
Gendis dan Danar sudah selesai makan malam diluar dan memutuskan untuk langsung pulang.
Sampai di rumah Gendis memutuskan untuk langsung beristirahat karena memang terlalu lelah.
Setelah melakukan ritual membersihkan wajah terlebih dulu sebelum tidur Gendis bergegas naik keatas tempat tidur.
βtidak lama Danar juga masuk kekamar menyusul Gendis.
"Kamu capek?" tanya Danar lembut sambil mendekat kearah Gendis yang sudah berbaring.
"Iya,,lumayan pegel nih pinggang mas kelamaan duduk" jawab Gendis.
"Sini aku pijetin" Danar mulai memijat pinggang Gendis. Gendis tersenyum bahagia karena perlakuan Danar yang begitu manis padanya.
"Selalu seperti ini ya mas" ucap Gendis meminta.
Danar semakin mendekat dan memeluk Gendis dari belakang.
"Iya sayang,,aku akan berusaha untuk terus membuatmu bahagia" jawab Danar lembut.
Gendis merapatkan tangan Danar ditubuhnya dan tidak ingin melepaskan pelukan hangat itu.
"Apapun yang terjadi saling percaya ya mas"
"Iya,,,"
Danar semakin mengeratkan pelukannya dan tanpa terasa Gendis tertidur dalam dekapannya.
ππππ
Gendis terbangun karena suara adzan subuh terdengar.
segera saja dia turun dari atas tempat tidur kemudian kekamar mandi untuk membersihkan diri dan berwudhu.
Setelah selesai Gendis keluar dari kamar mandi dan segera memakai mukena untuk melaksanakan sholat subuh.
Selesai sholat dan merapikan kembali mukenanya danar terbangun dari tidurnya .
"sayang habis apa?" tanya Danar pelan dengan suara yang masih sedikit parah.
"sholat subuh mas"
"Oh,,," jawab Danar sedikit merasa tidak enak kemudian tersenyum pada Gendis.
"Kalau waktu sholat ingatkan aku juga yaa" pinta Danar kemudian.
Gendis menatap Danar tampak sedikit terkejut tetapi tidak lama tersenyum bahagia.
"Iya mas,,sekarang masih ada waktu kok buat ngelaksanakan sholat subuh" jawab Gendis mengingatkan.
Danar tersenyum kemudian menuruti Gendis. Bergegas turun dari tempat tidur dan ke kamar mandi.
Selesai berwudhu Danar memakai sarung yang ternyata sudah disiapkan oleh Gendis dan juga kopiah.
Gendis menunggu Danar di ruang tengah dan sudah menyiapkan Danar secangkir teh hangat.
Tidak lama Danar keluar dari kamar dan tersenyum saat mendapati Gendis yang tengah duduk disofa.
"Ini mas teh hangat buatmu" Gendis menyerahkan minuman itu pada Danar.
"Trimakasih ya" ucap Danar pelan sambil menerimanya dan sesaat menyeruputnya.
"Yuk jalan jalan pagi,,aku juga pengen joging tipis tipis" ajak Danar.
"Boleh,,,"
__ADS_1
"oke,tunggu aku ganti celana dulu" seru Danar sambil kembali masuk kedalam kamar.
Sesaat Danar keluar memakai celana training joger kemudian bersama Gendis turun kebawah.
Udara pagi begitu segar Gendis dan Danar rasakan.
Lampu lampu jalanan masih menyala,matahari belum terlihat dari arah timur.
"Kok gak pake sepatu mas?" tanya Gendis aneh karena melihat Danar hanya memakai sandal jepit biasa..
"Enggak,,,"
"Katanya mau joging?"
"Yaa,,,tapi kalau aku joging nanti kamu jalan sendirian. Enakkan jalan berdua sambil gandengan tangan " jawab Danar beralasan.
"Ahh bilang aja malas" ledek Gendis.
"Hehehe,,,terlalu malas untuk jauh darimu"
"Idihhhh,,,"
Danar langsung menggandeng tangan Gendis dan mengajaknya berjalan mengitari komplek.
Tampak beberapa warga komplek juga sedang menikmati kesejukan pagi ini,ada yang berjalan santai,ada yang joging,ada juga yang bersepeda.
"Hemmm,,pagi yang indah yaa" seru Danar.
"Iya mas. Mas sepertinya nanti aku pengen dibuatin sarapan dulu sama mas sebelum berangkat ke kantor" pinta Gendis tiba tiba.
"Apa sih yang enggak buat kamu" jawab Danar.
Beberapa menit kemudian mereka memutuskan pulang karena Gendis sudah terlihat lelah.
Mereka beristirahat sejenak diruang tengah. Danar memijat kaki Gendis dengan rasa sayang dan perhatiannya.
"Kenapa?"
"Nanti aku malah ngelunjak"
"Hahaha,,,,tapi aku yakin kamu tidak seperti itu" jawab Danar tanpa rasa khawatir.
"Yaa habis kamu bener bener luar biasa mas sama aku,aku sama sekali tidak menyangka dengan perubahanmu yang luar biasa ini"
"Karena aku begitu bahagia dan bersyukur Gendis dengan semua yang sudah aku dapat,darimu aku mendapatkan semuanya,terutama pelajaran hidup yang berharga" jelas Danar sambil menyentil hidung Gendis gemas.
Gendis tersenyum.
"Ya sudah,,mas siap siap deh,jangan lupa buatin aku sarapan,aku cuman minta dibuatkan telur mata sapi seperti yang waktu itu"
"Siap,,,aku buatkan saja dulu ya,baru setelah itu aku mandi"
"Iya,,," jawab Gendis.
Saat Danar membuatkannya sarapan Gendis naik keatas kamar untuk mandi. setelah selesai mandi dan berpakaian dia turun kemudian menuju keruang tengah.
Danar juga segera mandi dan berpakaian rapi,kemudian bersiap sarapan bersama Gendis.
"Trimakasih ya mas,,kamu selalu berusaha menuruti apa yang aku minta" ucap Gendis bahagia.
"Iya,,aku senang kok lakukan itu,apalagi permintaan kamu itu gak aneh aneh sayang"
Mereka berdua langsung saja menikmati sarapan berdua.
"Aku berangkat ya,,jangan lupa minum vitamin dan susu,makan buah juga " pesan Danar sebelum berangkat ke kantor.
__ADS_1
"Iya mas,,"
Danar memeluk Gendis erat kemudian mencium keningnya. Gendis segera menyalami Danar dan mencium punggung tangan kanan Danar dan mendoakan Danar.
Sesaat Danar sudah melaju dijalanan yang sudah mulai macet.
Gendis masuk ke dalam kemudian langsung menuju kekamarnya.
seperti biasa didalam kamar sudah tersedia segelas susu yang dibawakan oleh bik Rahmi,dan juga vitamin dan buah.
Gendis masih malas untuk meminum susu itu,dan hanya memakan buah buahan saja.
Gendis asyik menatap layar ponselnya dan menikmati hiburan dari aplikasi yang dia unduh.
Tiba tiba saja sebuah pesan masuk dan tanpa nama.
*Gendis apa kabar?*
*Aku Cakra*
*Boleh kita bertemu?*
Gendis hanya membaca pesan itu dan terdiam. hatinya pun kesal bagaimana Cakra bisa tau nomor ponselnya,dan itu sudah pasti dari Lalita.
"apa mau Cakra? Kenapa dia begitu tidak punya rasa malu,masih saja berusaha menggangguku"gumam Gendis.
*Tolong jawab aku*
*kita bisa bertemu di tempat biasa*
Geram gendis rasanya dan langsung membalas pesan Cakra.
"Cakra,apa kamu masih belum paham dengan statusku? aku tidak akan pernah mau menemuimu*
*tolong jangan ganggu aku*
Dan seketika Gendis langsung memblokir nomor itu.
Gendis tidak ingin berurusan dengan Cakra.
"Kenapa kalian tidak menjalin hubungan saja,kenapa harus mengusik rumah tangga orang lain?"
"betapa damainya hidup kalau tidak ada manusia manusia pengganggu seperti kalian" gumam Gendis lagi.
sungguh hatinya sangat kesal dan marah sekali pada Cakra dan Lalita. Entah kenapa mereka begitu gigih ingin merusak rumah tangganya dengan Danar. Dan anehnya Cakra,,ada dendam apa dia sampai begitu mau bekerja sama dengan Lalita.
Gendis menelpon Danar,dan tidak menunggu lama Danar langsung membalas.
"Ada apa sayang?"
"Mas,,,tadi Cakra mengirimiku pesan,entah darimana dia mendapatkan nomor ponselku"
"Dia bilang ingin bertemu,aku balas dan langsung aku blokir nomor dia"
"Ya sayang,,,sudah jangan dipikirkan,bagus kalau kamu blokir dia" Danar mencoba menenangkan Gendis.
"Ya mas,,kalau mereka terus mengusik kita apa tidak sebaiknya kita laporkan saja mas?" tanya Gendis berpendapat.
"ya kita harus punya bukti yan kuat sayang,kita juga masih ingin tahu kan apa tindakan mereka selanjutnya?"
"Hemmm,,,"
"Ya sudah sekarang kamu istirahat ya,aku mau lanjut lagi,hari ini kerjaanku sendang banyak" jelas Danar kemudian.
"Ya mas" jawab Gendis dan mematikan ponselnya.
__ADS_1
"Mas Danar terlalu lama bertindak,sepertinya malah menikmati permainan mereka,bagaimana kalau mereka bertindak yang lebih,mas Danar tidak memikirkan keselamatan diri sendiri dan aku" gumam Gendis kesal pada Danar.