
Selesai makan Gendis dan kedua orang tuanya kembali lagi kekamar Danar.
Danar sudah tertidur dan akhirnya ke empat orang tua itu berpamitan karena sudah larut malam juga. Mereka tidak ingin berlama lama mengganggu istirahat Danar dan juga Gendis.
Sekarang tinggal Gendis dan Danar dikamar. Gendis menghampiri Danar yang terlelap pulas,terlihat mulai segar lagi wajah Danar dibanding saat masih di rumah.
Gendis merapatkan selimut ditubuh Danar kemudian dia melangkah kearah sofa yang ada disudut ruangan.
Gendis sedikit merebahkan tubuhnya dan ikut beristirahat mumpung Danar sedang tertidur.
Gendis terbangun dan terkesiap karena mendengar suara Danar memanggilnya. Bergegas Gendis berjalan menghampiri Danar yang terlihat gelisah.
"Ada apa mas?" tanya Gendis lembut.
"Aku harus" jawab Danar pelan.
"Oh,,iya sebentar aku ambilin" kata Gendis kemudian dengan cekatan mengambilkan Danar segelas air putih.
"Ini mas" kata Gendis lagi dan membantu Danar minum.
"Masih terasa pahit mulutnya?" tanya Gendis kemudian Krena melihat ekspresi wajah Danar yang seperti susah menelan air putih itu.
"Sedikit" jawab Danar singkat.
"Maaf aku ketiduran" kata Gendis sambil menaruh gelas diatas nakas.
"Dari tadi ya mas panggil panggil aku?"
"Enggak,,baru saja panggil kamu gak lama kamu bangun kok" jawab Danar sedikit berbohong sepertinya.
"Ah masa?" tanya Gendis tidak percaya.
"Iya,,bener"
Kemudian Gendis tersenyum dan melangkah kearah jendela kaca untuk membuka kain gorden.
"Sudah pagi ternyata mas,dan mas gimana semalam tidurnya? nyenyak sampai pagi?"
"Iya,,syukurlah semalam bisa tidur" jelas Danar.
"Syukurlah mas" ucap Gendis sambil mendekat lagi pada Danar dan merapikan meja yang sedikit berantakan.
"Kamu pasti capek ya?" tanya Danar kemudian sambil menatap lekat kearah Gendis. Gendis membalas tatapan itu dan tersenyum.
"Enggak juga mas,apalagi semalam kan aku bisa tidur nyenyak,mas juga bisa tidur jadi kan gak bangun tengah malam" jawab Gendis.
"Iya semalam kamu tidurnya nyenyak banget"
"Lohh memangnya semalam mas terbangun?" tanya Gendis kaget.
"Iyaa,pengen pipis"
"Terus mas bisa kekamar mandi sendiri?"
"Bisa" jawab Danar singkat.
"Kenapa gak bangunkan aku mas,kalau jatuh gimana?"tanya Gendis sedikit kesal pada Danar.
"Kepala aku sudah gak pusing jadi bisa sendiri kekamar mandi,lagian kamu itu capek kemarin seharian ngurus aku yang rewel ini" jelas Danar menenangkan Gendis.
"Terus apa gunanya aku disini,kan tugasku jagain kamu,bantu kamu kalau kamu mau apa apa" Gendis masih saja protes pada Danar karena memang sekesal itu hatinya. Dia takut seandainya terjadi apa apa pasti dia merasa bersalah sekali,harusnya dia menjaga Danar ternyata malah tidur sampai gak tahu Danar terbangun malam hari.
__ADS_1
Danar tersenyum melihat Gendis yang berwajah masam itu.
"Aduhhh,,,aku kalau bisa sendiri dan merasa sudah enakan ngapain ngerepotin orang lain"
"Emm okelah mas" akhirnya Gendis mengalah.
"Mau bersihkan badan?" Tanya Gendis kemudian.
"Nanti kalau dokter visit kan mas sudah seger,sudah rapi"
"Boleh" jawab Danar.
Gendis membantu Danar ke kamar mandi dan membiarkan Danar membersihkan tubuh dan wajahnya sendiri karena Danar bisa.
Tapi mau tidak mau Gendis harus membantu Danar untuk melepaskan pakaian. Kalau dirumah kemarin ada supir yang membantu Danar berganti pakaian,dan sekarang di rumah sakit siapa yang harus Gendis mintakan tolong. Saat menawarkan perawat Danar gang tidak mau.
"Kenapa kamu risih ya?" tanya Danar saat Gendis mulai melepaskan baju Danar.
Wajah Gendis langsung memerah dan merasa malu saat Danar bertanya hal itu.
"Hanya baju saja kok,nanti celana aku bisa sendiri" kata Danar memberitahu dan lagi lagi Gendis malu mendengarnya.
Ingin bersikap biasa saja karena memang mereka berdua adalah suami istri,tapi ini konteksnya berbeda,menikah karena terpaksa,jadi tidak mungkin Gendis bisa bersikap seperti itu.
Gendis ingin lekas lekas saja memakaikan pakaian pada Danar,ingin segera menutupi tubuh Danar yang sedang terpampang nyata dihadapannya,tubuh tanpa terbalut pakaian,tapi karena ditangan Danar terpasang selang infus membuat pekerjaannya jadi sedikit lambat.
Gendis berusaha mengatur nafasnya yang sudah mulai tidak beraturan,bukan karena berpikir nakal,Gendis merasa gugup saja saat melihat Danar polos seperti itu.
Danar tersenyum melihat wajah Gendis yang terlihat tegang itu.
"Kenapa?" tanya Danar dengan suara yang sedikit menggoda Gendis.
"Ehh,,enggak,enggak papa mas" jawab Gendis gugup,hatinya berpacu dengan tangannya yang terus bergerak membantu Danar.
Gendis merapikan ranjang Danar,setelah itu terlihat Danar keluar sambil menentang botol infus.
Gendis segera menghampiri dan membantu Danar,menaruh lagi botol pada besi penyangga.
"Gimana sudah nyaman begini?" tanya Gendis saat sudah mengatur posisi tidurnya diranjang dengan setengah tidur saja.
"Ya,,sudah" jawab Danar.
Dan kebetulan sarapan Danar sudah datang juga obat. Langsung saja Gendis menyuapi Danar dengan telaten.
"Pengen cepet sembuh" kata Danar lirih sambil menatap Gendis yang sedang melayaninya makan.
"Iya,makanya harus mau makan,nurut sama dokter juga" jawab Gendis.
"Ponselku mana?" tanya Danar.
"Ada didalam tasku"
"Boleh minta diambilin?"
"Ya sebentar aku ambilin" jawab Gendis sambil berdiri,menaruh piring makan Danar diatas nakas.
Gendis berjalan kearah sofa karena menaruh tasnya disana.
Mengambil ponsel Danar kemudian meberikanpada Danar.
Danar langsung sibuk membuka ponsel kemudian menelpon seseorang.
__ADS_1
Gendis mendengar Danar menelpon seseorang dan diminta untuk mengantarkan makanan ke rumah sakit untuk Gendis.
"Mas pesankan aku makanan?" tanya Gendis kemudian setelah Danar selesai menelpon dan menaruh ponselnya disampingnya.
"Iyaa,kamu harus makan juga" jawab Danar.
"Kan dibawah ada restoran mas,aku bisa kebawah"
"Aku gak mau buat kamu kelelahan,harus keluar dari sini turun kebawah buat makan,nanti naik lagi kesini"
"Aduhhh mass,aku masih sanggup" kata Gendis sedikit merasa aneh dengan sikap Danar itu.
"Kalau kamu gantian sakit gimana? Kamu sudah capek disini jaga aku,urus aku,terus untuk makanmu saja kamu masih harus keluar cari sendiri" jelas Danar lagi sedikit mengomel pada Gendis.
"Ya,,,ya,,ya mass,trimakasih yaaa" ucap Gendis akhirnya mengalah.
"Mas pesan makanan gitu diaplikasi gofood?" tanya Gendis ingin tahu dan kembali melanjutkan menyuapi Danar,karena tadi sedikit berdebat Gendis sampai gak sadar berhenti menyuapi Danar.
"Ya enggak lah, hahahaha,,,,ngapain aku bayar anak buah kalau gak aku gunakan" jawab Danar merasa lucu dengan pertanyaan Gendis tadi.
"Ohhh,,," Gendis paham.
"Sudah,,sudah kenyang" Danar menyudahi sarapannya.
"Oke deh mas" Gendis menuruti. Kemudian membantu Danar untuk minum.
"Minum obatnya mas" Gendis memberikan obat pada Danar,Danar menuruti permintaan Gendis.
"Nahh enakkan tinggal tunggu dokter saja datang" kata Gendis lega karena Danar sudah makan dan minum obat.
Danar hanya tersenyum.
Tidak lama terdengar ketukan pintu kamar mereka. Gendis segera membukakan pintu,ternyata diambang pintu berdiri seorang pria bertubuh tegap dan lumayan tampan dengan membawa bungkusan
"Nyonya saya diperintah tuan Danar untuk mengantarkan makanan ini" jelas pria itu.
"Ohh iya,,trimakasih" jawab Gendis kemudian menerima bungkusan itu.
"Saya permisi nyonya" kata pria itu sembari berlalu dari hadapan Gendis.
Gendis menutup pintu kembali dan berjalan menghampiri ranjang Danar.
"Mass ini makanannya sudah datang"
"Oh iya makanlah dulu,kamu laparkan sudah?" perintah Danar dan bertanya.
"Hemm enggak juga sih mas"
"Tapi harus makan sekarang,mumpung aku belum rewel,nanti kalau aku sudah rewel,jangankan kamu mau makan,ke kamar mandi pun kamu akan kesusahan" tegas Danar meminta Gendis untuk menurut padanya.
"Apaaan sihhh mas" kata Gendis sedikit malu.
Danar tersenyum.
Kemudian Gendis menuruti permintaan Danar untuk segera sarapan meski dia masih belum terlalu lapar..
Ahhh perhatian pagi ini dari Danar membuat Gendis sedikit terbuai.
Tidak menyangka Danar memiliki sisi yang romantis.
Dan Danar pun bisa bersikap dan berkata kata yang lembut juga kepada Gendis.
__ADS_1
"Apakah aku boleh berharap ini jangan berakhir?"
gumam Gendis didalam hati.