Aku Dijodohkan Dan Diselingkuhi

Aku Dijodohkan Dan Diselingkuhi
bab 41 dokter Indri menemui Gendis


__ADS_3

Gendis sudah selesai makan siang dan juga sudah membereskan semua makanan yang tadi ada diatas meja.


Perutnya terasa kenyang,tapi Danar membelikan begitu banyak makanan untuknya,meski Danar bilang dia juga mau.


Gendis menghampiri Danar yang ternyata sudah terlelap kembali. Dengan lembut Gendis menaikkan selimut sedikit keatas dada Danar.


"Kamu kalau baik begini jadi semakin terlihat tampan dan manis mas" gumam Gendis sedikit lirih.


"Hemmm,,,," terdengar deheman dari Danar.


"Upppsss,,"Gendis terkejut sambil menutup mulutnya.


Saat memperhatikan lagi Danar memang tertidur,gak mungkin tadi dia mendengar ucapannya.


Gendis kembali kesofa dan bermain ponsel. Meski jenuh tapi Gendis ikhlas melakukan ini,meski nanti akan berpisah juga dengan Danar tapi setidaknya dia sempat berbakti pada suaminya itu.


"Semoga saat kamu sembuh nanti,kamu akan terus seperti ini mas,baik dan manis sikapmu" ucap Gendis lagi. Dia gak fokus bermain ponsel,matanya tertuju lagi pada Danar yang masih terlelap pulas.


Tiba tiba pintu kamar terbuka,dan terlihat dokter Indri yang masuk kedalam.Gendis sedikit bingung,ada apa dia masuk kekamar Danar,bukannya dokter Indri juga bukan dokter spesialis yang menangani Danar,kalau ingin membesuk


Danar juga harusnya sang dokter tau ini sudah bukan jam untuk membesuk lagi.


"Maaf dokter ada apa?" Gendis memberanikan diri bertanya saat dokter itu menghampirinya.


Wajah sang dokter sangatlah sinis pada Gendis,senyum pun tidak mau.


"Mas Danar sedang istirahat" jelas Gendis mencoba untuk ramah meski dari tadi dia mendapatkan perlakuan tidak enak dari sang dokter. Bukan perlakuan fisik atau sebagainya,tapi dari tatapan dokter yang sangat tidak bersahabat itu padanya membuat dirinya merasa tidak nyaman sama sekali.


"Saya bukan mau temui Danar" jawab dokter itu ketus.


"Lalu?


"Hemm,saya cuman mau menyampaikan apa yang saat ini ada dipikiran saya mengenai kamu"


Gendis mengerutkan keningnya karena bingung dengan perkataan sang dokter.


"Dokter mau menyampaikan apa?" tanya Gendis kemudian dan berusaha untuk menenangkan hatinya.


"Bagaimana bisa Danar menikahi kamu?sedang saya tau Danar mencintai kekasihnya,yaitu Lalita,anda pasti tau kan siapa Lalita?" sang dokter mulai menjelaskan maksudnya. Dan Gendis dengan sabar mendengarkan.


"Dan saya jadi berpikir kalau kamu itu hanya ingin mengejar harta Danar dan keluarganya" tuding dokter Indri tanpa perasaan dan seenaknya menuduh Gendis.

__ADS_1


Gendis masih saja diam dan sabar menunggu lagi apa yang akan dokter itu katakan tentang dirinya.


"Padahal Danar sudah menjalin hubungan lama dengan Lalita,dan susah payah mereka menjalin hubungan,berjuang mendapat restu dari orang tua Danar,kenapa kamu hadir diantara mereka? apalagi kalau bukan sengaja ingin menguasai harta Danar dan keluarganya"


"Menyedihkan sekali dan memalukan" hardik dokter Indri kasar.


"Dan apakah itu sangat mengganggu dokter?" tanya Gendis kemudian dengan telak.


Wajah sang dokter memerah tampak menahan amarah.


"Kenapa dokter tiba tiba saja menuduh saya tanpa dasar? apakah karena dokter sahabat sejati wanita itu? Sampai dokter sebegitu hebatnya membela dia?" tanya Gendis tegas.


"Atau apakah tuduhan dokter kepada saya itu sebenarnya adalah kebalikan dari rencana dokter dan wanita itu?"


"Uppssse,,maaf dokter,saya jadi suudzon sama Bu dokter,tapi Bu dokter pun juga sudah menuduh saya" ucap Gendis sambil sedikit menutup mulutnya.


"Maaf Bu dokter,,saya bukan sombong ya,tapi maaafff banget,saya ini menantu yang diidamkan oleh orang tua mas Danar" ucap Gendis lagi setengah berbisik pada sang dokter.


Wajah sang dokter kembali memerah dan tampak meradang. Kedua tangannya mengepal erat.


"Kami menikah dengan restu orang tua,dan mas Danar yang memilih saya bukan orang tua mas Danar yang memaksa anaknya untuk menikah dengan saya,jadiii buat apa saya harus serakah untuk mengincar harta mereka,,tohhh nanti pun saya akan mendapatkan itu" jelas Gendis lagi sengaja membuka semua yang terjadi,agar dokter itu semakin meradang mendengarnya.


"Jadi dokter jangan sembarangan menuduh saya"


"Dan anda seorang dokter loo,tapi kenapa anda tidak punya etika sama sekali?" kembali Gendis menghujamkan kata kata pedas untuk sang dokter.


"Hemmmmhhhhh,,"terdengar suara Danar yang ternyata menggeliat entah mungkin terganggu dengan suara ribut Gendis dan dokter Indri.


"Saya pastikan kamu akan bercerai dengan Danar" tegas sang dokter lagi bernada ancaman.


Gendis hanya diam saja mendengar itu.


"Saya tidak ingin ada orang lain merusak hubungan sahabat saya" kata sang dokter lagi dan kali ini dia kemudian melangkah keluar kamar rawat Danar.


Gendis hanya menatap kemudian terduduk disofa,air matanya mengalir dan Gendis buru buru mengusapnya.


"Kenapa aku yang harus dianggap perempuan tidak tau malu? kenapa aku yang harus dituduh sebagai wanita serakah? Aku datang dikehidupan mas Danar bukan keinginanku,aku tidak tau apakah memang ini jodohku dan entah sampai kapan? Tapi orang yang tidak tau apa masalahnya menjadi salah paham, dan Lalita kenapa dia harus menjadi orang yang paling tersakiti,sedang aku yakin ini juga terjadi atas rencananya,Lalita juga dalang dibalik pernikahanku dan mas Danar" keluh Gendis lirih.


Lagi lagi air matanya menetes tanpa bisa ditahan. Sakit hatinya mendapat tuduhan seperti itu.


Gendis terisak dan ternyata isakannya itu didengar oleh Danar. Tanpa Gendis sadari Danar sudah terbangun dari tidurnya.

__ADS_1


"Gendis,," panggil Danar.


Gendis terperanjat dan segera mengusap air matanya dengan kasar kemudian berdiri menghampiri Danar.


"Ada apa mas? Mas haus?" tanya Gendis sambil mengambilkan segelas air putih untuk Danar .


"Aku gak haus,," jawab Danar.


"Mas lapar,mau ngemil?"


"Enggak Gendis,,Kenapa Gendis,,kamu seperti menangis,dan sekarang kamu sedang berpura pura didepanku" tanya Danar kemudian sambil menatap Gendis lekat.


"Gak apa apa mas"


"Aku dengar kamu menangis,tadi juga samar samar aku mendengar seperti ada seseorang disini,kamu mengobrol dengan siapa?"


"Gak ada mas" jawab Gendis berbohong. Ingin rasanya Gendis mengadu pada Danar,tapi Gendis gak yakin Danar akan membelanya. Dan apakah nanti aku hanya akan dianggap wanita cengeng oleh dua perempuan itu yang bisanya hanya mengadu pada suami.


"Kamu bohong,ada sesuatu yang kamu sembunyikan" Danar gak percaya dengan jawaban Gendis tadi.


"Gak ada apa apa kok menangis,jangan bilang kalau aku kelilipan,,, alasan basi" gumam Danar dengan wajah kesal.


Gendis menatap Danar dan ingin rasanya tertawa karena Danar bisa saja bercanda seperti itu.


"Siapa tadi yang datang kemari?"


"Gak ada siapa siapa mas,aku hanya telpon ibu tadi"


"Kenapa sampai menangis?"tanya Danar lagi masih terlihat gak percaya dengan penjelasan Gendis.


"Enggak menangis mas,,"


"Kenapa sih bersikeras berbohong? Matamu saja bengkak dan merah"


"Kalau ada yang ingin kamu ceritakan aku siap mendengar,supaya hati kamu merasa lega" pinta Danar.


Kembali Gendis menatap lekat Danar.


"Bukan aku gak ingin cerita,tapi aku masih ada rasa gak percaya sama kamu mas" gumam Gendis didalam hati.


"Dan lagi apa kamu mau percaya sama aku juga dan bisa membela ku" hati Gendis terus bertanya tanya.

__ADS_1


"Ya sudah kalau kamu gak mau cerita. Aku gak berhak memaksa kamu" akhirnya Danar menyerah dan gak memaksa Gendis lagi untuk cerita masalahnya.


__ADS_2