
Gendis bersiap siap ingin menemui Lalita siang ini tepat dijam makan siang disebuah restoran terkenal yang biasa dia dan Danar kunjungi. Mungkin juga Danar dan Lalita dulu sering ke sana.
Telponnya berdering,terlihat nama Danar yang tertera dilayar.
*hallo mas*
*Sudah berangkat?*
*sebentar lagi*
*Aku antar ya?*
*Tidak usah mas,aku bisa sendiri,dan lagi setelah selesai bertemu dia aku ingin sekalian jalan jalan mas ke mall*
*Okelah,,tapi aku suruh supir untuk mengantarmu dan menunggumu*
*Ya,,ya,,ya mas,,*
*Ya sudah,hati hati ya,kalau ada hal yang bikin kamu tidak nyaman segera hubungi aku*
*Baik mas,,,siappp,,ya sudah aku berangkat ya* pamit Gendis sambil menutup telponnya.
Gendis keluar dari kamar dan sampai didepan rumah ternyata supir sudah menunggu didalam mobil.
"Pak kita pergi ke restoran seafood yang biasanya itu ya" Gendis memberitahu sang supir.
"Baik non" jawab supir.
"panggil saja saya mbak pak,seperti bik Rahmi dan bik Lina,saya tidak terbiasa dipanggil dengan sebutan non" Gendis tampak keberatan dengan sebutan kata non dia depan namanya.
"Maaf,,malah saya yang tidak terbiasa kalau harus memanggil dengan sebutan mbak" jawab sang supir sambil terus berkontrasi dijalanan yang ramai.
Gendis hanya tersenyum dan menatap keluar jendela.
Gendis sebenarnya berpikir tentang niatnya yang mau menerima permintaan Lalita bertemu dengannya. sebenarnya tidak perlu,tapi Gendis penasaran hal apa yang ingin Lalita katakan padanya,apa hanya sekedar ingin meminta maaf.
Tidak berapa lama mereka sampai di restoran tujuan. Gendis turun dari mobil dan langsung masuk kedalam. Dia mencari cari dimeja mana Lalita menunggunya. Tapi Gendis sama sekali tidak menemukan Lalita.
Tiba tiba bunyi getaran ponsel,dan notifikasi sebuah pesan dari nomor yang tidak dia kenal masuk.
"Hai Gendis,ini aku Lalita,kamu sudah sampai kan?"
"Maaf aku telat,pesanlah tempat duduk dulu,dan beritahu aku saja dinomor berapa"
Gendis enggan membalas pesan itu dan menaruh lagi ponselnya didalam tas mungilnya.
"Aneh,,dia yang minta untuk bertemu,tapi dia juga yang tidak tepat waktu" gerutu Gendis kesal.
Gendis mencari meja dan dapat dimeja nomor 6.
Pelayan datang dan Gendis memesan minuman dulu,karena masih menunggu Lalita kalau ingin pesan makanan.
Gendis memfoto nomor meja dan mengirimkan pada Lalita tanpa menuliskan kalimat apa apa.
"Oke,," Lalita membalas pesan Gendis singkat.
__ADS_1
Cukup lama Gendis menunggu tapi Lalita belum terlihat juga. Apa maunya dia.
Tiba tiba datang seseorang yang tanpa permisi duduk dihadapannya.
"Hai,,,kursi ini masih kosong,boleh aku duduk disini?"
Gendis menatap orang itu dan akhirnya tersadar ternyata dia adalah Cakra.
"Cakra,,,maaf itu sudah milik orang,dan aku sedang menunggunya" jawab Gendis dan sedikit bingung kenapa tiba tiba ada Cakra disini.
"Oh,,suami kamu?"
"Bukan"
"Tapi sebelum dia datang bolehlah aku duduk disini dulu"
"Kamu tidak pesan makanan?"
"nanti saja setelah orang yang aku tunggu datang" jawab Gendis dan sedikit merasa risih.
"Bisakah kamu pergi dari sini Cakra?" pinta Gendis kemudian.
"Kenapa Gendis,aku hanya ingin duduk disini sebentar,aku janji kalau dia datang aku akan pergi"
Gendis memalingkan wajahnya sebal,kenapa harus bertemu dengan orang yang tidak punya sopan santun dan seenaknya saja. Pantas Danar sangat tidak menyukainya,karena memang Cakra benar benar tidak punya tata Krama.
"Apa kamu tidak ada urusan sendiri? Kenapa kamu tiba tiba ada disini? Kalau kamu memang ingin makan disini,silahkan tapi tidak dimeja ini,kecuali kalau kamu ini memang mengikutiku" selidik Gendis.
"wahhh kamu terlalu berprasangka Gendis,,,seperti yang sudah sudah kita memang selalu dipertemukan tidak sengaja,ini yang ke 4 kalinya sepertinya Gendis"
Tapi atas dasar apa dia curiga pada Cakra.
"sepertinya orang yang kamu tunggu tidak akan datang,,,lihat sudah berapa lama kamu menunggu dan akupun disini juga sudah cukup lama menemanimu"
Gendis melirik jam diponselnya,dan benar sudah hampir satu jam dia disini tapi Lalita belum juga muncul.
"Bagaimana kalau kita saja yang makan siang berdua?" pinta Cakra dengan senyum seringainya,yang membuat Gendis sedikit bergidik.
Entah,,,bagaimana Cakra bisa seperti orang yang mengenalnya dekat. Saat di sekolah dulu mereka tidak pernah dekat,saling sapa hanya sekedar say hello,tidak pernah ada obrolan lebih.
"Maaf,,aku lebih baik pulang" jawab Gendis sambil hendak berdiri dari duduknya. tapi Cakra cepat mencekal tangannya,dan terpaksa Gendis duduk lagi.
"Ayolah Gendis,,aku ingin ngobrol denganmu,dan ini adalah kesempatan langka buatku bisa bertemu denganmu tanpa sengaja seperti ini dan kamu sedang sendiri"
"Maaf Cakra,aku tidak ada waktu untuk mengobrol denganmu"
"Gendis,,kamu tidak tau yaa gimana dulu saat kita sekolah aku begitu mengagumi,aku adalah penggemar rahasiamu Gendis" tiba tiba Cakra berbicara tentang masa lalunya,entah apakah itu benar atau hanya sekedar omong kosong. Yaa Gendis merasa kalau Cakra ini bukan orang yang bisa dipercaya.
"Simpan saja ceritamu itu Cakra,tidak perlu kamu beritahu aku"
Cakra tampak tersenyum lagi dan senyumnya benar benar sulit untuk diartikan oleh Gendis.
"Tapi aku ingin kamu tahu"
"Maaf,,,aku harus pergi" seru Gendis dan masih berusaha sopan pada Cakra.
__ADS_1
Gendis berdiri dan berjalan cepat meninggalkan Cakra setelah menaruh uang diatas bik yang ada dimeja.
"Anehh,,,Lalita tidak datang sampai sekarang,seperti Cakra itu layaknya orang utusan saja yang tiba tiba datang untuk menggantikan Lalita" gerutu Gendis sambil berjalan menuju parkiran mobil dimana sang supir masih setia menunggunya.
"Kita pulang saja pak" seru Gendis.
"Baik non" .
📎📎📎📎
Di lain tempat,,,
"Gimana,sudah dapet foto yang bagus?" tanya Cakra pada Lalita yang sedang menunggunya didalam mobil Cakra.
"Sudah dong,nihhh" Gendis menyodorkan ponselnya kepada Cakra dan menunjukkan foto antara Cakra dan Gendis yang tadi duduk dimeja restoran.
"Wahh bagus nih,,,"
"Ya,,,aku akan ke kantor Danar untuk menyerahkan Poto ini"
"Ya,,,aku berharap kita berhasil menghancurkan rumah tangga mereka" gumam Cakra sinis..
"aku juga begitu,,,aku sangat sakit hati pada Gendis,dia sudah merebut Danar dariku"
"ahh ya sebenarnya itu juga kecerobohanmu,kenapa kamu dengan suka rela mengijinkan Danar menikah dengan Gendis"
Lalita menatap tajam Cakra.
"Aku dan Danar memiliki tujuan,,syarat untuk mencapai tujuan itu Danar harus menikah dengan seorang wanita baik baik. orang tua Danar tidak merestui kami,,," Lalita mulai bercerita pada Cakra.
"Orang tua Danar akan memberikan seluruh harta,perusahaan,warisan asal Danar mau menikah dengan wanita pilihannya sendiri asal wanita baik baik,,dan ternyata orang tua Gendis yang mengenalkan Danar pada Gendis,karena Danar enggan untuk mencari cari lagi wanita lain,akhirnya di kenalkan Gendis pada orang tuanya"
Lalita menghela nafas sejenak dan menatap keluar jendela mobil,kerja masih berada disebrang jalan restoran tadi,Cakra masih belum menjalankan mobilnya untuk pergi dari sana.
"Tidak disangka orang tua Danar jatuh cinta pada Gendis,mereka menyukainya,yaa justru orang tua Gendis yang menjodohkan anaknya dengan danar bukan perjodohan antara kedua keluarga"
"Aku pikir setelah mereka menikah,tanpa menunggu lama,,,orang tuanya akan segera memenuhi janjinya,akan memberikan apa yang mereka janjikan sebelumnya,Danar akan menceraikan Gendis dan akan menikahiku,karena sudah mendapatkan segala galanya"
"Tapi ternyata semua tidak seperti yang aku dan Danar bayangkan,orang tua Danar lebih cerdik.mereka mengetahui kalau kami masih berhubungan,,akhirnya mereka membuat syarat baru,,untuk mendapatkan semua itu Danar harus memiliki anak dari rahim Gendis,karena orang tuanya akan memberikan warisan dan harta itu pada anaknya nanti,,,"
"entahlah seiring berjalannya waktu,justru Danar jatuh cinta pada Gendis,,yaa Danar mencampakkan aku,melupakan aku,,,aku sangat kecewa dan sakit hati"Lalita terisak saat menceritakan kisahnya pada Cakra.
"aku ingin Gendis hancur Cakra"
"Bersyukurlah aku bertemu kamu,dan ternyata kita memiliki misi yang sama"
#flashback antara Lalita dan Cakra bisa bertemu
Saat itu Cakra ingin bertemu Danar di kantornya,tetapi tanpa sengaja melihat Lalita keluar dari ruangan Danar dengan wajah menahan tangis. Entah kenapa feeling Cakra merasa tidak enak dan iba pada Lalita padahal dia tidak mengenalnya.
Cakra menghampiri Lalita,dan mengajak Lalita untuk mengobrol dengannya direstoran yang ada di kantor itu.
Disanalah Lalita bercerita secara terbuka pada Cakra,entah kenapa Lalita begitu dengan mudah dan percayanya menceritakan segala masalahnya pada Cakra.
Itulah seperti pucuk dicinta ulam pun tiba,merasa memiliki nasib yang sama meski tidak semiris Lalita,Cakra mencintai Gendis dan berusaha ingin memilikinya padahal tau Gendis sudah bersuami,akhirnya mereka pun menjalin kerja sama dibidang kejahatan,yaaaa ingin menghancurkan hubungan Danar dan Gendis.
__ADS_1