Aku Dijodohkan Dan Diselingkuhi

Aku Dijodohkan Dan Diselingkuhi
bab 44 murkanya ibu Danar


__ADS_3

Danar dan Gendis bersiap pulang,urusan di rumah sakit sudah diselesaikan oleh asistennya.


Tiba tiba saja Lalita masuk kedalam kamar Danar saat mereka akan berjalan keluar.


"Sayang,,kenapa sih gak beritahu aku kalau sayang pulang hari ini? Untung saja ada Indri yang kabari" protes Lalita pada Danar.


"Terus kenapa? Kamu mau ngapain? "


"Ya temani kamu sayang"


"Sudah ada Gendis kok"


"Hemmm,,dia kan tugasnya cuman ngelayanin kamu aja,sedang aku yang akan nemenin kamu kemana aja"


"Apaaa? Jadi dia itu seperti seorang pelayan aja gitu?"


"Iya" jawab Lalita tanpa rasa berdosa.


Gendis hanya diam,sungguh bukan Gendis tidak bisa melawan,gendis sadar sedang ada dimana sekarang ini.


"Dan kamu nyonya nya?" tanya Danar lagi.


"Iya kan sayang,aku nyonya Danar kan?"


"Tapi kenyataannya yang bergelar nyonya Danar itu Gendis saat ini" jawab Danar terlihat sengaja menyindir Lalita.


"Sayangg,kamu lupa kalau kamu menikahi dia karena apa? Kamu lupa kalau ini memang kesepakatan kita? Dan kamu lupa kalau nanti dia bakal kamu tinggalkan?" Lalita mempertegas kembali tentang perjanjian mereka waktu itu saat Danar akan menikahi Gendis.


Danar terdiam dan wajahnya menjadi pucat kembali.


Gendis pun sama,hanya terdiam dan kemudian melangkah meninggalkan mereka. Gendis ingin segera turun dan keluar dari rumah sakit ini.


Dibantu supir dan asisten Danar Gendis menyerahkan koper untuk dimasukkan kedalam mobil.


Danar dan Lalita juga sudah terlihat mendekat kearah mobil.


"Mas,,aku pulang naik taksi saja" kata Gendis.


Gendis malas kalau harus satu mobil dengan wanita itu. Sudah pasti Lalita akan bersikap arogan.


"Enggak,,kita bareng bareng " Danar menolak.


Gendis menatap Lalita yang terlihat tidak suka.


"Gak apa apa mas,maaf aku juga gak bisa kalau harus satu mobil dengan dia,kalau aku gak bisa menahan diri aku takut dia akan terluka nanti" Gendis masih menolak dan sengaja sedikit mengeluarkan kalimat bernada ancaman pada Lalita meski dia gak mungkin melakukan itu.


"Kamu ngancem?" tanya Lalita.


"Enggak,,itu cuman peringatan buat diriku sendiri,dari pada nanti aku lepas kontrol karena kamu selalu bicara tanpa perasaan dan seenaknya"


"Ya sudah aku ikut dengan kamu naik taksi dan Lalita kamu ikut dengan supir dan asistenku"


"Apaaaa Danar,,,enggak. Aku gak mau,kamu harus bersama ku" Lalita menolak dengan suara sedikit keras. Sampai membuat orang disekitar mereka memperhatikan.


Gendis jadi tidak enak dan segera saja meninggalkan mereka berdua.Gendis malas terlibat dengan keributan yang terjadi diantara mereka.


"Kalau berdebat terus kapan akan pulang,sama sama keras kepala" gumam Gendis dan segera menghentikan taksi yang kebetulan sedang melintas.


Gendis masuk dan memberitahu alamat tujuannya pada sang supir.


"Apa mas Danar akan terus bersikap seperti saat dia sakit? Tetap baik dan perduli denganku? Manis juga lembut?" tanya Gendis dalam hati.


Gendis tidak berharap terlalu tinggi,dan lagi ingat dirimu hanyalah istri yang digunakan untuk mencapai keinginannya.

__ADS_1


Kalau dia sudah mendapatkan semua itu sudah pasti kamu akan disingkirkan.


Jangan baper Gendis dengan sikap dia beberapa hari ini kekamu.


Jangan lengah juga Gendis,hati seseorang tidak ada yang tau. Hati hati dengan perangkap selanjutnya Gendis.


Hati Gendis terus berkecamuk. Entah apa yang ada dihatinya saat ini. tapi saat ini dia sedang berusaha kuat melawan perasaannya. Dia gak ingin terjatuh dan terbuai dengan sikap manis Danar.


Gendis sudah sampai di rumah Danar,begitu juga Danar karena mobilnya sudah terparkir dihalaman rumah.


Setelah membayar ongkos taksi Gendis langsung masuk kedalam. Ternyata Lalita benar ikut kerumah ini.


Gendis langsung saja masuk kedalam dan menuju kedapur untuk menemui bik Rahmi.


"Bik mas Danar tolong dibuatkan nasi lembut ga,soalnya dokter masih menyarankan mas makan makanan yang lembut,dan juga kalau masak sering yang berkuah saja sekarang ya bik" jelas Gendis pada bik Rahmi.


"Baik mbak,oh ya gimana sekarang keadaan den Danar mbak Gendis?" tanya Bik Rahmi.


"Alhamdulillah sudah membaik bik"


"Ya sudah saya masuk dulu bik" pamit Gendis.


Dilihat Danar duduk disofa ruang tengah. Gendis menghampirinya karena ingin menyuruh Danar istirahat.


"Mas,mau masuk ke kamar? Mas harus istirahat"tanya gendis pelan.


"Yaa,," jawab Danar singkat.


"Sini aku bantu"


"Ehhh gak usah,,,ada aku disini biar aku yang layani dia" Lalita melarang Gendis mendekat pada Danar.


"Oke,,,yang benar ya kalau mau urus mas Danar" kata Gendis tegas kemudian meninggalkan mereka berdua menuju kekamarnya.


Gendis ingin istirahat dulu,biarlah Danar diurus oleh kekasihnya itu,toh Danar juga tidak protes dan menolak. Jadi Gendis bisa manfaatkan waktu untuk istirahat. Gendis ingin tidur dikasurnya lagi yang nyaman.


Suara ribut itu semakin jelas terdengar,dan sepertinya itu suara ibu Nungki mertuanya.


Ahh jangan jangan mertuanya datang untuk melihat anaknya dan menemukan ada Lalita disini.


Gendis beranjak dari kasur kemudian melangkah keluar kamar untuk melihat apa yang terjadi.


"Gendis,,apa apaan ini? Kenapa ada perempuan itu sini?" tanya Bu Nungki dengan nada keras pada Gendis saat dia sampai dikamar Danar.


Dan baru kali ini dia dibentak oleh ibu mertuanya itu,karena selama ini dia selalu mendapat perlakuan baik dan manis.


Gendis hanya diam karena tidak tahu harus menjawab apa,sebenarnya Gendis takut ibu mertuanya itu akan menyalahkannya karena membiarkan Lalita ada di rumah ini.


"Kamu biarkan dia masuk ke rumah ini?" tuding ibu mertuanya lagi,dan Gendis benar benar merasa takut melihat sikap ibu mertuanya itu yang sudah sangat marah padanya.


"Ibu datang ingin menjenguk anak ibu,tapi apa yang ibu lihat disini? Kenapa Gendis kamu biarkan mereka? Kamu istri Danar,kenapa kamu tidak melarang wanita itu. Kamu berhak mengusir dia" hardik ibu Nungki lagi dengan amarahnya yang meluap. Dan Gendis sangat memaklumi itu,jelas saja ibu mertuanya marah dan menyalahkannya.


Dan Danar,,kenapa dia diam saja,tidak ada sama sekali pembelaan yang keluar dari mulutnya,Danar tahu apa yang sebenarnya terjadi. Dan Danar juga tadi sudah menolak Lalita. Tapi kenal,kenapa saat keadaan seperti ini justru dia diam saja.


"Hei kamu,dimana rasa malumu itu kamu taruh? Aku sudah berulangkali menolakmu,tapi kenapa kamu masih saja mendekati Danar. Dan kamu tahu Danar sudah memiliki seorang istri tidak sepantasnya kamu menggoda Danar,kamu benar benar perempuan tidak tau malu" hardik bu Nungki pada Lalita. Lalita hanya menunduk tidak berani menatap wajah ibu Nungki


"Apa yang terjadi sebenarnya? Gendis kenapa kamu diam saja saat ada perempuan ini disini?"


"Ibu jadi curiga dengan pernikahan kalian,,apa kalian sudah membohongi kami?,katakan Gendis,,ada apa dengan pernikahan kalian?" ibu Nungki bertanya dengan geram. Dan tidak menyangka ibu mertuanya itu akan berpikir kearah sana dan mulai curiga.


"Kamuuu,,,pergi dari sini" usir ibu Nungki pada lalita. Dan Lalita tidak bisa membantah dia segera saja pergi meninggalkan rumah Danar dengan menangis.


Danar pun tidak bisa apa apa,hanya membiarkan saja Lalita pergi.

__ADS_1


"Heeeehhhhh,masih mau kamu Lalita dengan Danar? Lihat saja dia tidak bisa membelamu didepan orang tuanya" batin Gendis.


Ibu Nungki duduk disofa yang ada diruangan lantai atas ini. Berusaha mengatur nafasnya yang tadi memburu karena emosi dan marah.


"Kenapa Danar? Kenapa dia datang lagi? Dan kenapa kamu diam saja Danar?"tanya ibu Nungki kemudian setelah bisa bernafas kembali dengan normal dan bisa menguasai emosinya.


"Gendis apa Danar masih berhubungan dengan perempuan itu? kenapa juga diam saja? "


"Ahhh,,ada apa dengan pernikahan kalian ini? Apa kalian sudah membohongi kami mengingat hubungan kalian yang begitu kilat?" tuding ibu Nungki dengan rasa curiganya yang besar.


Danar dan Gendis terdiam.


"Kalau memang iya,apa alasannya dan kenapa kalian melakukan itu?"


"Ibu,,," Danar menghampiri ibunya.


"Maafkan Danar Bu,,,tapi ibu jangan mengira kalau Danar masih berhubungan dengan Lalita,Danar sudah tidak berhubungan lagi dengan dia" Danar mencoba menjelaskan pada ibunya.


Entah apakah itu benar atau bohong,Gendis juga masih belum tahu apa Danar akan meninggalkan perempuan itu.


"Dan Gendis dimana kamu tadi saat mereka sedang berduaan? Apa kamu tidak marah? Dan tidak merasa sakit hati suamimu digoda perempuan lain?" tanya ibu Nungki pada Gendis dengan amarahnya.


"Kecuali kalau kecurigaan saya benar? Jelas kamu tidak marah,dan sakit hati kalau sebenarnya kalian tidak saling mencintai" tuding ibu Nungki lagi dan kali ini adalah sebuah sindiran.


Apakah memang hati seorang ibu itu sangatlah peka? Bukan tuduhan yang dilontarkan tapi memang seperti itulah kenyataanya.


"Ibu,,,jangan berpikir seperti itu?" Danar kembali mencoba menenangkan ibunya.


"Danar,sebelumya ibu sering mendapatkan laporan tentang kamu dan perempuan itu? Dan hari ini ibu pun menyaksikan sendiri gimana sikap perempuan itu sama kamu. Ahh Danar,,,ibu gak menyangka setega itu kamu sama ibu? Masih saja berbohong"


"Danar tidak berbuat apa apa dengan dia Bu,dan tadi juga Danar sudah menyuruhnya pulang"


"Benar begitu Gendis? Sejak kapan perempuan itu ada disini?"jawab yang jujur Gendis,,kalau Danar masih tidak mau jujur terhadap ibunya sendiri paling tidak kamu tidak harus menutupi perbuatannya"


Gendis terkesiap dan sungguh Gendis gugup dan takut.


"Jawab Gendis"


"Maaf ibu,,Lalita tadi pagi memang datang kerumah sakit dan berniat menjemput mas Danar" akhirnya Gendis jujur.


"Kenapa kamu tidak melarang?"


"Sudah Bu,,tapi maaf Lalita masih bersikeras"


"Dan Danar,apa kamu selalu menghubungi Lalita saat kamu di rumah sakit,kamu mencari cari perhatiannya? Agar dia iba sama kamu dan menunjukkan perhatiannya? " tuding ibu Nungki tegas pada Danar.


"Enggak Bu,Danar gak pernah hubungi Lalita"


"Lantas siapa yang memberitahu dia,kenapa dia bisa tau kamu sedang sakit dan dirawat?"


Gendis tahu siapa dalangnya,tapi tidak mungkin Gendis akan mengadu pada ibu mertuanya. Gendis berharap Danar mau berterus terang pada ibunya.


"Dokter Indri yang memberitahu Lalita,karena dokter Indri sahabat Lalita" jelas Danar akhirnya.


Dan itu membuat Gendis lega.


"Akhirnya mas,,,kamu mau jujur" gumam Gendis didalam hati dan meras senang.


"Ohh kenapa bisa selancang itu dia bertindak? Baik ibu akan bicara dengan pihak rumah sakit kita lihat siapa yang lebih berkuasa?" mau tidak mau akhirnya ibu Nungki menggunakan kekuasaannya,karena merasa tidak suka dengan perbuatan dokter Indri yang baginya sudah lancang.


Dan juga orang tua Danar adalah salah satu pemegang saham terbesar di rumah sakit itu jadi sangatlah mudah kalau mereka ingin melakukan sesuatu terutama bertindak pada petugas rumah sakit yang menyalahi aturan.


"Allah itu memang maha adil,,aku tidak perlu membalaskan rasa sakit hatiku pada dokter itu,tapi Allah membuat orang lain yang bekerja" gumam Gendis merasa bersyukur.

__ADS_1


"Ahhh dokter Indri kamu terlalu lancang dan ikut campur urusan orang lain,dan lihat saja apa yang akan terjadi dengan pekerjaanmu nanti"ucap Gendis dalam hati.


Jujur dia puas dan lega,orang jahat pun akan mendapat balasan.


__ADS_2