
"Ibu mau pulang" ibu Nungki berpamitan pada Danar dan Gendis.
"Ibu belum makan,kita makan malam bersama dulu ya" pinta Gendis menahan ibu mertuanya.
Ibu Nungki menatap Gendis dan tersenyum.
"Ibu makan saja di rumah nak" jawab ibu Nungki pelan.
"Danar telponkan supir ibu,minta untuk menjemput ibu sekarang"
"Danar antarkan ibu saja" Danar menolak dan bersiap dia yang akan mengantar ibunya pulang.
"Tidak usah,telpon saja pak Rahmad " ibu Nungki menolak. Danar menuruti ibunya dan segera menelpon supir pribadi orang tuanya.
"Nahh sembari menunggu supir,ibu bisa makan dulu" Gendis membujuk kembali ibu mertuanya.
"Tidak usah nak,ibu juga belum lapar" jawab ibu bersikeras menolak permintaan menantunya itu.
"Pak Rahmad sedang kemari Bu" Danar memberitahu ibunya dan mematikan ponsel.
Ibu hanya tersenyum.
Beberapa menit supir ibu Danar datang dan menunggu diluar.
"Ya sudah ibu pulang" pamit ibu lagi sambil berdiri dari duduknya dibantu oleh Gendis.
"Danar ingat pesan ibu kan?"
"Iya Danar ingat" jawab Danar singkat. Dan ibu tersenyum lagi. setelah memeluk menantu tersayangnya dan juga Danar ibu Nungki melangkah keluar dari rumah Danar menuju kemobilnya.
Mobil ibu Nungki sudah menjauh dari halaman rumah Danar dan menghilang dari pandangan. Danar dan Gendis masuk kembali kedalam rumah.
"Kenapa aku semakin membenci kamu" kata Danar tiba tiba dan menghentikan langkah Gendis.
"Apa salahku?" tanya Gendis kesal.
"Salahmu,kamu datang dihidupku"
"Siapa yang membawaku masuk kedalam hidupmu?"
"Ayahmu" jawab Danar kasar.
"Ayahku gak meminta,tapi kamu yang membujuknya" jawab Gendis dan hatinya benar benar marah karena Danar sudah membawa bawa ayahnya.
"Kalau saja dia tidak bercerita soal kamu,aku gak akan cepat mengambil keputusan"
"Itulah kebodohanmu" sindir Gendis,dia tidak perduli seandainya Danar marah karena dirinya berani mengatai bodoh pada Danar.
Terlihat Danar mengeraskan rahangnya dan mengepal kedua tangannya.
"Kamu yang berulah,tapi kamu timpakan kesalahan pada orang lain" kata Gendis lagi menyudutkan Danar.
__ADS_1
"Kamu kalau sudah merasa kalah dan tidak sanggup lagi ya sudah mas,hentikan semua ini"
"Sakit hatiku mas kamu menyalahkan ayahku,memang benar kata ibumu,kamu itu laki laki gak bertanggung jawab,dan gak jujur ditambah lagi pengecut" kembali Gendis mengatai Danar. Hatinya benar benar marah dan sakit sekali saat Danar menyalahkan ayahnya.
"Dan mau dengar satu lagi tentang keburukanmu?" tanya Gendis lebih emosi lagi.
"Kamu itu pecundang"
"Gendisssssss,," bentak Danar keras saat Gendis semakin berani mengatainya. Danar tidak terima dan marah sekali pada Gendis.
Gendis menatap Danar tanpa rasa takut,karena hatinya sudah dipenuhi rasa emosi.
"Berani kamu sebut aku seperti itu?" hardik Danar sembari mendekati Gendis,wajah Danar memerah menahan amarah,matanya nyalang menatap Gendis.
"Memang itu semua pantas dan sudah tersemat didiri kamu,kenapa bisa kamu marah dan gak terima?" jawab Gendis sembari bertanya.
"Kamu itu aneh,kamu yang memulai semua ini,aku hanya mengikuti permainanmu,tapi saat kamu gagal justru kamu mencari kambing hitam"
"Yang memberimu label seperti itu juga ibumu sendiri,aku hanya menambahkan biar kamu tahu,memang seperti itulah kamu mas" jelas Gendis lagi dan semakin membuat murka Danar.
"Tidak bisakah kamu menjadi anak yang baik dan manis buat mereka mas? Berlaku baik kepada mereka jangan sakiti hati mereka?" tanya Gendis menekan Danar.
"Apa yang kamu inginkan dari harta itu? Supaya kamu bisa memamerkan pada orang orang kalau kamu laki laki kaya? Kamu bangga mas? Berhasil merampas warisan demi supaya kamu dibilang kaya raya?,membahagiakan wanita kesayanganmu itu dengan harta rampasan?" kata Gendis lagi dengan emosi yang meluap.
"Siapa yang merampas harta mereka?" tanya Danar membentak Gendis.
"Kalau caramu seperti ini,licik sama saja kamu itu merampas mas"
"Kalau caramu jahat dan licik sampai kapanpun kamu akan sulit mendapatkannya mas"
Danar terdiam dan hanya menatap Gendis. emosinya yang tadi sudah meluap tiba tiba saja menguar. Kemudian Danar terduduk disofa ruang tengah.
Danar mengusap wajahnya kasar entah apa yang ada dipikirannya sekarang. Dia sedikit menyadari sebenarnya bahwa kata kata Gendis benar adanya.
Kemudian Danar menatap Gendis dengan tatapan sayu,kegarangan yang tadi diperlihatkan pada Gendis pun menghilang,berubah menjadi sendu.
"Gendis,,,"panggil Danar pelan.
Gendis hanya menatap Danar dan menunggu Danar akan mengucap apalagi.
"Apa aku sejahat itu pada orang tuaku?" tanya Danar pelan dan sendu. Kemudian Danar menundukkan wajahnya,tak terasa air mata keluar dari sudut matanya.
Gendis mendekati Danar kemudian duduk disampingnya. Perlahan Gendis mengangkat wajah Danar dan mengusap air matanya.
Danar menatap Gendis lekat,entah kenapa dia merasa ada hal yang berbeda dihatinya saat Gendis memperlakukannya seperti itu.
"Mau kan berubah jadi anak yang baik?" tanya Gendis dengan perlakuan yang manis sekali seolah Danar adalah seorang anak kecil yang harus dibimbing.
Danar tak kuasa menahan tangisnya tiba tiba saja dia menangis sejadi jadinya dan memeluk Gendis erat.Air matanya tumpah dan membasahi baju Gendis,tapi Danar tidak perduli dia hanya merasa butuh seseorang yang bisa membuatnya tenang dan mau menerima apapun dirinya saat ini.
Gendis terdiam,dia hanya bisa diam. Dan membiarkan saja Danar terus menangis dipelukannya.
__ADS_1
"Gendis,,apa aku jahat? Apa aku benar benar anak yang sudah durhaka kepada orang tua? Apa aku bisa dimaafkan?" tanya Danar disela sela isakannya yang masih terdengar.
"Mas,,,meminta ampunlah pada ayah dan ibu dan berjanji mas gak akan seperti ini lagi" ucap Gendis menenangkan hati Danar.
"Aku malu Gendis,aku malu pada mereka dan diriku sendiri" kata Danar lagi masih dalam pelukan Gendis.
"Kenapa mas harus malu? Meminta maaf itu adalah hal yang baik,apalagi kalau mas menyesali semuanya,tidak mungkin orang tua tidak akan memaafkan mas"
"Aku juga malu pada diriku Gendis,kenapa aku bisa seserakah ini?" Danar masih saja berkeluh kesah dan seperti sangat menyesali perbuatannya.
"Kalau begitu,maafkan lah diri mas sendiri terlebih dulu,renungkan semuanya? Bertanya lah pada diri sendiri kenapa mas bisa seperti ini?" jelas Gendis dengan lembut dan perlahan melepas pelukannya pada Danar
Danar mengusap air matanya dan Gendis segera membantunya. Tangan lembut itu bermain diwajah Danar,membersihkan wajah Danar dari sisa air mata yang jatuh dikedua pipinya.
"Maaf aku menangis " ucap Danar lirih dan sedikit tersenyum malu karena akhirnya jatuh juga dihadapan Gendis,kesangarannya selama ini yang sering dia tunjukkan pada Gendis kini terasa punah. Danar jatuh luluh menangis dipelukan Gendis.
Gendis tersenyum dan selesai mengusap wajah Danar.
"Siapapun boleh menangis mas,mau laki laki juga" jelas Gendis menenangkan Danar.
"Besok antarkan aku ya" pinta Danar kemudian..
Gendis mengerutkan keningnya bingung dengan permintaan Danar.
"Kemana mas?"tanya Gendis kemudian.
"Ke rumah orang tuaku"
Gendis tersenyum.
"Siap,,mas besok kita ke rumah ayah dan ibu" jawab Gendis bersedia.
"Gendis,,jujur dilubuk hatiku yang paling dalam aku mengakui kalau aku sangat salah,tapi entah kenapa aku gak bisa melawan nafsu serakahku,aku,,malu Gendis" jelas Danar kemudian dan menatap wajah Gendis dengan sendu.
"Manusia itu tempatnya salah dan khilaf mas,dan mas luar biasa karena mas mengakui kesalahan itu"
"Aku tidak berharap lain lain lagi,aku hanya berharap bisa mereka maafkan" kata Danar lirih.
"Mereka pasti akan memaafkan mas,aku yakin" Gendis kembali menenangkan hati Danar.
"Aku sudah buat ibu menangis" kata Danar lagi dan kembali air matanya menetes. Danar sungguh tidak sanggup bila mengingat kejadian tadi. ibunya menangis karena dia.
"Aku menyesal sekali Gendis"
"Iya mas,,,aku senang mas akhirnya menyadari ini sebelum semua terlambat"
"Besok kita datangi ayah dan ibu ya,,,mas benar benar minta maaf sama mereka dan berjanji untuk tidak seperti ini lagi"
"Sudah waktunya mas bersikap dewasa,mas bisa membedakan antara yang salah dan benar" jelas Gendis lagi.
Danar kembali menatap Gendis dan mengusap air matanya.
__ADS_1