
"Masss kok tadi bohong sama dia? Bukannya mas harusnya senang dia mau jaga dan urus mas disini?" tanya Gendis kemudian sambil mendekat pada Danar.
"Bukannya kamu yang senang,kamu bisa pulang dan istirahat dirumah"
"Andai mas gak cerita bohong bisa jadi sekarang aku sedang istirahat dirumah" jawab Gendis jujur.
Danar tersenyum.
"Dan motif mas apa sampai berbohong seperti itu?"
"Motifnya ya supaya dia gak usah jaga aku disini?"
"Kenapa?"
"Aku mau kamu yang urus aku" jawab Danar tegas.
"Mungkin bener kata dia tadi,yang sebut aku ini hanyalah istri yang hanya dijadikan pembantu,memang sudah jadi tugasku,sedang mas gak tega buat suruh dia,mas takut kecantikan dia hilang" kata Gendis dengan nada yang sedikit memendam rasa kecewa.
"Ehhhh kenapa mulut kamu bisa bicara begitu? Terpengaruh sama kata kata Lalita? Percaya sama kata kata dia?" tanya Danar dan terlihat gak suka dengan kata kata Gendis tadi.
"Lagian kamu ini aneh,,diajak kerjasama kok susah,malah seolah olah apa yang aku jelaskan ke Lalita tadi itu adalah hal yang nyata,,emang kamu pernah aku suruh bersihkan kalau aku buang air?" jelas Danar lagi masih dengan nada kesal.
"Yaaa kalau memang itu sudah tugasku sebagai istri yang harus merawat suami sedang sakit pasti aku lakukan mas" jelas Gendis.
"Iyaa,aku percaya itu"
"Tadi sengaja aku berbohong sama dia,karena pertama aku memang gak mau dia yang jaga dan urus aku disini,kedua aku gak percaya dia bisa melakukan seperti yang kamu lakukan sama aku disini,ketiga aku gak mau kamu jauh dariku"
"Lohhh seandainya tadi dia menerima itu semua gimana? Dia mau melakukan apa aja untuk mas?"
"Ahhh aku yakin kok dia gak bakal mau,makanya aku berani buat cerita karangan seperti itu"
"Dan sekarang sudah waktunya mas makan siang" kata Gendis merubah topik pembicaraan karena kebetulan saat berdebat tadi mereka tidak menghiraukan seorang pengantar makanan masuk kedalam.
"Hemmm,,,cari topik lain"
"Ehh memang sudah waktunya mas makan siang,,yuk dah makan" kata Gendis lagi sambil mulai menyuapkan makanan pada Danar.
"Kalau cuman suapin mas aja dia bisa kok" Gendis menyinggung lagi soal Lalita.
"Ehhhhh dibahas lagi,padahal tadi dia yang ubah topik,kenapa jadi dibahas lagi" protes Danar sambil mengingat makanannya.
"Makan ,,,makan dulu jangan sambil ngomong" sentak Gendis.
"Nahh kan kalau kalah selalu berubah topik" tuding Danar kesal.
"Kaya lagi lomba aja " gerutu Gendis sambil kembali memberikan suapan pada Danar.
Gendis kembali menyuapkan makanan pada Danar hingga habis.
"Ehhh habis makannya" puji Gendis seperti memuji anak kecil.
Mata Danar membelalak pada Gendis seakan kesal karena diperlakukan seperti anak kecil oleh Gendis.
Gendis tersenyum dan cuek saja saat Danar bertingkah seperti itu padanya.
"Setelah itu minum obat,terus istirahat lagi "
"Yaaa,,," jawab Danar singkat.
__ADS_1
Kembali Gendis melayani Danar,setelah selesai makan siang langsung saja Gendis memberikan obat pada Danar untuk diminum.
"Oh ya mau makan apa siang ini?,aku telpon lagi asistenku" tanya Danar kemudian setelah selesai meminum obat.
"Aku turun aja deh mas"
"Sudah kubilang aku gak mau ditinggal" kata Danar tegas.
Gendis menatap Danar dan akhirnya menyerah.
"Hemmm ya sudahlah mas,,antarkan saja aku makan seperti biasa,yang penting ada nasi,lauk dan sayur" jelas Gendis kemudian.
"Gak pengen yang lain gitu? Mau ngemil apa sekalian?"
"Emmm gak usah mas"
"Tapi kasian kamu nunggu aku nganggur banget mulutnya" ledek Danar .
"Apaaaa sih mas?" Gendis kesal.
"Hahahahaha,,," Danar tertawa.
"Terserah aja lah mas"
"Hemmmm,,gini nih perempuan,kata andalan dan keramat selalu dipakai *terserah*" singgung Danar.
Gendis menahan senyumnya.
"Apa yaaa,bingung aku mas"
"Ya sudah aku saja yang pesankan" kata Danar akhirnya sambil meminta ponselnya yang ada diatas nakas pada Gendis.
Gendis berlalu dari hadapan Danar,dia ingin buang air kecil,maka Gendis segera saja masuk kedalam toilet.
Beberapa menit Gendis selesai dan keluar,dilihat Danar sudah selesai menelpon dan Gendis pasrah saja Danar akan membelikan dia makanan apa saja.
"Hei,,,sini dong" Danar memanggil Gendis dan meminta Gendis untuk mendekat.
Gendis menuruti dan mendekat pada Danar.
"Duduk disini" kata Danar lagi sambil menepuk sisi ranjang meminta Gendis untuk disitu. Dan Gendis selalu menuruti permintaan Danar tanpa protes..
"Ada apa?" tanya Gendis kemudian.
"Gak apa apa,temani aku aja lebih dekat disini"
Gendis tersenyum.
Ingin rasanya Gendis merenungkan ini semua,tentang yang terjadi diantara dia dan Danar dua hari ini,tentang Danar yang begitu manja padanya saat ini,tentang Danar yang menunjukkan sikap manis dan lembutnya dua hari ini.
Gendis tidak ingin besar kepala,juga terlalu percaya diri.
Tapi sikap Danar yang seperti sekarang ini tentu saja membuat Gendis sedikit terbuai,Gendis terpesona dengan sisi lain Danar yang manis ini.
"Duhhh ngelamun lagi,apa sih yang dilamunin?" tiba tiba Danar mengejutkan Gendis dan membuyarkan lamunannya.
"Enggak mas" jawab Gendis sambil menatap Danar dan tersenyum.
"Ahhh tugasku sekarang itu adalah mengembalikan lagi Danar menjadi seorang anak yang manis untuk orang tuanya,Danar yang bertanggung jawab atas segala hal,setelah itu aku akan tetap pergi dari kehidupannya,membiarkan dia bahagia bersama wanita yang dia cintai,asal bukan semacam Lalita" gumam Gendis lagi didalam hati.
__ADS_1
"Heiiii,,kenapa aku dicuekin? Kalau mau melamun ajak ajak dong" lagi,,Danar membuyarkan lamunan Gendis.
"Melamun apa sih mas?" tanya Gendis kemudian.
"Ya gak tau,,kamu gak bilang sedang melamun apa" jawab Danar sengaja meledek Gendis.
Tiba tiba pintu kamar terdengar diketuk.
"Itu pasti makanan kamu sudah datang" kata Danar menebak.
"Ya sebentar aku buka pintu dulu" kata Gendis sambil turun dari duduknya ditepi ranjang dan berjalan menuju kearah pintu.
Benar saja seorang laki laki yang sama dengan yang tadi pagi datang membawakan beberapa bungkusan dan memberikan kepada Gendis.
"Nyonya,ini pesanan dari tuan Danar" kata lelaki itu memberitahu.
Gendis tersenyum dan menerima bungkusan itu.
"Trimakasih" ucap Gendis.
"Sama sama,,dan sampaikan salam saya untuk tuan Danar semoga tuan lekas sembuh" pesan lelaki itu.
"Ohh,,baik nanti saya sampaikan"
"Kalau begitu saya permisi,mari nyonya" dan lelaki itu pun berlalu dari depan pintu kamar.
Gendis berjalan lagi menuju kedalam,dan menaruh bungkusan itu diatas meja dekat sofa.
"Mas pesan apa aja,banyak banget?" tanya Gendis heran sambil membuka bungkusan itu.
"Ya ampun mas,,,apa aja ini yang mas pesan? Ada donat,martabak telur,nasi dan sayur juga lauk"
"Apa akan habis kalau aku makan sendirian?" tanya Gendis.
"Memangnya aku gak mau" protes Danar.
"Hahahaha,,,maaafff aku pikir mas masih belum mau makan beginian"
"Udah geer aku mas tadi " celetuk Gendis kemudian.
"Makanlah dulu,makan siangnya sudah telat" perintah Danar penuh perhatian.
"Ya mas,," Gendis menuruti kemudian membuka kotak yang berisi nasi dan lauk juga sayur.
"Hemmm,,lapar banget yaaa?" tanya Danar kemudian saat memperhatikan Gendis yang makan dengan lahap.
"Hehehehee,,iya"
"Pantesan aku gak ditawari?"
"Ehhh,,mas mau?" tanya Gendis sambil berdiri dan membawa kotak nasi itu mendekat pada Danar.
"Hahahaha,,,bercandaaa Gendissss" jawab Danar.
"Kirain mau"
"Bercandaa,habis kamu makan lahap banget,gak nawarin juga lagi" protes Danar.
"Hehehee,,,maaaffff" ucap Gendis dan kembali lagi kesofa kemudian melanjutkan makannya.
__ADS_1