
Sebulan berlalu setelah Gendis dan Danar pulang dari berbulan madu dan Danar kini juga sudah beraktifitas lagi dengan pekerjaannya.
Hubungan Danar dan Gendis semakin membaik dan dekat. Meski mereka masih belum mengungkapkan perasaan yang sebenernya tapi dari sikap mereka sekarang sudah menunjukkan kalau ada rasa diantara mereka.
Danar dan Gendis sedang menikmati sarapan bersama,kebetulan hari ini hari Minggu Danar juga libur bekerja.
"Mau jalan hari ini?" tanya Danar pada Gendis.
"Kemana ?"
"Pacaran,,,"
Gendis tersipu malu.
Yaa hubungan mereka juga beberapa Minggu ini seperti hubungan orang yang sedang berpacaran bukan layaknya seorang suami istri. Mungkin itulah cara mereka untuk mendekatkan hati mereka
"Jalan ke mall,nonton di bioskop,gimana mau gak?"
"Boleh " jawab Gendis singkat.
Tapi tiba tiba Gendis menutup mulutnya dengan tangannya dan tangan satu lagi memegangi perutnya.
Karena tidak tahan Gendis lari kekamar mandi,dan dia muntah disana. Danar langsung menyusul Gendis karena bingung dan takut melihat keadaan Gendis.
"Kamu kenapa Gendis ?" tanya Danar sambil merapikan rambut Gendis yang tergerai agar tidak mengganggu posisi Gendis yang masih muntah diwastafel.
Cukup lama Gendis merasakan mual diperutnya dan terus mengeluarkan cairan dari mulutnya.
Danar memijat tengkuk Gendis untuk meringankan rasa mual Gendis.
Gendis membersihkan wajahnya setelah dirasa mualnya hilang kemudian berbalik arah menghadap Danar.
Matanya terpejam menahan rasa yang gak enak diperutnya.
"Ada apa? Kamu masuk angin?"
"Entahlah mas,rasanya perutku tidak enak sekali" jawab Gendis lemah.
"Ya sudah yuk istirahat dikamar" Danar membawa Gendis kekamarnya dan membantu Gendis untuk berbaring.
Danar keluar untuk memanggil bik Rahmi dan memberitahu keadaan Gendis.
"Gendis kenapa ya bik? Tiba tiba saja muntah muntah,padahal tadi baik baik saja" seru Danar cemas pada bik Rahmi.
Bik Rahmi mengikuti Danar kekamar Gendis dan melihat kondisi Gendis yang terbaring lemah,wajahnya sangat pucat.
"Gimana rasanya mbak? Masih mual?" tanya bik Rahmi mendekati Gendis
"Udah agak enakan kok"
"Semalam gimana?" tanya bik Rahmi lagi.
"Enggak apa apa,cuman ini tadi tiba tiba mual,perut itu rasanya gak enak bik"
"Wahh saya curiga ,coba den Danar suruh pak Ahmad belikan mbak Gendis testpack" pinta bik Rahmi pada Danar.
"Apa itu bik?" tanya Danar heran dan bingung.
__ADS_1
bik Rahmi tersenyum geli melihat tuannya yang sangat polos itu.
"Itu den,alat tes kehamilan,saya curiga mbak Gendis ini sedang hamil,karena tiba tiba mual dan muntah dipagi hari"
"Seriuusssss bik?" Danar terlihat girang dan menatap Gendis tidak percaya.
"Iya,dicoba saja dulu mumpung masih pagi,walaupun seharusnya tadi sewaktu baru bangun tidur. tapi tetap sama saja kok,kalau memang mbak Gendis hamil pasti akan terlihat"
"Baik,,,baik,,saya suruh pak Ahmad dulu" Danar berlari keluar kamar Gendis untuk mencari supir pribadinya dan meminta untuk mencarikan alat yang disebut bik Rahmi tadi.
Pak Ahmad segera mengerjakan perintah tuannya itu.
Danar Kemabli kekamar dan menemui Gendis yang masih ditemani bik Rahmi.
Wajah Danar tampak sumringah sekali.
"Bik semoga bener yaa,semoga nanti sewaktu ditest hasilnya bener ya Gendis hamil" seru Danar lagi masih dengan rasa riangnya.
"Gendissss kamu kalau hamil suka kan? Kamu senangkan?" tanya Danar pada Gendis dan duduk disamping Gendis.
Gendis tersenyum,dan juga merasakan apa yang Danar rasakan.
"Duhh lama ya pak Ahmad"
"Sabar den,,pak Ahmad kan harus beli diluar sana" bik Rahmi menenangkan Danar.
Tidak berapa lama pak Ahmad datang dan langsung menyerahkan pesanan Danar pada bik Rahmi.
"Mbak Gendis bangun dulu,dan buang air kecil ditaruh wadah,setelah itu alat ini mbak Gendis masukkan diwadah itu,dan tunggu hasilnya,kalau garis merahnya ada dua berarti mbak Gendis positif hamil,kalau satu saja garisnya ya mbak Gendis dan den Danar harus sabar lagi" jelas bik Rahmi pada Gendis tentang cara memakai testpack itu.
"Yuk aku bantu kekamar mandi,kamu pusing gak?" tanya Danar lembut.
"Enggak,aku bisa mas sendiri" jawab Gendis.
Gendis masuk kekamar mandi dan melakukan apa yang tadi diberitahukan oleh bik Rahmi. Gendis menanti dengan perasaan degdegkan dan jantungnya berdegup kencang.
beberapa detik terlihat dari alat itu ada garis merah muncul,hati gendis makin tidak karuan,karena masih terlihat samar,dan lama lama semakin terlihat jelas,,yaaa ada dua garis merah terlihat dialat itu.
Gendis menutup mulutnya karena merasa terkejut dan takjub,jantungnya terus berdegup kencang,air matanya pun menetes tanpa dia sadari.
"Massss,,," seru Gendis dari dalam kamar mandi
"Mas,,bik rahmi cepat kemari" Gendis tidak sabar memanggil mereka padahal Danar dan bik Rahmi sudah ada didalam kamar mandi mendekati Gendis.
"Gimana Gendis,,gimana hasilnya?" tanya Danar penasaran.
"Lihat mas" Gendis menunjuk alat testpack yang dia taruh diatas wastafel.
Danar meraih alat itu dan menatapnya bingung kemudian memberikan pada bik Rahmi.
"Ini gimana bik hasilnya?" tanya Danar.
Bik Rahmi tersenyum saat meraih alat itu.
"Alhamdulillah den,mbak Gendis positif hamil" jawab bik Rahmi antusias.
"Serius bik?" Danar bertanya tidak percaya.
__ADS_1
"Ini buktinya den,sudah terlihat dua garis merah"
Gendis menyandarkan tubuhnya didinding kamar mandi dan menutup mulutnya masih tidak percaya,air matanya masih saja menetes dari ujung matanya.
Danar menatap Gendis lembut,air mata Danar juga terjatuh dan cepat Danar mengusapnya. Perlahan Danar melangkah mendekati Gendis,menatap sendu Gendis,air mata masih saja terjatuh meski Danar berulangkali mengusapnya,begitu juga Gendis yang sama seperti Danar,tidak mampu menahan air mata yang terus berjatuhan dari sudut matanya.
"Kamu hamil Gendis" bisik Danar terisak.
Gendis mengangguk manja sambil menatap mata Danar .
"Aku tidak percaya ini,,kamu hamil anakku"
"Kamu bahagia kan Gendis?" Danar bertanya tentang perasaan Gendis.
"Aku bahagia mas" jawab Gendis pelan dan juga terisak seperti Danar.
"Yaaa,,hal yang semakin membuatku bahagia saat aku dengar kamu juga bahagia"
Danar merengkuh tubuh Gendis dan menenggelamkannya dipelukannya,,begitu erat dan hangat pelukan itu membuat Gendis merasa nyaman dan bahagia.
Lama Danar memeluk Gendis dan sesekali menciumi kepala Gendis dengan perasaan sayangnya. yaa perasaan sayang yang tiba tiba semakin menguat dihati Danar pada Gendis
"Malam ini kita kedokter ya,kita datengin lagi dokter Rama" pinta Danar.
"Apakah hari Minggu dia juga praktek?" tanya Gendis pelan.
"Emm,entahlah,,tapi aku akan telpon dia. Kalau dia tidak praktek aku akan memaksa dia"
"memaksa apa mas?"
"Ya buat ngecek keadaan kamu"
Danar melepas pelukannya pada Gendis kemudian berbicara pada bik Rahmi.
"Bik trimakasih yaaa,,berkat bibik saya dan Gendis jadi segera tahu kalau Gendis ternyata sedang hamil,coba kalau tidak mungkin baru besok atau besoknya lagi akan tau,karena pasti kami mengira Gendis hanya masuk angin biasa saja" ucap Danar senang pada bik Rahmi.
"Iya den,sama sama. Sekarang mbak Gendis harus lebih berhati hati,jaga kandungan dengan baik,dan Aden juga harus lebih perhatian lagi pada mbak Gendis" bik Rahmi memberi nasehat pada Danar dan Gendis.
"Iya bik,pasti,,,saya akan menjaga Gendis dan sangat perhatian sekali pada dia"
"Ya sudah saya mau kembali kedapur,mbak Gendis kalau mau apa bilang saja,nanti bibik buatkan" pesan bik Rahmi lagi sebelum meninggalkan mereka.
"Iya bik trimakasih,,saya masih belum pengen apa apa" jawab Gendis.
bik Rahmi keluar dari kamar Gendis.
Danar menuntun Gendis keluar dari kamar mandi,dan membantu Gendis untuk berbaring.
"Mulai sekarang gak usah cape cape,kalau butuh apa apa bilang sama bik Rahmi"
Gendis tersenyum,dan memegang tangan Danar erat.
"Jangan kemana mana,disini saja,aku mau mas temani aku" ucap Gendis pelan dan manja.
"Iya,,aku disini,,sekarang istirahat ya"
Gendis mengangguk pelan.
__ADS_1