
Ponsel Danar berdering. Danar meraih ponselnya yang ada diatas meja kerjanya. Terlihat nama ibunya dilayar. Danar segera mengangkat.
"Hallo ibu,," sapa Danar.
"Hallo nak,sedang dimana?" tanya ibu Nungki.
"Di kantor Bu,ada apa?"
"Hemm,,nanti pulang kerja langsung pulang,tidak ada alasan" ibu Nungki menegaskan Danar.
"Ada apa Bu?" tanya Danar bingung. Masa iya makan malam lagi.
"Pokoknya turuti ibu,ibu menunggu di rumah kamu" tegas ibunya lagi dan terdengar nada emosi.
"Oke oke Bu,aku nanti langsung pulang"
"Ya sudah" jawab ibu dan langsung menutup telponnya.
Danar meletakkan kembali ponsel diatas meja.
Sore hari Danar sudah selesai dengan pekerjaannya,dan dia memutuskan untuk langsung pulang kerumah,teringat dengan pesan ibunya tadi.
Beberapa menit dia sudah sampai di rumah. Tidak terlihat mobil ayahnya,sepertinya ibunya sedang menunggunya. Mungkin saja ibu tidak bersama ayahnya,ibu sendirian datang ke rumahnya. Pikir Danar sambil keluar dari mobil dan bergegas masuk kedalam rumah.
Danar menghampiri ibunya yang sedang bersantai bersama Gendis di ruang tengah. Danar langsung saja memeluk dan mencium ibunya juga menyalimi tangannya.
"Ibu sendiri?" tanya Danar kemudian.
"Yaaa,," jawab ibu Nungki singkat. Wajahnya terlihat gusar dan sama sekali tidak memberi senyum pada Danar.
"Ayah sibuk?" tanya Danar lagi sembari duduk disebelah ibunya.
"Tidak,ayah memang sedang tidak ingin diajak kemari" jelas ibunya.
"Danar,,,harus berapa kali ayah dan ibu meminta sama kamu,dan harus dengan cara apa lagi kami memohon sama kamu,supaya kamu bisa lepas dari wanita itu?" ibu Nungki mulai membuka pembicaraan dan matanya menatap lurus kedepan,tidak mau menatap wajah anaknya itu.
Danar tercengang dan menatap ibunya lekat.
"Tadi siang ibu mendapat laporan dan juga foto,kamu makan siang bersama wanita itu" jelas ibunya dengan suara yang mulai bergetar.
"Kenapa Danar,kenapa? Ada apa? Kenapa kamu masih saja menjalin hubungan dengan dia?"
"Kamu mengerti tidak,kalau orang tua sudah menolak,kalau orang tua bersikeras tidak memberi restu,itu pasti ada alasannya Danar. naluri orang tua,insting orang tua itu tidak akan pernah salah"
"Mungkin kamu memang belum menemukan apa yang menjadi alasan kami sampai kami melarang hubungan kalian,dan sangat menentang hubungan itu" jelas ibu Nungki lagi kali ini dengan suara yang mulai meninggi.
Terlihat Gendis menghampiri ibu mertuanya,menenangkannya.
"Kamu lihat,,lihat begitu mudahnya kami memberikan restu saat kamu mengenalkan Gendis,kami langsung menerima,tidak ada alasan bagi kami untuk menolaknya. sekali lagi itu karena insting orang tua Danar"
"Kami tidak mempermasalahkan soal bobot dan bebet,soal derajat. Lihat anak siapa Gendis ini? Ayahnya hanyalah bawahanmu nak,tapi kami tidak mempermasalahkan itu. Jadi jangan pernah berpikir kami menolak wanita itu karena perbedaan derajat,karena dia berasal dari keluarga biasa saja"
"Kalau insting orang tua sudah bermain jangan kamu anggap itu hanyalah prasangka buruk kami terhadap wanita itu"
Danar hanya mendengarkan saja ibunya berbicara panjang lebar tapi sebenarnya dia sangat tidak menerima ibunya selalu memojokkan Lalita.
"Kamu yang membawa Gendis dan mengenalkan kepada kami,artinya kamu mencintai dia kan? Tapi kenapa,kenapa kamu masih melanjutkan hubungan dengan wanita itu?"
"Kamu sudah berzina Danar,kamu mempermainkan pernikahan,astaghfirllahaladzim" ibu Nungki beristighfar karena benar benar merasa sakit dengan perbuatan Danar.
__ADS_1
"Kenapa kamu permainkan Gendis? kenapa kamu sakiti hati dia? " tanya ibu Nungki lirih dan bergetar,air mata keluar dari sudut matanya.
Gendis lekas mengusap air mata itu.
"Ibu,,,ibu mungkin hanya salah mengira. Mas Danar baik sama aku Bu,bertanggung jawab. Aku yakin mas Danar gak akan macam macam diluar sana" terlihat Gendis berusaha menenangkan hati ibu mertuanya itu dan menutupi perbuatan Danar.
Entah kenapa Gendis melakukan itu tapi yang jelas Danar merasa terbantu.
"Kenapa kamu membela dia nak?" tanya ibu mertuanya sambil menatap lembut Gendis.
"Aku tidak membela mas Danar. aku hanya ingin ibu tidak berpikir ke hal hal yang belum tentu mas Danar lakukan"
"Tapi Poto Poto itu sudah membuktikan"
"Ibu,,kita tidak tahu ada apa dibalik Poto itu? itu hanyalah Poto saat mereka sedang makan siang" jelas Gendis lagi.
"Mungkinkah orang bayaran kami salah memberikan informasi? Rasanya itu tidak mungkin"
Danar tercengang saat ibunya mengatakan soal orang bayaran. Jadi memang orang tuanya membayar orang untuk memata matainya.
"Kenapa ibu dan ayah mematai mataiku dan membayar orang?" tanya Danar dengan kesal.
"Karena kami belum percaya denganmu seratus persen. Dan ternyata benar kan?"
Danar merasa kesal,benar benar orang tuanya itu membuat dia tidak bisa berbuat apa apa.Hidupnya selalu diawasi.
"Ibu aku punya kehidupan sendiri,kenapa kalian masih saja ingin tahu dengan yang aku lakukan diluar sana?"
"Bukan ingin tahu,sudah ibu bilang tadi kami masih belum percaya denganmu seratus persen" jelas ibunya tegas.
"Kamu sudah memilih Gendis dan menikahinya,kamu harus menepati apa yang sudah kamu janjikan dan ikrarkan Danar. Jadilah laki laki dan suami yang bertanggung jawab,jadilah pemimpin yang baik. Jadilah suami yang jujur"ibu Nungki memberi nasehat pada Danar.
"Danar,,kamu adalah calon penerus ayahmu,kamu pewaris tunggal,kamu yang akan menjadi pemimpin perusahaan milik ayahmu,tidak bisakah kamu belajar menjadi laki laki yang jujur,bertanggung jawab dan tegas? "
"Akan jadi apa jika kamu punya sifat dan sikap seperti itu. tanggung jawab tidak ada,kenapa ibu bilang kamu tidak punya tanggung jawab?"
Danar menatap ibunya sekilas kemudian menundukkan kepalanya.
"Jelas kamu tidak punya rasa tanggung jawab,karena kamu sudah melupakan janjimu saat kamu menikahi Gendis. Di rumah tangga saja kamu lepas bagaimana kamu mau mengurus hal lain" tuding ibunya yang membuat Danar sedikit tidak terima. Meski dia gak mencintai Gendis tapi dia tetap bertanggung jawab memberikan nafkah lahir untuk Gendis,dan apakah Danar harus memberitahukan hal itu pada ibunya atau orang lain
"Dan lagi,,kejujuran,,," ucap ibunya lagi dengan intonasi yang lebih tegas dan menekan sambil menatap Danar
"Lihat ibu" hardik ibunya dengan suara
keras terlihat ibunya semakin tidak bisa menyembunyikan marahnya pada Danar.
Perlahan Danar mengangkat kepalanya menatap ibunya seperti anak kecil yang sangat menurut apa kata ibu.
"Kejujuran pun kamu gak punya,kamu berbohong pada istrimu,pada orang tuamu,diam diam kamu masih berhubungan dengan wanita itu"
"Bagaimana kami mau memberikan kepercayaan kepada kamu untuk memimpin perusahaan?" tegas ibunya lagi.
"Pernahkah kami sebagai orang tua mengajarkan mu untuk tidak jujur? " tanya ibunya sambil terus menatap Danar dengan tajam.
"Danar ibu kecewa sama kamu" ucap ibu dan menghela nafas kemudian sedikit beringsut dari Danar. Terlihat air mata keluar lagi dari sudut matanya.
Gendis meraih bahu ibu Nungki dan menjatuhkannya dipelukannya.
"Ibu,,,sudah ya,ibu tenang. Biar mas Danar menjadi urusanku" ucap Gendis menenangkan hati ibu mertuanya.
__ADS_1
Danar melihat sekilas pada Gendis. Entah apa maksud perkataan Gendis tadi Danar tidak mengerti.
"Ibu sangat kecewa nak,ibu malu,ibu gagal mendidik Danar menjadi laki laki yang bertanggung jawab dan jujur" ucap ibu Nungki lirih dan sesenggukan.
"Danar,,,tidak bisakah kamu sedikit membahagiakan kami. Kami tidak meminta apa apa,selain jadilah anak yang menurut kepada kami,mendengarkan kata kata orang tua?" ucap ibu Nungki lagi dan memohon pada Danar.
Danar menatap Gendis hatinya merasa sebal sekali,sejak ada Gendis masalah bukannya selesai malah bertambah. Danar menganggap Gendis kah biang masalah dari semua ini.
"Masss,,minta maaflah pada ibu" pinta Gendis pelan.
Danar meradang tetapi menahannya. Gak menyangka Gendis seenaknya menyuruhnya meminta maaf,sedang dia merasa apa yang dia lakukan itu sah sah saja. Danar merasa ini kehidupannya dia berhak menentukan sendiri hidupnya tanpa campur tangan orang tuanya.
"Massss,,," suara Gendis memohon.
Danar meraih tangan ibunya dan menggenggamnya erat.
"Ibu,maafkan Danar" ucap Danar pelan dan sebenarnya terpaksa dia melakukan itu.
Ibu beringsut dari pelukan Gendis kemudian menegakkan duduknya.
"Ibu tahu kata maaf itu tidak tulus,dan kamu tahu tidak ada seorang pun ibu yang tidak memaafkan anaknya meski anaknya tidak mengucap kata maaf" jawab Bu Nungki.
"Ibu tidak butuh itu,ibu hanya ingin kamu membuktikan kalau kamu bisa berubah dan kamu menjadi laki laki yang baik"
Danar terdiam hatinya kacau.
"Berubahlah nak,selama kamu masih memiliki kami" ucap ibu Nungki lirih.
"Ibu,,,,kenapa bicara seperti itu?" Danar merasa tidak nyaman dengan kalimat ibunya barusan.
Ibu menatap Danar dan berusaha tersenyum.
"Apalagi yang kami inginkan disisa umur kami ini nak selain melihat anaknya menjadi lebih baik"
"Ibu ingin melihat kamu berhasil,kamu bahagia bersama orang yang tepat,yang pantas mendampingimu dan membuat kamu menjadi laki laki yang sukses" .
"Ibuuu,,," Danar ingin protes tapi Gendis buru buru mencegahnya.
"Masss,sudah,," ucap Gendis pelan berharap Danar untuk berhenti berbicara dan tidak melawan ibunya lagi.
Danar terdiam tapi menatap Gendis dengan tatapan tajam. Danar semakin benci pada Gendis.
"Hanya itu harapan ibu dan ayahmu Danar" ucap ibu Nungki lagi dan mulai meredakan emosinya.
Danar terdiam lagi dan menundukkan kepalanya.
Hatinya gelisah,semua bertentangan dengan keinginannya.
Harus menjadi anak baik kalau ingin menjadi pemilik harta orang tuanya.
Sedang Danar punya cara tersendiri untuk menguasai itu semua. hanya saja sampai detik ini caranya selalu gagal.
Haruskah lagi dia mengikuti keinginan orang tuanya,dengan memiliki anak dari Gendis. haruskan itu dia lakukan.
Sedang dirinya tidak ingin memiliki anak. Danar tidak ingin memiliki anak yang lahir dari rahim Gendis.
Dia tidak mencintai Gendis bagaimana dia bisa melakukan itu.
Danar bingung dan serba salah,keserakahan dan juga pengaruh Lalita yang begitu kuat membuat Danar jadi buta segalanya.
__ADS_1