
"Yuk kita jalan jalan mumpung masih ada waktu,besok kita sudah balik" tiba tiba Danar mengajak Gendis untuk jalan jalan.
"Kita beli oleh oleh juga,gimana?" tanya Danar lagi dan terlihat sangat antusias.
"Ayolah mumpung cuacanya masih seger nih,kalau sudah siang dan panas malah hilang moodku"
"Yaa,,,sebentar aku ganti baju dulu"
"Gak usah,begini saja udah keren dan cantik kok,suka aku lihat kamu pakai dress begini,udah gitu rambut cuman digulung" puji Danar dan entah Danar sadar atau tidak mengucapkan itu.
"Aku ambil tas kalau gitu" seru Gendis lagi sambil berlalu meninggalkan Danar menuju kamar. Terus terang wajah Gendis pasti sudah bersemu merah kerena dipuji oleh Danar tadi,makanya dia buru buru menghindari Danar.
Tidak lama Gendis sudah keluar sambil membawa tas mungil dibahunya.
Mereka berdua bergegas menuju kemobil yang ada dihalaman.
"Kita belikan oleh oleh apa ya buat ayah dan ibu?" tanya Danar setelah mereka sudah berada dijalanan yang ramai.
"Terserah aja mas" jawab Gendis.
"Terserah,,kalimat keramat semua wanita"
"Aku tidak tau mas,terserah saja"
"Yaa,,yaa oke "
Danar membawa Gendis ke toko pusat oleh oleh terkenal.
Berbagai macam oleh oleh ada disana,dari pakaian,tas,kain,sandal kulit,sepatu kulit,juga makanan khas Daerah juga tersedia lengkap.
"Bagus deh ini" seru Danar sambil memegang sebuah tas wanita terbuat dari anyaman.
Gendis hanya melirik,Gendis merasa enggan untuk ikut memilih milih barang. Biarlah Danar saja yang melakukannya.
"Suka gak,,,kok diam saja?" tanya Danar pada Gendis setelah sadar Gendis hanya diam saja.
"Kan kamu wanita,kamu pasti lebih pintar dari aku"
Gendis menatap Danar kesal,sungguh Gendis sedang tidak ingin direpotkan dengan hal hal seperti itu
"Apa sajalah mas,,tuh tas bagus kok,buat ibu"
"Ibu yang mana?" tanya Danar sengaja ingin menggoda Gendis.
"Ibunya mas kan?" jawab Gendis menahan kekesalannya.
"Ibu ku ada dua sekarang,harus beli dua dong"
__ADS_1
"Pilihlah Gendis,mana yang lebih cocok untuk para ibu kita" Danar terlihat merengek.
Akhirnya Gendis mengalah karena memang malas berdebat dengan Danar.
Gendis memilih milih tas yang terbuat dari anyaman,memilih 2 tas mungil tapi sangat eksotik warnanya dan bentuknya.
"Ini saja mas,sepertinya bagus buat ibu" gendis menunjukkan tas itu pada Danar.
Danar tampak memerhatikan dan tersenyum
"Yaa sudah ini saja,bagus kok"Danar setuju dengan pilihan Gendis.
Kemudian mereka melanjutkan mencari lagi oleh oleh,kaki ini untuk kedua ayah mereka. Danar dan Gendis sepakat untuk membelikan mereka sepasang sandal kulit.
Setelah itu lanjut dengan mencari jajan khas daerah sini.
selesai dan puas berbelanja mereka memutuskan untuk makan siang. seperti biasa Danar membawa Gendis kesebuah restoran yang mewah.
"Padahal aku lebih suka makan ditempat biasa saja mas ketimbang di restoran mewah begini" Gendis sudah mulai protes.
"Kenapa memangnya,aku sudah lapar,kalau mencari lagi tempat yang kamu mau,aku juga tidak tau di mana tempatnya dan perutku sudah tidak bisa diajak kompromi lagi" jelas Danar.
"Aku kan hanya bilang saja mas,dan tidak memaksa kamu"
"Yaaa,,ya sudah kita masuk" ajak Danar dan Gendis mengikutinya.
Tapi Gendis sudah hafal dengan suara itu,yaa itu adalah Cakra.
Gendis heran kenapa bisa dia bertemu lagi dengan Cakra,dan selalu di restoran,dan lagi ini restoran yang berbeda dengan yang kemarin.
"Hei Cakra!" seru Gendis kemudian.
"Kenapa kita bertemu lagi disini?" tanya Cakra konyol.
"Aku tadi melihatmu masuk,dan kebetulan aku sudah selesai makan,jadi sudahlah aku samperin kamu lagi" jelas Cakra dengan cueknya dan sama sekali seperti tidak perduli meski ada Danar bersama Gendis.
Gendis menatap Danar,dan wajah itu,ya wajah itu sudah memerah menahan emosi,dan sepertinya hampir meledak.
"Boleh minta nomor ponselmu?" tanya Cakra.
Gendis menatap Cakra bingung,tapi memang Gendis juga tidak ingin memberikan nomornya pada orang lain,kecuali orang yang benar benar dekat dengannya.
"Maaf mas,,Gendis istri saya,kalau ingin meminta sesuatu pada Gendis ijinlah pada saya,dan maaf saya juga melarang Gendis untuk memberikan nomor ponselnya pada anda" tiba tiba Danar bersuara,dan suara itu terdengar menahan emosi.
"Ohh,,maaf kalau saya sudah lancang. Saya hanya senang bertemu dengan dia lagi,,seorang wanita yang saya kagumi sejak pertama kali bertemu di sekolah"jawab Cakra terang terangan.
Gendis terkesiap mendengar kata kata Cakra dan kembali menatap Danar yang saat ini sedang menatap Cakra tajam.
__ADS_1
"Maaf Cakra,aku gak bisa memberikan nomor ponselku,maaf" ucap Gendis pada Cakra dan berharap tidak ada keributan diantara mereka,apalagi Danar terlihat sudah hampir tidak bisa menahan emosinya.
Gendis bukan bangga Danar seperti orang yang sedang cemburu,Gendis hanya tidak ingin ada keributan di restoran ini dan hanya akan membuat malu saja akhirnya.
"oke Gendis,,aku permisi,dan pasti aku akan mencarimu" ucap Cakra dekat sekali ditelinga Gendis kemudian berlalu dari mereka berdua.
Gendis kembali menatap Danar yang masih tajam menatap kearah Cakra yang sudah berlalu.
"Sepertinya dia sengaja mengikutimu!"
"Gak mungkin mas" jawab Gendis menepis dugaan Danar.
"Buktinya dia bisa ada disini juga"
"Kan mas tadi dengar sendiri dia bilang apa,dia lihat aku,kebetulan dia sudah selesai makan"
Danar diam dan terlihat mengaduk aduk sedotan digelas minumannya yang mulai kosong.
"Yang waktu itu juga ketemu saat dia juga sudah selesai makan,jadi ini memang hanya kebetulan mas" jelas Gendis lagi.
"Oh ya dia bisikin apa tadi ditelinga kamu,lancang banget ya"
"Ehh enggak ada mas,,dia gak bilang apa apa" Gendis berbohong.
"Gak usah bohong,aku tau kok" ujar Danar kesal.
"Menang bener dia gak bilang apa apa"
"Syukurlah besok kita sudah pulang,jadi gak akan kah bertemu manusia hantu itu" kaya Danar lagi dengan kesal.
"Hahh,,hantu?" Gendis berpura pura heran.
"Iya hantu,,seperti hantu aja kok,tau tau ada aja didekat kita"
"Dia manusia mas,kan kita bisa ngeliat dia,kalau hantu mana bisa dilihat".
"Teruskan saja" seru Danar dan menatap Gendis kesal.
Gendis tersenyum,hatinya lega Danar bisa menguasai emosinya..
"Kit pulang mas,sudah lama kita duduk disini dan makanan juga sudah habis" ujar Gendis kemudian.
Danar menuruti kemudian mereka keluar dari restoran setelah Danar membayar.
"Kita langsung pulang saja ya mas,aku juga capek"
"Yaa,kita harus packing juga" jawab Danar setuju.
__ADS_1
"Ohh oke mas"