Aku Dijodohkan Dan Diselingkuhi

Aku Dijodohkan Dan Diselingkuhi
bab 62 hanya peran


__ADS_3

Gendis bangun dari tidurnya dan tidak terasa ternyata waktu sudah sangat sore. bergegas saja Gendis bangun dan mandi.


Seperti biasa saat adzan Maghrib sudah terdengar dan selesai Gendis melaksanakan sholat.


Beberapa menit kemudian Gendis selesai dan keluar kamar.


Danar sedang berada di ruang tengah dan Gendis menghampirinya.


"Mas,," panggil Gendis pelan.


Danar menatap sekilas kemudian matanya kembali mengarah pada layar televisi.


"ada apa?" tanya Danar kemudian.


"Kita pulang aja gimana?"


kembali Danar menatap Gendis,dan mengerutkan keningnya.


"Ada apa kamu minta pulang?"


"Emmm,,,rasanya sudah berbeda,gak seperti awal kita sampai di tempat ini" jawab Gendis,yaa Gendis ingin Danar tahu perasaannya yang sejujurnya sangat kecewa dengan sikap Danar. Danar menginginkan bulan madu ini tetapi justru dia yang seperti gak perduli lagi.


"Tidak usah dilanjutkan lagi mas"


"Berdoa saja aku cepat hamil,meski hanya satu kali kita melakukan itu"


"Kamu baper,hanya karena aku pergi meninggalkan kamu semalam,kamu langsung saja merasa aku tidak perduli"


"Mas,aku juga gak ingin terlalu larut terbawa perasaan,aku tau diri. Aku hanyalah perempuan yang kamu jadikan istri untuk mencapai tujuanmu,bukan istri yang kamu cintai dan kamu sayangi" .


Danar menatap Gendis lekat.


"Aku menerima itu,dan aku yakinkan diriku aku tidak akan terbawa perasaan"


"Mas,,aku juga gak mau geer dengan sikap manis dan baikmu,karena sewaktu waktu juga kamu itu berubah lagi,,yahhh aku akui,aku hampir saja terlena,,tapi aku sadar sampai kapanpun kamu itu gak pernah menginginkan aku lebih dari itu" jelas Gendis jujur,Gendis mencoba Bernai mengungkapkan apa yang dia rasakan.


"Sekarang,,kita tinggal menunggu saja hasilnya,berdoa saja aku hamil,dan jika itu terjadi,aku janji akan menjaga kehamilanku dengan baik. Aku hanya ingin ini usai mas,,aku lahiran anak kamu dan setelah itu akan pergi dari kehidupanmu"


"Tidak bisa seperti itu,bagaimana kalau tidak hamil juga? " Danar memotong perkataan Gendis.


"Carilah wanita lain"

__ADS_1


"Begini saja aku sudah cukup tersiksa mas,kalau aku tidak hamil berarti anggap saja kamu kurang beruntung denganku"


"Ohh yaa,dan jika aku hamil,,aku minta sama kamu jagalah perasaanku,,itu saja mas,,jangan buat aku stress karena ulahmu,tanpa ku jelaskan dengan detail kamu pasti paham"


"Kita pulang sesuai jadwal,,turuti perintahku!"


Gendis menatap Danar kesal,yahh Danar yang selalu egois,yang merasa berkuasa atas segala hal.


"Kamu itu egois mas,memaksakan keinginan tanpa memikirkan perasaanku"


"Disini aku sedang memerankan peranku sebagai seorang suami yang baik,aku berusaha memperhatikanmu,mengerti kamu,apalagi yang kamu inginkan?"


"Iya mas,aku ngerti itu. Yaa memang disini kamu ingin menunjukkan sebagai seorang suami yang baik,,maka dari itu aku gak ingin terlena mas,karena semua itu hanya semu mas"


"Memang kamu yang terlalu baper" gumam Danar tanpa perasaan.


Gendis terdiam,ternyata susah bicara dengan Danar,seperti bicara dengan orang bodoh tapi sok pintar.


berulangkali dirinya menjelaskan juga tidak akan diterima.


Danar selalu dengan pendiriannya dan keegoisannya.


"Kenapa menjauh?" tanya Danar.


"Kamu sudah gak ingin lagi melakukan itu denganku?"


Gendis menatap Danar tajam,sungguh Gendis tidak suka dengan kata kata Danar yang seenaknya itu.


"Mas,,malam itu aku bisa menerima dan dengan suka rela aku melakukan itu untukmu,aku juga berpikir aku ini seorang istri sudah seharusnya aku melaksanakan kewajibanku,dan tidak membantah suami"


"Saat itu juga kamu berlaku sangat manis mas,kamu lembut,dan itu membuatku terbawa suasana"


"Tapi,,,saat ini kamu sendiri saja sudah bertingkah berbeda,kamu seperti kembali ke sifat aslimu,gimana aku bisa suka rela untuk melakukan itu bersamamu"


"Makanya aku bilang mas sudah cukup,tunggu saja hasilnya dan berdoa semoga aku hamil"


"Tidakkk,,,aku tidak yakin kamu akan hamil secepat itu. Aku ingin mengulang lagi malam itu" seru Danar menegaskan.


Air mata Gendis tiba tiba menetes,entah sekarang dirinya seperti tidak rela lagi terjamah oleh Danar. Meski dia tahu kalau dia akan berdosa menolak permintaan suami,dan sekali lagi itu adalah kewajibannya sebagai seorang istri.


"Kenapa kamu nangis?" tanya Danar sambil menatap Gendis.

__ADS_1


Gendis balas menatap Danar dan air matanya seakan tidak bisa di tahan untuk tidak terus menetes.


"Aku gak tau mas,,,hanya saja saat ini aku merasa sangat kecewa,kecewa dengan diriku sendiri,karena aku gak bisa menekan perasaanku,aku ingin bersikap biasa,aku ingin bersikap gak perduli,tapi aku gak bisa" jelas Gendis disela isakannya.


"Aku ingin sama sepertimu,tidak terlena,tidak terbawa suasana dan perasaan"


"Kamu mencintaiku?" tanya Danar kemudian.


Gendis menggeleng pelan.


"Aku tidak tau perasaan apa yang ada dihatiku sekarang mas,perasaanku seperti apa sama kamu,hanya saja saat kamu pergi meninggalkanku,hatiku kecewa,aku juga perduli dengan keadaanmu,apakah kamu baik baik saja diluar sana,aku cemas,aku khawatir mas. Tapii saat sikapmu biasa saja,kamu gak mengerti tentang rasa cemasku,,,aku benar benar kecewa dan sadar, ternyata aku memang tidak pernah ada sedikitpun dipikiranmu" jelas Gendis lagi dan sesekali mengusap air matanya.


Danar menatap keluar jendela,menghela nafas berat dan menghembuskannya dengan kasar. Dia mengacak rambutnya tanda hatinya sedang kacau,kemudian menatap Gendis lagi tajam.


"Ini yang aku tidak suka,,kamu tau aku tidak mencintaimu,aku berlaku baik karena aku memang ingin memperlakukanmu dengan baik,tapi aku juga punya kehidupan lain,aku hanya ingin kamu menjalankan tugas dengan baik,agar keinginan kita tercapai,kamu bisa hamil,dan aku akan menjaga supaya kamu bisa menjalani kehamilan dengan perasaan bahagia"


"Tapi,,kenapa kamu harus menyalahi aturan,kenapa kamu harus terbawa suasana hati,kenapa tidak bisa menahan agar tidak ada perasaan dihatimu" tuding Danar.


"Terus malam itu,,,malam indah yang kamu buat,malam yang penuh dengan kata kata romantis,dengan sikap manis dan luar biasamu,apakah itu hanyalah sebuah peran,,seperti yang kamu bilang kamu hanya menjalankan peranmu sebagai suami?"


"Yaa,,,,itu adalah sebagian dari peran"


"Gimana bisa mas? Yang kurasakan malam itu sungguh berbeda,ada kasih sayang diantara kita,seperti ada cinta dan sayang sampai kita bisa melakukannya dengan rasa bahagia"


"Sebagai pemain pasti bisa melakukan itu"


"Kamu menyesal?" tanya Danar


Gendis menggeleng pelan.


"Aku tidak menyesal,semua sudah terjadi"


"Jangan bawa perasaanmu terlalu dalam,pandailah bermain peran juga,kalau saatnya harus profesional ya harus,tanpa ada embel embel baper,terus jadi cinta lokasi" jelas Danar lagi,dan benar benar kalimat yang diucapkan Danar sungguh membuat Gendis seperti tertusuk pisau yang tajam sekali,merobek hatinya dan membuatnya amat terasa sakit.


"Kalau kamu hamil aku berjanji akan terus berperan dengan sangat baik,karena aku ingin kamu bahagia,dan aku tidak ingin kehilangan anakku jika kamu merasa tidak nyaman atau bahagia"


"Bisakah aku bahagia? sedang saat ini kamu sudah sangat membuatku sakit mas"


"Kamu harus bisa,,Gendis,,aku tidak ingin lagi mencari orang lain untuk menggantikanmu,jalanilah sesuai keinginanku,nanti saat berakhir aku akan menyerahkan semua kepadamu" jelas Danar lagi.


Gendis merasa ini sangatlah tidak adil untuknya,semua tidak ada yang membuatnya bahagia,lepas dari Danar dan kehilangan anak. Hidup Memang tidak adil,kenapa skenario berubah seperti ini,tanpa dia bisa mengelak dan meminta skenario yang lain.

__ADS_1


__ADS_2