Aku Dijodohkan Dan Diselingkuhi

Aku Dijodohkan Dan Diselingkuhi
bab 86 merayu Gendis


__ADS_3

sore hari Danar sudah sampai di rumah,karena sekarang hari hari Danar selalu dipenuhi oleh Gendis,saat pekerjaan selesai dan tidak terlalu repot Danar selalu memutuskan untuk langsung pulang kerumah dan bertemu Gendis.


Gendis menyambut Danar didepan pintu,Danar langsung saja menyongsong tubuh mungil Gendis dan memeluknya erat.


"Apa kabar istriku yang cantik?" tanya Danar lembut.


Gendis tersenyum mendapat pertanyaan seperti itu,pertanyaan yang sebenarnya tidak harus ditanyakan mengingat tadi siang dia dan Danar masih berkomunikasi lewat telpon.


"tentu saja baik mas" jawab Gendis akhirnya.


Mereka berdua masuk kedalam dan langsung menuju ke kamar.


"Aku mau mandi dulu ya" ucap Danar setelah melepas pakaian kerjanya dan segera masuk kedalam kamar mandi.


Gendis menyiapkan pakaian ganti untuk Danar,kaos longgar dan celana pendek.


selesai mandi Danar berpakaian kemudian mengajak Gendis bersantai di balkon yang ada diluar kamar mereka.


"Mas,,,lebih baik kita akhiri saja niat mas untuk mengikuti permainan mereka,aku takut mas mereka akan bertindak diluar dugaan" keluh Gendis.


Danar menatap Gendis dan tersenyum,kemudian membelai anak rambut Gendis yang tergerai kedepan keningnya.


"Kenapa? Kamu takut?"


"Aku khawatir mas mereka akan melakukan hal hal yang diluar batas"


"Meski kita tidak mengikuti permainan mereka,mereka akan tetap mengganggu kita"


Gendis menghela nafas berat.


"Lebih baik mas batalkan saja kerjasama mas dengan Cakra"pinta Gendis lagi.


"Hemm,,sedang aku pikirkan,kamu jangan khawatir sayang" Danar berusaha menenangkan Gendis.


"mas,,manis banget panggil aku dengan sebutan itu? Aku takut terbuai dan terlena,,setelah itu tiba tiba kamu meninggalkanku"


Danar menatap Gendis tajam,tidak menyangka Gendis akan bertanya seperti itu.


"Gendis,,,kenapa kamu bicara begitu? Masih tidak percaya denganku? Hmmmmm,,,tapi aku sudah bilang biar waktu yang akan membuktikan itu nanti" jawab Danar dan meraih pundak Gendis kemudian memeluknya erat.


"Aku takut mas,,,aku takut ini cuman khayalanku,aku terlalu terbuai dengan sikap manismu"


"Aku tau perasaanmu,aku tau kamu masih ragu,aku mengerti,,tapi sekali lagi aku bilang,aku sudah terlalu bahagia denganmu"


"Aku merasakan kalau aku menyayangimu,sangat menyayangimu,dan aku ingin selalu menjagamu dan membuatmu bahagia Gendis" jelas Danar dan memegang wajah Gendis memintanya untuk menatapnya.


"Meski tidak ada kata cinta ya mas?" tanya Gendis dan menunduk.


Danar tersenyum,,ternyata kata itu yang masih Gendis harap untuk dia ucapkan.


"Sudah aku bilang berapa kali,,apakah semua yang kulakukan itu bukan bukti?"

__ADS_1


Gendis mengangkat kepalanya lagi dan menatap Danar,tampak berusaha meyakinkan hatinya untuk percaya pada suaminya ini.


"Tuh sudah adzan Maghrib,sholat berjamaah yuk" ucap Danar kemudian dan mengajak Gendis untuk sholat Maghrib bersama.


"Yuk" jawab Gendis antusias.


Mereka berdua masuk kekamar dan berwudhu bergantian setelah itu bersiap melaksanakan sholat.


Gendis terkesima melihat penampilan Danar yang begitu rapi dan sangat terlihat cerah wajahnya.


Selesai sholat Danar menghadap Gendis,kemudian Gendis menyambut tangan Danar untuk menyalaminya dan mencium punggung tangan itu dengan takjub.


Kemudian Danar mengecup kening Gendis dengan lembut.


"Aku sudah lapar sayang,kita makan malam ya" ajak Danar.


Gendis mengangguk kemudian melepas mukenanya terlebih dulu dan melipatnya.


setelah itu mereka keluar dari kamar dan menuju keruang makan.


📎📎📎📎


Selesai makan malam Danar dan Gendis memutuskan bersantai di balkon lagi,rasanya begitu tenang dan damai berada di tempat itu.


"Gendis,,lusa aku harus keluar kota,ada hal yang harus aku kerjakan disana"


Gendis sedikit terkejut mendengar kabar dari Danar.


"Ya mas,,,"


"Kenapa? kamu mau ikut?" tanya Danar.


"Enggak mas,,sepertinya aku belum bisa kalau harus jalan jauh,dekat saja aku sudah kelelahan apalagi kalau jauh" jawab Gendis menolak.


"Baiklah,,,"


"Tapi boleh kalau aku selama mas tidak ada di rumah orang tuaku?" tanya Gendis.


"Boleh sayang,,sebelum aku berangkat nanti aku antar ya"


"Gendis,,,jujur sampai saat ini ada hal yang buat aku kagum sekali sama kamu"


"Apa mas?"


"Aku gak menyangka,,kamu begitu menarik perhatian kedua orang tuaku,saat pertama kali melihatmu mereka langsung jatuh cinta sama kamu"


"Saat itu aku sudah pasrah saja,seandainya mereka tidak juga menyetujui kamu untuk ku jadikan istriku,aku akan menyerahkan semuanya ke mereka,biar mereka saja yang mencarikan aku seorang istri" jelas Danar lagi.


"Dan mereka begitu gigih membelamu,mempertahankanmu untuk terus mendampingiku,sampai mempercayaimu untuk memberikan mereka cucu"


"Aku tidak mau geer dan besar kepala mas,meski mereka menyayangiku,tapi saat itu hatiku juga tidak merasakan bahagia,karena sikapmu yang sangat tidak menginginkanku,dan yang ada dipikiranku,hanyalah saat aku sudah memberiku seorang anak,aku akan pergi dan aku tidak perduli dengan perasaan mereka yang sangat perduli denganku,karena aku juga ingin mencari kebahagiaanku sendiri"

__ADS_1


"Seandainya,,,waktu itu aku masih bersikeras hanya menginginkan anak ini,dan tetap melepasmu setelah anak ini lahir bagaimana perasaanmu?" tanya Danar pelan.


"Yang jelas hatiku sakit mas,,karena aku harus berpisah dengan anak yang sudah aku kandung selama 9 bulan,ibu mana yang rela berpisah dengan anaknya mas,,,dan aku juga tidak ingin berandai andai sebenarnya,karena kita tidak tau apanyang akan terjadi nantinya" jelas Gendis.


Danar meraih jemari Gendis dan menggenggamnya erat.


"Sekarang kamu tidak usah khawatirkan itu,,,aku tidak akan pernah melakukan hal itu,memisahkanmu dengan anak kita,itulah Gendis aku sangat bersyukur,Allah membalik hatiku disaat semua belum terjadi" ucap Danar lembut dan terus menggenggam tangan Gendis..


"Kamu sekarang adalah orang yang sangat berharga dihidupku" bisik Danar.


Gendis tersenyum dan menatap lekat Danar .


"Ayah dan ibu mas pasti bangga sama mas sekarang"


Danar tersenyum mendengar kata kata Gendis itu.


"Aku belum bisa jadi anak yang dibanggakan Gendis,aku belum memberikan yang terbaik untuk mereka" jawab Danar.


"Yaa,,,tapi aku yakin,,saat mas sudah berubah seperti ini,kesuksesan akan mengikuti mas"


"Yaa,,aku juga butuh doa dan dukunganmu,,aku tidak akan jadi apa apa tanpa doa dari istri"


"Tanpa mas minta,aku selalu menyelipkan doa untukmu mas dipenghujung sholatku" jawab Gendis.


Danar menatap Gendis lembut,kemudian memeluk tubuh itu dengan erat dan hangat.


"Tidak menyangka saja Gendis,kehadiranmu dihidupku yang awalnya aku kira adalah bencana,musibah,ternyata salah,justru memberi keberkahan,mungkin karena ketulusanmu,dan sikap sabarmu itu"


"Mas,,,kita sama sama saling mengoreksi diri,,aku juga belum sempurna untuk menjadi seorang istri,,aku hanya sedang berusaha untuk menjalankan tugasku dengan sebaik mungkin,tapi justru malah kamu mas yang sedang berusaha untuk menjadi suami yang baik untukku"jelas Gendis dan balik menggenggam tangan Danar erat.


"Kalau gitu lisa ikut yaa,,,aku mau berdekatan terus sama kamu,,yaaa ikut yaaa" tiba tiba Danar merayu Gendis untuk ikut dengannya nanti keluar kota.


Gendis tersenyum.


"mas,,aku pengen ikut,tapi kondisiku ini mas yang gak memungkinkan"


Wajah Danar berubah murung karena masih belum bisa membujuk Gendis.


"Seandainya bisa aku wakilkan pada asistenku,aku memilih untuk tidak pergi"


Gendis membelai wajah Danar lembut dan berusaha menenangkan Danar.


"Hanya 2 hari kan?".


"Iya 2 hari saja" jawab Danar.


"Kalau gitu sabar,,,nanti kalau kondisiku susah membaik dan aku sudah bisa melakukan perjalanan jauh,kemanapun mas pergi aku akan ikut"


"Hemmm,,,"


"Nih sekarang saja pinggangku sudah terasa nyeri mas,gak tahan duduk berlama lama"

__ADS_1


"Ya sudah,,kita masuk yaa,kamu harus istirahat,,aku buatkan susu dulu" seru Danar dan membawa Gendis masuk kedalam kamar,setelah itu dia membuatkan susu untuk Gendis.


__ADS_2