Aku Dijodohkan Dan Diselingkuhi

Aku Dijodohkan Dan Diselingkuhi
bab 15 berkunjung kerumah mertua


__ADS_3

"Mas,,aku mau kerumah ibu" Gendis meminta ijin pada Danar saat melihat Danar bersantai dibalkon.


"Ibu siapa?"


"Ibu kamu mas,tadi ibu telpon minta aku kerumah,lagian ini hari Minggu mungkin ibu pengen kumpul dengan kita" jelas Gendis.


"Kamu saja,aku sudah ada janji dengan Lalita,masa malam Minggu lalu batal ,sekarang harus batal lagi" jawab Danar.


"Ya sudah,nanti aku sendiri kerumah ibu"


"Naik apa?"


"Banyak taksi online"


"Ya,,aku juga malas antarin kamu,yang ada nanti malah ditahan sama ibu" jelas Danar.


"Ya sudah aku siap siap,dan segera berangkat" kata Gendis kemudian sambil berlalu dari hadapan Danar. Gendis masuk kedalam kamarnya untuk berganti pakaian,kebetulan dia juga sudah mandi sewaktu bangun pagi tadi. Gendis berdandan santai,memakai celana hightwise berwarna krem,juga blouse lengan panjang dan memakai pasmina.


Selesai berdandan memoles sedikit wajahnya agar tidak terlihat pucat,Gendis segera keluar dari kamar dan bersiap berangkat,dan akan memesan taksi online.


"Tunggu,," Suara Danar mencegah langkah Gendis. Gendis berbalik arah dan melihat Danar juga sudah berdandan rapi .


"Ada apa mas?" tanya Gendis kemudian .


"Aku antar kamu,," kata Danar datar dengan ekspresi wajah tidak suka.


"Aku mau pesan taksi kok,katanya kalau mas antar takut ditahan ibu nanti" jelas Gendis gak mengerti kenapa Danar berubah pikiran.


"Ibu menelponku tadi,marah marah dan memintaku untuk ikut kerumah ibu bersama kamu" jelas Danar.


"Ohh,,,ya sudah" jawab Gendis baru paham.


Gendis dan Danar melangkah keluar rumah,Danar mengambil mobil di garasi,gendis menunggu dihalaman.


Sesaat mereka sudah ada diperjalanan menuju ke rumah orang tua Danar.


"Pokonya nanti kita gak usah lama lama di rumah ibu,cari alasan biar kita cepat pulang" Pinta Danar menekan Gendis.


"Baru aja aku senang karena terhindar dari kebohongan,ehh malah mau kamu suruh berbohong lagi nanti"


"Maksudnya?" tanya Danar gak mengerti.


"Tadi seandainya aku pergi sendiri ke rumah ayah dan ibu,otomatis aku harus mempersiapkan jawaban saat mereka bertanya tentang mas,dan aku harus mengarang jawaban yang kira kira tepat dan bisa dipercaya,pastinya aku akan berbohong pada mereka,aku mungkin akan jawab mas sibuk,ada meeting mendadak di kantor,padahal mas senang senang dengan pacar mas" jelas Gendis.

__ADS_1


"Kalau mas ikut kan aku terhindar dari kebohongan itu. Ehh mas masih saja mau berasalan lain lagi nanti"


"Mas enak tinggal sat set pergi yang berpikir kan aku mas,aku harus bilang apa sama mereka,beralasan apa supaya bisa cepat pulang dari sana"


"Cerewet,,," kata Danar kemudian seperti malas mendengar penjelasan Gendis.


"Mas carilah alasan sendiri,biar aku nanti di rumah ibu saja,dan mas bisa jemput aku setelah mas selesai urusan dengan dia" kata Gendis menegaskan Danar.


Beberapa menit kemudian mereka sampai dirumah orang tua Danar. Gendis dan Danar keluar dari mobil. Tampak ibu Nungki sudah menyambut mereka di teras rumah.


"Duhhh kangennya ibu sama kamu nak" kata ibu Nungki sambil menghambur kearah Gendis dan memeluknya erat. Gendis tersenyum dan membalas pelukan ibu mertuanya itu. Dilihatnya Danar melirik dengan lirikan rasa tidak suka.


Gendis melepas pelukannya kemudian menyalami ayah mertuanya.


"Ayah dan ibu sehat?" tanya Gendis penuh perhatian.


"Alhamdulillah sehat nak" jawab pak Suryo ayah Danar.


"Masuk yuk,," ibu menggandeng Gendis masuk kedalam rumah,dan langsung menuju keruang tengah.


"Nih ibu tadi buat kue " ibu Nungki menunjukkan kue bolu yang tersedia diatas meja.


"Ibuu kok repot repot banget begini,saya dateng gak bawain ibu dan ayah sesuatu,tapi malah disediain segala macam makanan"Gendis merasa tidak enak hati. Tadi sebenarnya Gendis ingin mengajak Danar mampir mencari sesuatu untuk dibawa ke rumah mertuanya ini,tapi Danar menolak karena ingin cepat sampai saja ke rumah orang tuanya.


"Danar,,"pak Suryo memanggil Danar.


"Iya yah,ada apa?" tanya Danar.


"Ikutlah ke ruang kerja ayah,ada yang ingin ayah bicarakan" jelas ayah Danar.


Danar segera mengikuti ayahnya ke ruang kerja yang ada di lantai atas rumah ini.


Kini tinggal Gendis dan ibu mertuanya yang ada di ruang tengah.


"Sayang,Danar gimana sejak menikah? Dia bersikap baik kan? " tiba tiba ibu Nungki bertanya soal rumah tangganya.


"Iya Bu,,mas Danar baik,gak berubah dari mulai pacaran sampai menikah" jawab Gendis berbohong.


"Berapa lama sebenarnya kamu pacaran dengan Danar,soalnya setahu ibu waktu itu Danar dekat dengan seorang wanita yang kami gak setuju" tanya ibu Nungki lagi dan pertanyaan ini membuat Gendis sedikit belingsatan,dia sama Danar gak pernah membahas soal ini sebelumnya karena gak pernah terpikir akan menjadi pertanyaan orang tua Danar.


"Ehh,,gak lama kok Bu,,mungkin mas Danar putus sma pacarnya itu,baru bertemu dengan aku" jawab Gendis.


Entah keberapa kalinya dia berbohong pada ibu mertuanya ini. Dia harus menjawab pertanyaan di luar perkiraannya.

__ADS_1


"Yaaa,ibu melarang keras dia berhubungan dengan wanita itu,berkali kali meminta restu tapi kami tidak pernah memberikan restu"


"Bukan kami ini merasa sudah menjadi orang terpandang terus ikut campur masalah jodoh anak. Kami tetap menyerahkan pada Danar untuk mencari sendiri calon istrinya,asal bukan wanita itu atau wanita wanita yang seperti itu"


"Yang kami pikirkan itu keturunannya kelak,kalau semua berasal dari hal yang baik insya Allah kedepannya pun akan baik" jelas ibu Nungki lagi.


"Masalah bobot dan bebet itu bukan hal yang utama,yang kami utamakan itu bibitnya"


"Dan saat Danar mengenalkan kamu,baru menyebut namamu saja ibu sudah tertarik,seperti ada magnet yang menarik ibu untuk menyukai kamu nak"


"Dan benar saja,saat kita bertemu pertama kali,ibu itu seperti orang yang merasa jatuh cinta pada pandangan pertama,mungkin rasa cinta ibu itu lebih besar dari perasaan Danar sama kamu" jelas ibu Nungki lagi sambil menggenggam kedua jemari Gendis erat. Gendis bisa merasakan betapa besarnya kasih sayang mertuanya itu padanya,mungkin perasaanya tidak salah kalau kedua mertuanya itu lebih mencintai dirinya dari pada Danar.


Gendis tersenyum,hatinya merasa sangat dihargai,Gendis merasa beruntung dan bersyukur,meski Danar membencinya tapi kedua mertuanya sangat menyayanginya. Untuk saat ini itu sudah lebih dari cukup.


Danar turun dari lantai atas diikuti oleh pak Suryo. Wajah Danar tampak semakin menunjukkan rasa tidak sukanya pada Gendis.


"Ada apalagi dengan dia?,selalu saja menatapku dengan tatapan sinis" guman Gendis dihatinya.


"Yuk kita makan siang,,ibu tadi sudah masak buat kalian" ajak ibu sambil berdiri dari duduknya.


"Ibu masih suka memasak sendiri?" tanya Gendis.


"Kalau ayahmu pengen masakan ibu ya ibu masak sendiri,sama kalau ibu akan kedatangan tamu,pasti ibu masak sendiri" jawab ibu Nungki sambil berjalan menuju ke ruang makan diikuti oleh Gendis dan juga ayah mertua serta Danar.


Mereka ber empat sudah ada diruang makan,menarik kursi masing masing kemudian duduk saling berhadapan.


Dimeja sudah tersaji berbagai menu olahan ibu mertuanya,sangat mengundang selera Gendis.


"Ayo nak,,silahkan dicoba semua masakan ibu" pinta ibu Nungki.


"Iya Bu,,,luar biasa menu yang ibu buat,menggugah selera sekali Bu" puji Gendis sambil mulai menata makanan dipiringnya.


Ibu Nungki tersenyum mendengar pujian menantu tersayangnya itu.


"Danar,,,kapan kapan ibu juga mau mencoba masakan menantu ibu ini,,Minggu depan ibu akan ke rumah kalian lagi" tiba tiba ibu Nungki langsung saja mengultimatum Danar anaknya.


Danar menatap ibunya seperti gak suka mendengar permintaan ibunya itu. Gendis paham Danar pasti merasa terganggu lagi,hari ini saja dia gagal bertemu dengan kekasihnya itu,dan Minggu depan bisa jadi Danar pun sudah janjian akan bertemu lagi dengan kekasihnya itu.


"Boleh kan nak ibu Minggu depan pengen nyicipin masakan nak Gendis ?" tanya ibu pada Gendis.


"Tentu boleh ibu,kapanpun ibu mau aku siap" jawab Gendis tegas.


Ibu tersenyum mendengar jawaban Gendis. Mereka kemudian melanjutkan acara makan siang dengan Senda gurau,tapi tidak dengan Danar,wajahnya selalu saja murung dan menahan kekesalan.

__ADS_1


__ADS_2