Aku Dijodohkan Dan Diselingkuhi

Aku Dijodohkan Dan Diselingkuhi
bab 31 Lalita cemburu


__ADS_3

Danar keluar dari ruangannya dan segera menyusul Lalita yang sedang menunggunya dibawah.


Tapi pak Haryo ayah mertuanya menghadangnya. Wajah Danar berubah dan merasa canggung,karena Danar yakin ayah mertuanya itu tadi melihat Lalita mendatangi ruangannya.


"Nak Danar,masih ingat kan dengan pesan saya?" tanya pak Haryo pelan.


"Maksudnya yah?" tanya Danar pura pura tidak mengerti.


"Apa nak Danar masih berhubungan dengan wanita itu?"


"Saya rela mengorbankan putri saya Gendis agar dinikahi nak Danar,begitu juga putri saya yang sangat ikhlas menerima kenyataan hidupnya seperti itu,tapi bukan berarti nak Danar harus mempermainkannya"


"Saya menikahkan putri saya dengan harapan kehidupan putri saya akan menjadi lebih baik,saya sangat menaruh harapan pada nak Danar,putri saya akan bahagia"


Wajah ayah mertuanya terlihat sendu.


"Melihat wanita itu berada disini lagi perasaan saya terus terang jadi tidak tenang,saya was was nak,saya takut kalau saya sudah salah membawa putri saya pada nak Danar. Saya berdosa sekali terhadap putri saya"


Danar hanya terdiam mendengar kata demi kata ayah mertuanya itu.


Gendis sudah mengetahui itu semua,tidak ada lagi yang harus dirinya sembunyikan dari Gendis. tapi Danar masih menghormati mertuanya itu,dan juga dirinya sudah berjanji waktu itu untuk benar benar menjaga Gendis. tapi Danar tetaplah Danar,dan janji tinggal lah janji. Danar sudah membohongi orang tua Gendis dan juga orang tuanya sendiri.


Danar terlalu pandai menutupi kelakuannya yang sebenarnya.


"Ayah,,tenang saja. Saya tetap memegang janji saya" ucap Danar kemudian dan kembali dengan kebohongan.


Danar terlalu mengabaikan permasalahan dan menganggap enteng segalanya,tidak memikirkan resiko suatu saat nanti.


Pak Haryo sedikit tersenyum tapi terlihat dipaksakan.


Tangannya memegang bahu kanan Danar dengan kuat.


"Peganglah dan tepati janji nak Danar" ucap pak Suryo dengan tegas.


Kemudian pria itupun berlalu dari hadapan Danar.


Danar terpaku menatapnya. Hatinya risau sekarang.


Tiba tiba ponselnya berdering. Danar lekas mengambilnya dari saku celananya dan terlihat nama Lalita dilayar ponselnya.


Danar tidak mengangkat hanya mengirimkan pesan.


"Tunggu saja,aku akan turun" kemudian Danar menutup aplikasi pada ponselnya dan menyimpannya lagi disaku celana yang tadi.


Danar mencari Lalita yang menunggu di lobby. Wajah wanita tersayangnya itu terlihat masam.


Danar memberi senyumnya agar kekasihnya itu tidak jadi kesal padanya. Karena Danar tahu senjata paling ampuh meluluhkan hati wanitanya adalah dengan memberi senyuman manisnya dan tentunya juga hadiah.


Danar segera membawa Lalita kemobilnya,dia takut ayah mertuanya akan memergokinya.

__ADS_1


Danar tidak sadar,sang ayah mertua sedang melihatnya dari lantai atas dimana kantornya berada.


Danar melajukan mobil menuju ke restoran langganan mereka. Setelah sampai Danar memarkir mobil dan langsung menggandeng Lalita saat sudah keluar dari mobil.


Mereka mencari tempat duduk yang nyaman dan sedikit privasi. Kemudian memesan beberapa makanan..


"Sayang,,jujur aku cemburu pada Gendis" tiba tiba Lalita membuka obrolan dan menyinggung nama Gendis.Danar menatap Lalita dengan ekspresi tidak suka. Sesaat kemudian tersenyum dan meraih jemari tangan kanan Lalita untuk dia genggam erat.


"Kenapa cemburu?" tanya Danar lembut.


"Kenapa masih bertanya kenapa?"


"Cemburu itu manusiawi,apalagi kita harus bisa menerima orang yang kita cintai tinggal bersama wanita lain" jelas Lalita kemudian dan memalingkan wajahnya dari tatapan Danar.


Danar tersenyum lagi dan semakin mengeratkan genggamannya.


"Aku tidak mencintainya,aku tidak pernah menyentuhnya,jadi apa yang menjadi alasanmu untuk cemburu?" jelas Danar sembari bertanya.


Lalita melengos melihat Danar.


"Andai kamu wanita,kamu pasti paham" kata Lalita kemudian dan melepaskan tangannya dari genggaman Danar.


"Sayang,aku melakukan itu karena semata untuk kita,masa depan kita" jelas Danar kemudian.


"Menikahi dia adalah bukan pilihan,tetapi keharusan"


"Makan dulu yuk,sudah lapar banget aku" kata Danar dan mulai menikmati makan siangnya.


"Apa kamu bisa menjamin kalau kamu tidak akan jatuh cinta sama dia?" tanya Lalita tiba tiba dan membuat Danar sedikit tersedak.


Danar segera meminum air putih.


"Sayang,bisa gak kalau kita makan dulu" pinta Danar kemudian.


Lalita melengos lagi dan akhirnya menuruti kata kata Danar. Mereka berdua menghabiskan makan siang mereka.


Selesai makan siang Danar langsung mengajak Lalita meninggalkan restoran.


"Sayang,aku harus segera ke kantor. Hari ini pekerjaanku banyak" kata Danar memberitahu Lalita.


"Kamu mau langsung pulang?" tanya Danar


"Enggak aku mau jalan dulu,tadi sudah janjian sama temen juga" jawab Lalita.


"Ohh oke,,janjian di mana,biar aku antar kamu" tawar Danar.


"Enggak usah,biar aku minta temenku jemput aku disini" Lalita menolak.


"Okelah,,aku balik ke kantor ya" pamit Danar sambil mencium kening Lalita kemudian pergi meninggalkan Lalita di depan restoran itu.

__ADS_1


beberapa menit Danar sudah sampai di kantornya,dia bergegas naik ke atas memakai lift setelah memarkir mobil.


Saat berjalan menyusuri ruangan kantornya dari jauh Danar melihat Gendis sedang berbicara di depan lobby.


"Ngapain dia kemari?" Danar bertanya dalam hati sambil mendekat pada Gendis dan ayahnya.


*Gendis" seru Danar dan membuat Gendis juga ayahnya menengok pada Danar.


"Ada apa?" tanya Danar setelah dekat pada mereka.


"Enggak apa apa mas,tadi antar makan siang buat ayah,biasa hari ini ibu gak bisa buatkan bekal untuk ayah" jelas Gendis.


"Ohh,," Danar lega karena tadi dia curiga pada ayah mertuanya,jangan jangan ayahnya itu memberitahukan soal Lalita. Tapi terserahlah kalau ayah mertuanya mau memberitahu Gendis.


"Ibu sakit ?" tanya Danar kemudian,mengira ibu mertuanya sakit lagi.


"Enggak mas,ibu baik baik aja. Tadi ibu ada urusan diluar dan harus pagi pagi sekali perginya" jelas Gendis lagi yang sudah diberitahu oleh ayahnya perihal ibunya.


"Ohh,,,"


"Mas sudah makan?" tanya Gendis kemudian.


"Sudah,ini tadi habis makan siang diluar" jawab Danar sambil menatap ayah mertuanya. Terlihat ayah mertuanya itu menatapnya dengan tatapan jengah.


"Ihh syukurlah" kata Gendis lega.


"Ya sudah aku pulang dulu" pamit Gendis kemudian.


"Ayah,aku pulang ya" pamit Gendis pada ayahnya dan menyalimi ayahnya itu.


Setelah itu juga berpamitan pada Danar..


"Aku pulang mas" kata Gendis sambil berlalu dari hadapan mereka berdua.


Setelah Gendis hilang dari pandangan Danar masuk ke ruangannya.


"Saya masuk yah" pamit Danar pada pak Suryo.


"Silahkan" jawab pak Suryo datar.


Memang terlihat ayah mertuanya itu sedang kesal pada Danar. tapi Danar berusaha cuek saja dan menganggap tidak ada masalah.


Danar menutup pintu ruangannya dan menuju ke kursi,setelah itu menggemparkan pantatnya dikursi itu.


Pikirannya melayang lagi pada Lalita. Lalita cemburu pada Gendis. Danar bingung kenapa harus cemburu,Lalita tahu dia gak mencintai Gendis.,tapi kenapa masih punya rasa cemburu?


Pernikahan ini juga terjadi atas persetujuan Lalita,jadi atas dasar apa dia harus cemburu pada Gendis.


"Ahhh wanita,,sulit dimengerti" gumam Danar.

__ADS_1


__ADS_2