
"Mas,,,Lalita mengirimiku pesan dan dia ingin bertemu denganku lagi" seru Gendis memberitahukan pesan dari Lalita yang baru saja masuk.
"Hahahaha,,,,dia mau jebak apalagi tu?"
"Entahlah,apa aku harus datang dan temui dia?" tanya Gendis.
"yaa temui saja,kita ikuti saja permainan dia,sepertinya seru" jawab Danar dengan perasaan girang
"Ihh,,,mas,,,gimana kalau dia berniat jelek sama aku?"
Danar mengerutkan keningnya dan tampak berfikir.
"tentu saja dia gak akan berani,kan dia sudah berjanji tidak akan menyakitimu lagi,kalau melanggar aku tinggal jebloskan saja dia kepenjara" jelas Danar .
"aku yakin dia itu ingin menjebakmu lagi,yaaa kurang lebih permainannya masih sama dengan yang kemarin,kita ikuti saja biar mereka senang hehehehe"
"Happy banget sih mas?"
"Iya,,,aku pengen banget liat mereka malu,ingin menjatuhkan kamu,tapi akan berbalik ke mereka sendiri.
hemmm aku aneh saja sama Cakra,sepertinya dia lebih rela kehilangan kerjasama ini daripada harus kehilangan kamu".
Gendis menatap Danar tanpa ekspresi.
"Ya sudah berangkat saja ke kantor nanti telat" seru Gendis akhirnya.
"Lalita mengajakmu bertemu jam berapa?" tanya Danar.
"Sama seperti kemarin"
"Yaa sudah,kamu temui saja nanti aku akan kirim orang untuk menjagamu dari jauh,,dan kita lihat apa yang terjadi nanti,pokoknya kamu ikuti saja tidak usah bingung" pesan Danar sebelum akhirnya pamit pergi ke kantor.
"Oh yaa,jangan lupa minum vitamin dan susunya ya" pesan Danar pagi sambil mengecup kening Gendis lembut dan membelai perut Gendis.
Gendis tersenyum dan membiarkan Danar berlalu dengan mobilnya dari halaman rumah.
Gendis masuk lagi kedalam kamar,meminum susu dan vitamin yang sudah dibawakan oleh bik Rahmi kedalam kamar setelah itu kembali lagi bermalas malasan diatas tempat tidur.
"Kenapa mas Danar malah ingin bermain main dengan mereka?,tapi ya sudahlah aku ikuti saja apa mau mas Danar. Mungkin mas Danar memang ingin membuktikan sesuatu"
Gendis bersiap,sebentar lagi jam makan siang tiba. Gendis juga penasaran Lalita akan melakukan apalagi hari ini padanya.
Apakah dia akan datang,atau dia akan bekerja sama lagi dengan Cakra
Gendis meminta supir mengantar dia ke restoran yang kemarin lagi.
beberapa menit Gendis sampai,saat akan masuk kedalam ponselnya berbunyi. Ternyata sebuah pesan dari Lalita yang masuk.
*Maaf Gendis hari ini aku terlambat lagi,kamu sudah sampai kan di restoran itu?*
*Pesanlah tempat dulu,sebentar lagi aku menyusul*
Gendis enggan membalas kemudian menutup aplikasi pesan itu .
"Basi,,,"
"Mungkin kamu mengira sekarang aku sudah bertengkar dengan mas Danar karena ulahmu kemarin? Atau kamu mengira mas Danar tidak memberitahuku karena aku tidak berbuat apa apa padamu,makanya kamu ingin beraksi lagi"
"benar kata mas Danar,,memang harus mengikuti permainan mereka"
Gendis mencari meja kosong ,kemudian memesan minuman dan makanan ringan saja.
lagi lagi ponselnya berbunyi,Gendis cepat membuat kunci layar,ternyata lesan dari suaminya yang masuk.
*Sudah sampai?*
__ADS_1
*Apa dia sudah datang?*
Gendis membalas pesan Danar.
*Baru saja sampai mas,,dan dia belum datang*
*hemmm,,,sama saja seperti kemarin *
*Ya sudah tunggu saja,kita lihat apa yang terjadi berikutnya*
*Oke mas,,*balas Gendis kemudian menutup ponselnya.
sedang asyik menikmati minumannya yang sudah tiba dimejanya,tiba tiba dia melihat Cakra berjalan menuju kearahnya.
Gendis menahan senyumnya dan berpaling.
"dia lagi" gumam Gendis.
"Hai,,,apa ini suatu kebetulan lagi? kita selaku bertemu tanpa sengaja" seru Cakra Sambil duduk dikursi kosong didepan Gendis.
"Hhhhhh,,," Gendis tersenyum sinis.
"Mungkin semesta memang menginginkan kita selalu bertemu,dan mengijinkan kita untuk bisa sekali sekali makan berdua"
"Aku rasa itu tidak mungkin,suatu kebetulan yang terus berulang ulang" ucap Gendis menyindir.
Cakra tersenyum lebar.
"Jadi kamu tidak percaya dengan yang namanya kebetulan?" tanya Cakra.
"Percaya,tapi tidak untuk satu ini"
"Baiklah,,,emm bagaimana kalau aku traktir kamu makan siang?"
"Tidak usah,aku mau pulang"
"Apa yang harus kita obrolin,,,? "
"Tentang masa lalu?"
Gendis menatap Cakra dan mengerutkan keningnya,merasa aneh dengan kata kata Cakra tadi.
"Masa lalu yang mana?" tanya Gendis kemudian.
"Masa lalu sewaktu kita di SMA" jelas Cakra.
"Hhh,,,apa yang harus dikenang? sedang aku waktu itu tidak terlalu mengenalmu,kita juga tidak pernah saling mengobrol"
Cakra tersenyum.
"Yaa mungkin bagimu tidak ada,tapi bagiku waktu itu sangatlah berharga"
"Sudahlah Cakra,tidak ada yang bisa kita obrolin,aku sama sekali gak bisa mengingat tentang waktu itu karena memang tidak ada kedekatan diantara kita,jadi mau bicara kenangan manis yang seperti apa?" Gendis terus menolak.
"Kamu sama sekali tidak menyadari kalau waktu itu aku sangat memperhatikanmu?"
"Aku sangat mengagumimu,,dan aku juga mencintaimu,hanya saja aku sama sekali tidak punya keberanian untuk mendekatimu".
"Dan kenapa harus kamu ungkapkan sekarang? Toh kamu juga tidak akan bisa mendapatkannya lagi?" tanya Gendis sedikit kesal.
"Karena aku merasa beruntung bisa bertemu kamu lagi,dan apa salahnya kalau aku ungkapkan meski sudah terlambat"
"Apa ini semua juga bagian dari rencana kamu?" tanya Gendis.
"maksudmu?"
__ADS_1
"Ah sudahlah,,,lupakan"Gendis lupa dan hampir saja keceplosan. Gendis tidak ingin Cakra curiga kalau dia dan Danar sudah tau dengan permainan Cakra dan Lalita.
"Aku ingin pulang,,," Gendis hendak berdiri dari duduknya.
"Please jangan pergi dulu"
Dan tiba tiba Gendis melihat Danar datang bersama Lalita mendekati dirinya dan Cakra. Gendis heran kenapa Danar bisa datang bersama Lalita,dan apa naskah dari cerita yang ini Gendis tidak tahu,apakah ini bagian dari permainan Danar atau Lalita. Tapi Gendis menahan diri untuk menunggu mereka berbicara.
"Nah lihatlah Danar? istrimu ternyata sedang asyik berdua dengan laki laki ini,,laki laki yang sama dengan yang aku lihat kemarin,bukannya kamu sudah tau kan Danar?"
"Aku bawa kamu kemari agar kamu lihat sendiri,dan apa yang aku katakan itu benar"
"Cakra??" apa yang kamu lakukan disini bersama istriku?" tanya Danar pada Cakra.
"Yaaa,,,tidak ada,aku hanya ingin bertemu dengannya?"
"Apa kalian memang sengaja ingin bertemu?"
"Entahlah Danar,,,aku mengundang istrimu kemari,tapi aku memang selalu datang terlambat,tapi saat aku sampai dia sudah bersama laki laki lain,,dan begitu juga dengan hari ini"
"Gendis tidak sebaik yang kamu kira Danar,dia sudah menghianatimu" Lalita terus saja memfitnah Gendis.
Danar menatap Gendis dan memberi kode dengan memainkan mata padanya. Gendis paham dan menahan senyumnya.
"Baiklah,,biar aku urus istriku di rumah,,mari kita pulang Gendis dan kamu harus ceritakan padaku apa yang sudah kamu lakukan disini bersama dia" Danar mengajak Gendis pulang dan berpura pura berbicara sedikit keras pada Gendis.
"Danar,,,aku mohon percayalah padaku,Gendis sudah menghianatimu" seru Lalita meyakinkan Danar.
Danar hanya diam kemudian membawa Gendis pergi dari restoran itu.
"Mas sebentar aku belum bayar minum dan makananku" kata Gendis sambil mengeluarkan uang dari tas kecilnya dan menaruh diatas bil yang ada diatas meja,kemudian menindis dengan gelas.
Buru buru Gendis mengejar Danar yang bertingkah seolah marah agar Cakra dan Lalita percaya kalau Danar memang murka pada Gendis.
Gendis masuk kedalam mobil begitu juga Danar,setelah Danar menyuruh supir yang tadi mengantar Gendis untuk pulang duluan.
"Ahhh,,,aku jadi takut mas,,,kamu ini lebih percaya Lalita daripada aku?" tanya Gendis kemudian saat mobil sudah melaju dijalanan.
"Kenapa,,aktingku berhasil ya hahahahaa" tanya Danar dan tertawa.
"Aku mengajakmu pergi karena aku sudah tidak tahan ada diantara mereka,,orang orang bodoh,,,"
"Jadi tadi Lalita mengabarimu memberitahu aku sedang bersama Cakra lagi?
"Yaa,,sudah kubilang pasti masih sama saja seperti kemarin,hanya saja sedikit ada tambahan adegan dan aktor" .
"Haaaaaa,,,,mas pemeran pembantunya yaaa?"
"Wahh justru aku ini pemeran utama "
"Judul filmnya,*aku dikhianati istriku,dan mantanku penyelamatku* hahahahahaaaaa" Danar semakin tertawa keras.
"nasssss,,,,hehehehe" seru Gendis dan juga ikut tertawa meski tidak sekeras Danar.
"Sumpah Gendis mereka itu lucu,,dan aku aneh saja dengan Cakra,mau saja ikut berperan,dia itu seorang pemimpin perusahaan cukup besar dan ternama,tapi kenapa mau terlibat dalam permainan konyol dari Lalita"
"Entahlah apa ini hanya rencana Lalita atau rencana mereka berdua"
"Dan sampai kapan kita ikuti permainan mereka ini mas?" tanya Gendis kemudian.
"Sampai mereka kalah dong"
"Kalau mereka kuat gimana?" hahahahaha,,,tamat tamat dong filmnya"
"Yaaa drama seri namanya" jawab Danar sambil mengelus kepala Gendis dengan sayangnya.
__ADS_1
"Kita makan siang dulu yaaa,,aku lapar,kita cari restoran " pinta Danar dan Gendis pun setuju.