
Gendis berbaring dikamar sedang Danar berada diruang tivi. Sejak kejadian tadi siang Gendis sengaja mengurung diri dikamar.
"Seandainya aku memilih pergi,yang aku pikirkan adalah orang tuaku dan orang tua mas Danar"
"Orang tua mas Danar begitu menyayangiku,dan aku juga gak ingin mengecewakan kedua orang tuaku"
"Tapi seandainya aku bercerita yang sesungguhnya sudah pasti mereka akan murka pada Danar,dan mereka pasti membelaku"
"Gendis hanya tidak ingin mengecewakan mereka,tidak apa apa dia tidak bahagia asal kedua orang tuanya,dan juga mertuanya bahagia"
Terdengar ketukan pintu dari luar,itu pasti Danar.
Dengan enggan Gendis membuka pintu kamar,dan mendapati Danar yang berdiri diambang pintu.
"Kita keluar,makan diluar" seru Danar memberitahu.
"Sekarang?"
"Kapan lagi?"
"Tunggu,aku ganti baju dulu"jawab Gendis kemudian menutup pintu kembali dan bergegas berganti pakaian.
Dan beberapa saat kemudian mereka sudah berada diperjalanan menuju restoran mewah.
setelah mencari tempat duduk mereka memesan makanan.
Gendis dan Danar saling diam sambil menunggu pesanan datang. Gendis juga tidak ingin berbincang dengan Danar..
Tiba tiba saja ada seseorang menghampiri Gendis dan menyapa Gendis.
"Hai,,,kamu Gendis kan?" tanya seorang lelaki tampan berusia kurang lebih dengan Gendis.
Gendis termangu dan tidak menjawab pertanyaan dari lelaki yang sedang tersenyum padanya itu.
"Kamu lupa sama aku?"
"Ahh kenapa bisa lupa?"
Gendis mengerutkan keningnya dan mencoba mengingat ingat siapa dia.
Gendis mencoba coba terus mengingat wajah itu,yang sebenarnya tidak asing.
"Baru juga beberapa tahun,belum lama udah lupa aja" si lelaki itu terus saja mengoceh dan lahirnya membuat Gendis sulit untuk mengingat siapa dia.
"Belum 5 tahun kita berpisah,sudah lupa,,kita teman satu sekolah,kita pernah sekelas dikelas satu"
Gendis tersenyum karena akhirnya berhasil mengingat siapa lelaki yang sedang ada dihadapannya ini,dan terus berusaha mengembalikan ingatannya tentang dimasa lalu.
"Cakra,,,? Yaaa aku ingat,kamu Cakra" jawab Gendis akhirnya dan mengingat dengan sukses siapa nama lelaki itu.
"Nahhh,akhirnya ingat juga"
"Gak nyangka ketemu kamu disini,,,apa kabarmu?" tanya Cakra kemudian sambil mengulurkan tangan pada Gendis untuk bersalaman. Gendis membalas uluran tangan Cakra.
"Kabarku baik,,dan kamu sendiri gimana?"
"Baik juga,,"
__ADS_1
kemudian Cakra menoleh kada Danar dan tersenyum.
"Siapa dia Gendis?" tanya Cakra pada Gendis
"Saya Danar,,,saya suami Gendis" tiba tiba Danar yang menjawab pertanyaan Cakra tadi.
Cakra kembali menoleh pada Danar dan lekas mengulurkan tangannya juga untuk berkenalan pada Danar.
"ohhhh,,,yaa salam kenal,saya Cakra dulu teman satu SMA sama Gendis" jelas Cakra.
Danar hanya diam kemudian melepaskan genggaman tangan Cakra
"Haii,,kamu liburan disini ya?" tanya Cakra lagi pada Gendis.
"Yaa,,"
"Oke,,,kalau gitu aku permisi dulu,dan selamat menikmati makan malam kalian" tiba tiba saja Cakra memohon pamit pada Gendis dan Danar.
Gendis hanya tersenyum dan membiarkan Cakra pergi dari hadapan mereka berdua.
Gendis dan Danar melanjutkan lagi makan mereka. Dan Gendis merasa sedari tadi Danar menatapnya tajam..Gendis jadi merasa tidak nyaman dengan tatapan Danar itu.
Selesai makan Danar langsung saja mengajak Gendis pulang ke villa. Sepanjang perjalanan mereka saling diam,tapi kali ini suasana sangat berbeda,ada ketegangan didalamnya.
Gendis malas menyimpulkan apa yang terjadi tapi yang jelas Gendis merasa kalau Danar tidak suka dengan kehadiran Cakra tadi.
sampai di villa Gendis langsung saja kekamar untuk berganti pakaian,dia ingin segera tidur dan istirahat.
Tapi tiba tiba Danar menyeruak pintu dan masuk kedalam kamar,Gendis terkejut melihat sikap Danar yang keterlaluan.
"Apa sih mas?" tanya Gendis kesal sambil menggulung rambut panjangnya keatas.
"Kamu cuekin aku saat makan malam tadi hanya gara gara laki laki tadi" tuding Danar dan benar benar Danar ini hanyalah perkara yang sengaja Danar buat.
"Cuek? Cuek apa? Lagian kita dari berangkat menuju kerestoran itu juga saling diam kan,gak ada pembicaraan sama sekali,dan apa pasal mas bilang aku cuekin mas?"
"Siapa dia,,tidak punya sopan santun,mengganggu privasi orang lain"
"Mas terganggu?"
"Sangat"
"Yaa sudah aku minta maaf mas"
"Kenapa harus kamu yang meminta maaf?"
"Kalau mas ingin dia yang meminta maaf,gimana caranya,aku gak tau dia ada dimana,dan bertemu juga kebetulan" jelas Gendis dengan santai.
Wajah Danar semakin memerah menahan kesal dan emosinya.
"Gak usah marah bisa gak mas,kamu kalau sama aku selalu bawaannya emosi,aku salah apa jis sih?" tanya Gendis kesal.
"Aku tanya tadi,siapa dia?"tanya Danar lagi
"Penting buat kamu untuk tau siapa dia?"
"Enggak,,"
__ADS_1
"Ya sudah gak perlu aku jelaskan siapa dia".
"Aku hanya gak suka dengan sikap tidak punya sopan santunnya itu,tanpa permisi tiba tiba langsung saja menyapa kamu"
"Hemmm,,,yaa maaf kalau dia membuat mas merasa tersinggung" ucap Gendis lagi.
"Ya,,aku kesal,seharusnya setelah makan malam tadi kita masih bisa jalan jalan dulu di taman kota. tapi moodku sudah hilang"
"Kenapa juga mas mikirkan hal itu,hanya masalah itu bisa merusak mood?"
"Apalagi tadi dia gak berlama lama menyapaku"
"Apa dia teman sekolahmu?"
"Lohh katanya enggak penting? Kenapa masih bertanya soal dia?" tanya Gendis.
"Apa salahnya aku ingin tau dia" jelhas Danar kemudian.
"Hemmm,,,,aneh,,kepo juga ternyata" gumam Gendis pelan.
"Kamu bilang apa tadi?" tanya Danar geram dan menatap tajam pada Gendis.
Gendis balas menatap Danar tapi berusaha bersikap santai.
"Dia namanya Cakra,,teman masa SMA, dulu saat di kelas 1 SMA kita pernah ada di kelas yang sama,setelah itu kita tidak pernah satu kelas lagi" jelas Gendis kemudian.
"Setelah lulus ya tidak pernah bertemu lagi,sampai tadi dia menyapaku,itu saja aku lupa dia itu siapa"
"Apa ada hubungan spesial sewaktu SMA dulu?" tanya Danar menyelidik,membuat Gendis ingin tertawa,sekepo itu ternyata Danar.
"Spesial? Menurut mas spesial gak kalau tadi saja aku lupa dengan dia?" Gendis malah balik bertanya.
Danar melengos seperti kesal mendapat jawaban seperti itu dari Gendis.
"Atau kamu hanya pura pura lupa?" Danar malah menuding Gendis.
"Atas dasar apa aku pura pura lupa?"
"Mungkin kamu tidak enak karena ada aku disitu,bukan tidak enak,,,tapi sepertinya kamu hanya malu mengakui dia itu siapa?"
"Mulai ke mana mana nih arah pembicaraan,dan mulai menuduh" seru Gendis kesal pada Danar.
"Mas kalau tidak tau apa apa mending diem,gak usah berprasangka yang bukan bukan,tadi mas gak mau tau soal dia,katanya enggak penting,tapi masih saja kepo mengorek ngorek dan ingin tau tentang dia,setelah aku jelaskan mas malah cari perkara" seru Gendis dan mulai kesal pada Danar yang terus saja seenaknya pada dirinya.
"Mas itu kenapa sih? apa cemburu? Bilang aja mas kalau iya,jangan nuduh nuduh orang sembarangan"
"Aku gak cemburu,aku hanya kesal dengan dia"
"Yaa sudah,aku sudah minta maaf kan tadi atas perlakuan dia"
Mata Danar terus menatap tajam pada Gendis,membuat Gendis semakin kesal. Danar selalu bersikap seperti itu,selalu menatap tajam seolah olah dirinya punya salah yang besar pada Danar.
Gendis benci sekali dengan sikap Danar ini.
"Massss,gak usah tatap aku seperti itu,aku ini punya salah apa sama kamu? Sampai kamu perlakukan aku seperti itu,selalu menatapku dengan tajam dan penuh amarah"
"Jangan buat aku malah membencimu mas,dan malah akan ku hancurkan sekalian rencanamu itu" ancam Gendis tiba tiba. Hatinya benar benar marah pada Danar.
__ADS_1
"Jahat kamu mas sama aku,," ucap Gendis lagi dan pergi meninggalkan Danar menuju kekamar.
Lagi lagi harus sakit hati dengan sikap Danar yang semakin tidak masuk akal,seenak enaknya menuduhnya.