Aku Dijodohkan Dan Diselingkuhi

Aku Dijodohkan Dan Diselingkuhi
bab 47 Danar dan Lalita tidak punya perasaan


__ADS_3

Lalita sudah sampai di rumah Danar. Dan Danar sudah menunggunya diruang tengah.


"Sayang,,,gimana keadaan sayang hari ini?" tanya Lalita sambil memeluk Danar dengan manja.


"Sudah membaik sayang,lihat sendiri kan keadaanku saat ini"


"Hemm,,ya"


"Aku kangen sayang"


"Aku juga" jawab Danar sambil mengeratkan pelukannya pada tubuh Lalita.


"Mana perempuan itu?" Lalita bertanya keberadaan Gendis.


"Ada dikamarnya,kenapa tanya dia?"


"Sampai berapa lama lagi aku harus bersaing dengan dia untuk memenangkan kamu?"


"Apa? Hahahahahaha,," tanya Danar terkejut kemudian tertawa terbahak.


"Kamu anggap dia sebagai sainganmu? Kenapa kamu bisa jadi gak percaya diri begini? Sayang sayang,,,yang jelas dia gak pantas bersaing denganmu"


Lalita menatap Danar lekat.


"Jelas sekarang menjadi sainganku sayang,karena dia selalu menghantui hidupku" jelas Lalita tegas.


"Dan menurutmu kamu adalah pemenangnya?" tanya Danar kemudian sambil membawa Lalita duduk disofa.


"Sudah pasti aku yang akan menang karena aku tau kamu sangat mencintaiku" jelas Lalita dengan percaya dirinya.


"Yaa,aku sangat mencintai kamu"


"Oh yaa,kenapa sewaktu di rumah sakit sikapmu berbeda sekali dengan saat ini? jujur aku kecewa sama kamu,kamu sangat membela dia waktu itu"


Danar tersenyum mendengar pertanyaan Lalita yang masih membahas masalah di rumah sakit waktu itu.


"Kenapa tersenyum?,aku butuh penjelasanmu"


"Yaa,,maaf,,memang waktu itu aku sangat membutuhkan dia" jawab Danar.


"Padahal aku juga ingin didekatmu"


"Tapi aku sedang sakit sayang,aku juga butuh ruang yang tenang untuk beristirahat. Kalau kamu ikut menjagaku kamu pasti akan ribut terus dengan dia. Dan sudah aku bilang juga kamu gak akan bisa melakukan seperti apa yang dia lakukan" jelas Danar panjang.


"Yaaa,,,"


"Tapi kenapa caramu kasar sekali,aku kecewa sekali"


"Maaf sayang,,,aku sadar aku salah dan buat kamu kecewa"


"Aku ingin tahu apa alasannya sampai kamu bersikap seperti itu?"


"Gak ada alasan sayang" jawab Danar,dan dirinya memang tidak tahu apa alasannya dia bisa berbuat seperti itu pada Lalita.


"Nahh karena tugas dia sudah selesai buat ngerawat aku,sekarang giliran kamu,kamu bersedia kan?"


"Ehh,,,bersedia sayang tapi gak mungkin aku bisa merawatmu 24 jam,sedang aku bukanlah istrimu"


"Itulah sayang,,aku ngerasa ini gak adil,aku yang pacar kamu,dan hubungan kita tidaklah sebentar,tapi bukan aku yang kamu nikahi"


"Sekarang wanita lain yang menikmati ini semuanya"


"Siapa bilang dia menikmati semuanya? Kamu ingat kan dengan rencana kita? Dan kamu juga yang mendukung aku untuk menikah dengan dia? Supaya rencana kita berjalan dengan baik"


"Berjalan dengan baik gimana? Buktinya sampai sekarang masih gak ada kejelasan,kamu masih belum juga menceraikan dia" keluh Lalita dengan wajah yang tidak bisa lagi menahan rasa kesalnya pada Danar.


"Ya sayang,,aku tau. sabarlah semua nanti akan kita lewati,kita akan hidup bersama seperti yang selama ini kita dambakan"

__ADS_1


"Ya sayang,,,kamu lihatkan aku selalu disampingmu,itu artinya aku selalu sabar"


Danar tersenyum dan meraih tubuh Lalita kemudian memeluknya erat.


"Kenapa kita gak nikah saja diam diam sayang waktu itu?"


"Lohh kamu kan maunya aku harus mendapatkan semua yang orang tuaku miliki dulu,kalau kamu mau menerima saja dengan apa adanya,kamu gak menuntut lebih sudah pasti aku akan menikahimu dari dulu meski tanpa restu" jelas Danar sambil membelai lembut wajah Lalita.


"Iya sayang,,,sekarang sudah terjadi dan kita hanya tinggal melanjutkan saja niat kita ini"


"Tapiii sayang,,,aku cemburu,aku gak yakin kamu itu gak menyentuh dia"


"Hahahahaaa,,," Danar tertawa sambil melepaskan pelukannya,kemudian menghadapkan wajah Lalita ke arahnya.


"Kenapa kamu berpikir begitu? Cemburumu tanpa logika".


"Sayanggg tapi apa iya kamu bisa menahan diri,kamu laki laki Danar,dan kamu berhak untuk menyentuhnya,kamu suaminya,makanyaaa kamu bebas saja kan melakukan itu?" tuding Lalita kesal.


"Sayanggg aku sama sekali gak pernah menyentuh dia,tidur kamar kamu terpisah kan?" Danar coba memberi penjelasan pada Lalita.


"Ahhh aku gak mau membayangkan itu,,sakit hatiku sayang"


"Nahhh siapa suruh kamu membayangkan,padahal itu hanya prasangka mu"


"Kamu gak bohong?"


"Enggak sayang,,,aku gak berbohong"Danar meyakinkan lagi Lalita.


Lalita kembali menghambur pelukan pada Danar.


"Sayang sudah minum obat?"


"Sudah,,pagi tadi "


"Ya sudah sekarang istirahat lagi" Lalita meminta Danar untuk istirahat.


"Bik,,,"Panggil Danar pada bik Lina yang sedang melintas dihadapan mereka.


"Iya den ada apa?"


"Panggilkan Gendis,dan apa makan siang sudah siap?"


"Sudah den,,tinggal disiapkan dimeja makan saja. Baik saya panggil mbak Gendis dulu" jawab bik Lina sambil berlalu dan menuju kelantai atas.


Tidak lama Gendis turun dan menatap Danar dan Lalita yang ternyata sedang bermesraan dengan tatapan jengah..


"Ada apa?" tanya Gendis ketus.


"Siapkan makanan dimeja,kami mau makan" perintah Danar dan Gendis tentu terkejut,tidak pernah Danar menyuruhnya seperti ini.


"Kenapa diam,dengar gak perintahku tadi apa?"


"Ehh iya" jawab Gendis gugup kemudian langsung menuju kedapur.


"Sepertinya kalau aku nanti jadi nyonya Danar,aku tetap mau dia ada disini" kata Lalita sambil tersenyum jahat


"Buat apa dia masih disini?"


"Mau aku jadikan pembantu"


"Hahahaha,,," Danar tertawa,merasa lucu dengan usul Lalita tadi.


"Den,,makan siang sudah siap" tiba tiba bik Lina memberitahu mereka yang masih saja asyik bercengkrama.


"Yuk sayang,,sudah lapar aku" ajak Lalita dan berdiri kemudian menggandeng tangan Danar menuju ke ruang makan.


"Mana Gendis bik?" tanya Danar pada bik Rahmi.

__ADS_1


"Ada dibelakang"


"Panggilkan"


"Baik den" bik Rahmi segera menuju dapur dan memanggil Gendis.


Gendis menghampiri Danar dan Lalita yang masih belum bersiap untuk makan.


"Ngapain kamu dibelakang?" tanya Danar kasar.


"Enggak ngapa ngapain"


"Layani kami" perintah Danar tiba tiba,membuat Gendis terperanjat..


Lalita terlihat hanya senyum senyum kegirangan.


"Mas,,,biasanya mas makan ambil sendiri kan?" Gendis protes,meski dia tau kalau salah sudah melawan suami. Tapi suami macam Danar ya tidak apa apa dilawan.


"Kenapa protes?"


"Ada pacarmu kan mas,sudah selesai kan tugasku melayani kamu saat kamu sakit"


"Kamu istriku,sampai kapanpun harus melayani dan nurut apa kata suami"


"Seimbang gak dengan yang kamu lakukan terhadap seorang istri?" tanya Gendis.


"Bukannya aku juga menafkahi lahirmu?"


"Astagaa mas,,,itu memang sudah kewajibanmu sebagai suami,tapi perlakuan perlakuanmu terhadapku gimana?"


"Kamu sehat,,ternyata balik lagi kesifat aslimu mas"


"Kenapa? Kamu keberatan?"


"Aku akan dengan senang hati menjalankan tugasku mas,asal kamu pun bersikap baik sama aku".


"Aku gak suka perempuan yang suka membantah,sekarang kerjakan yang kuperintahkan tadi"


Gendis melangkah maju mendekati meja makan kemudian mulai melayani Danar.


"Ehhh,,ada aku juga disini,kenapa kamu lewatkan aku?" Lalita protes.


"Kamu siapa? Aku hanya melayani suamiku,kamu bukan nyonya disini,dan kamu pun tamu yang tidak diundang"


"Siapa bilang aku tamu tak diundang? Danar yang mengijinkan ku kemari,dan dia minta aku untuk mengurusnya hari ini" jawab Lalita sambil menatap Gendis tajam.


"Kalau gitu silahkan kamu yang urus dia,makanpun kamu juga seharusnya"


"Gendis,,,kamu yang harus melayani aku untuk makan"


"Ohh perannya terbagi ya mas?" tanya Gendis pada Lalita dan tersenyum sinis.


"Sebenarnya cuman sayang aja kalau gak memanfaatkan keberadaanmu disini" gumam Danar sengaja ingin membuat Gendis merasa sakit hati.


Entah kenapa Danar seperti senang melihat Gendis sakit hati.


"Hahahaha,,iya sayang,,,buat apa dia disini kalau diam saja"


"Hahaha,,iya sayangku" Danar tertawa dan merangkul bahu Lalita kemudian mencium keningnya,kemudian melirik pada Gendis yang menatapnya dengan tatapan kesal.


"Mesum pada tempatnya " sindir Gendis.


"Ini bukan ditempat umum,ini didalam rumah,dan ini bukan mesum" jawab Danar dan kembali mencium Lalita.


"Jijikkkk,,," gumam Gendis kemudian pergi dari hadapan mereka berdua..


Danar hanya diam menatap sambil tersenyum.

__ADS_1


"Kamu cemburu" gumam Danar dalam hati.


__ADS_2