
"Heii,,kita mau kemana mas?" tanya Gendis saat mereka sudah ada dijalanan raya yang lengang.
"Dari tadi hanya berkeliling saja" seru Gendis lagi.
"Ke mana yaa? Kalau mau makan masih kenyang,tapi bagusnya kemana nih?" Danar malah balik bertanya.
"Mas aneh,,,tadi mas yang mengajakku sekarang malah bingung sendiri,nanti mas juga ada janji sama klien Lo buat makan siang"
"Hahaha,,iya aku malah bingung mau bawa kamu kemana sekarang"
"Mas,,,boleh bicara soal Lalita?" tanya Gendis pelan.
"Mau bicara apa soal dia?"
"Emm,,,aku takut mas,,aku takut dia berhasil menggoda mas dan berusaha mendapatkan mas lagi"
"Kamu cinta banget sama aku yaa?" Danar malah menggoda Gendis.
"Dan mas sendiri gimana? Selama ini mas begitu perhatian sama aku,apa mas tidak mencintaiku?" hanya perasaan kasihan saja padaku?"
Danar menatap sekilas wajah Gendis,kemudian fokus kembali menyetir mobil.
"Mas gak pernah sekalipun mengucap cinta sama aku? Emm apakah aku ini hanya geer saja mas,terlalu larut dengan perasaanku sendiri,dan berharap terlalu besar?" tanya Gendis sambil melihat kearah luar jendela mobil.
Danar membelai rambut Gendis lembut dan berharap itu bisa menenangkan hati Gendis.
"Apakah tidak cukup dengan perlakuanku selama ini kepadamu itu sebagai bukti tentang perasaanku?" tanya Danar.
"Tapi mas,,,aku wanita dan aku butuh penegasan"
Danar tersenyum mendengar keluhan Gendis yang manja itu.
"Yang jelas aku sangat sayang sama kamu"
"Dan apakah kata cinta itu masih berat mas ucapkan atau memang sebenarnya mas tidak pernah mencintaiku? Dihati mas masih ada Lalita?"
"Gendis,,,sudah tidak ada Lalita dihatiku" jawab Danar tegas.
"Maaf mas,,,aku terlalu memaksa kamu buat mencintaiku"
"Sayang baper yaaa,,,"
"Gak usah bicara seperti itu bisa gak mas?" Gendis mulai kesal dan air mata tampak luruh dari sudut matanya.
"Antar aku pulang aja mas,,,aku mau istirahat saja di rumah" pinta Gendis tiba tiba.
"Sayang,,kamu marah?"
"Enggak mas,,aku gak marah,tapi aku capek terlalu lama duduk. Kalau pulang aku bisa tiduran di rumah"
"Baiklah,,,aku antar kamu pulang" jawab Danar.
Danar mengantar Gendis pulang ke rumah setelah itu dia bergegas menuju ke restoran di mana dia janji makan siang bersama kliennya.
"Maaf Gendis,,,aku terlalu gengsi untuk mengatakan rasa cinta ke kamu,tapi seharusnya kamu tidak perlu menanyakan itu,tidak perlu meminta penegasan lagi,,,dari sikapku selama ini saja sudah menjadi bukti dan penegasan tentang perasaanku sama kamu" gumam Danar lirih.
"Ahh wanita,,memang beda"
Danar sudah sampai di restoran tujuannya,dan sudah bertemu juga dengan kliennya dan membahas soal kerja sama yang akan mereka lakukan.
setalah itu Danar kembali lagi ke kantor dan menyelesaikan pekerjaan yang tersisa dan tidak begit banyak
Danar memanggil sekertarisnya masuk ke ruangannya.
"Mel,,,tolong saya ya"
"Ya pak,ada apa?"
"Pesankan 1 buket bunga mawar untuk istriku"
"Oh baik pak,,mau yang ukuran seperti apa?" tanya Melani.
"Yang sedang saja,oh iya minta diberikan tulisan yaa,ini tulisanya" Danar menyerahkan selembar note kecil pada Melani.
"Baik pak,saya kerjakan sekarang,permisi"
"Ya,,trimakasih Mel" ucap Danar.
"semoga kamu suka ya sayang,,,aku bukan pria romantis tapi aku berusaha ingin selalu membuatmu bahagia" gumam Danar.
📎📎📎📎
Di rumah Gendis sedikit uring uringan,,entah kenapa dia sampai seperti itu,entah kenapa dia jadi begitu manja pada Danar. Saat Danar tidak peka dengan perasaannya hatinya begitu sangat kesal,dan Gendis merasakan ini sejak tadi dia bertanya soal Lalita dan bertanya soal perasaan Danar padanya yang sesungguhnya.
apakah itu bawaan hamil,atau memang perasaannya sedang seperti itu.
Tiba tiba pintu kamar diketuk Gendis menoleh kearah pintu kamar yang tidak ditutup.
"Oh bibik,,ada bik?" tanya Gendis pelan.
__ADS_1
"Ini mbak,tadi ada kurir mengantar buket bunga ini" bik Rahmi menyerahkan sebuah buket bunga berukuran sendang padanya,sekitar bunga mawar merah dan Gendis merasa heran dari siapa bunga itu.
"Dari siapa bik?"
"Entahlah mbak,tapi itu ada note nya"
Gendis meraih buket itu dan menatap sekilas.
"Trimakasih bik" ucap Gendis kemudian. Bik Rahmi mengangguk dan pamit keluar dari kamar Gendis.
Gendis membuka lipatan note untuk melihat apa ada nama pengirim yang tertera disitu.
*hai istriku yang cantik
maafkan suamimu ini yang tidak pernah romantis dan bisa berkata kata sesuai keinginanmu,,,
tapi,,,percayalah kamu adalah wanita satu satunya yang ada dihatiku*
Gendis terpaku membaca kalimat yang tertera di note itu dan sesaat tersenyum.
"Hhhhh,,,tetep aja gengsi bilang cinta" gumam Gendis.
Gendis mencium wangi bunga mawar merah itu dan memeluknya dengan perasaan bahagia.
Tiba tiba ponselnya berdering dan nampak panggilan video dari Danar.
Gendis mengangkat dan tampak wajah tampan Danar yang sedang tersenyum manis dilayar.
"Jangan marah lagi yaaa,,,"
Gendis menatap Danar tersenyum malu.
"Trimakasih ya mas bunganya"
"Yaa,,,ternyata gampang banget yaa buat kamu gak marah dan kesal lagi" seru Danar tertawa.
"Hmmm,,,kaaann masih aja ngeledek bikin kesel lagi" gerutu Gendis kesal.
"Enggak sayangg,,,jangan marah yaa. Oh ya sebentar lagi aku pulang,soalnya hari ini bener bener tidak ada kerjaan"
"Iya mas"
"Oh yaaa,hari ini kan jadwal kamu ke dokter,,,duhhh aku gak sabar sayang pengen nengok anak kita,sudah sebesar apa ya dia?" seru Danar antusias.
"Iya mas,,,aku juga gak sabar"
"Ya sudah,,,aku siap siap mau pulang,,dah sayangku" ucap Danar,,,Gendis tersenyum dan melambai pada Danar. Setelah itu sambungan terputus.
📎📎📎📎
"Kenapa sih kamu kalau pakai dress selalu terlihat cantik dan lucu,aku gemes Gendis" seru Danar sambil mencubit kedua pipi Gendis dengan gemasnya.
"Sakit mas" Gendis menampik kedua tangan Danar dari pipinya karena kesakitan.
"Habis punya istri kok kaya bayik gini,bingung ntar aku kalau anak kita lahir bedain mana anak mana istri"
"Hihhhhhh mas ini,,,ada ada aja" gerutu Gendis kesal karena terus digoda oleh Danar.
Danar tertawa kemudian menggandeng tangan Gendis menuju mobil.
sampai di tempat praktek dokter Rama Danar dan Gendis harus ikut antrian karena Danar tidak membuat janji terlebih dulu dengan sahabatnya itu. Jadi meski Danar orang dari kalangan atas bukan berarti dia bisa seenaknya saja menyerobot antrian.
"sabar yaa,kita harus antri,tadi aku lupa buat janji dengan Rama" Danar berusaha menenangkan Gendis.
"Ya mas,,,tapi aku sepertinya lapar"
"Kita cari makan dulu?"
"Aku malas keluar lagi,,carikan saja aku cemilan mas,apa saja,,,,tuhh didepan banyak penjual makanan"
"Yakin mau makan makanan kaki lima begitu?" tanya Danar bingung.
"Ya mas,memangnya kenapa?"
"Apa bagus untuk kesehatan kamu? Itu kan kebersihannya belum tentu terjamin sayang"
Wajah Gendis berubah cemberut lagi.
"Kalau aku pengen gimana mas? Dari tadi sewaktu turun dari mobil aku liatin itu mas Abang Abang yang jual makanan macam Frozen food gitu"
Danar tersenyum melihat tingkah Gendis yang seperti anak kecil merajuk manja itu.
"Tapi janji,,,tidak pakai saus,tidak pakai sambal juga tidak pakai kol" ledek Danar dengan mengikuti lirik dan nada lagu anak anak dijamannya dulu.
"Hihhhh apa sih mas,,,memangnya tau kalau makanan itu pakai saus?"
"Tau dong"
"boleh makan makanan itu,tapi aku larang pakai saus dan persambalannya"
__ADS_1
"Iya iya mas,,ya udah belikan yaaaa" rengek Gendis lagi.
"Iya,,tunggu disini ya" kata Danar akhirnya mengalah dan keluar dari ruang tunggu untuk membelikan Gendis jajanan pinggir jalan.
Sungguh ini pertama kalinya Danar membeli makanan dipinggir jalan,dan Danar juga belum pernah sama sekali makan makanan itu.
Tidak berapa lama Danar selesai dan masuk kembali menemui Gendis yang masih menunggu di ruang tunggu.
wajah Gendis langsung berbinar dan menerima makanan yang dibelikan oleh Danar tadi.
"Hemmm wanginya mas,,,udah lama pengen untung saja disini ada"
"Jangan ngidam yang aneh aneh deh sayang,,,seandainya kamu mintanya dirumah kan aku gak tau apa yang kamu minta,,pasti aku bakal bingung soalnya aku gak pernah makan ginian"
"Gimana mas namanya juga pengen,,dan kalau ngidam kan gak bisa ditunda mas permintaanya"
"ya maksudnya jangan minta yang aneh aneh"
"Mas ini,,,berati kalau aku nanti ngidam sesuatu susah dong mau minta sama mas,,pasti mas keberatan buat carikan apa yang aku pengen"
"Hhhhhhffffff" Danar menghela nafas dan memilih angkat tangan untuk berdebat dengan Gendis.
"Iya sayang,,,,apapun yang kamu mau aku pasti usahakan" ucap Danar kemudian sambil membelai kepala Gendis mesra.
Gendis tersenyum dan melanjutkan makannya tanpa berniat menawarkan pada Danar.
"Dasar bayik" gumam Danar dalam hati.
📎📎📎📎
Danar dan Gendis akhirnya mendapatkan gilirannya untuk masuk kedalam ruangan periksa dokter Rama.
"Wahh pasien yang baik ini,,rela mengantri,kenapa tidak buat janji denganku dulu tadi bro?" tanya dokter Rama tersenyum.
"Hahaha,,iya lupa bro,soalnya lagi sibuk tadi" jawab Danar.
"Sibuk apa mas?" kayanya mas seharian ini tadi tidak terlalu sibuk dengan pekerjaan" tanya Gendis bingung.
Danar menatap Gendis tersenyum.
"sibuk menenangkan hati kamu yang lagi ngambek"
Gendis tersipu dan wajahnya memerah mendengar kalimat Danar.
"Hahahaha,,," dokter Rama tertawa.
"Baiklah ibu Gendis silahkan naik keatas brankar,kita akan lihat bagaimana kondisi anak dari tuan Danar ini"
Gendis menurut dan naik keatas brankar dan berbaring.
Sang dokter pun mulai memeriksa Gendis dan melihat dari layar komputer gimana kondisi janin Gendis.
"Tampaknya sangat sehat,detak jantungnya terdengar stabil dan baik,perkembangannya juga bagus sekali"
"Apakah sudah bisa melihat jenis kelaminnya?" tanya Danar antusias.
"Sabar bro,,,usia kandungan istrimu masih sangat muda,,jadi masih belum bisa untuk melihat jenis kelaminnya"
"Hehehe,,"
"Tapi kondisi janin sangatlah bagus" jelas dokter Rama lagi dan mempersilahkan Gendis untuk bangun dan kembali duduk bersama Danar.
"perhatikan kondisi ibunya,makan makanan bergizi,utamakan kondisi psikis juga selalu baik"
"Oh yaa kalau soal makanan,,,apa boleh makan makanan sejenis Frozen food? Makan makanan pinggir jalan,yang aku rasa tidak terjamin kebersihannya,dan aku takut akan berpengaruh pada kondisi janin Gendis"
"Untuk saat ini makanan apapun tidak dilarang,dan tidak semua makanan kaki lima atau pinggir jalan itu tidak terjamin kebersihannya. Tinggal kita saja pintar mencari yang sekiranya layak dan bersih"
"Pokoknya asal tidak malas makan,agar kebutuhan nutrisi janin dan ibu terjaga"
"Tu kan mas,,,yang penting itu makan apa aja boleh asal aku mau makan aja,kalau aku mau trus mas larang gimana coba? " Gendis meras menang kali ini dan memojokkan Danar yang tadi sudah membuatnya kesal.
Danar tersenyum melihat tingkah Gendis.
"Aku berasa jaga anak bayik bro" seru Danar pada dokter Rama.
"Hahaha,,,kamu harus paham dengan kondisi wanita hamil,,memang seperti itulah kondisi wanita yang sedang hamil,moodnya bisa berubah kapan saja"
Akhirnya Danar dan Gendis selesai dan berpamitan pulang pada dokter Rama.
"Sekarang kita makan malam yaa" ajak Danar.
"Terserah sayang mau makan apa" seru Danar lagi dan membiarkan Gendis untuk menentukan ingin makan apa.
"hehehee,,,,,paham yaaa sudah mas?" ucap Gendis meledek Danar.
"Iya iyaaaa,,,,yang dibela pak dokter"
"Itu bukan dibelain mas,tapi dokter itu menjelaskan sama mas,,kalau kondisi wanita hamil memang seperti itu,dan itu bukan dibuat buat atau disengaja mas"
__ADS_1
"Iya sayang,,,maaf yaaa " ucap Danar sambil membelai pipi Gendis lembut.