
Gendis dan Danar memutuskan makan malam disebuah restoran mewah. Tanpa gendis ketahui Danar sudah mengatur sebuah ruangan cukup besar yang sudah dia reservasi sebelumnya,dan bekerja sama dengan pemilik restoran itu untuk sedikit menghias.
Danar menutup wajah Gendis dengan kedua tangannya dan membawa Gendis menuju kesebuah ruangan.
Saat sampai Danar melepaskan tangannya,Gendis mengerjap kerjapkan matanya dan terpana saat melihat ruangan itu tampak temaram dengan lampu lampu hias disudut ruangan,dan juga lilin lilin kecil menghiasi sebuah meja.
Gendis menutup mulutnya karena takjub dan menatap Danar dengan bahagia.
"Mas,,," seru Gendis.
Danar tersenyum kemudian memeluk Gendis.
"Ini hanya salah satu hal kecil yang aku berikan untukmu,,,aku ingin melihat apa kamu bahagia dengan ini semua ini?"
"Ini sangat luar biasa mas,,untuk wanita seperti aku yang gak pernah merasakan ini sebelumnya"
"Mas,,bukan juga hal berlebihan yang aku minta,,,jujur aku tidak terbiasa dengan ini semua" ucap Gendis kemudian.
"Kamu boleh minta apa saja padaku,kamu berhak mendapatkan ini semua"
"Ya mas,,aku tahu,,tapi aku bukanlah seorang wanita yang sedang ingin memanfaatkan segala fasilitas yang dimiliki suaminya,,,karena aku memang tidak terbiasa dengan semua itu" jelas gendis dan melepas diri dari pelukan Danar kemudian menatap Danar sendu.
"Kenapa bicara seperti itu? kamu istriku" .
Gendis tersenyum.
"Iya aku memang istrimu,,,tapi entah itu sampai kapan? apakah saat aku hamil dan melahirkan anakmu nanti,,aku akan tetap kamu jadikan aku sebagai istri?"
"Danar nengerutkan keningnya...
"Sudah aku bilang,jangan membicarakan hal hal yang belum terjadi"
"Makanya mas,,,aku menjaga itu. Aku tidak mau memanfaatkan keadaan. Dan mungkin memang kita harus percaya,,biarlah takdir yang menuntun kita nanti"
Danar tersenyum dan kembali memeluk Gendis dengan erat.
"Dan sekarang jangan pikirkan itu,,,aku gak mau kamu stress,karena pemikiran pemikiran mu sendiri,,aku membawamu kemari karena aku ingin membahagiakanmu" ucap Danar dan mengecup kening Gendis lembut.
"Sekarang kita makan,kita nikmati makan malam yang indah ini,,aku mau kamu bahagia "
Gendis tersenyum dan mengikuti perkataan Danar. Mereka berdua makan malam ditemani alunan musik romantis klasik yang syahdu.
Acara makan malam berdua mereka selesai,dan mereka kembali lagi ke villa.
Danar dan Gendis masuk kedalam kamar mereka.
"Mas,,aku mau cuci muka dulu" pamit Gendis sambil membawa pakaian ganti.
Danar hanya tersenyum melihat wajah Gendis yang sudah mulai tegang. Danar tahu Gendis merasa tegang dan takut..
Danar menunggu diatas kasur,dengan sabar dia menunggu Gendis keluar dari toilet.
Tapi hampir setengah jam Gendis tidak juga keluar,Danar mulai khawatir,segera Danar menghampiri pintu toilet dan mengetuknya.
"Gendis,,kenapa lama? Kamu baik baik aja kan?"
"Iya mas,,sebentar,,sebentar lagi aku keluar" terdengar jawaban dari dalam. Suara itu gugup dan bergetar .
"Ahh Gendis,,,segugup itu kamu" gumam Danar didalam hati.
Tak lama terdengar pintu dibuka,gendis muncul dari balik pintu,rambutnya yang panjang dia gulung keatas,wajahnya sudah bersih dari polesan make up,tapi tetap saja dia terlihat cantik meski tidak memakai polesan.
"Mas,,kok nunggu disini?" tanya Gendis membuyarkan tatapan Danar.
"Aku takut ada apa apa sama kamu"
Gendis tersenyum kemudian berlalu dari hadapan Danar.
Danar mendekati Gendis yang duduk ditepi kasur. Danar ikut duduk disampingnya.
__ADS_1
Perlahan dia meraih tangan Gendis dan menggenggamnya erat.
Gendis membalas tatapan Danar dan mencoba terus tersenyum.
"Kamu degdegkan?" tanya Danar pelan.
Gendis mengangguk pelan.
"Kamu takut?"
"Yaa,,," jawab Gendis lirih kemudian menundukkan wajahnya.
"Kamu percaya sama aku kan?"
Gendis mengangguk lagi.
"Kalau percaya,kamu jangan takut"
Gendis berusaha lagi menatap wajah Danar,lagi lagi dia menemukan tatapan indah mata Danar,tatapan teduh dan menenangkan hatinya.
"Apa yang membuatmu takut?" tanya Danar lagi dengan lembut.
"Kamu takut aku akan menyakitimu?,,emm maksud aku,,kamu takut kalau aku akan melakukannya dengan cara yang kasar?"
Gendis hanya diam.
"Kamu takut tentang apa?"
"Ini pertama kali buatku mas,aku percaya sama kamu,tapi ada hal yang lain yang membuatku sangat takut mas"jawab Gendis akhirnya..
"Apaaa?" tanya Danar lembut sambil membelai rambut Gendis yang terurai diwajahnya.
"Kamu takut aku bersikap kasar? jujur saja Gendis?"
"Bukan mas,,,bukan itu"
"Aku peluk ya biar kamu gak takut lagi" Danar kembali meraih tubuh Gendis dan memeluknya erat.
"Ini adalah pengalaman pertama ku,,,semua adalah hal yang baru pertama aku rasakan"
Danar mendengarkan Gendis sambil terus mengeratkan pelukannya pada tubuh mungil itu.
"jadi yang kurasakan sekarang adalah kegugupan,,aku gugup mas,,"
"Oohhh sayang,,,bukan kamu saja yang gugup,aku juga kok"
bisik Danar lembut.
Danar melepas pelukannya,mencium kening Gendis,kedua pipi Gendis dan juga bibir Gendis.
"Kamu belum siap?" tanya Danar kemudian.
Gendis menatap Danar sendu berharap Danar mengerti.
"Maaf mas"
Danar tersenyum kemudian kembali mengecup bibir Gendis.
"Tidak apa apa,,,aku bilang waktu itu,aku akan menunggu sampai kamu siap"
"Tapi aku mengecewakanmu mas"
"Enggak,,,aku gak kecewa"
"Bisa menciummu aku sudah bahagia kok"
Gendis tersenyum malu dan tanpa sadar menyentuh bibirnya,bibir yang sudah dikecup oleh Danar dari malam kemarin,dan rasa manis kecupan itu masih terasa.
Danar tersenyum melihat tingkah Gendis.
__ADS_1
"Kenapa? Mau lagi?" tanya Danar.
Gendis mengangguk tanpa sadar,,
Dan Danar langsung saja meraih rahang Gendis mendekatkan wajah itu kewajahnya,perlahan kembali mencium bibir Gendis.
Gendis menikmati ciuman hangat Danar,dan membalas setiap kecupan yang diberikan Danar.
Danar melepas pagutannya dan kembali menatap wajah cantik yang wajahnya sudah bersemu merah karena malu.
"Maafin aku mas,,," ucap Gendis pelan dan menundukkan wajahnya .
"Aku mengecewakanmu"
Danar tersenyum kemudian membelai lembut wajah Gendis..
"Kita coba lagi besok malam" bisik Danar.
Gendis tersenyum malu..
"Yaa,mas semoga besok aku semakin siap"
"Dasar anak perawan" ledek Danar dan kembali memeluk tubuh Gendis erat.
"Kenapa kalau perawan?" tanya Gendis dan mulai berani bersikap manja pada Danar.
"Ya gini,,takut aja mau diajak buat anak"..
"Maaaaassssssss,,," seru Gendis lagi lagi wajahnya memerah karena merasa malu mendengar perkataan Danar barusan.
Danar tertawa tapi masih saja memeluk erat tubuh Gendis.
"Jangan jangan kamu takutttt iniiii yaaa?" Danar menggantungkan pertanyaannya.
"Takut apa?" Gendis balik bertanya gak mengerti maksud pertanyaan Danar.
"Hahahaha,,,," Danar malah tertawa dan melepas pelukannya kemudian menatap wajah Gendis yang kebingungan.
"Aku tau apa yang kamu takutkan" seru Danar lagi sengaja menggoda Gendis.
Wajah Gendis berubah jadi masam.
"Apa sih mas?" Gendis penasaran..
"Dasar anak perawan,,,"
"Mass,,aku gak ngerti maksudmu"
Danar semakin tertawa karena merasa lucu melihat Gendis yang kebingungan.
"Pikir aja sendiri,,,dan malam besok kalau aku berhasil barulah disitu kamu tahu jawabannya" Danar masih belum mau menjawab pertanyaan Gendis.
"Menggemaskan,," gumam Danar dan mencubit kedua pipi Gendis sengaja dengan keras.
"Sakit masss,," rengek Gendis.
"Maafff,,,gadisku yang masih perawan" ledek Danar dan langsung memeluk Gendis lagi sebelum Gendis kembali kesal padanya.
"Sekarang tidurrr yaaa,aku peluk seperti malam kemarin" bisik Danar lembut.
Gendis menuruti perkataan Danar. Mereka mulai mengatur posisi tidur,lagii Gendi membelakangi Danar dan membiarkan Danar melingkarkan tangannya dipinggangnya.
Gendis merasa hangat dan tenang.
"Selamat tidur istriku" bisik Danar.
Lalita hanya diam,dia bingung harus membalas ucapan Danar seperti apa,Gendis belum terbiasa.
# wajah Gendis yang membuat Danar terpukau
__ADS_1