Aku Dijodohkan Dan Diselingkuhi

Aku Dijodohkan Dan Diselingkuhi
bab 23 melihat Gendis di mall


__ADS_3

Danar sudah berada di kantor dan langsung saja mengerjakan pekerjaannya.


Tampak pak Haryo yang juga mertuanya masuk kedalam ruangannya.


"Maaf nak Danar,ada yang harus saya sampaikan"


"Ada apa yah?" tanya Danar sambil mempersilahkan ayah mertuanya duduk.


"Mengenai proyek yang sedang di kerjakan di daerah B itu nak,sepertinya mengalami kendala. banyak warga yang melakukan aksi protes. Bisa jadi ada provokator yang mendalangi para warga"


"Bukannya semua sudah beres,warga sudah deal dan sepakat,dan pembayaran pun sudah selesai. apa lagi yang mereka tuntutkan?" tanya Danar terkejut.


"Mereka memprotes sebagian lahan yang katanya masih belum beres pembayarannya"


"Bagaimana bisa? perusahaan membayar lahan yang sudah di kontrak saja kan,kalau belum bagaimana mereka bisa menuntut?" tanya Danar geram.


"Warga termakan oleh investor yang baru,yang menjanjikan pembayaran lebih besar"


"Apa mereka bisa mengembalikan uang kita kalau mereka memilih menjual pada investor lain? Dan mengapa mereka tidak sabar sekali,kita hanya belum me neken kontrak pada lahan itu,bukan berarti kita tidak jadi membelinya"


"Sekarang saya minta ayah dan pengacara perusahan kita,urus masalah ini,tekan mereka dengan mengatakan perusahan meminta ganti rugi kalau mereka masih berniat mencari investor lain. Karena kita tidak bisa mengembangkan usaha disana kalau lahan itu terbagi dengan pengembang lain yang tidak satu bidang dengan kita" jelas Danar kemudian dan meminta ayah mertuanya untuk mengurus masalah ini.


"Baik nak Danar,ayah akan segera bereskan masalah ini,ayah permisi nak" kata pak Haryo berpamitan kemudian berjalan meninggalkan ruangan kerja Danar menantunya.


Danar menghempaskan bokong dikursi kerjanya,tiba tiba saja otaknya menjadi panas,pagi ini mendapat kabar yang sangat tidak menyenangkan.


Danar mengecek beberapa email yang masuk dan juga proyek yang sedang bermasalah itu.


Berharap ayah Gendis mampu menyelesaikannya tanpa dia harus ikut turun tangan,dan Danar percaya dengan kecakapan ayah Gendis dalam hal meloby.


Hingga jam makan siang Danar masih belum menerima kabar dari ayah mertuanya tentang proyek mereka yang sedang bermasalah.


Ponselnya berdering,Danar cepat mengambilnya dari atas meja kerjanya,terlihat nama ayah mertuanya yang terpampang dilayar.


"Selamat siang nak Danar" suara pak Haryo terdengar dar sebrang telpon.


"Selamat siang,bagaimana hasilnya yah! Apa berhasil?" tanya Danar tidak sabar.


"Tadi sempat negosiasi nak,dan kami menjelaskan tentang lahan itu,dan mereka sepakat untuk tetap meneruskan memberikan lahan kepada kita" jelas ayah mertuanya.


"Syukurlah yah,,"


"Iya nak,ternyata memang ada satu warga yang memprovokator warga lainnya,tapi semua sudah beres,dalangnya sudah kami temukan dan investor yang ingin menjegal kita pun sudah mundur teratur"


"Bagus ayah,," kata Danar puas dengan kinerja ayah mertuanya itu.


"Jangan lupa ayah makan siang,sudah waktunya makan siang"


"Iya nak,sekarang saya sudah di restoran makan siang bersama bapak pengacara"


"Oh iya silahkan ayah lanjutkan saja,dan trimakasih atas kerjasama ayah" kata Danar kemudian sambil menutup telponnya.


Danar merasa lega dan tenang sekarang,tidak harus berlama lama mengurus masalah tadi,ayah Gendis mampu menyelesaikan dalam waktu yang singkat. Danar sangat bangga dengan ayah mertuanya itu.


Danar keluar dari kantornya kemudian menjemput Lalita di rumahnya. Dia sudah berjanji pada Lalita untuk mengajaknya makan siang di mall.


Danar sudah berada di depan rumah Lalita,sebuah perumahan yang biasa saja,Lalita tinggal di situ bersama ibu dan dua adiknya. Ayah dan ibunya sudah bercerai sejak Lalita duduk di bangku SMP,dan kedua adiknya masih kecil kecil waktu itu. Kemudian Lalita menjadi tulang punggung bagi keluarganya.

__ADS_1


"Hai sayang,,,sudah sampai" tanya Lalita saat sudah keluar dari rumahnya.


"Iya,yuk berangkat" ajak Danar.


"Oke,," jawab Lalita sambil masuk kedalam mobil saat pintu dibukakan oleh Danar.


Keduanya sudah berada dijalanan yang ramai,untuk menuju mall tujuan mereka memerlukan waktu yang lumayan,ditambah lagi dengan jalanan yang ramai dan cukup macet.


Dan hampir setengah jam mereka berkutat dengan kemacetan dijalan akhirnya sampai juga di mall tujuan.


Danar memarkir mobil kemudian keduanya turun dan masuk ke dalam area mall.


"Mau makan apa sayang?" tanya Danar sambil menggandeng tangan Lalita mesra.


"Kenapa aku pengen makan steak ya sayang?" jawab Lalita manja.


"Boleh sayang,,," kata Danar kemudian mereka naik lift menuju ke resto yang menyediakan steak dan juga memang tempat makan langganan mereka berdua.


Saat sampai Danar dan Lalita mencari tempat duduk yang sedikit agak menepi dan tidak terlalu ramai pengunjung. pelayan datang membawa menu dan mencatat pesanan mereka berdua.


Pelayan pergi setelah Danar dan Lalita selesai memesan makanan.


"Sayanggg,,,ada yang pengen aku omongin sama kamu" Lalita membuka obrolan dengan gaya khasnya manja dan mendayu dayu,tapi entah kenapa Danar suka saja melihat sikap Lalita itu.


"Yaa,mau ngomongin apa?" tanya Danar dengan lembut.


"Emmm,,,kemarin aku sempat liat liat rumah,di perumahan elit itu sayang,sepertinya aku tertarik" kata Lalita kemudian memberitahu maksud obrolannya.


Danar mengerutkan keningnya karena bingung dengan maksud perkataan Lalita.


"Iya,,,"


"Terusss,,apa kamu sudah punya tabungan? Atau tabungan mu sudah cukup?" tanya Danar.


"Lohhh,,,,"Lalita terkejut mendengar pertanyaan Danar.


"Kenapa?" tanya Danar kemudian.


"Masa sayang gak peka?"


"Maksudnya?" tanya Danar semakin bingung.


"Sayang gak pengen gitu beliin aku rumah di sana?" akhirnya Lalita berterus terang.


"Ohhh,,," Danar mulai mengerti arah pembicaraan Lalita,bukan tidak peka tapi Danar ingin melihat reaksi Lalita saja kalau dirinya bersikap biasa,tidak begitu merespon.


"Sayang punya tabungan kan pasti,setiap bulan uang yang aku transferkan lebih dari cukup buat keperluan sayang dan juga keluarga sayang,pastinya bisalah sayang menabung" jelas Danar.


"Kok sayang hitung hitungan gitu?" tanya Lalita mulai terlihat gak suka dengan penjelasan Danar.


"Bukan begitu sayang,masa sayang anggap aku hitung hitungan sedang aku selalu memenuhi kebutuhan sayang"


"Kalau soal rumah masih bisa kita pikirkan nanti,malah aku maunya biarlah aku saja nanti yang beli,untuk kita tinggali kalau kita menikah,jadi sayang gak usah repot repot mikirin beli rumah sekarang" jelas Danar lagi.


"Aku pengen juga sayang punya rumah lebih bagus dari yang sekarang,buat ku tempati bersama ibu dan adik adikku"


"Bukannya rumah yang sekarang masih layak huni?"

__ADS_1


"Iya,tapi kan ketinggalan jaman sayang"


"Rumah yang aku mau itu bagus sayang,modelnya modern,dan mewah"


"Yaa,,tapi apa sayang punya tabungan yang cukup buat beli rumah itu?"


"Aku gak punya tabungan sayang"


"Terus kenapa mau beli rumah dan beli rumah mewah seperti itu?" tanya Danar.


"Kan aku punya pacar yang kaya raya,masa belikan rumah untuk pacarnya aja pakai mikir"sindir Lalita.


"Sayang,,kita itu masih harus memikirkan hal yang lain lagi selain membeli rumah"


"Aku tidak pelit atau perhitungan dengan pacar,tapi selama kamu masih pacar bukan berarti aku harus mengeluarkan atau menuruti segala permintaan mu"


"Sengaja aku gak membelikanmu mobil,karena aku sudah memberikanmu uang bulanan lebih dari cukup. Jadi aku berpikir kamu pasti bisa saja menabung,dan pasti uang tabungan kamu pun sudah banyak,untuk membeli mobil pun bisa"


"Masa iya sayang gak bisa menabung? Sedang uang yang aku berikan juga berbeda,uang kebutuhan rumah,uang kebutuhan sayang,uang untuk keperluan adik adik sayang,aku penuhi kan? " Danar mulai membahas keuangan Lalita.


"Sayangg,,,bukan aku mengungkit tapi maksudku itu sayang sadar kalau aku memberikan apa yang sayang minta juga bukan untuk dihambur hamburkan"


"Sayangg,,,beneran deh kamu ini berubah. sekarang kamu bahas masalah keuanganku,dan uang yang sudah kamu berikan untukku,gimana kalau aku jadi istrimu,apa begitu juga?" kata Lalita kemudian menuding Danar.


Danar tersenyum.


"Justru kalau kamu menjadi istriku,aku akan lebih royal lagi,aku gak akan menanyakan kembali apa yang sudah aku berikan karena itu sudah menjadi tanggung jawabku,sudah kewajibanku menafkahi istri"


"Tapi sayang,,,selama kamu masih pacarku,aku berhak menanyakan kemana saja uang yang sudah aku berikan? Biar aku juga semakin percaya kalau kamu memang menggunakannya pada hal yang penting,dan kalau seperti itu kan aku juga semakin yakin kamu memang pantas jadi istriku" jelas Danar lagi. Terlihat wajah Lalita semakin gugup.


"Punya pacar kaya itu bukan berarti harus dimanfaatkan sayang,aku senang kok bisa memberi kamu,membelikan kamu barang barang mewah,memberi kamu uang,tapi maksudku jangan berfoya foya sayang,tetap harus bisa menabung,justru aku senang kalau kamu bisa kelola uang itu untuk membuka usaha" jelas Danar lagi dengan nada lembut berharap Lalita mau mendengarnya.


Wajah Lalita cemberut tangannya hanya memainkan makanan yang sudah datang dari tadi.


Saat asyik menikmati makanannya Lalita memberitahu Danar kalau ada Gendis di tempat ini juga. Danar mengedarkan pandangan kearah yang ditunjuk Lalita. Dan benar Gendis sedang duduk disini juga tapi seorang diri.


"Jangan jangan dia ngikuti kita?" kata Lalita berprasangka.


"Enggak lah,tadi pagi dia ijin sama aku kalau mau ke mall siang ini" jelas Danar.


"Hemmm,,,harus ya ijin sama pak suami?" sindir Lalita dengan wajah menahan kesal.


"Sudah gak usah dimulai"


"Pengen deh aku datangin dia" gumam Lalita.


"Buat apa?,gak usah cari masalah,dia tidak mengganggumu,lihat kita saja tidak" Danar mengingatkan Lalita.


"Sebal aja lihat wajahnya itu,sok cantik merebut pacar orang"


"Kamu salah sayang,,,dia gak merebut pacar orang"


"Gak usah bela dia sayang,,dia sudah merebut kamu kan dariku?"


Danar tersenyum merasa aneh dan lucu dengan kata kata Lalita. Bukannya dia nih yang sebenarnya menjadi pelakor?


Dan Gendis bukan merebutnya dari Lalita,justru Danar yang meminta Gendis untuk menjadi istrinya.

__ADS_1


__ADS_2