
Selesai makan malam Gendis kembali lagi masuk kedalam kamarnya. Danar sudah tidak ada di ruangan tengah lagi,kemungkinan sudah berangkat menemui pacarnya itu,Gendis tidak memperhatikan waktu Danar pergi.
Gendis merebahkan tubuhnya diatas kasur. Menaruh kepala diatas bantal dan memeluk guling.
Pikiran Gendis terus melayang pada Danar,Gendis gak mengerti mengapa Danar memiliki sifat seperti itu,Danar masih muda,masih bisa berkarya,masih bisa bekerja keras untuk sukses,tapi kenapa malah sibuk memikirkan harta warisan orang tuanya.
Sepertinya kedua orang tuanya juga gak semata mata mau memberikan semuanya pada Danar begitu saja,mereka juga pasti ingin Danar menjadi orang yang berhasil dan sukses,mungkin itu adalah iming iming dari orang tuanya,kalau memang Danar mampu membuktikan kepada mereka kalau dia bisa sukses barulah orang tuanya akan memberikan semua harta pada Danar. Semacam reward untuk Danar. tapi Danar tampaknya gak mengerti maksud kedua orang tuanya,Danar berpikir orang tuanya memang akan menyerahkan semua itu setelah Danar menuruti keinginan mereka,yaitu menikah dengan wanita yang orang tuanya mau. Padahal itu hanyalah salah satu taktik orang tuanya Danar. Entahlah,,apa orang tua Danar memang gak ingin Danar salah jalan dan salah memilih istri
"Apa Lalita yang sudah mempengaruhi Danar,sampai Danar bersikap seperti itu. Sebenarnya Danar itu takut pada kedua orang tuanya,terbukti dia selalu menuruti kemauan orang tuanya,hanya saja kemungkinan ada yang merongrong Danar" Gendis bertanya tanya didalam hati.
Gendis beringsut dari tidurnya,kemudian keluar kamar menuju balkon,Gendis ingin menghirup udara malam yang dingin di luar,menikmati malam yang gelap tanpa bulan.
Padahal malam sudah larut tapi Gendis masih belum juga mengantuk.
Beberapa saat kemudian tampak mobil Danar memasuki halaman rumah. Danar baru saja pulang menemui kekasihnya. Gendis menggigit bibirnya,,entah kenapa hatinya seperti sedikit nyeri. Tapi Gendis segera menepisnya,tidak terjadi apa apa dengan hatinya. Tidak ada yang berubah dari hatinya,masih tetap sama,tidak akan berubah menjadi rasa cinta pada Danar.
Terdengar suara sepatu Danar berjalan dilantai tempat Gendis duduk. Tapi Danar langsung masuk ke dalam kamarnya.
Gendis pun masuk kembali kekamarnya dan segera tidur.
Pagi pagi sekali Gendis sudah terbangun,sebelum keluar kamar Gendis mandi dan sholat subuh terlebih dulu. Setelah selesai barulah dia keluar dan langsung menuju ke dapur.
Bik Rahmi dan bik Lina sudah sibuk di sana. Perlahan Gendis menghampiri mereka berdua.
"Mau buat apa bik?" tanya Gendis pelan.
"Eh mbak Gendis,,biasa mbak mau buat sarapan"
"Saya bantu ya" tawar Gendis
"Gak usah mbak" bik Rahmi menolak.
"Kenapa sih selalu dilarang?" tanya Gendis.
Bik Rahmi tampak tersenyum
"Sekali lagi mbak Gendis ini bukan tugas mbak Gendis,ini pekerjaan kami" bik Rahmi menegaskan Gendis tanpa sungkan.
"Tapi pengen juga lo saya masak"
"Mbak Gendis tinggal bilang saja mau masak apa? biar nanti saya yang kerjakan" jelas bik Rahmi memberi solusi.
__ADS_1
"Makanan kesukaan mas Danar itu apa bik?" tanya Gendis kemudian ingin tahu.
"Den Danar kalau pagi sarapan di rumah,paling sukanya nasi nasi gitu,gak suka roti,pokoknya langsung nasi. Kadang nasi goreng,nasi uduk,atau nasi biasa pakai sayur dan lauk gitu mbak" jelas bik Rahmi.
"Terus kalau siang dan malam gak pernah makan di rumah,selalu saja makan di luar"
"Ohh gitu" Gendis paham.
"Dan sekarang mau masak apa?" tanya Gendis lagi.
"Pagi ini menu nasi putih biasa,lauk ayam saya masak pedas saja mbak Gendis,dan tumis sayur"
"Ohh,,,iya deh bik" .
"Ya sudah saya masuk lagi kalau gitu,,oh iya kalau buat minum buat mas Danar jam berapa?
"Biasanya lima belas menit sebelum sarapan,biar masih panas atau hangat sewaktu mau diminum den Danar,den Danar biasanya sarapan jam setengah 8" jelas bik Rahmi lagi.
"Ohh,,nanti saya saja yang buatkan minum mas Danar ya bik,,dan selalu minum kopi putih?"
"Enggak juga mbak,,kalau kopi putih hanya tiga kali dalam seminggu,dan teh itu empat kali seminggu. Hari ini jadwal den Danar minum teh"
"Hahahah,,," Gendis tertawa kecil mendengar penjelasan bik Rahmi tentang jadwal minum Danar kalau pagi.
"Iya,,den Danar yang minta seperti itu",dan juga kalau teh gak mau yang manis" jelas bik Rahmi lagi dengan detai.l
"Ohh oke oke bik,,nanti saya yang buat kan minumnya mas Danar" kata Gendis lagi mengingatkan bik rahmi.
"Baik mbak"
Gendis masuk lagi kedalam kamarnya,ingin berganti pakaian yang sedikit rapi.
Gendis mematut diri didepan cermin,dia sudah memakai blouse lengan pendek dan juga celana kulot linen.
Gendis kembali lagi turun kebawah kemudian langsung kedapur,Gendis ingin membuatkan Danar minuman teh hangat seperti yang dijelaskan ole bik Rahmi tadi. Gendis merasa lucu dan aneh,kenapa minum dipagi hari Danar terjadwal,tidak harus minum kopi atau teh setiap hari,minum keduanya hanya saja diminum dijadwal yang sudah ditentukan.
Bik Rahmi membantu Gendis menyiapkan gelas cangkir yang biasa Danar pakai. Kemudian Gendis menuangkan sesendok teh gula pasir kedalamnya dan menaruh sekantung teh aroma melati dan menuangkan air panas. Selesai mengaduk Gendis membawa minuman itu ke meja makan.
Gendis menarik kursi kemudian mendudukinya,dia sengaja menunggu Danar karena dia akan sarapan bersama Danar.
Tidak berapa lama Danar muncul,menuruni anak tangga kemudian berjalan kearah meja makan. tampak Danar menatap Gendis sekilas tapi tanpa ekspresi sama sekali.
__ADS_1
Danar tampak rapi dan klimis,sebenarnya Gendis suka sekali melihat dandanan Danar yang seperti ini,Danar terlihat tampan dan gagah,tapi Gendis hanya menyimpan pujiannya didalam hati.
"Boleh sarapan bareng mas Danar?" tanya Gendis pelan.
"Hemm,,silahkan" jawab Danar singkat.
Gendis tersenyum kemudian mulai menyendokkan nasi kedalam piring.
"Mau aku ambilin mas?" tanya Gendis lagi.
Danar menatap Gendis lagi lagi tanpa ekspresi tapi membiarkan saja saat Gendis mengambil piringnya dan menuangkan nasi kedalamnya.
"Lagi?" tanya Gendis bertanya takaran nasi yang dimau Danar.
"Sudah,,cukup" jawab Danar
Selesai piring terisi nasi dan lauk mereka berdua sarapan tanpa saling bicara. Danar sibuk mengabiskan sarapannya dan sesekali sambil melihat ponselnya.
Beberapa menit kemudian mereka selesai dengan sarapan mereka. Danar menyeruput tehnya yang sudah menghangat. Setelah itu berdiri dari kursi dan bersiap berangkat kerja.
"Mas,," panggil Gendis menghentikan langkah Danar. Danar menoleh pada Gendis.
Gendis berdiri dari duduknya dan berjalan menghampiri Danar,tiba tiba saja dia mengulurkan tangan kanannya pada Danar,berharap Danar membalasnya.
Danar tampak terpaku melihat sikap Gendis yang aneh itu.
"Mau apa?" tanya Danar kemudian.
"Salim dong mas,,kalau suami berangkat kerja itu harus disalimi dulu suaminya,dicium punggung tangannya,terus didoakan semoga pekerjaan suaminya lancar,berkah,suami sehat,rezeki lancar,dan selalu dalam lindungan Allah" jelas Gendis panjang.
Danar hanya mendengus tanpa berkata kata,tapi dia memberikan tangan kanannya juga pada Gendis dan membiarkan Gendis menciumnya.
setalah itu Danar berlalu dari hadapan Gendis tanpa sepatah katapun.
"Hati hati ya mas" ucap Gendis pelan.
"Hemm,,ya" jawab Danar masih malas menanggapi Gendis.
Danar pun berlalu dengan mobilnya. Gendis menutup pintu raung tamu dan Kembali masuk kedalam.
Di dalam kamar Gendis Kembali terbayang dengan sikapnya tadi pada Danar.
__ADS_1
"Maaf mas,,aku ingin mengubahmu,,aku harus hilangkan egoku,dan gengsiku,aku akan memulai duluan untuk menarik perhatianmu,aku hanya ingin menyelamatkanmu dari wanita itu,kasian orang tuamu mas,kalau kamu sampai hancur karena wanita itu. Naluriku berkata,dia bukan wanita baik baik,dia gak mencintaimu dengan tulus,dia hanya ingin kan hartamu mas" gumam Gendis pelan.