Aku Dijodohkan Dan Diselingkuhi

Aku Dijodohkan Dan Diselingkuhi
bab 29 Gendis berharap Danar berubah pikiran


__ADS_3

"Kami pamit pulang nak" pak Suryo berpamitan pada Gendis.


"Iya ayah,,ayah jangan banyak pikiran,tidak usah khawatirkan tentang kami ya,kami baik baik saja,ayah terlalu berprasangka" Gendis berusaha menenangkan hati ayah mertuanya itu,meski harus berbohong lagi demi menutupi Danar.


"Ibu juga yaa,," pinta Gendis juga pada ibu mertuanya. Ibu Nungki tersenyum tapi terlihat hanya dipaksakan.


Mereka berdua bergantian memeluk Gendis. Dan hanya ibu mertuanya yang memeluk mas Danar,Sang ayah mertua berlalu saja keluar dari rumah menuju mobilnya..Gendis hanya menatap tanpa ekspresi.


Ayah dan ibu mertuanya sudah berlalu meninggalkan rumah mas Danar. Gendis merapikan ruangan makan dan meja dibantu bik Rahmi.


Setelah selesai Gendis naik keatas untuk masuk kedalam kamarnya,karena malam sudah cukup larut. Saat hendak menutup pintu terasa pintu ada yang menahan dari luar. Gendis melongokkan kepalanya untuk melihat apa yang terjadi. Ternyata ada Danar sedang berdiri didepan pintu kamarnya.


"Ada apa mas?" tanya Gendis dan membuka lebar pintu kamarnya.


"Aku enggak setuju dengan keinginan orang tuaku" keluh mas Danar sambil menyilangkan kedua tangan didada.


"Keinginan yang mana?" tanya Gendis memastikan.


Danar menatap Gendis lekat dan wajahnya terlihat sangat tidak bersahabat,dan memangnya kapan mas Danar pernah bersahabat dengannya.


"Keinginan mereka agar aku memiliki anak darimu" jelas Danar kemudian.


Gendis menundukkan wajahnya,dan merasa risih mendengar kata kata mas Danar tadi.


"Menikahimu saja aku terpaksa,sekarang harus memiliki anak dari kamu"


"Rasanya mustahil banget"


"Memangnya aku gak seperti itu mas? Mas pikir aku setuju dengan permintaan mereka?" Gendis mengungkapkan perasaanya.

__ADS_1


"Sudahlah mas kita sudahi saja sandiwara ini" kata Gendis sambil keluar dari kamarnya kemudian menuju kearah balkon dan duduk disana sambil menghirup angin yang berhembus sedikit kencang. Danar tampak mengikutinya dan ikut juga duduk disamping Gendis.


"Enggak,,,kita sudah terlanjur" Danar menolak permintaan Gendis.


Gendis menatap Danar kesal.


"Buat apa mas diteruskan,rencana pertamamu sudah gagal,gimana mau ngelanjutin lagi yang berikutnya?"


"Massss,berdosanya aku pada kedua orang tua mas,aku ikut andil dalam rencana mas,membantu mas meski ini bertentangan dengan hatiku" jelas Gendis lagi.


"Kenapa mas kamu begitu serakah? Kenapa kamu begitu ingin menguasai harta orang tuamu mas? Dan menggunakan cara yang licik?" tanya Gendis dengan sedikit keberanian dan tidak perduli kalau Danar harus tersinggung.


"Bukannya cepat atau lambat mas juga yang akan menerimanya nanti?"


Dan benar saja,Danar menatap Gendis dengan tatapan yang tajam dan penuh amarah karena sudah pasti Danar tersinggung dengan pertanyaannya.


"Sejahat itu mas pikiranmu,terhadap orang tuamu sendiri,kamu mau menjadi anak durhaka?" tanya Gendis sembari bergidik ngeri,gak sanggup membayangkan apa yang dilakukan suaminya itu.


"Kamu ikuti saja permainanku,jangan banyak bertanya" kata Danar kemudian sambil menahan emosinya.


"Tapi sampai kapan? Harusnya ini sudah selesai kan mas?,dan kita segera bercerai,tapi sampai saat ini malah semakin rumit,dan aku semakin terlibat jauh" keluh Gendis kesal.


"Kamu juga bisa gak hati hati kalau masih berhubungan dengan pacar kamu itu?. Ayah dan ibu jadi tahu hubungan kalian"


"Menyusahkan banget" gerutu Gendis lagi dengan perasaan geram.


Danar menundukkan kepalanya dan mengusap kasar wajahnya.


"Masss,,,lebih baik urungkan niatmu,kalau caramu baik,tanpa kamu kejar kamu pasti akan dapatkan lebih dari yang kamu mau,jangan durhaka terhadap orang tua mas,kamu anak satu satunya,kenapa malah seperti ini?" Gendis terus berusaha memperingatkan Danar.

__ADS_1


"Kamu gak lihat betapa baiknya orang tuamu mas,aku yang baru saja datang dikehidupannya sudah sangat merasakan itu. Masa kamu tega mas mau berbuat curang?"


"Kamu bisa gak gak usah ikut campur dengan urusanku?" tanya Danar terlihat marah.


"Lohh,,bukannya mas yang sudah membawaku ke dalam masalah mas ini?"


"Aku awalnya berpikir mas,baiklah aku mau menikah dengan orang yang gak aku kenal sama sekali hanya karena aku ingin berbakti kepada kedua orang tuaku"


"Tetapi pada kenyataannya mas menikahiku karena mas punya tujuan,okee baiklah aku ikuti permainanmu meski aku tahu itu salah,dengan harapan setelah kamu mencapai tujuanmu kita akan bercerai"


"Hanya itu mas yang aku inginkan"


"Tapi ternyata semua itu gak sesuai kan dengan harapanmu,aku menjadi korban kelicikanmu"jelas Gendis lagi dengan rasa emosinya yang mulai diluapkannya.


Danar mengusap kembali wajahnya dengan kasar,entah apa yang dia pikirkan.


Sepertinya berharap Danar mengerti dan mau berubah juga mengurungkan niatnya itu mustahil. Danar terlalu berambisi dengan tujuannya.


Gendis pun curiga Lalita ada dibalik semua ini.


"Sudah aku mau istirahat,mengenai anak biar aku pikirkan nanti. tapi yang jelas aku masih membutuhkanmu,jadi jangan berharap aku akan mengurungkan niatku,dan menceraikanmu" kata Danar kemudian dan sedikit memperingatkan Gendis.


Danar berdiri dari duduknya dan melangkah masuk menuju kekamarnya.


Gendis menatap Danar dengan rasa kesal dan mulai membencinya. Danar begitu serakah dan licik.


Gendis juga ikut masuk,mengunci pintu diruangan tengah itu,dan masuk kedalam kamarnya.


Gendis segera saja beristirahat menenangkan pikirannya.

__ADS_1


__ADS_2