masuk kedalam kamar mandi.
__ADS_1
Beberapa menit kemudian Danar selesai dan keluar,Gendis kembali memapah Danar.
"Udah gak usah,,kasian kamu kayanya kesusahan deh buat mapah aku" Danar menolak.
"Yakin bisa" tanya Gendis memastikan.
"Bisa" jawab Danar singkat sambil berjalan pelan menuju kekasur lagi.
Gendis hanya menatap dan menjaga takut kalau Danar terjatuh.
Saat Danar baik baik saja Gendis lega
"Mas ganti baju dan aku juga mau mandi dulu mas" pamit Gendis.
Wajah Danar berubah murung.
"Kenapa mas? Masa aku gak mandi dan ganti pakaian?"
"Masa masih takut sih?" tanya Gendis heran.
"Ya sudah,tapi jangan lama lama" pinta Danar akhirnya
"Iya" jawab Gendis kemudian dia keluar dari kamar Danar segera menuju kamarnya untuk mandi.
Dikamar Gendis menyiapkan juga beberapa pakaian ganti untuknya,kemungkinan dia akan menjaga Danar di rumah sakit.
Selesai itu Gendis kembali kekamar Danar dan melihat Danar sedang merebahkan sedikit tubuhnya dikasur.
"Yuk berangkat" ajak Gendis kemudian.
sebelumnya Gendis meminta tolong pada bik Rahmi dan bik Lina membantunya membawakan koper mereka,dan meminta supir mereka untuk membantu memapah Danar masuk kedalam mobil
Danar dan Gendis berangkat ke rumah sakit diantar oleh supir.
Sampai di rumah sakit mereka langsung ke bagian IGD dan mendaftar baru setelah Danar mendapat perawatan Danar ditaruh kamar VVIP.
Gendis merasa lega Danar akhirnya dirawat.
"Jangan pergi ya,,aku minta kamu yang temani aku disini" kata Danar kemudian saat mereka baru selesai berbenah dikamar perawatan.
"Iya,,aku gak pergi aku jaga mas" jawab Gendis menenangkan Danar.
"Sebentar lagi ayah dan ibu datang"
"Hemm yaa"
Tidak lama terdengar ketukan pintu kamar,Gendis segera membukakan pintu dan terlihat kedua mertuanya sudah berdiri dan ternyata ada juga ayah dan ibunya.
Ya Gendis tadi juga mengabari orang tuanya tapi tidak menyangka akan datang malam ini juga bersamaan dengan orang tua Danar.
"Assalamualaikum" salam mereka hampir serempak.
"Waalaikum salam" jawab Gendis tersenyum.
"Kok bisa barengan,janjian yaa?" tanya Gendis menebak.
__ADS_1
"Enggak nak kebetulan memang bertemu dilobby tadi" jawab ibu Nungki. kemudian ke empat orang tua itu masuk kedalam kamar menghampiri Danar yang terbaring lemah.
"Sakit apa nak?" tanya ibu Nungki sambil menghambur pada Danar dan menciuminya,terlihat ada rasa rindu dan kasih sayang yang begitu besar dari ibunya. Meski kemarin sempat bersitegang tapi kini terlihat betapa ibu Nungki sangat menyayangi Danar.
Danar hanya meringis saat diperlakukan seperti itu oleh ibunya. Kemudian ibu Nungki melepas pelukannya dan membelai kepala Danar manja.
Dan bergantian ayah Danar pak Suryo juga memeluk anaknya itu begitu erat.
Setelah itu tidak ketinggalan kedua orang tua Gendis bergantian menyalami dan memeluk Danar memberi semangat agar Danar lekas sembuh.
Ibu Nungki kembali menghampiri Danar dan membelai belai rambut Danar,sedikit berbaring disebelah anaknya itu.
Gendis tersenyum kecil melihat pemandangan yang bisa menguras air mata itu. Danar masih saja diperlakukan seperti anak kecil dan itu sangatlah menarik dan menyentuh hati.
"Nakk,sejak kapan Danar sakit?" tanya pak Suryo pada Gendis.
"Tadi pagi saya taunya yah,rencana kami pagi tadi mau kerumah ayah dan ibu,tapi sewaktu saya bangunkan mas Danar,mas ternyata demam tinggi"
"Sore dokter Indri datang untuk memeriksa mas Danar,ternyata mas Danar memang harus dirawat di rumah sakit,karena mas sepertinya gejala thypus yah" jelas Gendis.
"Yah Danar memang pernah sakit thypus dan baru kali ini lagi kambuh" jelas ibu Nungki masih terus membelai anaknya itu,sesekali menyuapkan buah apel pada Danar.
"Oh yaa gimana? Kamu mengalami hal yang aneh gak?" tanya ibu Nungki lagi sembari tersenyum. Dan Gendis langsung tau apa maksud pertanyaan ibu mertuanya itu.
"Hehehehe,,," gendis terkekeh pelan dan menatap Danar. Wajah Danar memerah,entah memerah karena masih sakit atau memerah karena menahan malu.
"Hahaha,," ibu Nungki tertawa pelan menyadari Gendis paham maksudnya.
"Ada apa?" tanya pak Suryo bingung.
"Masa lupa yah sama kebiasaan Danar? bukan kebiasaan sih tapi hal yang bikin Danar trauma dan selalu datang kalau Danar sedang sakit,ternyata Gendis sudah merasakan" jelas ibu Nungki mengingatkan ayah mertuanya.
"Ohh," pak Suryo pun paham dan tersenyum..
"Danar ini kalau sakit selalu saja rasa traumanya datang Bu pak" ibu Nungki mulai menjelaskan pada kedua orang tua Gendis yang sedari tadi hanya mendengar pembicaraan tapi gak mengerti apa yang dibicarakan.
"Trauma hal sepele saja"
"Oh ya,trauma apa itu Bu?" tanya Bu Endang ibu Gendis ingin tahu.
"Biar nanti saja Gendis yang bercerita,sepertinya kalau diceritakan disini Danar bisa ngambek" jelas Bu Nungki lagi sambil melirik danar dan seakan mengerti situasi gak mungkin dia menceritakan hal yang akan membuat Danar jadi malu.
Ibu Endang tersenyum dan paham.
"Nak Gendis makanlah dulu,dibawah ada restoran carilah makan disana,bawa ayah dan ibu mu nak" perintah ibu Nungki kemudian.
"Danar biar ibu yang jaga"
Gendis mengangguk setuju.
Kemudian mengajak ayah dan ibunya juga ayah mertuanya untuk makan malam dibawah.
Ayah mertuanya menolak beralasan sudah makan dan akan ikut menemani ibu menjaga Danar.
Akhirnya Gendis hanya bertiga kebawah mencari restoran untuk makan malam.
__ADS_1
Gendis sedikit lega bisa meninggalkan Danar sebentar karena ada ayah dan ibunya yang menjaga.