
Pagi menjelang,dan Danar hari ini masih diharuskan untuk istirahat total. Danar belum bisa pergi kekantor untuk mengurus pekerjaannya,jadi sementara menyerahkan pada asisten dan juga ayah Gendis.
Ayah Gendis termasuk orang kepercayaan Danar.
"Bik,panggil Gendis suruh dia sarapan" perintah Danar pada bik Rahmi.
"Baik den" kata bik Rahmi dan berlalu dari hadapan Danar.
"Mulai manja,makan saja sekarang harus dipanggil" gerutu Danar.
Tidak lama bik Rahmi sudah kembali turun dari lantai atas.
"Maaf den,mbak Gendis belum lapar katanya"
Danar menatap bik Rahmi sekilas kemudian langsung berdiri dari duduknya dan ingin mendatangi Gendis dikamarnya.
"Aku gak suka ditentang" gumam Danar kesal.
Danar langsung masuk kedalam kamar Gendis tanpa permisi,tentu Gendis terkejut bukan kepalang dan cepat bangun dari tidurannya.
"Apa sih mas?" tanya Gendis kemudian.
"Aku suruh kamu sarapan,kenapa gak mau turun?"
"Aku belum lapar mas"
"Biasakan untuk sarapan,dan menuruti perintah"
"Aneh,,orang yang aneh" gumam Gendis didalam hati
"Ngapain dia sok perhatikan aku untuk sarapan,aku malas tertipu lagi dengan sikap manisnya. Inipun enggak manis kok,kasar banget caranya menyuruhku untuk makan" gerutu Gendis lagi meski masih didalam hati.
"Kenapa diam? Kamu gak mau nurut sama aku?" bentak Danar.
"Apa sih mas? Sejak pulang dari rumah sakit kamu berubah lagi,kembali ke asal semula" jawab Gendis tidak suka dengan sikap Danar.
"Gak usah banyak tanya"
"Maksud kamu kemarin baik sama aku itu apa? Apa karena kamu takut aku gak ngurusin kamu saat sakit makanya kamu manis banget sama aku?" tuding Gendis.
"Hahhhhh,,aku berhak mau bersikap apa aja sama kamu,jangan terlalu geer kalau aku baik" jawab Danar tanpa perasaan.
"Nahh untungnya aku gak geer mas,gak baper aku"
"Jawab terus,,,cepat makan" bentak Danar lagi dan mendekat kearah Gendis. Wajah Danar sangatlah tidak terlihat tampan dan manis lagi karena tertutup oleh sikapnya yang arogan itu.
__ADS_1
"Pagi pagi sudah ngajak ribut" gerutu Gendis dan akhirnya keluar dari kamar meninggalkan Danar.
Danar mengikuti dan menuju kembali keruang makan.
Kemudian mereka makan bersama tanpa saling berbicara.
"Aku sudah selesai dan mau kembali kekamar" kata Gendis sambil berdiri dan meninggalkan Danar tanpa menunggu jawaban dari Danar.
Danar hanya menatap Gendis dan tidak menghalangi kemauan Gendis.
"Maaf Gendis,," ucap Danar lirih saat Gendis sudah tidak ada lagi dipandangannya.
Danar bersikap aneh lagi sejak pulang dari rumah sakit,Kemabli lagi menjadi arogan dan kasar pada Gendis,sangat berbeda saat dia sakit.
"Aku pun bingung kenapa aku menjadi seperti ini lagi,padahal saat dirumah sakit aku mampu menghalau Lalita dari perasaanku,,,aku sama sekali gak menginginkan dia ada didekatku"gumam Danar lirih.
"Apa karena saat aku sakit kemarin kamulah yang ada didekatku pertama kali,seandainya itu ibuku,sudah pasti aku akan meminta ibu yang mengurus dan menemaniku,dan seandainya pun Lalita yang pertama sudah pasti aku akan meminta Lalita yang mengurusku"
"Kemarin itu kamu Gendis,kamu yang ada didekatku,bukan ibu atau Lalita,dan aku merasa nyaman,siapapun itu,orang yang pertama ada didekatku kala aku sakit dialah yang aku pilih untuk menemaniku"
"Dan karena aku juga merasa bertanggung jawab,aku gak mau kamu sakit karena mengurusku makanya aku harus perhatian sama kamu"
Danar kembali juga kekamarnya dan merebahkan tubuhnya diatas kasur. Kali ini dia sudah gak butuh bantuan Gendis lagi,untuk urusan makan,dan minum obat Danar sudah bisa melakukan sendiri.
"Hallo Danar" sapa dokter Indri dari sebrang telpon.
"Hai,hallo,,apa kabarmu dokter?"
"Hemmm,,aku buruk"
"Ada apa?" tanya Danar terkejut. sebenarnya juga dia merasa aneh sang dokter menelponnya masih dalam keadaan pagi sekali.
"Aku mendapat kan surat pemecatan dari rumah sakit ini" jelas dokter dengan suara lesu.
"Apaaa?"
"Yaaa,aku dipecat Danar"
"Kenapa bisa?" tanya Danar lagi tapi terlihat tidak terlalu khawatir atau merasa iba.
"Entahlah Danar,,aku juga tidak tau apa masalahnya"
Danar terdiam,dia tau ini pasti perbuatan ibunya,karena kemarin ibunya mendapat laporan soal perbuatan Dokter Indri kepada Gendis saat berada di rumah sakit.Tapi Danar berpura pura untuk tidak tahu,toh juga sang dokter tidak tahu kalau orang tuanya adalah salah satu pemegang dan pemilik saham hampir 70 persen di rumah sakit itu. Ya dokter Indri memang bekerja di rumah sakit itu,tapi dia tidak begitu paham soal para pemilik saham rumah sakit.
"Danar,,padahal aku suka bekerja di rumah sakit itu,,bukannya kamu sangat mengenal semua dokter,dan para petinggi rumah sakit itu,bisakah kamu membantuku Danar supaya aku masih bisa bertahan di rumah sakit itu?" Gendis mengutarakan maksudnya.
__ADS_1
"Maaf Indri,aku gak bisa melakukan apa yang kamu minta. Aku gak punya wewenang,apalagi kamu dipecat kan,sudah pasti kamu melakukan kesalahan fatal"
Sejujurnya Danar tahu apa yang sudah dokter Indri lakukan pada Gendis dan sudah membuat murka ibunya.
"Lebih baik carilah rumah sakit lain,,"
"Ahh ya Danar,,,trimakasih. Maaf aku sudah mengganggumu" ucap sang dokter dan tidak memaksa Danar.
"Ahh,,tidak apa apa Indri,,"ucap Danar.
"Oke,selamat beristirahat dan ikuti apa kata dokter" pesan sang dokter sebelum menutup ponselnya.
Danar meletakkan ponselnya diatas kasur lagi.
"Maaf Indri,aku gak bisa membantumu. Itu sudah diluar kuasaku lagi" gumam Danar.
Dan sepagian hingga menjelang siang Danar hanya tiduran saja didalam kamar,dia enggan untuk keluar.
Lagi lagi ponselnya berdering,Danar melihat nama yang tertera dilayar,ternyata Lalita,Danar langsung saja menerima telpon itu.
"Hai sayang,,,apa kabarmu?" tanya Lalita dengan suara manja dan genitnya.
"Haii,,,aku baik baik saja"
"Aku ingin datang,tapi aku takut kalau nanti bertemu ibumu lagi"
"Hari ini ibuku tidak datang,datang saja kemari"
"Seriusss?" Lalita terdengar girang.
"Iya serius"
"Okeee tunggu aku yaaa sayang"
"Emmm tapi bisakah supirmu kamu suruh menjemputmu,aku capek kalau harus naik taksi terus sayang" pinta Lalita manja.
"Oke sayang,,,tunggu saja nanti supirku akan menjemputmu"
"Trimakasih sayanggg" terdengar lagi suara girang Lalita setelah itu Danar menutup telponnya.
"Ahh Lalita wanita penggoda tapi aku begitu mencintainya,,,"
"Aku ingin melihat reaksi Gendis nanti,aku sengaja ingin membuat Gendis cemburu" gumam Danar dengan pikiran jahatnya.
Ahhh Danar masih saja jahat ternyata,,entah apa yang ada dipikirannya sampai dia sengaja ingin membuat Gendis cemburu. Benar benar dua sisi yang berbeda.
__ADS_1