
Gendis berlalu dari hadapan Danar,karena Danar tiba tiba membelakangi dirinya.
Danar sedang kesal pada Gendis,tapi Gendis berusaha untuk tidak menanggap.
Kembali dia duduk disofa dan bermain ponsel lagi. Hari sudah sore,tapi rasanya begitu lama sekali..Berbeda saat di berada di rumah,hari begitu cepat berlalu.
Jam besuk sore ayah dan ibu mertuanya datang lagi menjenguk Danar.
Ibu Nungki membawakan Danar buah buahan segar,buah kesukaan Danar,buah anggur.
Dan ibu mertuanya juga membawakannya makanan untuk dia makan malam nanti.
"Banyak sekali makanan Bu,tadi siang mas Danar membelikan saya makanan dan cemilan juga,sampai sekarang masih belum dimakan" Gendis merasa tidak enak pada ibu mertuanya yang repot sekali dan sangat perhatian padanya.
"Ya gak papa nak,siapa tau nanti malam gak bisa tidur,,atau kalau memang tidak dimakan berikan saja pada perawat yang berjaga malam" jelas ibu mertuanya.
"Ohh iya Bu,nanti saya berikan pada perawat saja"
"Ayah dan ibu sudah makan?" tanya Gendis kemudian pada ibu mertuanya.
"Tadi sudah nak"
"Oh ya gimana Danar? Kapan sudah boleh pulang?"
"Alhamdulillah keadaan mas Danar sudah membaik,dan kata dokter kalau semakin membaik besok sudah boleh pulang" jelas Gendis.
"Ohh syukurlah"ucap ibu Nungki lega.
Ibu Nungki berjalan mendekati Danar yang sedang bermain ponsel,dari tadi dia hanya diam saja. Entah apa dirinya masih kesal pada Gendis.
"Nakk,,,ayo semangat buat sembuh biar besok sudah diperbolehkan pulang" ibu Nungki memberi semangat untuk Danar.
"Iya Bu,sekarang saja Danar sudah baikan" jawab Danar sambil memberi senyuman pada ibunya.
"Jangan sakit sakit lagi yaa,,sedih ibu kalau kamu sakit" kata ibu Nungki lagi memohon pada Danar sambil membelai wajah Danar dengan rasa sayangnya.
"Iya,,,Danar kemarin mungkin banyak mikir,Danar sedih dan menyesal karena sudah buat ibu kecewa"
"Maafin Danar Bu" ucap Danar kemudian sambil menatap sendu wajah ibunya dan balas membelai wajah ibunya lembut.
"Ibu selalu memaafkan kamu nak,,,ibu gak pernah bisa membenci anaknya,sebesar apapun kesalahan tapi kalau anak mau meminta maaf dan menyadari kesalahan sudah pasti orang tua akan memaafkan" jawab ibu Nungki lembut.
Tidak terasa air mata Gendis menitik,pemandangan yang dia lihat sore ini begitu menyejukkan hati Gendis. Tidak menyangka Danar akan mengucap kata maaf pada ibunya.
Dan juga seorang ibu yang memiliki hati yang luar biasa,Gendis sangat terharu.
__ADS_1
Sang ayah mertua hanya terdiam melihat pemandangan itu,sesekali beliau menarik nafas dalam dan menghembuskan perlahan. Entah apa yang pak Suryo pikirkan,tapi terlihat wajah beliau juga bahagia.
Jam besuk selesai,ayah dan ibu mertuanya pamit,memberikan pelukan bergantian kepada Danar,kemudian pada Gendis juga.
"Trimakasih ya nak,kamu istri luar biasa,menjaga Danar dengan baik disini " ucap ibu Nungki pada Gendis didalam pelukannya..
"Ibu,,ini sudah tugas saya sebagai istri,tidak perlu berterimakasih" ucap Gendis merendah karena ibu mertuanya terlalu berlebihan memuji.
"Ya sudah ayah dan ibu pamit dulu,kamu makan ya nanti,,jaga kesehatan juga" pesan ayah mertuanya sambil bergantian pada ibu memeluk Gendis.
"Iya ayah,hati hati dijalan,dan kabarin aku kalau sudah sampai di rumah" pesan Gendis.
"Beres nak" jawab pak Suryo sambil memberi jempol pada Gendis. Gendis pun tersenyum dan mengantar mereka hingga sampai pintu.
Setelah mereka hilang dari pandangan,Gendis menutup pintu kamar dan mendekati Danar yang masih sibuk dengan ponselnya.
"Mas,,,makan yaa " tawar Gendis karena makan malam sudah diantar saat tadi masih ada orang tua Danar.
"iya,," jawab Danar singkat.
Gendis langsung saja menyiapkan makanan Danar dan menyuapi Danar dengan telaten.
"Mas,,wajahnya kok murung aja? Ada apa?" tanya Gendis kemudian setelah merasa tidak nyaman dengan sikap Danar yang berubah sejak siang tadi.
"Gak papa" jawab Danar cuek.
"Yaa,,,sama seperti kamu,buat apa aku berbagi cerita sama kamu,tadi saja aku tanya kamu kenapa,kamu menangis ada apa,tapi kamu bilang enggak apa apa,ya sudah impas kan" jawab Danar dan mengeluarkan unek unek yang dia pendam sedari siang tadi.
"Ooohhh,,,balas dendam yaaa" goda Gendis.
"Bukan balas dendam,ya biar impas aja"
"Ihh persis anak kecil begitu aja marah,begitu aja ngambek,terus langsung dibales" goda Gendis lagi masih sambil menyuapi Danar.
Danar selesai makan dan dia menghabiskan makannya lagi.
"Nahh,,kalau makan selalu habis tanda tanda besok bakal pulang,,soalnya sehat kan sudah"
"Ya semoga saja "
"Udah ah ngambeknya,gak capek begitu terus?"
"Siapa yang ngambek?"
"Ya mas lah,siapa lagi coba?"
__ADS_1
"Udah yaaa,,,disini gak usah ngambek atau marah marahan,setelah mas sehat,mas bisa pulang,mas bisa beraktifitas lagi seperti biasa,belum tentu kita akan seperti ini lagi" ucap Gendis tanpa sadar,entah kenapa dia bisa berucap seperti itu.
"Maksudnya?" tanya Danar heran.
"Emmm,,,maksudnya apa yaaa?" Gendis terlihat bingung,karena memang dia sendiri gak sadar berucap itu.
"Kenapa bilang kalau belum tentu gak akan seperti ini lagi? Nahh itu maksudnya gimana? "
"Gak ada maksud apa apa mas"
"Selalu,,,," gerutu Danar kesal.
"Selalu menggantung,tidak ada penjelasan,,,aneh" gerutu Danar lagi membuat Gendis sedikit tersenyum.
Tidak menyangka Danar bisa seperti itu,gampang sekali marah seperti anak kecil.
Memang sejak dia sakit tingkahnya seperti anak kecil saja,dan bukan Danar yang seperti dia kenal sebelumya,datar,dingin,kasar.
Ini Danar yang berbeda,makanya Gendis tidak berharap banyak seandainya Danar sembuh dan pulang akan seperti ini terus sikapnya,bisa jadi ini karena dia sedang sakit saja makanya berubah 180 derajat tingkahnya dan sikapnya.
Gendis sedikit takut Danar punya dua sisi sifat yang berbeda.
"Ngelamunnn terus,,aku harus belum dikasih minum" hardik Danar membuyarkan lamunan Gendis.
"Ohh,iya maaff mas" ucap Gendis buru buru tersadar dan memberi Danar segelas air putih.
"Sekalian minum obatnya ya" pinta Gendis lembut.
Danar hanya mengangguk.
Dan lagi Gendis melayani Danar menyiapkan obat yang harus diminum oleh Danar.
"Gerah rasanya sudah,berapa hari gak mandi" keluh Danar.
"Mas mau mandi?"
"Iya,,"
"Ya sudah aku bantu ke toilet" jawab Gendis dan tanpa menunggu langsung membantu Danar berjalan ke toilet.
Gendis menunggu disofa saat Danar sedang membersihkan diri.
Beberapa menit Danar selesai dan meminta Gendis membantunya memakai baju.
Gendis bergegas masuk kedalam toilet dan membantu Danar,sebenarnya ini adalah hal yang paling berat buat Gendis,harus melihat Danar tidak memakai baju,kalau Danar dan dia saling mencintai tentu itu bukanlah hal yang berat buat Gendis melakukan itu.
__ADS_1
Hati Gendis berdesir sebenarnya saat melihat Danar tanpa baju,tapi dia segera mengalihkan pikiran itu.
"Sudah mas" kata Gendis kemudian setelah selesai,dan langsung saja keluar dari toilet meninggalkan Danar.