Aku Dijodohkan Dan Diselingkuhi

Aku Dijodohkan Dan Diselingkuhi
bab 9 Danar membujuk Gendis untuk keluar rumah


__ADS_3

"Aku bosan dirumah terus" keluh Danar ketika dia dan Gendis sedang ada di dalam kamar.


"Terus mas Danar mau apa?" tanya Gendis bingung.


"Aku pengen keluar rumah,menghirup udara segar"


"Tapi kan kata ibu kita belum boleh keluar rumah selama satu Minggu" jawab Gendis mengingatkan Danar.


"Harus banget ngikutin adat kuno" Danar menggerutu kesal.


"Bukan mengikuti adat,tapi kita harus patuh apa kata orang tua" jawab Gendis menasehati Danar.


"Ayolah,kita jalan jalan sebentar saja" Danar sedikit merengek pada Gendis. Gendis tentu merasa aneh melihat sikap Danar ini.


"Kamu sajalah mas,aku malas"


"Kalau aku saja ibu pasti gak ijinkan,kalau sama kamu pasti diijinkan" Danar berasalan. Sebenarnya dia memang ingin pergi sendiri dan tanpa Gendis pun pasti akan diijinkan.Tapi Danar merasa gak enak kalau harus keluar sendiri tidak membawa Gendis.


"Kan kamu yang mau pergi mas,kenapa harus bawa bawa aku" Gendis masih berusaha menolak ajakan Danar.


"Gak mungkin kan aku pergi sendiri tanpa kamu,alasan apa aku,alasan pekerjaan gak mungkin,aku sedang cuti"


"Kalau gitu di rumah saja mas"


"Aku bosan Gendis,,aku jarang sekali ada di dalam rumah,kegiatanku lebih sering di luar rumah,seminggu aku harus ada di rumah ini,kamu masa gak bisa bayangkan gimana perasaanku?" Danar masih saja berusaha merayu Gendis dengan berbagai alasan.


"Memang mas mau ke mana?,alasannya pun harus tepat" gendis sedikit menurunkan egonya.


"Ke mana kek,nonton kek apa kek"


"Hemmm itu bukan alasan ya g tepat mas"


"Bilang saja sama ibu kalau aku bosan" Danar mulai meninggikan suaranya pada Gendis.


"Kenapa kamu emosi begitu? Kamu bisanya memaksa tapi memakai emosi " Gendis juga mulai tersulit emosi.


"Kamu juga kenapa susah sekali diajak kerjasama" gerutu Danar.Gendks berdiri dari duduknya ditepi kasur dan segera keluar kamar. Danar hanya menatap Gendis dengan tatapan kesal,tapi berharap Gendis menuruti keinginannya.


Danar berencana akan menemui Lalita dan menggunakan Gendis agar bisa keluar rumah. Kalau berhasil Gendis akan dia tinggalkan dulu dimana,entah di mall,entah di restoran yang penting Danar bisa bertemu Lalita. Kalau Danar sudah mulai kerja lagi dia gak akan kesulitan seperti ini untuk bertemu Lalita. Karena kondisi saat ini dia sedang cuti dan harus tinggal dirumah mertuanya jadi menyulitkannya untuk menemui kekasihnya itu.


Gak berapa lama Gendis masuk kembali ke kamar. Danar menunggu kabar yang kan Gendis berikan.


"Ya sudah siap siap mas,ibu memberi ijin"


"Oh yaaa,,,trimakasih Gendis" ucap Danar girang. Dan langsung saja Danar bersiap siap,berganti pakaian dan berdandan rapi. sedang Gendis menunggunya diluar.


Danar sudah siap begitu juga Gendis yang sudah rapi dengan pakaian santainya. Gendis sangat cantik tapi itu tidak berarti di mata Danar. Gendis itu bagaikan bongkahan batu kapur baginya,sedangkan Lalita selalu menjadi seperti bongkahan berlian.


Mereka berpamitan pada ibu Endang dan Danar langsung membawa mobilnya melaju dijalanan yang masih lengang.


"Mas mau kemana?" tanya Gendis kemudian.

__ADS_1


"Aku akan bawa kamu ke mall saja,,terserah kamu mau apa di sana,mau nonton,mau belanja,atau apa terserah" jawab Danar.


"Maksudnya?" tanya Gendis gak mengerti.


"Aku akan menemui Lalita"


"Lalita siapa?" tanya Gendis bingung,dirinya memang belum tahu siapa nama kekasih Danar. Danar menatap Gendis sekilas.


"Pacar ku" jawab Danar datar.


"Ohh,,jadi niat kamu keluar ini untuk menemui pacar kamu?" tanya Gendis sedikit kesal ternyata Danar sedang memanfaatkannya.


"Yaa,trimakasih ya kamu mau bantu aku"


"Kalau tau aku gak mau,kamu sudah buat aku berbohong dengan ibuku"


"Kamu gak berbohong,kamu kan memang mau keluar jalan kan?" Danar mencoba meralat kata kata Gendis tadi.


Gendis hanya diam dan malas untuk berbicara lagi pada Danar.


"Turunkan aku di Gramedia,aku sedang gak mood ke mall,nanti aku pulang naik ojek online aja" pinta Gendis memberitahu Danar.


"Pulang tetap aku jemput" jelas Danar tegas.


Gendis hanya menghela nafas dan diam saat Danar berucap seperti itu.


beberapa menit kemudian mereka sampai di Gramedia. Danar menurunkan Gendis di sana. Kemudian dia melaju lagi untuk menemui Lalita yang sudah menunggunya dikamar hotel tempat biasa mereka check in.


Danar mengetuk pintu kamar,sesaat kemudian tampak Lalita sudah diambang pintu.


"Hai sayang" sapa Danar sambil menghambur masuk kedalam dan memeluk erat Lalita.


Wajah Lalita terlihat masam,sepertinya dia masih marah padanya.


"Masih marah? Ya sudah aku pulang saja" Danar sedikit mengancam.


"Pulang saja" bentak Lalita kasar.


"Sayanggg sudah dong,aku kan sudah datang kenapa masih marah seperti itu?" tanya Danar sambil terus memeluk Lalita seperti gak akan melepaskannya.


"Kamu pasti sudah tidur dengan dia,bercinta semalaman dengan dia sampai lupa sama aku" tuding Lalita marah.


"Hahahahaha,,,sayangg kenapa gak percaya sama aku? Sudah aku bilang,aku gak menyentuh dia sama sekali,melihatnya saja aku malas"


"Bisa aja kamu bohong sama aku"


"Aku gak bohong sayang,dan aku gak pernah bohong sama kamu" jawab Danar meyakinkan Lalita.


"Sakit tau harus ngebayangin kamu tidur sama dia"


"Ya makanya jangan bayangin yang macam macam,sudah aku bilang aku gak akan menyentuh dia malah kamu bayangkan,sakit kan jadinya" Danar meledek Lalita.

__ADS_1


"Danaaaaarrr" teriak Lalita manja.


"Kita jalan jalan yuk,,aku belikan kamu sesuatu" kata Danar merayu agar Lalita tidak marah lagi padanya.


"Hemm,mau beli apa memangnya?" tanya Lalita manja.


"Terserah,apa aja yang kamu mau"


"Aku mau perhiasan" Lalita meminta tanpa malu malu. Lalita memang tipe wanita matre dan jika Danar berbuat kesalahan,Danar harus membayar dengan barang barang yang mewah dan juga sejumlah uang. Tapi Danar merasa tidak keberatan melakukan itu,apalagi dia sangat mencintai Lalita jadi dia selalu menuruti saja kemauan Lalita.


"Boleh,,yuk kita beli perhiasan" ajak Danar sambil menggandeng tangan Lalita mesra.


Keduanya keluar dari kamar hotel dan menuruni anak tangga menuju area parkir.


sekarang mereka sudah berada diperjalanan menuju toko penjualan perhiasan langganan Lalita.


Beberapa menit kemudian mereka sampai,keluar dari mobil dan berjalan bergandengan masuk kedalam toko yang sudah disambut oleh pelayan ramah.


Wajah Lalita tampak berseri seri saat mengitari etalase yang berisi bermacam perhiasan.


"Cantik cantik banget sayang,," kata Lalita pada Danar.


"Iya sayang,pilih saja apa yang kamu mau" perintah Danar.


"Maunya sih semua" Lalita seolah memberi kode pada Danar .


Danar tersenyum


"ya pilih saja sayang,aku kan bilang pilih saja apa yang kamu mau"


"Iya sayangg trimakasih yaaa " ucap Lalita sambil bergelayut manja pada Danar.


Lalita mulai memilih milih perhiasan,dan dengan cerewetnya dia bolak balik meminta pelayan untuk mengambil barang yang dia mau,tetapi nanti tidak jadi karena tidak cocok,begitu saja terus.


Sampai akhirnya hampir 2 jam Lalita memilih,Danar masih tetap sabar dan setia menunggu tanpa mengeluh sama sekali. Lalita memutuskan membeli gelang dan cincin.


"Sayang,,," panggil Lalita pada Danar yang sedang duduk di kursi tunggu.


"Yaa," jawab Danar sambil mendekat.


"Aku mau ini" tunjuk Lalita pada 2 barang gelang dan cincin dengan harga yang fantastis.


"Iya sayang,,,ambil saja"


Lalita tersenyum girang kemudian memeluk erat Danar.


"Trimakasih yaaa sayangggg"


Danar mengeluarkan kartu dan memberikan pada pelayan.


Setelah itu mereka berdua keluar dari toko karena Lalita sudah selesai dengan urusannya merampok Danar,dan Danar sama sekali gak menyadari itu. Bagi Danar itu adalah rasa cinta pada Lalita makanya dia rela melakukan apa saja pada Lalita.

__ADS_1


__ADS_2