
Gendis meringkukkan tubuhnya dikasur,memakai selimut hingga sampai menutup bahu.
Gendis benar benar ingin sendiri,dan tidak ingin bertemu dengan kedua orang tuanya. berharap Danar bisa merangkai alasan agar bisa mencegah orang tuanya datang kekamar ini.
Saat ini Gendis sangat marah sekali,andai dia bisa menghajar Danar ingin rasanya di memukuli laki laki itu.
Biar kalem dan pendiam sebenarnya Gendis termasuk orang barbar,dia gak segan berlaku kasar pada orang yang sudah menyakitinya.
Tapi saat ini Gendis hanya menahan diri,dia masih bisa menghadapi perlakuan Danar.
Benar benar Danar gak punya hati,bisa bisanya seenaknya mau ikut tidur dirumah ini.
Terdengar pintu kamar terbuka dan ditutup kembali,Gendis gak ingin tahu sama sekali siapa yang datang.
"Kamu masih nangis?" tiba tiba terdengar suara yang gak lain adalah suara Danar bertanya hal seperti itu. Semakinlah Gendis meradang.
Gak ingin sebenarnya Gendis menangis,hanya akan membuatnya terlihat lemah dihadapan Danar. Tapi hatinya terlalu sakit dan marah,dan hanya dengan menangis Gendis bisa meluapkan perasaannya.
"Tenang,,aku disini gak akan mengganggumu,aku cukup tau diri"
"Apa maksudmu?"
"Aku juga gak mengharapkan kehadiranmu disini" kata Gendis ketus,semakin kesal mendengar kata kata Danar yang memang tanpa perasaan itu.
"Tapi aku ingin disini"
"Buat apa? Memang kamu gak akan mengganggumu,tapi tetap saja aku merasa gak nyaman"
"Kenapa harus tidak nyaman? Aku bilang aku gak akan mengganggumu atau mengusikmu,bersikaplah kita ini seperti layaknya suami istri" jelas Danar.
Gendis meradang mendengar perkataan Danar kemudian segera bangun dari tidurnya dan duduk menghadap Danar.
"Apaaaaaa?" tanya Gendis sedikit keras tapi dia berusaha menenangkan dirinya setelah tersadar saat ini dia berada dimana.
"Bisa yaa kamu berperan ganda seperti itu?,lagian juga gak perlu sampai menyusulku kemari hanya untuk bermain peran. Tunggu saja saat orang tuaku sekali kali berkunjung ke rumahmu,kamu bisa memakai peranmu disana"
"Ya,,,tidak apa apa kalau aku memerankannya juga disini,biar orang tuamu semakin yakin kalau aku suami yang baik untukmu" jelas Danar tanpa ada rasa malunya.
"Memang niatmu itu untuk menyiksaku,menyiksa hatiku,gak suka liat aku damai disini"
"Hahahaha,,,kamu berpikiran terlalu buruk"
"Memang seperti itu kenyataannya,gak usah berkelit"
"Baiklah,,"
__ADS_1
Pintu kamar diketuk dari luar dan Gendis menghentikan omelannya pada Danar. Danar berjalan kearah pintu dan membukanya. Ternyata ibu yang sedang berdiri diambang pintu membawa nampan berisi makanan.
"Ini makan malam Gendis,nak Danar paksa makan ya,jangan sampai gak makan,takutnya malah makin sakit Gendis" terdengar suara ibu meminta Danar untuk menyuruh Gendis makan,dan suara itu terdengar khawatir.
"Iya Bu,trimakasih" ucap Danar sambil menerima nampan itu. Ibu tidak masuk kedalam kamar,mungkin ibu merasa tidak enak dan sengaja membiarkan Gendis ditemani oleh Danar saja.
Danar membawa nampan dan menaruh diatas meja,kemudian kembali untuk menutup pintu.
"Makanlah,," perintah Danar.
"Aku enggak lapar"
"Dimana mana sama saja,selalu membantah"
Gendis menatap tajam Danar.
"Membantah bagaimana sih? Aku hanya menjawab"
"Sama saja,aku kan memerintah kamu,menyuruhmu makan"
"Aduhhh massss,panjang lagi. Sudah cukup,,pening kepalaku mas" keluh Gendis dan meminta Danar untuk diam.
"Iya nanti aku makan kalau sudah terasa lapar"
"Bagus,,,aku hanya gak ingin kamu malah semakin sakit"
"Bukan sok perhatian,tapi aku sedang berpikir tentang kita dimasa depan"
"Maksudnya?" tanya Gendis heran.
Danar menatap Gendis lekat..
"Aku sudah memutuskan,kalau aku ingin punya anak" jawab Danar dan jawaban itu membuat Gendis terkesiap,sungguh Gendis merasa terkejut luar biasa. Matanya tajam menapa danar.
"Bukan sama aku tapi kan mas?" tanya Gendis buru buru,berusaha menenangkan hatinya,meski dia tau pertanyaan itu konyol dan bukan dia tidak tahu gimana orang tua Danar sangat menginginkan dirinya hamil,sebagai pembuktian kalau rumah tangga yang mereka jalani ini memang bukan main main.
"Lantas sama siapa kalau bukan sama kamu,kamu tau kan orang tuaku berharap kamu hamil"
"Makanya aku mau kamu sehat"
"Kamu mau aku sehat? Lantas gimana dirimu selama ini memperlakukanku?"
Danar terdiam mendengar kalimat itu. Entah apa yang ada dipikirannya.
"Aku gak mau mas,,aku gak siap? lagian kamu mau punya anak dariku karena kamu masih belum mencapai tujuanmu,,kalau soal menikah denganmu kemarin oke aku masih mau,aku bantu kamu,setelah itu kita bercerai".
__ADS_1
"Tapi kalau punya anak,,sungguh pikiran jahat sekali mas,,,punya anak demi nafsumu dengan harta"
"Kira bercerai aja mas,,,kamu cari perempuan lain saja yaaa,jangan aku" mohon Gendis tiba tiba.
"Enak saja,aku itu sudah sangat beruntung saat mengenalkan kamu orang tuaku langsung menerima tanpa protes atau embel embel lainnya,dikira gampang cari istri" Danar menolak permintaan Gendis.
"Aku ingin kamu hamil anakku,dan itu juga karena orang tuaku sangat mendukung"
Gendis bergidik mendengar permintaan Danar yang diucapkannya lagi.
Gendis takut membayangkan apa yang akan terjadi nanti.
Ahh,,harus hamil anak Danar,laki laki jahat dan serakah ini..
"Besok kita bertemu dokter obgyn,aku sudah buat janji dengannya"
"Massssss,,," seru Gendis gak menyangka Danar benar benar bertindak semaunya,tanpa bicara dan diskusi terlebih dulu dengannya.
"Aku ingin kita mengecek keadaan kita berdua,apakah kita berdua subur,kesehatan kita bagus,dan apakah sudah tepat waktunya untuk program kehamilan" jelas Danar lagi tidak perduli dengan protesnya Gendis.
Gendis hanya diam,dan meratapi nasibnya uang baginya sangat tidak beruntung ini.
Kalau saja program kehamilan tapi dengan orang yang dicintai pasti Gendis sudah lakukan dari awal menikah.
Tapi harus dengan laki laki yang tidak dia cintai,begitu juga dengan Danar yang tidak pernah mencintainya,bagaimana dia bisa menuruti permintaan itu..
"Kamu gak bisa mengambil keputusan seenaknya mas,kamu belum mendapat persetujuanku"
"Ikuti apa yang aku perintahkan"
"Mass,janganlah bawa bawa ini atas kemauan orang tua. percuma mas aku hamil tapi hatiku gak bahagia" Gendis berusaha terus membuat alasan agar Danar membatalkan niatnya.
"Kamu gak usah khawatir soal itu,belum tentu apa yang kamu pikirkan saat ini terjadi"
"Aku belum siap mas"
"Sampai kapan aku harus menunggumu siap? Kapan kamu akan siap? Dan lagi orang tuaku sudah curiga dengan kita,hanya ini satu satunya cara untuk membuktikan kalau pernikahan kita itu berdasarkan rasa cinta" jelas Danar lagi berusaha meyakinkan Gendis.
"Rasanya gak adil banget,semua ini hanya karena hawa nafsumu mas,aku yang harus menerima"keluh Gendis lagi dan merebahkan tubuhnya dikasur,menutupkan selimut sampai keatas dada,kemudian merubah posisi membelakangi Danar.
"Makan Gendis,,," Danar mengingatkan Gendis.
"Aku gak lapar"
"Keras kepala"
__ADS_1
Gendis hanya diam,air matanya kembali jatuh. Gendis kembali merasakan kesedihan,hidup ini sangat tidak adil untuknya.