
Usia kehamilan Gendis sudah memasuki trimester kedua. Rasa mual yang dia rasakan terutama dipagi hari mulai mereda. Tapi berganti menjadi masa mengidam.
Gendis juga semakin bersikap manja pada Danar,dan beruntung Danar sangat perhatian padanya.
Hari Minggu yang cerah,Danar libur bekerja,dan Gendis semakin merasa nyaman ada Danar disisinya.
"Kita mau jalan jalan?" tanya Danar lembut pada Gendis sambil membelai rambut Gendis. Gendis masih bermalas malasan diatas tempat tidur.
"emmm,,,kemana?"
"Terserah kamu mau kemana?"
"Paling banter main di mall" jawab Gendis sambil beringsut dari tidurannya.
"Hahaha,,,sayang kan aku bilang terserah kamu"
"Nanti saja ya,masih pengen baring baring nih" seru Gendis kemudian.
"Iyaa,,aku ikut saja" Danar menyetujui permintaan Gendis.
"Bersyukur banget mas,,rasa mual sudah menghilang,,tapi sekarang aku doyan makan Lo"
"Wahh bagus dong" jawab Danar.
"Kalau aku nanti berubah jadi gendut gak apa apa?"
"Hahahahahaha,," Danar tertawa lepas .
"Malah tertawa"
"Habisnya kamu mikirnya yang aneh aneh"
Danar membelai perut Gendis yang masih terlihat rata.
"Kapan ya perut kamu terlihat besar?"
"Kenapa?" tanya Gendis heran.
"Gak sabar aja sayang liat perut istriku ini membesar,,"jawab Danar.
"Oh iya,,nanti beli dress dress yang buat ibu hamil yaa" pinta Danar.
"Heem"
"Ya sudah bangun,,sarapan dan minum susu,setelah itu minum vitaminnya" seru Danar sambil berdiri dari tempat tidur dan membantu Gendis turun.
"Mas,,bisa masakkan?"
"Enggak,,kenapa sayang?"
"Mau makan makanan buatan mas"
"Hahhhhh,,sayang minta dimasakkin apa? lagian aku gak bisa masak,nanti kalau tidak enak gimana?"
"Cuman minta digorengin telur mata sapi tapi setengah matang,,pengen makan itu sama nasi hangat dan pakai kecap asin mas" pinta Gendis.
"Pengen mas yang goreng telur itu"
"Baiklah,,,bisa kok kalau cuman goreng telur" akhirnya Danar menuruti permintaan Gendis. Gendis tersenyum dan mereka berdua keluar dari kamar menuju kearah dapur.
Bik Rahmi dan bik Lina tampak sedang sibuk disana.
"Bik,,bisa saya minta tolong siapkan penggorengan dan telur"
"Buat apa den?" tanya bik Rahmi heran.
"Gendis pengen sarapan pakai telur mata sapi setengah matang,dan maunya saya yang buatkan" jelas Danar.
"Ohh baik den saya siapkan" jawab bik Rahmi dan bergegas menyiapkan apa yang diminta oleh Danar tadi.
"Sudah siap den"
"Oh iya trimakasih bik,,"
" Masukkan telurnya tunggu minyak panas dulu den,setelah itu telur dimasukkan" Bika Rahmi memberitahu Danar.
"Emm,,bagaimana caranya ya bik,,saya jadi nervous nih" Danar sedikit ragu.
bik Rahmi tersenyum,,kemudian memberi arahan pada Danar cara menggoreng telur.
"Sudah bik saya saja yang goreng,nanti kalau Gendis tau bibik yang buat bisa disuruh ngilang lagi saya"
__ADS_1
"Hehehe,,Aden bisa aja"
beberapa menit Danar selesai dan tampaknya berhasil membuat telur sesuai yang diminta oleh Gendis tadi.
Danar membawakan kemeja makan karena Gendis sedang menunggu disana.
"Sudah ya mas?" tanya Gendis senang,wajahnya terlihat berbinar sekali,seperti anak kecil yang sendang mendapatkan hadiah. Danar geleng geleng kepala melihat tingkah istrinya itu.
"Iyaa,,semoga gak salah yaa" jawab Danar sedikit degdegkan.
Gendis menatap Danar tersenyum.
"Iyaa,semoga saja" jawab Gendis kemudian.
"Kalau gagal gimana?"
"Yaaa terpaksa mas buat lagi,,sampai berhasil"
"Hahhhhh,,,".
Gendis tersenyum lagi dan mulai menyantap makanan yang dia minta tadi.
"Hemmmm,,,enakkk massss" seru Gendis senang.
Danar terbengong,,merasa aneh dengan tingkah Gendis yang begitu memuji telur goreng buatannya.
"Enakkk,,hhhhh rasanya tuuu nikmaaattt banget"
"Masa sih?" tanya Danar gak percaya.
"Iya mas bener".
"Padahal cuman telur goreng biasa,,dan aku juga barusan belajar buat"
"Tapi kalau buatnya pakai rasa,,sudah pasti meresap ketelur ini mas"
"Tapi tadi aku gak pakai apa apa Lo,,gak pakai bumbu apapun,,tuh cuman aku tuangin kecap asin sesuai permintaanmu"
"Ahh mas ini gak paham,,enggak peka" Gendis merajuk.
"Lohh tidak peka bagaimana? Kamu bilang tadi kalau buatnya pakai rasa sudah pasti meresap ketelur itu. Nahh apanya yang meresap sayang,,kalau aku tidak memberikan bumbu apapun didalamnya"
"Mas,,," Gendis merajuk lagi.
"Tapi syukurlah kalau enak sayang dan kamu suka"
Gendis semakin memandang wajah Danar kesal,,karena Danar malah semakin tidak peka.
"Sayang kenapa sih,kok malah kesal gitu?"
"Jadi gak selera kan" seru Gendis.
"Kenapa sayang,harus dimakan dan dihabiskan,biar kamu sehat,,ingat jaga kesehatan dan juga bayi kita harus cukup asupan makan dan gizinya" Danar mulai menceramahi Gendis,karena Danar paling tidak suka Gendis malas malasan makan padahal mau saja makan.
Gendis diam tapi menuruti perintah Danar dan menghabiskan makanannya.
Danar juga sarapan karena bik rahmi sudah selesai membuatkan sarapan untuknya.
"Mandi yaa,,setelah itu kita bersiap siap" Danar meminta Gendis untuk bersiap siap.
Gendis hanya mengangguk dan masuk kedalam kamar.
Danar tersenyum melihat Gendis yang merajuk itu.
bukan Danar tidak peka,tapi dia sengaja ingin menggoda Gendis.
Tapi Danar juga sedikit tidak percaya,masa iya hanya goreng telur kalau buatnya pakai rasa cinta bisa senikmat itu. atau memang bawaan hamil,dan karena nafsu makan Gendis yang terbilang bagus itu,tidak cerewet,tidak memilih makanan,atau Gendis hanya merasa tidak enak saja padanya kalau bilang telur itu tidak enak.
📎📎📎
Danar dan Gendis sudah berada diperjalanan yang lumayan lengang itu.
Danar ingin mengajak Gendis berbelanja pakaian khusus ibu hamil,dan ingin juga membelikan Gendis perhiasan.
Danar belum pernah membelikan Gendis perhiasan sekalipun.
Dan karena hatinya kini semakin memiliki rasa sayang yang begitu besar pada Gendis,dan sangat ingin membuatnya bahagia,baginya itu adalah sebuah keharusan.
dulu saat berpacaran dengan Lalita saja dia selalu membahagiakan Lalita dengan barang barang mewah dan juga perhiasan mahal.
sekarang karena hatinya sudah tertambat dihati Gendis sudah waktunya Danar membuat Gendis bahagia,bahagia dalam segala hal,dan Danar ingin membuktikan pada Gendis kalau dia menyayangi Gendis dan dihatinya juga mulai tumbuh benih benih cinta pada Gendis.
__ADS_1
mereka sampai disebuah mall yang besar dan terkenal dikotanya.
Danar menggandeng Gendis masuk kedalam dan langsung mengajak Gendis ketoko perhiasan.
Gendis menatap Danar saat sadar Danar membawanya ketoko perhiasan.
"Mas,,,ngapain kesini?" tanya Gendis heran.
"Beli perhiasan buat kamu" jawab Danar dan menggandeng masuk tidak ingin menbiarkan Gendis berlama lama bengong didepan pintu.
pelayan datang menyapa,dan mempersilahkan Danar dan Gendis untuk memilih milih.
"Pilih saja yang kamu suka,,semua yang kamu suka"
Gendis menatap Danar lagi,meras heran dengan perkataan Danar.
"kenapa?,,pilihkan sayang semua yang kamu suka" seru Danar lembut.
Gendis masih merasa bingung dan tetap diam saja.
Danar akhirnya memanggil pelayan untuk membantu Gendis memilih,dan Danar memberitahu untuk memulihkan set perhiasan lengkap untuk istrinya itu.
sang pelayan tersenyum dan mengikuti perintah Danar.
pelayan mulai mencarikan set perhiasan yang cocok untuk Gendis. Dan lagi lagi Gendis hanya diam dan menuruti saja apa kata pelayan.
Danar tersenyum melihat Gendis yang terlihat tidak biasa itu,entahlah apa Gendis belum pernah membeli perhiasan atau dia sungkan pada dirinya.
"Kamu memang berbeda Gendis dengan Lalita,kamu istriku,,,tapi kamu tidak memanfaatkan diriku,,entahlah kalau kita sudah benar benar menjalankan rumah tangga ini,apakah kamu masih seperti itu? tapi walaupun kamu seperti itu,,aku tidak merasa keberatan,,karena kamu istriku,,istri yang aku sayangi,dan aku ci,,," Danar sedikit kelu,,,
"Mas,sudah selesai" tiba tiba Gendis mengejutkannya.
"Oh yaa,,,kamu suka?"
"Iya,,emm trimakasih mas,,ini terlalu mewah mas sebenarnya" jawab Gendis dan sedikit merasa tidak enak.
Danar mengacak kepala Gendis gemas.
"Apa sih yang tidak buatmu" ujar Danar.
"Sebentar aku bayar yaa" Danar melangkah menuju kelakuan tadi dan menyerahkan kartu debitnya.
selesai itu Danar membawa Gendis ke toko pakaian dan Kemabli meminta Gendis untuk memilih pakaian yang dia suka.
"pilih yaa yang kamu suka,,dan aku suka lihat kamu pakai dress"
Gendis tersenyum malu,kemudian masuk dan memilih milih dress yang bisa dipakai oleh ibu hamil.
Akhirnya Gendis selesai memilih beberapa dress yang dia suka dan juga Danar pilihkan.
Selesai membayar Gendis mengeluh lapar pada Danar.
"mas aku lapar" seru Gendis malu malu.
Danar tertawa pelan kemudian membawa Gendis menuju ke stand makanan.
Gendis memilih makanan stok daging dan juga bakso,,
"Maaf mass,,aku kalap dan kelaparan,jadi aku pesan dua makanan" Gendis memberitahu Danar tanpa rasa sungkan.
"Hahaha,,,ya gak apa apa sayang,,,aku suka kamu mau makan apa saja,,"
"Mana aku pilih makanan yang berdaging semua lagi,,biar dedeknya sehat mass,," jelas Gendis kemudian dan beralibi.
"Iya sayangg,,,,pokoknya dedeknya sama momnya sehat"
Gendis tersenyum malu.
Saat asyik makan dan berbincang tanpa sengaja mata Danar melihat keujung meja yang bersebrangan dengan meja tempatnya makan. Danar melihat Lalita dan Cakra yang sedang makan disana.
"Lalita mengenal Cakra?" gumam Danar pelan.
"Kenapa mas?"
"Ehh enggak,,," jawab Danar menutupi,,dan Danar sengaja tidak ingin Gendis tahu dengan apa yang barusan dia lihat tadi.
Danar terus menatap kearah dua orang itu yang sepertinya tidak menyadari kalau dia dan Gendis ada ditempat ini juga.
"Ada apa dengan mereka? Apa mereka saling kenal? " tanya Danar dalam hati.
"Aku harus selidiki mereka berdua"
__ADS_1
Danar kembali melanjutkan makannya dan bersikap setengah mungkin agar Gendis tidak curiga.