
Gendis melompat dari kasur dan sangat terkejut karena melihat ada Danar tidur disampingnya. Sesaat dia mengerjap ngerjapkan matanya memastikan kalau itu memang Danar.
"Semalam mas Danar tidur disini?" tanya Gendis dalam hati.
Tapi sesaat Gendis beranjak dari kasur,dia ingin sholat subuh karena sudah terdengar adzan dari masjid..
Gendis mengambil air wudhu kemudian masuk kembali kedalam kamar. Dilihat Danar masih tertidur.
Gendis penasaran sejak kapan Danar tidur di kamar ini.
Tapi nanti saja hal itu dia tanyakan. Gendis pun melaksanakan sholat.
Beberapa menit Gendis selesai,dilipat kembali mukena dan sajadahnya dan dia simpan didalam lemari.
Gendis pergi keluar kamar,menuju langsung kedapur karena ibunya sedang sibuk disana.
Ibu apa sudah enakan,biar Gendis aja Bu yang kerjain" tanya Gendis pada ibunya.
"Sudah Gendis,ibu sudah enakan,sudah sehat" jelas ibunya.
"Oh ya Bu,kok ada mas Danar di kamarku?" tanya Gendis lagi.
Ibu mengerutkan keningnya.
"Kenapa kalau dia tidur di kamarmu? Danar kan suami kamu?" ibu malah balik bertanya.
"Ehh maksud aku,jam berapa mas Danar datang!" tanya Gendis lagi sedikit gugup.
"Sudah malam banget,dan mau jemput kamu.Kata ayah kamu sudah tidur. Enggak tega ibu kalau kamu di bangunkan,jadi ibu suruh saja tidur di sini" jelas ibu.
"Aku kira malah gak jadi jemput"
"Dateng tapi memang sudah malam banget sampai sini"
"Bangunkan dia,kan harus ke kantor "perintah ibu.
"Ya,,," jawab Gendis singkat kemudian berlalu meninggalkan ibunya masuk lagi ke dalam kamarnya.
Gendis membuka pintu kamarnya perlahan,dan ternyata Danar sudah duduk ditepi ranjang.
"Ohh sudah bangun,barusan mau aku bangunkan" kata Gendis.
"Iya,,kita harus pulang pagi ini ke rumah,,aku gak bawa pakaian kerja" jawab Danar.
"Ohh,,,iya tapi sarapan dulu mas" jelas Gendis.
"Gak usah aja,takut gak sempat"
"Sempat mas,masih pagi,mas berangkat kerja jam delapan kan,perjalanan dari sini ke rumah juga gak terlalu jauh"
Danar gak mengindahkan kata kata Gendis. Dia pergi meninggalkan Gendis untuk mandi.
Beberapa menit Danar selesai dan kembali ke kamar dengan pakaian kantornya yang kemarin dia pakai lagi.
"Yuk pulang,," kata Danar kemudian.
"Ya sudah,aku bilang ibu dan ayah dulu" jawab Gendis akhirnya.
__ADS_1
Gendis keluar dari kamar kemudian mendatangi ibunya lagi yang masih sibuk didapur menyiapkan sarapan untuk mereka.
"Ibu mas Danar mengajakku pulang sekarang"
"Looo,,gak sarapan dulu,ini sebentar lagi selesai" tanya ibu bingung.
"Gak sempat katanya Bu" jawab Gendis.
"O alahh,ya sudahlah kalau gitu" sambil mematikan kompor.
Gendis melangkah keluar diikuti oleh ibunya,dan Danar sudah menunggu di ruang tengah bersama ayah mertuanya.
"Anak anak mau pulang sekarang yah" ibu memberitahu suaminya.
"Iya Bu,," jawab ayah yang juga sudah tahu karena mungkin tadi Danar sudah memberitahu.
"Iya Bu,maaf saya gak bawa baju ganti ke kantor jadi harus pulang sekarang" jelas Danar.
"Iya nak gak apa apa" kata ibu.
Keduanya kemudian menyalami kedua orang tua mereka dan berpamitan.
Beberapa menit kemudian mereka sudah berada di jalanan yang masih lengang karena memang masih pagi sekali.
"Mas jam berapa semalam ke rumah?" tanya Gendis memecah keheningan.
"Lupa aku,, gak lihat jam. Pokoknya susah malam" jawab Danar.
"Memangnya mas ke mana dulu? Ayah saja sore sudah di rumah" tanya Gendis lagi menyelidik.
"Aku harus jemput Lalita dulu"
"Kenapa? Gak boleh?" tanya Danar
"Boleh,,,dia kan pacar kamu jadi harus di utamakan" jawab Gendis menyindir.
"Satu lagi,dia yang pertama hadir dihidupku sebelum kamu" Danar mengingatkan.
"Iya iya,tau mas"
Akhirnya mereka sampai di rumah. Gendis langsung masuk kedalam kamarnya dan berganti pakaian. Setelah itu keluar lagi menuju dapur.
Para asisten sedang sibuk membuat sarapan.
"Bibik belum buat minum buat mas Danar kan?" tanya Gendis pada bik Rahmi.
"Belum mbak" jawab bik Rahmi.
"Oh iya,saya saja yang buat dan hari ini mas Danar minum kopi ya?" tanya Gendis lagi sambil menyiapkan cangkir dan juga piring kecil.
"Iya mbak" jawab bik Rahmi sambil membantu Gendis mengambilkan kopi yang biasa Danar minum.
"Kopinya dua sendok teh,dan gulanya setengah sendok teh saja mbak"
"Oh iya bik,trimakasih" ucap Gendis sambil menuang kopi sesuai takaran yang bibik Rahmi beritahu tadi kedalam cangkir. Setelah itu menuang air panas yang juga sudah bibik Rahmi masakkan dan mengaduknya perlahan.
Gendis membawa minuman itu ke ruang makan dan menaruhnya di atas meja.
__ADS_1
Danar terlihat turun dari tangga dengan sudah berpakaian rapi.
Danar menghampiri Gendis yang duduk di ruang makan dan bersiap sarapan.
"Mas siang ini mau aku antarin makan siang?" tanya Gendis.
"Gak usah,siang ini aku ada janji dengan Lalita,kasian beberapa kali aku batalin janji terus sama dia" jawab Danar.
Gendis terdiam mendengar penjelasan Danar.
Masih tentang Lalita yang ada dipikiran Danar.
"Ohh,,ya sudah mas"
Danar mulai menikmati sarapannya tanpa menawarkan pada Gendis,mata Danar selalu tertuju pada ponselnya.
"Oh iyaa,siang ini aku mau keluar,boleh?" Gendis meminta ijin.
"Mau kemana?" tanya Danar.
"Jalan jalan di mall,aku jenuh mas"
"Oh,,,ya sudah nanti kirimkan nomor rekening kamu"
"Bhat apa mas?" tanya Gendis heran.
Danar menatap Gendis sesaat.
"Transfer uang buat kamu" jawab Danar.
"Aku masih punya uang mas".
"Kamu uang darimana? Kamu kan gak kerja" tanya Danar bingung.
"Setiap bulan ayah selalu memberiku jatah,dan aku jarang sekali menggunakannya,aku kurang suka belanja mas,jadi ya aku tabung aja" jelas Gendis.
"Tapi sejak kamu sudah menjadi istriku,gak mungkin kan ayahmu masih memberimu jatah? Dan lagian aku sudah bilang,aku akan tetap menafkahimu,aku akan tetap memberikan uang untuk kebutuhanmu" jelas Danar juga.
"Eemmm iya mas,nanti aku kirimkan" akhirnya Gendis mengalah.
"Ya sudah aku berangkat dulu" pamit Danar sambil berdiri dari kursi makannya.
"Mass,kopinya belum diminum" Gendis mengingatkan.
Danar langsung saja menyambar gelas kopi itu dan menyeruputnya sedikit. Kemudian ingin berlalu lagi meninggalkan Gendis.
"Masss,,"lagi lagi Gendis memanggil Danar membuat Danar tidak jadi lagi melangkah.
"Ada apa lagi sih?" tanya Danar dan wajahnya mulai terlihat kesal.
Gendis langsung saja mengulurkan tangan kanannya pada Danar,tanda ingin menyalimi Danar sebelum berangkat kerja.
Wajah Danar masih saja terlihat kesal walaupun dia menyambut uluran tangan Gendis dan membiarkan Gendis mencium punggung tangan kanannya itu.
"Harusnya Lalita yang seperti ini" gerutu Danar tetapi Gendis masih bisa mendengarnya.
Kemudian Danar benar benar berlalu dari hadapan Gendis tanpa kata kata.
__ADS_1
Sakit? Marah? Kecewa? Entahlah apa yang Gendis rasakan saat Danar mengatakan itu.