Aku Dijodohkan Dan Diselingkuhi

Aku Dijodohkan Dan Diselingkuhi
bab 43 pulang


__ADS_3

Pagi ini Gendis sudah terbangun,semalam sepertinya dia nyenyak sekali tidur ya,tapi entah dengan Danar.


Gendis merasa senang hari ini kemungkinan Danar sudah boleh pulang,apalagi Danar menunjukkan keadaanya memang sudah semakin membaik.


Gendis cepat cepat membersihkan diri ke toilet sebelum Danar bangun.


selesai mandi dan berpakaian,Gendis duduk disofa dan bermain ponsel. Danar sama sekali belum terusik tidurnya.


Makan pagi Danar sudah tersedia,dan pintu kamar Danar terdengar diketuk oleh seseorang.


Gendis heran siapa pagi pagi datang,dokter kalau visit kan selalu jam sepuluh.


Gendis berdiri dan melangkah kepintu,setelah membuka pintu ternyata telah berdiri asisten Danar yang biasa mengantarkan dirinya makanan.


"Loh,kok sudah mengantar makanan?" tanya Gendis sambil menerima bungkusan yang diberikan oleh asisten Danar itu.


"Iya nyonya,tuan dari semalam sudah berpesan kalau pagi ini segera mengantarkan makan pagi buat nyonya"


"Ohh,,trimakasih "


"Ya nyonya sama-sama,kalau gitu saya permisi" ucap sang asisten sambil berlalu dari hadapan Gendis.


Gendis menutup pintu kembali dan berjalan kearah sofa lagi.


"Hemm,,semalam bermain ponsel rupanya memesankan ku makanan untuk pagi ini" gumam Gendis dan sedikit terharu dengan sikap Danar itu.


"Memang manis banget kamu mas"


Terlihat Danar menggeliat dan terbangun. kemudian berusaha untuk duduk bersandar diranjang.


"Mas,tadi ada asisten kamu mengantarkan makanan" Gendis memberitahu Danar.


"Oh ya,,semalam aku yang minta untuk segera mengantarkan makan pagi buatmu"


"Trimakasih mas"


"Gak usah berterima kasih,aku hanya gak ingin kamu sakit karena telat makan"


"Hemm,,,ya padahal aku bisa cari sendiri,makan di restoran yang ada di rumah sakit ini" jelas Gendis.


"Kan aku sudah bilang kamu jangan pergi dari sini"


"Aku mau bersihkan badan,saat dokter visit aku sudah segar"


"Oh ya,aku bantu mas" kata Gendis kemudian segera mambantu Danar yang ingin turun dari atas ranjang. Membantu melepaskan infus yang tergantung.


Mereke berdua melangkah kedalam toilet,kemudian Gendis meninggalkan Danar didalam sendiri.


Beberapa menit kemudian Danar sudah selesai,dan seperti biasa Gendis membantu Danar untuk memakaikan baju.


"Sarapan ya mas" tawar Gendis kemudian setelah Danar sudah kembali ada diatas ranjang.


"Iya,,"jawab Danar singkat.


Gendis pun langsung melayani Danar. Menyuapi Danar makan makanan yang sudah disediakan dari rumah sakit,dan Gendis merasa Danar tidak cerewet sama sekali,dia mau saja makan,malah sampai dihabiskan.


"Kamu kok gak rewel ya mas soal makan? Malah selalu habis"


"Rewel kenapa?" tanya Danar bingung.


"Yaa kebanyakan kan orang tu susah kalau disuruh makan makanan yang sudah disediakan oleh rumah sakit,alasannya selalu bilang enggak enak. Tapi aku perhatikan mas mau aja makan,gak pernah ribet minta makanan dari luar"


"Kalau mau cepat sembuh ya harus nurut dong" jawab Danar tegas.


"Ohh itu alasannya"


"Ya iya,,kalau makanan dari rumah sakit sudah tentu terjamin gizi dan kebersihannya,dan orang sakit itu kalau mau sembuh ya harus nurut gak usah rewel"


"Ya,,yaa,ya,,,pinter kamu mas" ledek Gendis kemudian tanpa merasa sungkan.

__ADS_1


Yaaa sejak dia mengurus Danar sakit dia merasa dekat sekali,dan entah dia merasa tidak ada jarak antara dia dan Danar,jadi seperti biasa saja saat dia harus melontarkan ledekan ledekan untuk Danar.


"Apaan" Danar sedikit sebal.


Gendis tersenyum.


Akhirnya tanpa terasa Danar selesai makan. Gendis membantu Danar minum dan sekalian minum obat,barulah Danar beristirahat sambil menunggu waktu dokter untuk visit.


"Kamu sekarang sarapan,oh yaa aku juga pengen duduk disofa dekat kamu" kata Danar kemudian sambil turun perlahan dari ranjang.


"Capek baring terus" gumam Danar sambil berjalan bersama Gendis kearah sofa.


Gendis membuka makanan yang tadi dibawakan oleh asisten Danar.


"Mau mas? " tawar Gendis saat melihat isi dari bungkusan itu.


"Aku kenyang,sepertinya enak yaa?"Danar tampak terangsang dengan wangi dari sayur dan lauk itu.


"Heem,,,wangi banget,rendang mas ini,,sini aku suapin kalau pengen" Gendis menyodorkan suapan kemulut Danar. Dan Danar tidak menolak,dia menerima suapan Gendis.


"sudah,,aku nyobain aja,aku juga sudah kenyang" kata Danar setelah mendapat suapan dari Gendis.


Gendis tersenyum kemudian melanjutkan sarapannya sampai selesai. Dia tidak sadar kalau sedari tadi Danar selalu menatapnya.


"Makanmu banyak ya?" celetuk Danar kemudian.


"Sayang nas kalau gak dihabisin,gak boleh buang buang makanan" jawab Gendis santai.


"Ohhh gitu"


Akhirnya Gendis selesai makan dan segera membereskan yang berantakan diatas meja.


Setelah itu dia kembali duduk didekat Danar.


"Gak capek duduk berlama lama?" tanya Gendis kemudian.


"Enggak,justru cape kalau berbaring terus. Gak sabar pengen pulang"


"Ya gak ada,,kalau gak boleh pulang yaaa aku hancurin nih kamar hahahaha"


"Kenapa kamar aja,gak rumah sakitnya sekalian?" Gendis malah menambahkan.


"Rusak dong reputasiku"


"Nanggung mas,hancurin kamar juga rusak reputasi padahal kecil tu,mendingan sekalian rumah sakitnya,kan sama sama rusak reputasi" jelas Gendis dan tersenyum meledek Danar.


"Astaga dibahas sampe panjang begini" protes Danar.


"Kalau gak gitu gak ada yang diobrolin"


"Mas,,balik keatas ranjang,sudah jamnya dokter untuk visit" pinta Gendis kemudian.


"Ya,," jawab Danar singkat sambil berdiri dan berjalan menuju ke ranjangnya.


Gendis membantu menggantung botol infusan dan merapikan selimut Danar.


Benar saja sang dokter datang bersama seorang perawat,dan lagi dokter Indri selaku tidak ingin ketinggalan.


Apakah memang dia juga bertugas memantau Danar,sedang dia bukanlah dokter yang menangani Danar.


Mata itu lagi lagi menatap Gendis sinis. tapi Gendis cuek saja. Dia tidak perduli dengan perlakuan dokter Indri yang sangat tidak bersahabat itu pada dirinya.


Dari awal juga Gendis tidak mengenal sang dokter jadi tidak masalah dia berlaku seperti itu pada dirinya.


"Selamat pagi tuan Danar,bagaimana keadaannya hari ini?" tanya dokter Hakim sambil mengecek keadaan Danar.


"Syukurlah dok sudah semakin membaik" jawab Danar antusias.


Dokter diam karena berkonsentrasi dengan tugasnya.

__ADS_1


"Hemm yaa,tuan Danar sudah dapat dipastikan sekarang semakin membaik,dan hati ini saya ijinkan untuk bisa pulang"


"Tapi ingat,untuk saat ini tuan masih harus melanjutkan istirahat di rumah hingga benar benar pulih,makan yang teratur dan selama masih minum obat,minumlah dengan teratur sesuai anjuran" jelas dokter Hakim setelah memutuskan Danar bisa pulang hari ini.


"Baik dok,trimakasih " jawab Danar dengan wajah berbinar binar.


Gendis juga merasa senang dan lega akhirnya Danar bisa pulang dan melanjutkan istirahat di rumah.


"Kalau begitu saya permisi tuan Danar" pamit sang dokter dan diikuti oleh perawat,tapi tidak dengan dokter Indri dia masih bertahan dikamar rawat Danar.


"Selamat Danar,akhirnya kamu bisa pulang hari ini" ucap dokter Indri.


"Trimakasih" jawab Danar sembari tersenyum.


"Oh ya,,aku sudah beritahu Lalita kalau kamu hari ini sudah boleh pulang,dan dia akan kemari menjemputmu"


"Apaaaa?" Danar terperanjat kaget.


"Kenapa kamu beritahu dia?"


"Lohhh kan dia pacar kamu,dia berhak tau kan keadaan kamu"


"Yaa tapi aku juga sudah boleh pulang hari ini"


"Iya dia akan jemput kamu"


"Untuk apa? Ada istriku disini yang sudah siap membantuku. Dan aku juga sudah ada yang menjemput" jelas Danar dengan wajah kesal.


"Lagian dia mau jemput aku pakai apa? Mobil saja dia tidak punya,malah tetap kan dia yang ikut kejemput nanti" gerutu Danar gak bisa menyembunyikan rasa kesalnya.


"Kamu juga,pacaran sama dia sudah lama masih juga belum kamu belikan dia mobil,di peristri pun enggak,memang tega kamu Danar" damprat dokter Indri tiba tiba.


Gendis merasa heran dengan sikap dokter satu ini,bener bener tidak punya etika dan sopan santun,apalagi menghargai orang.


percuma saja berilmu tinggi tapi tidak punya etika dan adab.


"Tolong Indri kamu tidak perlu membahas masalahku ini"


"Kenapa Danar,aku sahabat Lalita,dan sebagai sahabat terus terjang aku juga ikut merasa sakit hati,tega kamu sakiti dia"


"hehhhhh,," Danar tertawa sinis.


"Maaf Bu dokter,tolong jangan ganggu mas Danar dulu,mas Danar baru saja sembuh"


"Masalah itu nanti saja dibicarakan lagi saat mas Danar benar benar sehat dan bisa berpikir dengan baik" Gendis mendorong perdebatan antara Danar dan dokter Indri.


Sang dokter menatap tajam kearah Gendis,dan merasa tersinggung dengan ucapan Gendis tadi.


"Kamu diam ya" hardik dokter Indri tajam.


"Indri,,," sentak Danar.


"Aku kecewa sama kamu Danar,aku yang berjuang mati matian buat kamu dan Lalita dulu,seenaknya kamu sakiti dia" dokter Indri kembali menyerang Danar.


"Sudah Indri,,tidak perlu membahas ini"


Gendis semakin merasa heran dengan perlakuan sang dokter,tidak punya etikanya sangat melebihi batas.


sang dokter keluar dari kamar Danar dan sebelumya sempat menghardik Gendis.


"Murahan,,"


Gendis hanya diam dan air matapun menetes.


Sakit rasanya harus menerima kata kata hinaan seperti itu.


Hal hina seperti apa yang sudah dia lakukan sampai diberi label murahan.


"Gendis,," panggil Danar lembut.

__ADS_1


"Bersiap siap aja,kita mau pulang. Aku akan suruh asisten ku untuk mengurus semua." pinta Danar.


"Iya mas" jawab Gendis sambil mengusap air matanya.


__ADS_2