Aku Dijodohkan Dan Diselingkuhi

Aku Dijodohkan Dan Diselingkuhi
bab 50 Danar menyusul Gendis


__ADS_3

Bebas,damai,tentram,bahagia itulah yang dirasakan Gendis sekarang,saat dia ada dirumah orang tuanya.


Tidak bertemu Danar,suami sandiwara tapi yang selalu saja rese sama dia,yang katanya jangan saling ikut campur urusan masing masing,tapi nyatanya justru dia yang selalu ikut campur,aneh dan plin plan.


"Mau berapa lama disini nak?" tanya ibu saat mereka berdua sedang bersantai diteras samping rumah.


"Maunya lama lama Bu"


"Terus Danar gimana? Gak boleh ninggalin suami lama lama"


"Belum juga satu Minggu aku disini Bu" protes Gendis.


"Ibu gak suka aku disini?"


"Kok bicara begitu? Ibu pasti senang kalau anaknya bermalam disini,mau lama lama juga boleh. Tapi kamu kan sudah memilki suami,kasian kalau harus ditinggal lama lama" jelas ibu Endang memberi pengertian pada Gendis.


"Iya Bu,aku tau"


"Ibu itu suka ngebayangin,suatu saat kamu datang kemari itu sudah membawakan kami seorang cucu "


Gendis terkesiap mendengar perkataan ibunya. Kalimat kalimat yang baginya sekarang adalah kalimat angker dan keramat yang ditujukan kepada para pasutri yang belum memiliki anak.


"Memangnya belum program hamil nih?" tanya ibu kemudian. Dan lagi lagi Gendis terkesiap. Sungguh Gendis tidak siap mendapat pertanyaan seperti itu.


"Apa kalian memang menunda?"


"Ehhh,,,enggak Bu,se dikasihnya aja" jawab Gendis,jawaban yang paling simpel dan keramat juga buat para orang yang suka bertanya.


"Ya,,semoga saja akan segera Allah titipkan janin didalam rahimmu ya nak"


"Aamiin" ucap Gendis seketika.


"Ahh kenapa harus aku amin kan" gerutu Gendis didalam hati.


"Kepengen gitu ibu,,kalau weekend,anak menantu dan cucu datang kerumah eyangnya,terus bermalam,seru gak itu nak?" ibu Gendis berkhayal.


"Khayalan ibu semoga gak ketinggian" gumam Gendis lagi didalam hati.


"Kasihan kalau ibu harus melihat kenyataannya"


"Bagaimana dengan orang tuanya Danar? Apakah mereka juga berharap sama seperti ibu?"


"Ya Bu,,,sama" jawab Gendis singkat dan jelas,karena Gendis masih sangat gugup,takut mendapat pertanyaan pertanyaan yang lebih keramat lagi dari ibunya


"Nahh,,,semua orang tua itu sama,hanya berharap di beri cucu oleh anak anaknya,dan kehidupan rumah tangga anaknya baik baik saja"


"Kalau bisa yang banyak biar rame,soalnya ayah dan ibu,juga orang tua Danar sama sama hanya memiliki satu anak,nahh kalian menikah,kalian hidup sendiri,kami jadi kesepian kan?"


"Tapi kalau kalian memberi kami cucu,itu bisa kami jadikan alasan untuk bisa sering sering bertemu,agar rasa kesepian kami bisa sedikit terobati"


"Ternyata salah aku pergi kerumah ibu,,niatku ingin terhindar dari Danar,biar tenang,adem ayem,,ehhhh malah seperti masuk ke kandang beruang" gumam Gendis dalam hati sedikit merutuki apa yang dia alami.


"Upsss,,,maaf ibu" ucap Gendis didalam hati karena sudah berkata tidak sopan pada ibunya meski ibunya tidak tahu.


"Disini malah aku ditodong pertanyaan pertanyaan keramat"


"Semoga saja nanti bisa beri kami cucu kembar biar ramee" doa ibu Endang berharap agar Gendis bisa hamil dan memiliki anak kembar .


Gendis diam,tidak meng amin kan lagi,Gendis takut akan jadi kenyataan.

__ADS_1


"Masuk yuk,sebentar lagi ayah pulang,mandilah dulu" kata ibu kemudian dan mereka sama sama masuk kedalam rumah.


Gendis menuju kekamarnya,kemudian keluar lagi untuk mandi.


Selesai mandi dan berpakaian Gendis duduk diruang tengah sambil bermain ponsel. Dan ibunya saat ini sedang sibuk didapur untuk menyiapkan makan malam.


Tadi mereka sudah masak bersama,dan sekarang ibunya hanya tinggal menghangatkan saja.


Terdengar suara mobil diluar,sepertinya ayahnya sudah pulang dari kantor. Gendis tidak keluar hanya menanti ayahnya diruangan ini.


Tidak lama ayahnya masuk,kemudian langsung menghampiri Gendis untuk memeluk anak gadisnya itu.


"Lagi ngapain nak?" tanya ayahnya lembut.


"Main ponsel ayah" jawab Gendis yang sejak tadi tidak melihat pada ayahnya,dia hanya menerima saja saat ayahnya memeluk dan mencium,karena itu memang sudah biasa mereka lakukan.


Jadi Gendis tidak sadar kalau tentunya ada Danar yang datang bersama ayahnya.


"Lohhh,,,ada nak Danar?" ibu tampak terkejut saat keluar dari dapur untuk menyambut suaminya ternyata ada Danar juga.


Gendis langsung saja menoleh dan benar saja Danar sedang berdiri didekat sofa.


Wajah Gendis langsung berubah menjadi kesal dan sebal.


"Gendis,,itu ada suami kok diam saja,ayo buatkan minuman hangat" perintah ibunya.


"Ayo nak,buatkan ayah dan Danar minuman hangat ya" ayah juga menyuruh Gendis untuk segera melaksanakan perintah ibunya.


"Iya yah,," jawab Gendis patuh kemudian berdiri dan meninggalkan ayah dan Danar diruang tengah.


"Apaan sih,,kenapa ikut kemari?" tanya Gendis didalam hati dengan perasaan dongkol.


"Gendis cepat dong buat minumnya,kenapa malah melamun gitu!" tegur ibu tiba tiba dan membuat Gendis sedikit terkejut.


"Dimana mas Danar yah?" tanya Gendis pada ayahnya,karena tidak tampak Danar disitu lagi


"Dikamar mandi nak,mau mandi katanya"


"Lohh,kan gak bawa pakaian"


"Ada kok,,dia tadi bilang sama ayah,mau menyusul kamu dan ikut bermalam disini,jadi dia bawa pakaian" jelas ayahnya.


"Ihhhh apaaan sihhhhh?" gerutu Gendis didalam hati.


Sungguh Gendis merasa kesal dan marah sekali pada Danar.


Tidak disangka Danar akan bermalam disini juga.


Gendis berniat ingin mencari ketenangan dan menghindar dari Danar untuk sementara waktu,Danar malah menyusulnya.


"Kenapa nak?" tanya ayah tiba tiba membuyarkan lamunan Gendis.


"Gak apa apa yah" jawab Gendis kemudian pergi kekamarnya.


Dia menunggu Danar selesai mandi dan siap mendamprat Danar habis habisan.


"Aku benci sama dia,,,sengaja kah dia melakukan ini,gak suka liat aku tenang dan bahagia" gerutu Gendis pelan.


Tidak lama pintu kamar terbuka dan terlihat Danar masuk kedalam.

__ADS_1


"Duh wajah tanpa dosa terlihat,sebalnya aku melihat" ucap Gendis geram tapi hanya didalam hati.


Gendis benar benar merasa kesal ingin rasanya dia menangis,dia benci kenapa Danar harus mengikutinya.


Tiba tiba Gendis melempar bantal kewajah Danar.


Danar terkejut dan tidak siap untuk menghindar.


"Untung hanya bantal" gerutu Gendis kemudian.


"Kamu kenapa kok tiba tiba serang aku?" tanya Danar polos dan hal itu semakin membuat Gendis murka.


"Kenapa kamu kesini?"


"Lohh,,kan datengin mertua,mau sowan"


"Kemarin sewaktu antar aku kan sudah bertemu,sudah cukup sowannya"


"Cuman sebentar,,dan kali ini aku ingin bermalam"


"Gak usah,pulang saja kamu" Jawab Gendis dan menolak Danar untuk bermalam disini.


"Kenapa? Ayah saja ijinkan"


"Tapi aku gak mau kamu disini,,aku sengaja kesini buat menghindar dari kamu,kenapa kamu malah datang. sumpah gak tenang banget hidupku" akhirnya Gendis memberitahu alasannya kenapa dia ingin kerumah orang tuanya dan bermalam untuk waktu yang cukup lama.


"Nahhh,,,kan sudah curiga aku,sepertinya kamu memang sengaja menghindariku" Danar merasa mendapat angin segar saat Gendis akhirnya jujur.


"Iyaa,,aku malas harus ribut terus sama kamu,bukan aku yang ngajak ribut,tapi kamu yang sengaja ingin ribut terus denganku"


"Itu kan bumbu rumah tangga"


"Anehhhhhhh,,,gak seperti itu juga" jawab Gendis gemas,dan ingin rasanya dia menghajar manusia yang sangat menyebalkan ini.


"Pulang mas,,aku ingin tenang disini".mohon Gendis kemudian.


"Enggak,aku capek"


"Kamu sengaja yaa ingin menyiksa aku?"


Danar menatap Gendis,dan wajah Gendis mulai terlihat sendu.


"Kamu senang ya menyiksa aku?"


"Aku kemari ingin menghindar darimu mas,sengaja ingin tenang,aku capek harus bertengkar terus dan itu tanpa sebab,tapi kenapa kamu malah ikut kemari" ucap Gendis lirih,Gendis terduduk disisi ranjang,air matanya jatuh dan dia segera mengusapnya,tapi tetap saja air mata itu jatuh.


Gendis merasa marah sekali,Danar seperti sengaja ingin mengganggunya,gak suka kalau dirinya tenang dan bahagia.


"Aku gak boleh bahagia sebentar?" tanya Gendis sambil menatap Danar,air mata itu terus saja jatuh,gendis gak mampu lagi untuk mengusapnya,dan membiarkan saja terus jatuh membasahi pipinya. Bukan ingin mencari perhatian pada Danar,tapi memang semarah itu dia pada Danar.


"Aku nanti kembali mas,dan aku akan kembali lagi dengan kenyataan,harus bertemu kamu lagi setiap hari,harus kamu ajak ribut,harus melihatmu lagi dengan kekasihmu itu"


"Kalau aku ingin disini,bebaskan lah aku mas setidaknya sampai pikiranku kembali tenang,sampai aku kembali lagi kerumah itu"


"Tega kamu mas,,,sejahat itu kamu jadi laki laki,berbeda sekali dengan ayahmu,orang yang baik hati dan penyayang,Begitu juga ayahku,ayahku sama sekali gak pernah menyakitiku,sangat menyayangiku dan menjagaku,bagaimana kalau ayahku tau kalau anaknya saat ini sudah dibuat menderita seperti ini hatinya" .


"Kamu keluar mas sekarang,sudah waktunya makan malam,makanlah dengan kedua orang tuaku,aku masih ingin sendiri dulu" pinta Gendis dengan suara sedikit parau.


"Aku gak ikut makan malam,bilang saja aku sedang tidak enak badan"

__ADS_1


Danar terdiam tapi menuruti perkataan Gendis,diapun keluar dari kamar.


Gendis merebahkan tubuhnya dikasur. Air matanya kembali terjatuh. Dan Gendis sengaja gak keluar untuk makan malam bersama mereka,sudah pasti orang tuanya akan bertanya tanya kenapa dia menangis.


__ADS_2