
Danar dan Gendis sudah selesai makan siang,Danar kemudian mengantarkan Gendis pulang.
"Kamu capek ya?" tanya Danar lembut sambil membelai pipi Gendis.
"Yaa lumayan mas,sejak hamil perasaan jadi mudah capek"
"Yaa nanti di rumah istirahat ya"
Gendis mengangguk dan tersenyum menatap Danar .
beberapa menit mereka sampai,Danar tidak turun dari mobil dan bermaksud langsung kembali ke kantor.
Danar melambaikan tangan pada Gendis kemudian melesat keluar dari halaman rumah dengan mobilnya.
Gendis masuk kedalam dan bergegas menuju kamar.
didalam kamar Gendis bermain ponsel,dan asyik memainkan game yang dia suka.
Tiba tiba bik Rahmi datang kekamar memberitahu kalau ada yang ingin bertemu dengannya.
"Siapa bik?" tanya Gendis penasaran.
"non Lalita mbak"
"Apa saya suruh pergi saja mbak,saya takut dia berulah lagi"
"Tidak usah bik,saya akan temui dia" jawab Gendis sambil turun dari tempat tidurnya dan langsung menuju ke ruang tamu.
"Ada apa?" tanya Gendis saat sudah bertemu dengan Lalita.
Lalita tersenyum,kemudian berjalan mendekati Gendis.
"Aku tidak menyangka,ternyata kamu bisa juga ya mempermainkan Danar?" tuding Lalita tanpa basa basi.
Gendis mengerutkan keningnya dan menahan senyumnya.
"Ahhh,,kamu pasti sedang menuduhku,aku punya hubungan dengan laki laki tadi yaa?"
"memang iya kan?,dan syukurlah Danar akhirnya tau"
"Oh,,,yaa,,berarti tadi kamu melapor padanya?"
"Yaa,saat aku tiba di restoran itu aku melihatmu sedang berdua dengan laki laki itu,begitu juga dengan hari kemarin"
"Oohhh,,,,kamu puas dengan caramu ini,yang sengaja ingin membuatku dan mas Danar ribut?"
"Yaa,,aku ingin Danar melihat siapa kamu yang sebenarnya" jawab Lalita kasar.
"Apa menurutmu itu berhasil?"
"Yaa,,aku yakin berhasil,pasti tadi Danar sangat marah padamu kan?"
__ADS_1
Lagi lagi Gendis menahan senyum dan ditambah lagi harus menahan tawa.
"Naif banget ini perempuan" gumam Gendis didalam hati.
"Aku akan memperjuangkan Danar dan merebutnya kembali darimu"
"Aku juga akan memperjuangkan mas Danar,karena ada anak mas Danar didalam rahimku" ucap Gendis juga.
Lalita berjalan mengelilingi ruangan tamu itu memandangi sekitarnya dan kembali menatap Gendis.
"Seharusnya ini semua adalah milikku,sungguh aku tidak akan rela kamu merebut apa yang harusnya menjadi milikku" seru Lalita dan menatap tajam Gendis.
"Kenapa kamu tidak mencari saja pengganti mas Danar? Bahagiakan dirimu dengan hal yang positif,pasti banyak laki laki berkelas,yang lebih dari mas Danar yang bisa kamu tarik perhatiannya" jelas Gendis.
"Jangan ajari aku,kalau untuk menarik perhatian laki laki tidak usah lagi kamu suruh aku,,tapi aku sudah nyaman dengan Danar,dan aku sangat mencintainya lebih dari apapun"
"Ke apa kamu harus hadir dikehidupan Danar?" keluh Lalita sambil menatap tajam Gendis.
"Jangan salahkan aku,semua ini terjadi juga atas rencana kalian berdua" Gendis merasa kesal karena selalu disalahkan oleh Lalita.
"Ya memang,tapi bukan berarti kamu harus merebut Danar dariku"
"Lalita,,aku mohon pergilah,tidak ada yang harus kita bicarakan lagi,karena bagimu aku tidak akan pernah benar"
"Baik aku akan pergi,,,dan lihat saja Danar akan kembali kepelukanku" ancam Lalita kemudian pergi dari rumah Danar.
Gendis mendengus kesal dan terduduk disofa.
"Aku tidak akan membiarkan kamu merebut mas Danar,dan aku tau mas Danar mencintaiku sekarang bukan kamu" gumam Gendis pelan.
📎📎📎📎
Danar pulang dari kantor dan langsung menuju ke rumah,karena sudah tidak sabar ingin bertemu Gendis istrinya. sekarang yang ada dipikiran Danar hanyalah gendis dan anak yang sedang dikandung Gendis. Danar merasakan kebahagiaan yang kuat biasa saat ini,meski masih tidak bisa menikmati dengan suasana yang damai.
Lalita masih saja terus mengganggu dirinya,Dan Danar sadar Lalita juga akan menggnggu Gendis,Danar akan berusaha untuk selalu menjaga Gendis.
Akhirnya Danar sampai di rumah dan disambut oleh Gendis dengan senyuman manisnya.
"Cantik banget" puji Danar sambil memeluk erat tubuh Gendis.
"Harus dong,,,harus selalu cantik didepan suami,apalagi kalau suami mau pulang dari kantor"
Danar tersenyum dan membawa Gendis masuk kedalam.
Mereka duduk disofa ruang tengah. Danar membelai perut Gendis.
"rewel gak nih anak papi?"
"Enggak,,,anak hebat kok"
"Pintar,,," kata Danar sambil menundukkan kepalanya dan mencium perut Gendis.
__ADS_1
"Papinya mandi dulu dong,biar seger terus makan malam bareng maminya,perut maminya udah lapar nih" celetuk Gendis dan membuat Danar tertawa.
"Baikkkk,,," jawab Danar kemudian bergegas kekamar diikuti oleh Gendis.
📎📎📎📎
Danar dan Gendis menikmati makan malam sambil bercerita tentang kejadian tadi siang.
"Oh ya besok aku dan Cakra akan bertemu,membahas soal kerja sama kami itu. tapi aku akan membatalkannya Gendis,,,karena aku juga yakin Cakra tidak bisa dipercaya "
"Ya mas,,kalau mas memang tidak lagi bisa mempercayainya lebih baik dibatalkan saja"
"Yaa,,apalagi ternyata juga dia ingin mengajak bersaing"
"Bersaing apa mas?"
"Ya ngedapetin kamu"
"Hahahaaa,,mass,,memangnya aku mau?,,aku ini istri sahmu mas,gak mungkin aku mengijinkan Cakra berbuat itu,dan biar bagaimanapun juga kamu sudah yang menjadi pemenangnya"
"Yaaa,,,aku juga gak akan membiarkan Cakra bersikap seenaknya,kalau dia nekad aku bisa laporkan dia karena sudah mengusik ketenangan orang lain"
Tidak lama mereka berdua selesai makan. Bik Rahmi segera membereskan meja makan. Danar dan Gendis memutuskan melanjutkan obrolan diruangan tivi lantai atas.
"Oh ya mas,,aku hampir lupa,ada yang mau aku ceritakan kekamu" seru Gendis saat mengingat kejadian tadi siang.
"Yaa,,mau cerita apa?"
Gendis tersenyum.
"Tadi siang Lalita kemari?"
"Ada apa lagi?"
"Yaa dia bilang akan merebutmu kembali dariku,dan dia menganggap kalau seharusnya dialah yang mendapatkan semua ini,rumah ini,dirimu dan segalanya" jelas gendis sambil menatap Danar yang juga tengah menatapnya.
"Dan apa jawabanmu?"
"Aku bilang,,aku juga akan berjuang untuk mempertahankanmu,karena didalam rahimku ini ada anak kamu"
Danar tersenyum kemudian membelai rambut Gendis dan meraih tubuh mungil itu untuk dia peluk.
"Aku tidak akan terpengaruh oleh Lalita,karena aku sudah menemukan wanita yang tepat" bisik Danar.
"Kita sama sama berjuang,,kita baru memulai,tapi rintangan sudah ada. Asal kita saling percaya aku yakin kita bisa melewati ini semua"
"Kita sudah tau siapa mereka dan siasat mereka,jadi sebenarnya tidak ada lagi yang diragukan antara kita" jelas Danar lagi berusaha meyakinkan Gendis dan menenangkan hatinya.
"Aku ingin berjuang untukmu,menjagamu dan anak kita,aku sudah terlalu bersyukur atas semua ini,ini anugrah ternikmat dari tuhan yang luar biasa aku rasakan Gendis"
"Bersamamu saja aku sudah sebahagia ini,,,tidak ada alasan lain bagiku untuk mencari kebahagiaan lain" bisik Danar lagi dan semakin mengeratkan pelukannya.
__ADS_1
Gendis membalas pelukan itu dengan mengeratkan kedua tangannya ditubuh Danar.
"aku percaya mas" ucap Gendis pelan.