
Selesai sarapan Gendis dan Danar menikmati view pantai yang bisa langsung mereka lihat dari balkon villa mereka.
"Mas,,villa ini milik keluarga mas!" tanya Gendis ingin tahu.
"He em,,"
"Sering berlibur kemari?"
"Ayah dan ibu sudah jarang,aku pun juga,paling kalau ada keluarga keluarga yang berlibur disini,ga kita suruh saja mereka menempati villa ini" jelas Danar .
"Pernah kemari dengan Lalita?" tanya Gendis menyelidik. Danar menoleh kearah Gendis,dan mengerutkan keningnya.
"Kenapa harus tanya soal itu?"
"Gak papa mas".
"Kepo juga ya kamu orangnya?" sindir danar.
Wajah Gendis berubah jadi masam dan memerah karena malu dibilang seperti itu oleh Danar.
Danar tersenyum melihat tingkah Gendis.
"Ayah dan ibu kamu luar biasa ya mas baiknya!"
"Kaget mas,,aku pikir itu mereka bakal seperti kebanyakan orang orang kaya pada umumnya"
Danar mengerutkan keningnya lagi dan menatap lekat wajah Gendis.
"Iya mas,,yang ada dipikiran aku itu bakal nemuin orang tua yang masih menjaga reputasi dan kehormatannya,apalagi dalam hal mencari menantu,pasti maunya yang cantik,yang intelektual,cerdas,dan yang pasti juga sederajat"
Danar tersenyum mendengar ocehan Gendis yang semua itu berdasarkan pemikirannya sendiri.
"Intelektual ,,,hahahaha" gumam Danar dan tertawa.
Gendis langsung menatap Danar aneh.
"Mas,,untuk ukuran keluarga mas itu,,mencari wanita cerdas dan memiliki intelektual yang tinggi itu perlu,biasanya kan untuk mengimbangi popularitas mereka"
"Mulai berat sepertinya obrolannya " Danar malah menggoda Gendis.
Gendis membesarkan kedua bola matanya saat Danar meledeknya.
"Kenapa sih bercanda aja?" protes Gendis kesal.
__ADS_1
"Kita gak usah obrolin hal yang berat berat seperti itu,untuk apa? Toh orang tuaku saja sudah sangat menyayangimu,tidak pernah mempermasalahkan hal itu" jelas Danar.
"Kamu harus tau,orang tuaku pun berasal dari orang yang biasa biasa saja,mereka merintis usaha bersama dari nol,,dari aku belum lahir,jadi mereka tahu artinya sebuah perjuangan,mereka tahu rasanya berada dititik terendah"
"Dan soal jodoh anaknya,mungkin sedikit ikut campur,meski tidak harus mencari yang intelektual,mencari seperti yang kamu bilang tadi,yang sederajat,tapi orang tuaku mempunyai syarat mutlak,harus wanita baik baik,dari keluarga baik baik"jelas Danar.
"Cantik,cerdas,berintelektual tinggi itu bonus"
"Bersyukur aja kemarin,,saat aku mengenalkan kamu kepada mereka,mereka tidak banyak bicara,atau protes,malah jatuh cinta sama kamu,aneh kan?"
"Jadi aku gak perlu repot repot lagi mencari wanita wanita yang tidak kukenal lainnya untuk aku kenalkan pada mereka"
"Yaa,,,rasanya aneh sekali,hal yang tidak disengaja dan diperkirakan sebelumnya. Aku pikir aku akan mendapatkan perlakuan yang tidak baik dari mereka,apalagi aku hanya berasal dari orang biasa biasa saja,tapi nyatanya,,,? seperti mendapatkan sesuatu yang berharga banget"
"Beruntung dong kamu" seru Danar.
"Bisa dibilang begitu"
"Tapi,,,tetep saja mas,perasaan bersalah dan berdosa itu selalu ada" ucap Gendis sambil menatap Danar sendu.
Danar menatap lurus kedepan dan tangannya asyik bermain main diujung kaosnya.
"Aku sama saja sudah menghianati kepercayaan mereka padaku"
"Memangnya mas gak punya perasaan seperti itu? Rasa bersalah sedikit saja pada mereka?"
"Sebelum terlanjur,,sebelum kita menerima akibat dari perbuatan kita,apa tidak sebaiknya mas urungkan saja semua ini mas?"
"Apa tidak ada obrolan lain yang harus dibahas?" Danar keberatan dengan perkataan Gendis.
"Kita sedang bulan madu,,kita sedang merencanakan untuk memiliki anak,kenapa harus membahas hal lain,,justru kamu yang buat aku stress disini"
Gendis tertunduk.
"Yaa,,,maksudku selagi kita bisa bicara dari hati kehati,kenapa gak sekalian saja kita bicarakan hal itu"
"Jangan rusak moodku Gendis,,,biarkan kita nikmati kebersamaan kita yang mungkin tidak akan terulang lagi"
Gendis terdiam,dia berpikir kalau ternyata memang Danar hanya ingin hal yang menguntungkannya saja,tetap sepertinya dia gak akan pernah berubah atau merubah keputusannya.
Setelah semua keinginannya tercapai,justru aku akan dicampakkan,dan wanita lain yang akan menikmati hasil jerih payahku,hidup memang tidak adil rasanya.
"Aku hamil anak Danar,setelah anak itu lahir entah apa yang akan terjadi selanjutnya,,membayangkannya saja aku sudah takut sekali" bathin Gendis berkecamuk.
__ADS_1
"Kenapa kamu harus membahas hal hal yang bisa merusak mood? Bukankah kalau pasangan berbulan madu itu selalu ingin bahagia,melepaskan penat"
"Yaa,,maaf mas" ucap Gendis cepat,karena tidak ingin lagi membahasnya.
Danar masuk kedalam,dan langsung menuju kamar. Sedang Gendis masih tetap berdiri dibalkon,masih ingin menikmati hembusan angin dan deru ombak pantai,meski terdengar dari jauh.
Tidak lama Gendis masuk dan menuju keruang tivi. Gendis menikmati acara tivi meski tidak berkonsentrasi sama sekali.
Kemesraan yang tadi pagi baru saja dia lakukan bersama Danar tiba tiba seperti hilang tak berbekas hanya karena kata katanya tadi.
"Gendisss,,,kamu harus sadar diri,,ingat jangan baper dengan perlakuan manis Danar"
"Ingat,apa yang kamu lakukan itu adalah sebuah kewajiban,dan Danar pun meski tidak mempunyai rasa denganmu,dia tetap saja memberimu nafkah,jadi kalau Danar ingin kamu melayaninya,itu sudah kewajibanmu menurutinya" hati Gendis mengingatkan.
"Tapi ini gak adil buatku,jika aku hamil nanti,anakku lahir nanti,gimana kehidupanku selanjutnya? Danar sudah pasti hanya menginginkan anak ini,tidak menginginkanku sama sekali,,ahhh aku tidak mau,,jika anakku harus diambil oleh Danar dan Lalita" Gendis terus saja berprasangka dan itu membuatnya gelisah.
"Bukan ini yang aku mau,,,"gumam Gendis.
Rasa lelah sebenarnya terasa ditubuhnya saat ini,mungkin karena ulah Danar yang tadi sedikit memaksanya. Dan sekarang saat ingin bermanja manja malah Danar marah padanya.
Dan tanpa terasa Gendis tertidur meringkuk disofa ruang tivi.
Gendis terbangun di pukul 3 sore,,terbangun pun karena perutnya sudah terasa lapar.
"Hemmm apa mas Danar tidak mengurusiku makan?" gumam Gendis.
Gendis beranjak dari sofa dan menuju ke kamar untuk mencari Danar.
"Mass,," panggil Gendis sambil membuka pintu kamar. ternyata Danar tidak ada didalam kamar.
Gendis menuju toilet,mungkin Danar sedang didalam,tapi saat mendorong pintu ternyata terbuka dan tidak terkunci,dan Danar juga tidak ada didalam.
Gendis keluar lagi,mencari Danar disekitaran ruangan tamu,tidak ada juga.
"Kemana sih kamu mas" gerutu Gendis kesal.
"Kalau mau pergi setidaknya pesankan aku makanan dulu,baru kamu tinggal aku" gumam Gendis lagi sambil duduk disofa. Tubuhnya terasa lemas karena lapar dan juga masih pegal pegal.
Gendis mengambil ponsel dan mencoba coba memesan makanan sendiri,mengunduh aplikasi pemesanan makanan terlebih dulu.
Gendis menemukan menu yang dia rasa cocok untuk lidahnya siang ini,siang menjelang sore sebenarnya,dan makan siang yang telat.
Langsung saja Gendis menekan pemesanan dan juga langsung membayar lewat transfer.
__ADS_1
Gendis tinggal menunggu saja pesanannya datang,dan kembali menikmati acara tivi.
Sudahlah dia tidak perduli Danar ada dimana saat ini. Mungkin ingin menenangkan diri,dan semoga saja dia sadar kalau memang dia sudah salah jalan.