Aku Dijodohkan Dan Diselingkuhi

Aku Dijodohkan Dan Diselingkuhi
bab 36 terungkap


__ADS_3

Gendis masih menunggu Danar didalam kamar dan tidak beranjak sama sekali,Gendis takut Danar akan menjerit lagi seperti tadi kalau sadar dirinya tidak ada lagi didekatnya.


Terdengar ketukan dipintu. Gendis menengok karena pintu Kemang tidak tertutup. ternyata bik Rahmi sudah berdiri didepan sana. Gendis berdiri pelan pelan kemudian mendekati bik Rahmi.


"Ada apa bik?" tanya Gendis dengan suara pelan.


"Mbak Gendis makan siang dulu"


Gendis mengarahkan pandangan pada Danar yang masih tertidur pulas.


"Emm,,saya takut nanti mas Danar terbangun kalau saya tinggal bik. Bisa saya minta tolong dibawakan kemari saja bik?" tanya Gendis.


"Bisa,akan saya antarkan kemari kalau gitu. Apa sekalian makan siang den Danar juga saya bawakan?"


"Oh iya bawakan aja sekalian"


"Bibik masak apa buat mas Danar?" tanya Gendis.


"Saya buat nasi lembut tapi bukan bubur,dan soto ayam sekalian mbak Gendis biar makan dengan soto juga" jelas bik Rahmi.


"Aduhh bik seger banget deh siang siang begini makan soto ayam,dan semoga mas Danar juga berselara nanti soalnya dari tadi ngeluh mulutnya pahit" kata Gendis antusias dan juga sedikit merasa sedih dengan keadaan Danar.


"Iya mbak,kalau begitu saya siapkan dulu makanannya mbak" kata bik Rahmi sambil berlalu dari hadapan Gendis.


Gendis kembali mendekati tempat tidur Danar dan duduk ditepinya.


Danar menggeliat dan kemudian terbangun.


"Kebetulan mas sudah bangun,bik Rahmi sedang ambilkan makan siang,mas makan yaa" kata Gendis pelan memberitahu Danar.


Danar hanya mengangguk lemah.


"Kenapa? Mas pusing?"


"Sedikit"


"Ke dokter aja mau?"


"Enggak,," jawab Danar sambil menggeleng tegas.


"Emm panggil saja kalau gitu dokternya kemari" Gendis masih berusaha membujuk Danar.


"Enggak,," Danar menolak lagi.


"Ya sudah,,tapi kalau sore ini mas gak ada perubahan pokoknya aku panggil dokter" kata Gendis tegas.


Tidak lama bik Rahmi masuk membawa makan siang dibantu oleh bik Lina. Masing masing membawa nampan untuk makan dirinya dan Danar. Bik Rahmi mengatur diatas nakas kemudian pamit kembali diikuti bik Lina.


"Ya ampun mas,bik Rahmi ini tau banget yaa,siang cetar gini kita dimasakkin soto ayam" seru Gendis mencoba membangkitkan selera Danar.


"Hemmm,,wangi banget mas. Makan yaaaa" bujuk Gendis sambil memegang mangkuk makan Danar.


"Mual rasanya perutku" keluh Danar.


"Iya,,tapi mas harus makan" pinta Gendis lagi mengaduk pelan nasi lembut dan kuah soto,kemudian memberikan satu suapan kemulut Danar. Danar membuka mulutnya dan memaksa untuk menerima suapan itu kemudian mengunyah pelan.


"Gak ada rasanya Gendissss" keluh Danar manja.


"Mas,,iya aku tau mas tapi kalau mas gak mau makan nanti malah makin parah"Gendis mencoba membujuk Danar seperti membujuk anak kecil.


"Lima suap aja yaaa" pinta Gendis lagi memohon.


Danar mengangguk pelan.


Kembali Gendis menyuapi Danar dengan sabar karena Danar memang terlihat sangat tidak nafsu sekali untuk makan.

__ADS_1


wajah Danar terlihat menahan mual dan memerah.


"Udah,,gak bisa lagi" kata Danar kemudian meminta Gendis untuk berhenti menyuapinya.


Gendis pun akhirnya mengalah daripada dia paksa nanti akhirnya harus keluar lagi.


"Ya sudah " jawab Gendis sambil menaruh mangkuk dinampan,kemudian membantu Danar untuk minum air jeruk yang masih belum Danar habiskan.


Wajah Danar berkerut menahan rasa tidak nyaman yang sedang dia rasakan saat ini.


"Masih pusing?" tanya Gendis kemudian.


"Masih" jawab Danar pelan.


"Aku panggil dokter aja ya mas" pinta Gendis sedikit khawatir sambil menyiapkan obat sakit kepala buat Danar.


"Ini obatnya diminum" Gendis menyerahkan sebutir obat pada Danar. Danar menerimanya kemudian meminum obat itu dibantu oleh Gendis.


"Mas makan susah,trus sekarang sakit kepalanya,memang sudah harus panggil dokter mas"


"Mas pasti kecapean terus mikirin masalah kemarin,ehh malam gak makan kan,ya sudah akhirnya jadi penyakit"


"Ya sudah nanti panggilkan dokter keluargaku saja" kata Danar akhirnya.


"Minta tolong bik Rahmi telpon dokter Indri,suruh kemari" kata Danar lagi memberitahu.


"Oke aku kasih tau bibik dulu,gak apa apakan kalau aku tinggal kebawah sebentar?"


"Gak papa,kan aku lagi gak tidur" jawab Danar .


Gendis tersenyum kemudian berdiri dan keluar kamar Danar untuk menemui bik Rahmi.


"Bik Rahmi" panggil Gendis setelah berada diarea dapur.


"Bik mas Danar minta ditelponkan dokter Indri,minta tolong ya bik beritahu dokter kalau mas Danar sedang sakit" jelas Gendis pada bik Rahmi.


"Ohh baik mbak,saya telpon dokter ya sekarang" kata bik Rahmi sambil berjalan menuju kearah telpon rumah yang ada diruang tengah. .


Gendis menunggu sesaat bik Rahmi selesai menelpon.


Beberapa menit bik Rahmi mendatangi Gendis lagi yang masih belum beranjak dari dapur.


"Mbak Gendis Bu dokter datang nanti sore,soalnya sekarang masih ada praktek" jelas bik Rahmi.


"Oh iya bik,gak papa. Trimakasih ya bik" ucap Gendis kemudian kembali lagi kelantai atas menuju kamar Danar.


"Sudah mas,dan dokternya datang sore nanti. Soalnya sekarang sedang ada praktek" kata Gendis memberitahu setelah mendekat pada Danar.


"Iya,trimakasih ya" ucap Danar.


"iya,,sekarang istirahat aja lagi mas. Pucet banget wajah mas"


"Padahal demamnya sudah turun" kata Gendis sambil meraba kening Danar dan memastikan kalau demamnya sudah turun.


"Gendis,,maaf ya hari ini aku merepotkan kamu" ucap Danar tiba tiba.


"Kenapa minta maaf mas,sudah tugasku kok ini" jawab Gendis sembari tersenyum pada Danar.


*Istirahat aja,aku disini gak tinggalin mas,aku takut nanti mas teriak teriak lagi kalau aku pergi"


Wajah Danar memerah karena malu saat Gendis bicara itu.


"Iya,,maaff. Aku kalau sakit memang seperti ini,tingkahku bisa ngalahin anak kecil. Tapi bukan aku buat buat,aku memang seperti ini" kata Danar kemudian menjelaskan tentang dirinya saat dalam keadaan sakit.


"Dan itu kenapa mas,hal yang buat mas seperti orang trauma?"

__ADS_1


Danar tersenyum.


"Ohh,,,itu. bukan apa apa sih"


"Hemm,,,tapi mas setrauma itu Lo" kata Gendis lagi merasa kecewa karena Danar masih enggan bercerita.


"Gak lucu aja kalau diceritakan,aneh dan memalukan"


Gendis mengerutkan keningnya dan semakin penasaran karena Danar masih saja tidak mau bercerita.


"Apaan sih mas,malah bikin penasaran aja"


Danar tersenyum lagi dan sedikit geli entah apa yang dia ingat.


"Dulu itu,,,waktu aku kecil pernah sakit kan,aku lupa usia berapa,sepertinya waktu aku SMP. Ibu kan nemenin aku tidur,dan karena sudah malam,lampu kamar kan mati,kita memakai lampu redup aja" Danar mulai bercerita dan sedikit berhenti karena terdengar dia menahan tawa.


Gendis ikut tertawa meski gak tau apa yang lucu.


"Tiba tiba tengah malam aku terbangun dan aku masih dalam keadaan sakit,demam tapi gak terlalu tinggi,sudah agak reda demamnya. Dan spontan aku berteriak kencang karena melihat bayangan dari arah kamar mandi,kan kamar mandi juga udah didalam kamar waktu itu,beneran aku tidak sekenceng kencengnya,setelah itu ibu dekati aku,sambil goyang goyang tubuhku,nyadarkan gitu ceritanya"


"Ibu tanya kamu kenapa Danar,kamu kenapa?"


"Aku bilang,,aku liat bayangan didekat pintu kamar mandi,ehh ibu malah tertawa. Kata ibu bayangan apa,itu ibu,ibu habis dari toilet" cerita Danar panjang dan kembali dia tertawa setelah menceritakan hal yang membuatnya trauma.


"Astagaa massss,ibu mas kira hantu gitu?hahahahaha" tanya Gendis ikut tertawa juga.


"Iya,,karena saking takut dan kaget kan"


"Kasiannya ibu mas hahahaha"


"Nahhh hanya karena kejadian itu mas sampai trauma?" tanya Gendis heran dan merasa aneh.


"Yang buat aku trauma itu ditinggal itu Lo,keadaan sakit,kamar gelap,ehh ibu gak ada disebelah lagi,kan tadinya tidur disamping aku. ehhh las liat kearah kamar mandi malah lihat bayangan,sumpah kaget banget"


"Makanya aku kalau sakit itu rewel,gak mau ditinggal harus ditemani,terus kerasa kalau tiba tiba ditinggal" jelas Danar lagi.


"Nahh selama mas tinggal sendiri disini sebelum kita menikah,gimana kalau mas sakit?" tanya Gendis bingung.


"Ya ibu dipanggil kemari"


"jadi yang buat mas trauma itu,karena ditinggal ibu bukan karena takut lihat bayangan ibu yang mas kira hantu?" tanya Gendis lagi.


"Iya,,makanya kan kamu lihat gimana tadi kamu tinggalin aku sendiri,aku kerasa kalau kamu sudah gak ada didekatku*


"Emmmm,,,dasar aneh kamu mas" ledek Gendis kemudian.


"Iya,,,tapi semua itu berlaku kalau aku sakit aja ya,kalau enggak ya aman aja" jelas Danar kemudian.


"Ada ada aja sih? Hahahahaha,,," kata Gendis lagi masih dengan rasa anehnya melihat tingkah Danar yang sedikit lain itu.


"Ya sudah istirahat sekarang,sore nanti dokter datang"


"Udah puas dengar ceritaku tadi?" tanya Danar dan wajahnya sedikit cemberut.


"Heheheh,,,sudah mas,,lucuuuu yaa" ledek Gendis lagi.


Wajah Danar semakin tertekuk dan memerah lagi karena malu.


Kemudian Danar merebahkan tubuhnya lagi dan beristirahat.


"Lucu dan aneh" gumam Gendis pelan sambil matanya terus menatap wajah Danar yang sudah terlelap lagi.


Wajah tampan yang beberapa waktu lalu selalu membuatnya kesal,tapi sekarang sedang lemah tak berdaya,terlebih lagi ternyata punya sifat manja dan juga rasa trauma dimasa lalu yang aneh rasanya.


"Terungkap sudah apa yang buatmu trauma mas,hihihihi,,,,"gumam Gendis pelan sambil tertawa kecil.

__ADS_1


__ADS_2