Aku Dijodohkan Dan Diselingkuhi

Aku Dijodohkan Dan Diselingkuhi
bab 58 akhirnya Gendis pasrah juga


__ADS_3

Hari kedua bulan madu,Danar membawa Gendis untuk menikmati suasana pantai. Pagi pagi Danar dan Gendis sudah berada di pantai menikmati sejuknya udara pagi dan deburan ombak.


Mereka berdua berjalan jalan menyusuri pantai. Danar terus menggandeng tangan Gendis erat seperti enggan melepaskan.


"Begini sudah seperti pengantin baru beneran gak ya?" celetuk Danar.


"Pengantin baru? "


"Iyaa,,,kita kan pengantin baru"


"Masa iya masih bisa disebut seperti itu?" tanya Gendis.


"Ya suka suka akulah" jawab Danar sambil tertawa.


Gendis hanya tersenyum.


Danar menghentikan langkahnya kemudian menatap lurus kedepan,kearah lautan.


"Suka sama pantai?" tanya Gendis pada Danar.


"Suka,,suka banget"


"Kenapa suka?"


"Menenangkan"


"Aku suka dengar deburan ombaknya" jelas Danar lagi.


selesai puas berada di pantai Danar dan Gendis memutuskan kembali ke villa dan memilih sarapan di villa saja..


Gendis bergegas kekamar mandi karena sudah merasa gerah sekali.


Saat Gendis mandi Danar menikmati acara televisi,dan nanti akan bergantian mandi baru kemudian sarapan bersama.


Gendis keluar dari kamar mandi sesaat kemudian.


Tanpa sengaja mata Danar sedang tertuju kearah kamar mandi,dan melihat Gendis yang tentunya hanya membelitkan selembar kain handuk ditubuhnya,dan rambutnya yang basah dibungkus dengan handuk kecil.


Gendis tidak sadar sama sekali Danar tengah memandanginya..


Danar menghampiri Gendis,membuat Gendis. Tersentak kaget.


Cepat Gendis menaruh kedua tangannya didada dan menatap tajam pada Danar.


Danar tersenyum,kemudian tiba tiba langsung mengangkat tubuh Gendis dan mengangkatnya kedalam kamar.


Gendis tentu meronta,dan sangat tidak menyangka dengan yang akan Danar lakukan.


"Mas,,," teriak Gendis.


Danar tidak memperdulikan teriakan Gendis,Danar menjatuhkan tubuh Gendis diatas kasur,dan segera mengunci pintu kamar.


Gendis terdiam,wajahnya pucat dan terlihat ingin menangis.


Gendis juga berusaha menguatkan lilitan handuknya dan menutupkan kedua tangan didada.


"Danar mendekat,berbaring disamping Gendis.


"Kamu yang mulai" seru Danar kemudian.


Gendis memejamkan matanya,berharap Danar menjauh darinya.


"Sengaja pakai handuk saja keluar dari kamar mandi? biasanya keluar sudah berpakaian lengkap" tuding Danar.


"Aku lupa mas,,,dan aku pikir kamu gak lagi disitu" jawab Gendis masih terus memejamkan matanya.

__ADS_1


"Sekarang harus tanggung jawab"


"Tanggung jawab apa mas?"


"Gendis,,,sekarang kita bersikap layaknya suami istri saja,,,please jangan takut,,santai Gendis,rileks lah" bisik Danar.


"Takut mas,,,"


"Iya,,aku tau kamu takut,tapi aku gak akan menyakitimu"


"Aa,,aakuu belum pernah mas berbuat ini"


"iya,,,aku tau,lagian aku juga gak mau cari istri sembarangan,ya jelas aku mau yang masih segerlah" canda Danar dan ingin membuat Gendis merasa nyaman,rileks dan tenang.


Perlahan Danar mulai mencumbu Gendis. Gendis berusaha menghindari tapi Danar terus saja agresif ,dan akhirnya membuat Gendis menyerah,Gendis pasrah.


Danar memberi ciuman lama dikening Gendis,dan memeluknya erat.


"Maaff,,,,membuatmu sakit" ucap Danar pelan.


"Ini kan yang kamu takutkan dari kemarin? Kamu takut sakit?"


Gendis terkesiap mendengar kata kata Danar,dan langsung menyembunyikan wajahnya yang memerah didada Danar.


"Udah gak usah dibahas,," protes Gendis.


"Hahahaha,,," Danar tertawa..


"Dasar,,,," ledek Danar.


"Dasar apa?" tanya Gendis manja.


"Enggak papa" jawab Danar dan kembali mencium kening Gendis.


"Mas duluan,,aku masih susah bangun" gerutu Gendis sambil wajahnya sedikit menahan nyeri.


"Hahahaha,,,,maaaffffff sayaannggggg,,,," ucap Danar meminta maaf dan gemas sekali melihat wajah Gendis.


"Besok besok udah gak sakit lagi kok,,malah kamu bakal minta terus" ledek Danar sambil bergerak bangun dari tidurannya karena tau Gendis pasti akan marah padanya.


"Massss,,udahhhh " seru Gendis malu dan melempar bantal pada Danar.


Danar berlari keluar dan tak lupa melilitkan handuk dipinggangnya dan bergegas kekamar mandi.


Danar masih senyum senyum sendiri ingat dengan tingkah Gendis yang lucu itu.


"Ahhhh,,," gumam Danar sambil menyandarkan tubuhnya didinding kamar mandi,mengingat kembali tentang yang dia lakukan bersama Gendis..


Danar tersenyum lagi,mengingat wajah Gendis saat menahan takut,dan akhirnya pasrah saja meski berteriak kesakitan.


"Apakah aku mulai mencintainya?" gumam Danar kemudian menatap wajahnya dicermin.


"Aku hanya sayang dengan dia,,,ya aku sayang,bukan cinta"


Danar menyelesaikan mandinya,dan segera keluar setelah selesai .


Gendis masih meringkuk dikasur dan tubuhnya dia tutupi dengan selimut.


"Sayang,,,mandi dong,setelah itu sarapan,aku pesankan sarapan ya"


"Iya mas pesankan saja,,aku gak sanggup kalau harus berjalan keluar" jawab Gendis dan Suaranya terdengar menahan sakit.


"Hahahaha,,,iya aku pesankan"


"gak mandi dulu nih?"

__ADS_1


"Nanti saja mas,,,masih gak enak mas rasanya"


"Iya iya,,,maaf yaaaa sayang" ucap Danar lagi dan mendekati Gendis. membelai rambut panjangnya yang masih acak acakan,dan mencium mesra pipi Gendis.


"Katanya mau nunggu aku sampai siap,tapi mas bohong" protes Gendis manja.


"Kan kamu yang mulai,coba kamu gak keluar dengan hanya pakai handuk saja,gak mungkin aku tergoda,imanku pasti kuat masih" jelas Danar seenaknya.


"Ahh,,,emang mas aja yang udah gak sabar"


"Mana ada sih laki laki yang tahan sayang,,,tapi aku kan masih menghargai kamu,mengerti kamu"


"Hemmm,,,mengerti dari mana?"


"Iya maaf,,,besok besok gak gitu lagi"


Gendis membalikkan tubuhnya dan menatap Danar kesal.


"Apaaannn,,udah jebol gini kok besok besok enggak lagi" gerutu Gendis kesal.


"Nah tu tau,,,ya jadi gak boleh nyesel dong,lagian melayani suami dengan ikhlas pahalanya besar,rezekinya lancar"


"Hemmm kalau gini saja langsung jadi pak ustadz" ledek Gendis.


"Hahahahaa,,,memang begitu konsepnya nyonyaaahhhhh"seru Danar sambil mencubit kedua pipi Gendis gemas.


"Sakitttt,,," seru Gendis sambil berusaha melepaskan tangan Danar dari pipinya.


"Sakit mana sama yang tadi?"


Wajah Gendis pun memerah lagi. Danar selalu saja menggodanya,dan membuatnya malu.


"Mas,,,"


"Yaaa,,"


"Gak papa"


"Hemmm,awas yaaa" gerutu Danar.


"Pesanan makannya masih lama ya?" tanya Gendis kemudian sambil memegangi perutnya.


"Iya nih,kok masih belum datang,laper banget ya sudah?"


"Ya iyalah,,,harusnya tadi tu dikasih makan dulu baru digarap" Gendis mulai berani berkata iseng pada Danar.


"Hahahahaha,,,,mulai yaaaa"


"Ya habis memang laper banget ini masss" seru Gendis manja.


"Sebentar aku telpon lagi,,,sayang mandi deh,,,biar nanti enak sarapannya" Danar meminta Gendis lagi untuk mandi.


"Iyaa,,tapi gendong kekamar mandinya"


"Hemmmm,,,mulai manja juga".


"Hihihiiiij,,bercanda mas"


"Ya sudah mas keluar,aku mau rapikan ini dulu" tunjuk Gendis ketubuhnya.


Danar mengerutkan keningnya bingung dengan perkataan Gendis.


"Mas,,aku mau nutupin nih badan,,ada mas ribet banget,mas keluar siapa tau pesanannya datang"


"Ohhh,,,okeee" jawab Danar mengerti,kemudian keluar kamar meninggalkan Gendis yang bersiap akan mandi.

__ADS_1


__ADS_2