
Gendis menikmati makan siang di resto steak yang terkenal di mall ini. Resto ini juga adalah langganan Gendis sejak lama.
Mata Gendis tidak sengaja tertuju pada dua sosok pria dan wanita,dan Gendis langsung mengenalinya,tidak salah lagi mereka mas Danar dan Lalita.
Ya tadi pagi mas Danar bilang akan bertemu Lalita,tapi kenapa harus di tempat ini juga.
Akhirnya Gendis berpura pura tidak melihat mereka dan melanjutkan lagi makan siangnya meski seleranya tiba tiba saja hilang.
"Gara gara melihat mereka selera makanku hilang,padahal perutku lapar sekali"gerutu Gendis dalam hati.
Akhirnya Gendis pergi dari resto itu tanpa menghabiskannya setelah membayar.
Gendis berkeliling diarea mall. Sendiri hal yang biasa Gendis lakukan dan dia sudah terbiasa.
Gendis masuk kedalam toko baju bermerk dia lihat dari luar modelnya bagus bagus.
Tiba tiba saja ada yang menghampirinya saat Gendis menengok ternyata Danar sudah ada disampingnya.
"Eh,,mas kok ada di sini?" tanya Gendis dan berpura pura kalau sebenarnya tadi dia sudah melihat Danar dan Lalita.
"Iya,,aku baru saja selesai makan siang dengan Lalita"
"Oh makan siang di sini?" tanya Gendis.
"Iya,,kamu mau cari pakaian?" tanya Danar kemudian.
"Rencananya mau lihat lihat aja,tapi kalau ada yang cocok mungkin beli" jawab Gendis.
"Mana nomor rekening kamu,tadi pagi aku sudah suruh kamu kirim kan?" Danar meminta kembali nomor rekening Gendis.
"Emmm ya,,aku lupa mas tadi. Sebentar mas" Gendis membuka ponsel mencari Poto nomor rekeningnya yang pernah dia simpan kemudian langsung mengirimkan pada nomor Danar diaplikasi hijau.mvtri
"Sudah mas" kata Gendis memberitahu sambil menyimpan ponselnya kembali kedalam tasnya.
Danar mengecek ponselnya kemudian segera saja mentransferkan sejumlah uang pada rekening Gendis.
__ADS_1
"Sudah aku kirimkan,cek aja" jelas Danar.
"Iya,trimakasih mas"
"Mas gak balik ke kantor?" tanya Gendis kemudian.
"Iya ini sudah mau balik,ya sudah aku pergi dulu" pamit Danar kemudian berlalu meninggalkan Gendis. Gendis hanya menatap kepergian Danar hingga hilang dari pandangannya. Dan Gendis melanjutkan untuk memilih milih pakaian yang tergantung di rak dan juga manekin.
Seorang pelayan menghampiri dan menawarkan penawaran khusus untuknya. Gendis hanya mengangguk angguk karena dia masih belum berminat untuk membeli.
Dan lagi,,tiba tiba ada saja yang mengejutkannya,kali ini bukan Danar lagi,tetapi Lalita. Gendis berusaha untuk gak menanggapi Lalita,karena terlihat Lalita seperti ingin mengganggunya.
"Ehhh di sini juga dia" sapa Lalita dengan gaya tengilnya.
Gendis tidak menyahut.
"Ehh tuli ya?"
Gendis menatap Lalita.
"Siapa lagi? Memangnya siapa yang kenal aku disini selain kamu" jawab Lalita.
"Bukannya mbak ini artis ya? Masa gak ada yang kenal?" ledek Gendis.
"Ngapain tadi Danar kemari?" tanya Lalita ingin tahu tidak mengindahkan ledekan Gendis.
"Kenapa sih mbak,mau tau aja"
"Ya iyalah,dia kan pacar aku ngapain coba datangin kamu?"
"Lohh,,,saya kan istrinya mbak,ya gak papa dong mas Danar temuin saya" jawaban Gendis serasa menohok,apalagi mereka berbicara di dekat pelayan yang sedari tadi mengikuti Gendis sepertinya pelayan itu mendengar apa yang mereka bicarakan.
Wajah Lalita seketika memerah saat mendengar kata kata Gendis tadi.
"Kamu pasti minta minta kan sama dia,minta dibelikan ini dan itu?" Lalita masih saja penasaran dengan yang terjadi antara dirinya dan Danar tadi.
__ADS_1
"Ehhh,,,saya minta sama suami sendiri kan gak papa mbak,lagian kewajiban suami memenuhi kebutuhan istri"
"Ehh sebentar saya belum cek berapa tadi mas Danar mentransfer saya,,bayangin mbak jalan jalan ke mall ehh ketemu suami,kaya dapet rezeki nomplok,,ditransferin uang katanya buat belanja apa yang saya mau" kata Gendis sengaja memanas manasin Lalita sambil tangannya merogoh tas untuk mencari ponsel.
Gendis membuka aplikasi banking mengecek transferan Danar tadi.
"Sebentar mbak saya lihat kan berapa tadi mas Danar transfer uang buat saya" kata Gendis sambil sedikit melirik pada Lalita yang memang wajahnya sudah memerah menahan amarah.
"Nih mbak lihat,," Gendis menyodorkan ponselnya pada Lalita memperlihatkan bukti transferan dari Danar. Tampak mata Lalita terbelalak melihat jumlah uang itu. Setalah itu Lalita pergi meninggalkan Gendis dengan wajah cemberut dan menahan marah.
Gendis menutup mulutnya menahan tawa
"Makanyaaaa,," gumam Gendis sambil tersenyum.
Tapi kemudian mengecek bankingnya untuk melihat jumlah uang transferan Danar,karena tadi Gendis tidak begitu melihat saat langsung menyodorkan ponselnya pada Lalita.
Dan tidak jauh berbeda dengan Lalita,Gendis pun terkejut saat melihat nominalnya.
"Ini maksudnya uang apa ya,sebanyak ini mas Danar memberiku uang" tanya Gendis dalam hati.
"Ini juga biar sama uang kebutuhan rumah,dan lain lainnya juga masih sisa"gumam Gendis lagi.
Gendis menyimpan lagi ponsel didalam tas,dan kembali memilih milih pakaian.
Akhirnya Gendis tertarik pada dress,yang bisa dipakai untuk ke mana saja,untuk ke undangan bisa,jalan ke pantai bisa,hang out juga bisa,
"Mbak mau ini" Gendis memberitahu pelayan yang masih setia menemaninya.
Wajah pelayan tampak girang sekali dan Kembali menawarkan barang yang lain. Tapi Gendis menolak karena baju yang dia beli saja harganya bisa untuk membeli 100 lembar baju,di pasar tapi.
Selesai membayar Gendis keluar mall dan bermaksud untuk langsung saja pulang. Dia memesan taksi online.
Dan Gendis pulang dengan perasaan gelisah sebenarnya.
Ada Lalita dihati mas Danar,tadi melihat mereka makan berdua sejujurnya hatinya sedikit perih,perih menahan rasa,rasa yang dia sendiri masih belum tau itu apa?
__ADS_1