
"Gendis,,apa hari ini aku bisa pergi ke kantor?"
"Ya mas,,aku sudah baik baik saja kok,mas pergi lah ke kantor"
"Kalau kamu masih ingin aku temani,aku tidak jadi pergi"
"Gak mas,,"
"Ya sudah,,aku sudah menyuruh beberapa anak buahku untuk berjaga di rumah ini,,jadi kamu tidak usah khawatir y" jelas Danar sambil mendekati Gendis dan membelai rambutnya.
Gendis tersenyum kemudian membiarkan Danar bersiap untuk ke kantor.
Selesai sarapan Danar bergegas pergi setelah sebelumnya berpamitan pada Gendis.
"Kalau butuh aku telpon saja ya"
"Iya mas,,aman deh pokoknya" jawab Gendis.
."Oh yaa,,gimana hari ini rasanya,apa masih mual?"
"Pagi ini enggak mas,semoga saja sudah semakin berkurang"
"Syukurlah,,dan jangan malas makan ya"
"Siap,," jawab Gendis menggoda Danar.
Danar tersenyum gemas kemudian berlalu meninggalkan rumah.
Gendis kembali kekamarnya setelah Danar sudah tidak terlihat lagi.
tapi sebelumya dia menghampiri bik Rahmi yang sedang sibuk didapur.
"Bik,,,boleh saya hari ini dibuatkan masakan?"
"OOO boleh mbak,,,boleh banget. Mbak Gendis mau dimasakkin apa?" tanya bik Rahmi antusias.
"Saya kok kepengen makan,,,tongseng ayam ya bik,,kayanya segerrrr banget"
"Wahh boleh mbak,,,bagus lah kalau mbak sudah mulai pengen sesuatu,dan semoga mualnya juga gak lama lama yaa "
"Iya bik,,,"
"Ya sudah mbak Gendis istirahat saja dikamar lagi,biar saya segera masak pesanan mbak" jelas bik Rahmi kemudian.
"iya bik,trimakasih ya"
Gendis melanjutkan lagi langkahnya untuk kekamar.
dikamar Gendis hanya berbaring,tubuhnya masih sedikit lemas,tapi rasa mual sudah mulai sedikit berkurang,dan tiba tiba mulai ada rasa ingin makan sesuatu.
Gendis bermain ponsel dan iseng berkirim pesan untuk Danar.
*Sudah sampai di kantor?*
Dan terlihat langsung dibaca oleh Danar.
*sudah nih,barusan sampai*
*Ada apa?*
*Baik baik saja kan?*
Gendis tersenyum membaca balasan Danar,Danar terlihat sangat khawatir pada dirinya.
__ADS_1
*Aku baik baik saja mas*
*aku sedang menunggu masakan,tadi aku pengen sesuatu dan minta bik Rahmi untuk memasakkan*
Danar membalas
*syukurlah,,nanti juga kalau pengen sesuatu bilang saja keaku biar aku carikan*
*Oh ya susunya diminum ya,terus vitamin juga*
Manis sekali dia,,Gendis merasa sangat diberi perhatian oleh Danar.
*Iya mas,,siap patuhi perintah mas*
Danar mengirimkan emotikon tertawa.
*Ya sudah mas lanjut lagi kerjanya,oh ya mau aku antarkan makan siang hari ini?*
Danar membalas
*Gak usah Gendis,kamu istirahat saja,,aku kebetulan siang ini ada pertemuan dan makan siang bersama rekan bisnis*
*Baiklah mas,,ya sudah yaa* balas Gendis kemudian menutup aplikasi hijau itu dan meletakkan diatas kasur.
Bik Rahmi masuk kekamar Gendis dan membawakan masakan pesanan Gendis tadi.
*mbak Gendis,,tongseng ayamnya sudah matang,,ayok segera makan,,"
Gendis tersenyum dan segera bangun dari tidurannya.
"Aromanya wangi sekali bik"
"Syukurlah mbak Gendis gak anti sama bau bau masakan,biasanya orang hamil muda itu gak bisa nyium bau masakan"
"Ohh,,,ya sudah silahkan mbak Gendis makan dulu,,semoga rasanya cocok dilidah mbak"
Gendis tersenyum dan mendekat kearah nakas,bik Rahmi pamit keluar kamar Gendis.
Gendis mulai menikmati makanan yang tadi dia inginkan,,dan sangat antusias dengan rasanya yang sungguh enak itu.
Dan Gendis tidak merasa mual saat makan. Akhirnya Gendis bisa menghabiskan makanan itu dan tanpa rasa mual atau ingin muntah.
Selesai makan Gendis segera minum vitamin dan kembali bersantai ditepi kasur.
Tiba tiba saja ponsel Gendis berdering,dan itu bunyi notifikasi dari aplikasi hijau.
Gendis meraih ponselnya dan membuka langsung notifikasi. terlihat sebuah gambar terkirim dan dari nomor yang tidak tersimpan dikontak.
Gendis tersentak karena gambar yang dikirim adalah foto Danar dan lalita.
Gendis diam,,,kemudian menaruh ponsel diatas kasur.
foto itu,memperlihatkan Danar dan Lalita yang sedang makan siang. Lalita terlihat ingin menyuapi Danar.
terdengar lagi notifikasi,Gendis membukanya lagi dan masuk beberapa foto lagi antara Danar dan Lalita dalam berbagai situasi yang berbeda.
Dan juga sebuah video.
Gendis membuka video itu,tampak adegan Danar dan Lalita berbincang dimeja,,dan sepertinya itu disebuah restoran. tangan Lalita tengah menggenggam tangan Danar dan mereka berbincang serius. Cukup lama durasi video itu,sekitar 15 menit,dan adegan itu hanyalah obrolan tapi tangan Lalita tidak lepas menggenggam jemari kanan Danar.
Gendis kembali menaruh ponselnya.matanya menerawang keluar jendela kamarnya. Ada butiran bening jatuh disudut matanya.
"Haruskah aku sakit hati dan kecewa?" gumam Gendis lirih.
__ADS_1
"Kan sudah diberitahu jangan terlena dan terbuai"
"Sikap manis yang ditunjukkan oleh Danar semata karena kamu hamil Gendis,bukan hal yang lebih" gumam Gendis lagi dan mengusap butir bening yang terus keluar dari sudut matanya itu.
"Tapiiii,,,bukankah aku sudah bilang sama dia,kalaupun tidak mencintaiku jangan berbuat hal yang bisa mempengaruhi perasaanku,apalagi disaat aku hamil"
"Daaannn siapa orang yang tega berbuat ini? Siapa yang sengaja melakukan ini,mengirimkan foto dan video ini?"
"Gak mungkin itu perintah danar,sengaja ingin menyakitiku,,tapiiii memang kamu gak bisa mempercayainya Gendis"
Hati Gendis terus berkecamuk,tidak bolehkah aku bahagia meski hanya sementara,,hanya sementara,hanya sampai anak ini lahir saja.
Gendis berbaring,,air matanya masih saja menetes,entah apakah ini kecewa,ataukah sakit hati.
Ya Gendis kecewa dengan Danar yang tidak bisa menepati janjinya.
📎📎📎
"Gendis,,,Gendis,," terdengar suara Danar memanggilnya dari arah luar,ternyata Danar sudah pulang dari kantor.
Gendis tidak menyahut,dan sengaja meringkuk didalam selimut.
"Haii,,,ada apa ini,,masih meringkuk didalam selimut,,,sakit yaa" tanya Danar sambil menghampiri Gendis yang masih diam saja.
"Tidak enak lagi ya rasanya,,mual lagi?"
Gendis masih tidak menjawab Danar,,matanya terpejam dan ingin rasanya Danar pergi saja darinya.
"gimana makan hari ini? Masih aman kan?" tanya Danar lagi,dan sama sekali tidak mengetahui apa yang terjadi.
"kok diam saja,,apa sekarang sedang mogok bicara?,karena pengaruh hamil nih?"
"Padahal tadi pagi baik baik saj,terus masih berkirim pesan,kenapa saat aku pulang kok jadi diam begini?"
Danar masih saja mengoceh dan bertanya dengan sabar meski Gendis sama sekali tidak menyahut.
Perlahan Danar membuka selimut Gendis dan ingin melihat wajahnya.
"Heii,,,kenapa?" Danar membalik tubuh Gendis.
Dan Danar melihat wajah Gendis yang sembab.
"Lohh,,,ada apa ini? sepertinya habis menangis?"tanya Danar heran dan menatap lekat wajah Gendis.
Gendis membuang muka sama sekali tidak ingin melihat wajah Danar.
"Ada apa sayang,,,kamu sakit?,kalau ada sesuatu kenapa tidak telpon aku dan minta aku pulang?" tanya Danar dengan lembut dan mesra dan tangannya mengusap wajah Gendis yang sembab.
"Bisa gak mas keluar saja,,aku pengen sendiri" akhirnya Gendis bersuara dan malah meminta Danar untuk keluar.
Danar menatap Gendis aneh.
"Kenapa? lagi gak mau ada aku ya,,,duhhhh sedihnya aku kalau tiba tiba kamu mengidam membenciku dan tidak ingin melihatku" keluh Danar.
"Tadi pagi kamu baik baik saja Lo,,ada apa Gendis?"
"Gak ada apa apa,,cuman pengen sendiri"
"Hemm,,ya sudah tapi jangan lama lama yaa,,nanti aku boleh kemari lagi" pinta Danar merayu.
Gendis tidak menjawab dan kembali meringkukkan tubuhnya dikasur dan menutup lagi tubuhnya dengan selimut,dan membiarkan Danar pergi keluar dari kamar.
Gendis kecewa,Gendis tidak ingin Danar ada didekatnya saat ini.
__ADS_1